Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 34/ 23 Nopember 1999 SIAPA MAU MAKANAN HASIL REKAYASA GENETIK? (oleh Ika Nur Krishnayanti)

Seorang teman dari Thailand mengaku dirinya “tidak normal” hanya karena ia seorang peneliti atau ilmuwan, tanpa memerinci alasannya. Bukan hanya dirinya saja, ia bahkan berani menyebut para scientists itu “tidak normal”. “Aneh”, mungkin itulah maksudnya yang lebih tepat. Pengalaman itu saya dapatkan ketika saya berkesempatan memasuki sebentar dunia scientists (ilmuwan), khususnya bioteknologi, dalam suatu kursus sepanjang dua pekan di negara tetangga tempo hari. Belakangan, baru saya sadari benar juga katanya.

Topik paling “gres” sekaligus menjadi obsesi para pejuang di dunia bioteknologi saat ini adalah memasyarakatkan produk-produk hasil rekayasa genetika. Entah itu tanaman hasil rekayasa genetika (dikenal dengan genetically modified organisms/GMOs) seperti jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai Bt, makanan atau minuman hasil rekayasa genetika, atau produk-produk lainnya (Bt di sini bukan “bosan total”, tapi Bacillus thuringiensis, mikroorganisme yang direkayasa ke dalam rangkaian gen suatu tanaman agar menghasilkan suatu sifat toksis bagi hama tertentu).

Para ilmuwan bioteknologi pertanian telah “menciptakan” tanaman jagung yang mengandung gen Bt sehingga (katanya) tanaman tersebut dapat mengusir hama ulat yang menggerogoti tubuhnya dengan sendirinya, tanpa petani repot-repot membasminya dengan pestisida. Begitu juga dengan kapas Bt dan kedelai Bt. Bila kita hitung luas areal tanaman-tanaman tersebut di dunia, bayangkan berapa banyak penggunaan pestisida dapat dikurangi dari muka bumi. Bayangkan juga berapa besar pencemaran lingkungan akibat pestisida dapat dikurangi! Petani pun boleh lega, karena pengeluaran untuk pestisida jadi berkurang. Ramah lingkungan, bukan? Pernah mendengar argumen seperti itu? Itulah argumen yang selalu digembar-gemborkan para pendukung GMO.

Sayangnya, para ilmuwan tampak enggan membicarakan serius soal “biosafety” produk-produk tersebut. Apakah produk itu aman buat lingkungan? Aman buat kesehatan manusia dan ternak? Tidak mencemari sumber-sumber genetika di alam? Sulit dipungkiri, karena sejarah pernah mencatat, lusinan orang meninggal dunia sementara ratusan lainnya menderita setelah mengkonsumsi L-tryptophan (asam amino yang mengandung bakteri hasil rekayasa genetika) di Amerika Utara pada tahun 1989. Orang yang alergi terhadap makanan tertentu akan semakin berisiko tinggi akibat mengkonsumsi makanan yang direkayasa mengandung bahan tertentu (misalnya pada kasus kacang brazil, brazil nut). Tanaman-tanaman rekayasa genetik sangat mungkin saling kawin dengan kerabat liarnya di alam, bahkan juga mungkin bakal menggusur tanaman alami di dunia karena tuntutan dunia industri.

Negara-negara maju yang sudah sadar soal biosafety, terutama di Eropa, tidak mau negaranya menjadi ajang uji coba penanaman tanaman transgenik (hasil rekayasa genetik) tersebut. Sementara itu Amerika Serikat masih agak longgar. Di sinilah anehnya scientists, para ilmuwan pendukung rekayasa genetik umumnya belum tentu mau mengkonsumsi produk-produk bioteknologi modern tersebut. Kalau masih dapat memilih, mereka cenderung akan mengkonsumsi produk-produk alami. Mereka juga cukup sadar, jika mereka berhasil memproduksi suatu produk rekayasa genetik, belum tentu mereka bisa memasarkannya sekalipun di negara sendiri, baik negara maju maupun negara berkembang. Misalnya anggur transgenik. Meski dalam suatu permainan simulasi, para peneliti masih bingung ke negara mana akan mengekspor produk transgenik tersebut. Mereka masih harus memilih-milih dengan cermat, negara mana yang masih longgar regulasinya sehingga dapat menerima produk ini.

Jadi siapa sebenarnya yang bakal menjadi pasar produk-produk rekayasa genetik? Negara majukah? Negara berkembangkah? Konsumen yang tidak kritiskah? Kitakah? Atau mungkin anda yang berminat? Tampaknya dalam hal ini konsumen masih menjadi raja. Pilihan berada di tangan konsumen, yaitu kita semua. Menerima atau menolak? Atau cuek? ***

Ika N. Krishnayanti

0 komentar: