Saat ada pameran ternak jangkrik di Surabaya
beberapa bulan lalu,
teman LSM dari Trawas seperti kebakaran jenggot..
memang dia punya jenggot sih.
Namun ternyata bukan api yang menyebabkannya terbakar..
tapi ya jangkrik itu sendiri.
“Ada-ada saja!
Semua dieksploitasi hanya untuk ekonomi!
Sampai-sampai jangkrik pun
tak luput dari serakahnya kita!”
katanya tak peduli melirik lagi
tempat pameran di hotel terkemuka itu.
Kayak banteng ketaton,
yang melihat tempat itu hanya punggungnya.
Teman satu LSM-nya juga begitu.
Mereka memang orang LSM lingkungan,
jadi yang dibela ya soal keseimbangan alam,
antara pelestarian dan pemanfaatan.
Tentu saja lebih santer
pelestarian dalam gerak mereka!
Kita tak mengomentari sisi kelestarian si jangkrik.
Kini kita soroti sisi yang bikin
‘bukan orang lingkungan’ bisa bilang,
“JANGKRIK!!!!!!”
ala Jawa Timuran. Mengumpat.
Mirip si teman LSM lingkungan itu,
tapi kini yang mengumpat justru orang peternakan.
Ada apa gerangan?
Ternyata ini jawabnya.
Bisnis cacing dan jangkrik yang marak
setahun terakhir ternyata tidak banyak diketahui oleh
Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.
Padahal bisnis yang mencuat saat krisis ekonomi ini
begitu menyedot perhatian masyarakat.
Bahkan di berbagai tempat banyak bermunculan seminar
Tentang cara berbisnis cacing atau jangkrik.
Tak bisa dipungkiri
bahwa usaha yang bisa dikerjakan
secara home industry ini
memang banyak mendatangkan duit.
Ini kabarnya dipicu bahwa
cacing dan jangkrik itu diekspor
ke Taiwan, Cina dan Jepang
sebagai bahan baku kosmetik serta obat-obatan.
Tapi semua ternyata cuma isapan ibu jari!
Jangkrik belum pernah diekspor!
“Saya sudah melacak ke Karantina Hewan
dan ternyata baik cacing maupun jangkrik
belum pernah diekspor,”
kata satu tokoh peternakan di pusat.
“Beberapa kali saya menulis untuk mengingatkan
agar hati-hati berbisnis jangkrik maupun cacing.
Banyak penipuan di daerah,” ujarnya.
Ia pun menambahkan…
Mengenai manfaat tepung jangkrik maupun cacing
untuk obat-obatan atau kosmetik
hingga saat ini belum ia temukan satu bukti industri
kosmetik/obat yang menggunakan tepung jangkrik/cacing.
Seandainya memakaipun
Ia yakin lebih mudah memelihara sendiri
atau bekerjasama dengan koperasi karyawan,
karena memelihara jangkrik maupun cacing
bukan pekerjaan sulit, bisa sebagai usaha sambilan.
Tentang tepung jangkrik/cacing untuk pakan ternak,
itu bohong besar
sebab tepung ikan impor jauh lebih murah.
“Saya tahu persis
karena profesi saya di bidang peternakan
dan sekarang mengelola majalah peternakan,” katanya.
Tepung ikan harganya hanya Rp. 4.000/kg.
Kalau harga jangrik Rp. 60/ekor,
tepung jangrik harganya ratusan ribu rupiah.
Tepung cacing juga sama.
Dan tokoh kunci di bidang peternakan negeri ini
menjadi penentu komentar:
''Terus terang saya tidak pernah menandatangani
surat ekspor untuk cacing dan jangkrik.
Masyarakat jangan mau dibohongi,''
ujar Dirjen Peternakan Departemen Pertanian
Dr Sofjan Sudardjat
kepada wartawan di sela-sela
pertemuan pengusaha peternakan
se-Jawa Tengah di Purwokerto Kamis (11/11).
WAAH.. Kayak JANGKRIK GENGGONG saja
Yang dalam syair lagunya Waljinah,
penyanyi langgam Jawa itu..
Dikatakan
JANGKRIK GENGGONG WANI NGERIK SEPI UWONG..
(Jangkrik genggong
berani berkerik/bersuara
kalau sepi orang… sepi masalah)
Saat krisis
orang pada diam menahan lapar membutuhkan
sesuap nasi dan segelintir duit
yang untuk mencarinya susah setengah mati,
Si Jangkrik benar-benar santer BOOMING.
Sehingga hampir semua lapisan masyarakat
ikut beternak jangkrik.
Bahkan sampai terbentuk wadah
Persatuan Peternak Jangkrik pula.
Namun pada saat orang
dari berbagai penjuru tanah air
menadahkan tangan penuh harap
untuk dapat pasar ekspor
dari jangkriknya yang sudah menggunung..
ternyata pasarnya tak tersedia.
Kita mencatat
mereka yang selalu ikut Seminar jangkrik
yang diadakan berkali-kali..
Cuma mendengar janji-janji saja..
Sekarang Seminar.. dikasih janji
Besok seminar.. dikasih janji lagi..
Yah.. bikin janji memang mudah.
Maka agaknya teman LSM lingkungan Jatim tadi
yang uring-uringan pada acara jangkrik cukup lega..
karena ia tidak pernah mau
menerima janjinya jangkrik.
Bahka dia sangat menentangnya..
karena dia memikirkan satu hal
Yang selalu dijaganya sesuai
dengan logo lembaganya..
KESEIMBANGAN
Bahkan saat mau berbicara jangkrik pun
dia memikirkan unsur lingkungannya
Rupanya dia telah terlebih dulu
berpikir ala Waljinah
“NGGAK MAU JADI JANGKRIK GENGGONG,
WANI NGERIK YEN SEPI UWONG.”
Dia tetap mau 'ngerik'
kala dilihatnya ternak jangkrik
itu mengundang masalah.
Kendati kenyataannya 'ngerik'nya
malah memunggungi pameran,
tidak demontrasi ala teman LSM
anti perdagangan satwa liar.
Yah.. gitulah di lingkungan..
mestinya saat kita lagi penuh gejolak
dalam mempersoalkan dan memperbaiki lingkungan
yang sudah rusak di mana-mana,
kita nggak bisa diam begitu saja. ***
Yonathan Rahardjo
Minggu, 26 Agustus 2007
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Jual cacing tanah (rubellus lumbricus) harga Rp 25.000/kg kapasitas 100 kg/minggu, melayani eceran dan partai
Jual jangkrik harga Rp 45.000/kg kapasitas100 kg/minggu, melayani eceran dan partai
Pemilik : Sudjatmiko
Phone : 081586297454
E-mail : jatindra_farm@yahoo.com
Lokasi Farm : Jl. Merdeka no.18, LK.10, RT.03, RW.02, Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur
website: http://jatindra.awardspace.com
Poskan Komentar