Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 35/ 24 Nopember 1999 KESERAKAHAN MANUSIA TERHADAP SESAMA DAN ALAM (oleh Ika Nur Krishnayanti)

Pernah mendengar jagung Bt, kapas Bt, atau kedelai Bt? (Bt bukan “bosan total” atau “bad temper”, tapi Bacillus thuringiensis yaitu mikroorganisme tanah yang digunakan dalam rekayasa genetik untuk menghasilkan sifat toksik terhadap hama tertentu yang menyerang suatu tanaman). Pernah jugakah anda membaca teknologi terminator atau benih terminator? Jika pernah, mungkin anda bisa menganggap diri menjadi salah seorang saksi wujud keserakahan manusia terhadap sesama dan alam, paling tidak itu menurut saya. Bila belum pernah mendengar, silakan merenungkan kisah di bawah ini. Tentu saja jika anda mau.

Para ilmuwan telah berhasil mengutak-atik gen-gen tanaman sehingga dapat disisipi gen mikroorganisme tertentu, hingga pada akhirnya tanaman tersebut dapat mengekspresikan suatu sifat baru seperti sifat racun bagi hama tertentu yang menyerangnya. Misalnya jagung Bt yang menghasilkan racun khusus dari Bacillus thuringiensis sehingga bila dikonsumsi oleh ulat dari ngengat dan kupu-kupu, mereka mati. Namun bagaimana nasib hewan-hewan lain, seperti serangga berguna, predator yang menjadi pemangsa ulat-ulat tersebut, burung, atau hewan ternak yang diberi pakan daun jagung transgenik tersebut? Bagaimana pula pengaruh tanaman transgenik tersebut terhadap flora dan fauna dalam tanah di sekitarnya?

Hasil penelitian Universitas Cornell menunjukkan bahwa kupu-kupu monarch yang memakan serbuk sari jagung Bt tingkat kematiannya tinggi dan pertumbuhannya terlambat dibandingkan kupu-kupu yang memakan jenis jagung alami. Sementara para ilmuwan Swiss menyimpulkan bahwa jagung Bt berpengaruh merugikan terhadap serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Para ilmuwan itu berkesimpulan bahwa tanaman-tanaman Bt lainnya akan mempercepat evolusi resisten racun-racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten terhadap racun Bt, para petani organik dan petani yang menggunakan Bt untuk mengendalikan hama akan kehilangan efektifitas pengendalian hama secara hayati (Terompet No. 22, 1999).

Adalagi teknologi terminator. Perusahaan raksasa bioteknologi yang menciptakan teknologi ini yakin bahwa tanaman yang “diciptakannya” dapat membunuh keturunannya sendiri dengan menghasilkan benih-benih mandul. Sehingga perusahaan bioteknologi penghasil benih tersebut dapat terus mengendalikan tanaman ber-paten itu dan membuat para petani tidak mungkin menyimpan benih untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Padahal menyimpan benih dan saling mempertukarkannya telah dilakukan para petani sejak berabad-abad lamanya. Kini mereka harus tergantung pada perusahaan benih multinasional yang telah menjulurkan kaki-tangannya ke seluruh dunia, seperti gurita yang mencengkeram mangsa dengan tentakelnya.

Dua kisah di atas boleh kita anggap menunjukkan betapa manusia (diwakili pihak perusahaan multinasional) ingin berkuasa dan menguasai makhluk lainnya. Manusia kini enggan lagi berbagi dengan serangga yang ingin ikut makan di kebunnya. Semua upaya ditujukan untuk perlindungan maksimal dan mengejar produktifitas tanamannya guna meraih tujuan akhir, “memberi makan dunia”. Manusia lupa bahwa mereka pernah dibantu oleh serangga-serangga bermanfaat dalam penyerbukan dan persilangan. Manusia tampaknya juga ingin melupakan jasa para petani dan breeder yang sejak dahulu kala gigih mencari varietas unggul dengan menyilangkan berbagai tanaman mereka hingga yang ada kini. Benarkah perusahaan-perusahaan benih pencipta teknologi dan produk canggih itu dapat memberi makan dunia, mengatasi kelaparan dan rawan gizi? Ataukah hanya keserakahan atau sifat loba yang dibungkus kata-kata manis? ***

Ika N. Krishnayanti

0 komentar: