Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 9/ 29 Oktober 1999 TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU

Pencarian seseorang untuk benar-benar mengabdi pada lingkungan harus bergabung pada LSM yang notabene dunia PUTIH yang langsung berfungsi sebagai PENJAGA NORMA tidak menjamin seseorang terbebas dari hitam. Sudah banyak dicontohkan oleh perilaku LSM kita yang penuh rona dan noda. SUDAH KETEMU JAWABNYA!!!! Semua tempat tak menjamin seseorang menjadi hitam atau putih, semua tergantung pada orang itu sendiri... tergantung pada si empunya diri.

Namun sekalipun demikian.. seberapa jauhkan ketahanan diri kita, diri si manusia dalam suatu tempat yang mengungkung dan mengebiri idealisme, untuk bisa tetap mewujudkan diri yang penuh dengan idealisme sehingga bisa berekspresi total untuk suatu sikap sayang lingkungan? Bukankah kalau bergabung dengan ruang yang memberi peluang menjadi putih jauh lebih baik, daripada di dalam ruang untuk menjadi hitam?

Yang menjadi PROBLEMA adalah KECENDERUNGAN dan KEPUASAN BATIN. Apalagi bagi seseorang yang lebih mengedepankan tertunduknya jiwa pada Sang Hyang Gusti dalam segenap tindak-tanduk dan kehidupan segalanya... lebih mengutamakan ketenangan jiwa dalam menjalani perannya.

Seseorang bisa saja pernah bekerja di suatu pabrik yang sudah dicap oleh dirinya sendiri sebagai perusak lingkungan... dan ia tidak nyaman batinnya di situ.. karena menurutnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah ataupun mengendalikan dan menyeimbangkan semua yang terjadi UNTUK LINGKUNGAN HARMONIS..

Ia lantas mencari kepuasan batin, mungkin dengan belajar berlingkungan di Perguruan Tinggi yang menawarkan progam-program lingkungan, mungkin lebih tenang dan pas jiwa Manusia di sini! Maka tawaran Bapedal dan Lembaga Ekowisata sangat menarik hati nya...Atau bahkan... ia malah bertanya.. Bagaimana bila bergabung dalam dunia LSM/NGO saja? Yang sudah jelas-jelas masuk stake holder katagori penjaga norma? Yang lingkungannya jelas-jelas lebih memberi peluang menjadi orang putih? ......

Atau tetap di bisnis? Bagaimanapun BISNIS it's Oke,... Masalahnya, apakah hati nurani kita cukup kuat untuk selalu menyaksikan dengan mata kepala sendiri penelanjangan norma-norma? pemerkosaan hak-hak? Pengkulitan warna-warni kasih alami? Cukup tegarkah jiwa? Bisa nyamankan sukma saat melihat hancurnya nuansa cinta manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air dan udara?

Ini masalah panggilan,... Artinya apakah kita merasa cukup melakukan terbaik bagi Tuhan kita, Alam kita, Lingkungan kita, dan Sesama kita dalam posisi kita di dunia bisnis, atau dunia yang bukan bisnis? Di manakah kita merasa dapat memberikan yang terbaik untuk pilihan dalam hidup?

Semua ada konsekuensinya. Kalau memilih bisnis, tentu semakin banyak keuangan bisa dipenuhi untuk bisa melakukan banyak hal minimal lewat orang lain. Sang bisnisman cukup menyalurkan perhatiannya. Konsekuensinya, rasa untuk langsung mengabdi pada IDEALISME, berbuat baik kepada sesama dan lingkungan menjadi berkurang. Karena memang tidak tergarap langsung.

Di sini Kita bisa merasa nyaman jika dalam mencari duit dalam bisnis Kita berkata, "Mencari duit itu Ibadah, saya cukup puas bila dapat menyalurkan hasil kerja keras ini pada teman-teman dan sesama yang
membutuhkan." Maka Kita akan menggenjot diri dan waktukita untuk mencari Al Rupiah atau El Dollar. Sementara untuk mengisi kekosongan jiwa dalam berkemanusiaan, kita akan menyisihkan sebagian waktu kita dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi dan berkemanusiaan, termasuk peduli lingkungan, seperti yang dilakukan Yayasan-Yayasan yang didirikan oleh orang-orang sibuk. Yayasan Sahabat Aqua miliknya orang Aqua, dan lain-lain.

Nakmun cukupkah itu bagi kita? Ataukah jiwa kita sungguh terpanggil untuk menyerahkan sepenuhnya diri kita dalam lingkaran kasihnya dan berkonsentrasi total dalam kemanusiaan dan sayang lingkungan? SEBAGAI ORANG LINGKUNGAN, di sini Kita lebih memerankan diri sebagai penjaga norma... Kita akan merasa puas karena sudah menyalurkan energi kita begitu luar biasa untuk peran panggilan kita ini. Kita akan laksana seorang Biku, Biksu, Rahib, Sufi, bahkan Budha atau manusia Yesus, yang sudah rela menanggalkan semua gemerlapan keindahan dunia hanya untuk menyerahkan diri pada Hyang Gusti dalam bidang kemanusiaan dan lingkungan. Nuansa itu sangat indah tak terkatakan bagi kita. Karena hari-hari kita akan kita isi dengan penyembahan-pemujaan- yang religius dan magis.

Konsekuensinya (bisa jadi) Kita akan merasa kekurangan uang (Walau itu tak mesti). Sebetulnya waktu yang bagi kita bisa dipakai untuk mencari uang menjadi semakin berkurang hanya untuk memperhatikan orang-orang lain. Penyesalan akan terjadi bila Kita kita lalai memikirkan sebetulnya saya ingin ini ingin itu, tapi sayang tidak bisa beli karena tidak punya duit.

Itu bisa saja terjadi!

Ataukah Kita akan memilih sebagai seorang yang BERDIRI DI DUA SISI? Itu bisa terjadi. Sekitar tergantung ketrampilan kita dalam Memanaje, Mengelola, Memanfaatkan sekitar sumber daya yang ada. Tinggal mengatur komponen-komponen yang diperlukan! Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Pendukung! Di sini kita akan lebih menjadi seorang TOP MANAJER, yang mengelola sekitarnya dari balik layar. Yang membiarkan makhluk-makhluk lain menjalankan aksi-aksi yang terstrategikan dalam Konsep Besar kita. Di sini dibutuhkan kerelaan untuk tidak melakukan semuanya sendiri,.. merelakan orang lain mengerjakan hal-hal yang sebetulnya menjadi kesukaan kita untuk kita lakukan sendiri... Ini kalau kita mau melakukan kedua bidang ini dengan sempurna dalam keterbatasan waktu, ruang dan tenaga.

Tidak mungkin kalau semua pekerjaan bisa dikerjakan dalam waktu yang sama. Jadi harus ada pengalokasian waktu, BETUL KATA KITA! Pertimbangan lain, apakah Kita sudah punya orang-orang yang bisa menjalankan konsep kita? Kalau dua hal ini sudah kita punya... SEMUA JALAN!! Waktu, dan Tenaga. Bahkan kalaupun bisa mengembangkan 1000 lembaga, itu pun tak mustahil... (Semoga bukan asal omong)... Konsep kita, kini, yang ditantang! KEMAMPUAN kita akan diuji dan ditelanjangi.

Mampukah kita menjadi pemilik, yang selain bekerja, juga berpikir, dan merasa memiliki? Atau cukup jadi Manager, yang bekerja dan berpikir? Atau cuma menjadi Pekerja, yang hanya bekerja saja?

Semua terjawab sudah, kata-kata kuncinya : TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU. ***

Yonathan Rahardjo

0 komentar: