EHDB 4/24 Oktober 1999 EKOWISATA BUTUH MANUSIA

Seorang pemuda saat bergabung dengan sebuah lembaga lingkungan dengan sangat menghayati menapakkan kaki di tanah basah berumput segar, dikerumuni rerimbun hijau dedaunan dan pohon-pohon jati yang perkasa menjulang di hutan-hutan yang mulai hilang keperawanannya. Untung aliran sungai masih membawa air bening mengalir!.. bergemericik.. Dihirupnya sang air dengan penuh perasaan.. brr.. dingin, tapi SeGaaAAAR!!!!....!! FREsS ...hhHHHH!!!!!!! Apalagi ditambah sugesti yang sudah membalut hati seluruh penduduk dan pendatang lokasi, bahwa air itu terbaik nomer empat di dunia! Bisa bikin awet muda!!
Suatu saat sang pemuda hijrah ke kota metropolitan. BESAR!! RAMAI!! SIBUK!! Sangat kontras dengan lingkungan semula dia beraktivitas bersama pendekar-pendekar lingkungan di tepi hutan pembalut gunung dan bukit tadi. WAH!! SUASANA BARU.. Bikin dahi berkerut!! "Bisa-bisa khasiat air yang aku minum dulu kagak berlaku nih di sini," batinnya tak mau menggerutu dan coba tetap tersenyum. Bayangkan.. dalam pengembaraannya di kota supersibuk itu setiap hari wajahnya dihempas debu jalanan, asap knalpot bajay, angkot, maupun bis kota. KONTRAS!! Sangat kontras dengan hidupnya sebelumnya di tepi hutan yang sepi damai, sejuk, setiap hari bisa melihat burung berlompatan, bajing-bajing pun juga.

Niatannya cuma satu. TAK PEDULI DESA, TAK PEDULI GUNUNG, HUTAN, TAK PEDULI KOTA, TAK PEDULI JALAN PADAT BERDEMPET KERINGAT BUSUK PARA PENUMPANG BIS KOTA, semua lingkunganku. Begitu batinnya. Aku harus bisa membuat tempat susah ini menjadi tempat nyaman. Senyaman-nyamannya tempat di mana kaki dipijak, langit dijunjung. Begitu lagi batinnya.

Maka saat seorang menanyakan padanya bagaimana proyek ekowisata di Indonesia bisa ditangani dan dikembangkan dengan baik, salah satu jumpalitan pikir adalah, "JAKARTA! Ya, seganas-ganasnya Jakarta lebih ganas dari ibu tiri, Jakarta juga tempat berwisata yang menyenangkan". Maka dihitungnya bertaburannya tempat wisata di ibu kota negara yang hampir terpecah-pecah ini. Ada Ragunan, Ancol, Dufan, Taman Ria Senayan, Taman Mini Indonesia Indah proyeknya pendamping Raja Orde Baru, dan lain-lain... dan lain-lain. GILA! Ujarnya. Semua tempat wisata di Jakarta ternyata jauh lebih banyak daripada jumlah tempat wisata di Indonesia. Memang sih, kecil-kecil, tapi itu... hampir di tiap sudut kota Jakarta ada itu tempat wisata. Apalagi kalau yang disebut sebagai bar, diskotik, night club, pub, karaoke, bahkan panti pijat yang oke itu boleh dan bisa disebut sebagai tempat wisata!!

JAKARTA? JAKARTA TEMPAT EKOWISATA? MANA MUNGKIN? Maka dia mencoba merangkai makna ekowisata, secara gampang-gampangan,ala orang awam. Eko = lingkungan, dalam artian mengandung unsur makhluk biotik dan abiotiknya. Wisata = apalagi kalau bukan tempat untuk refreshing, rekreasi. Digabung, ya pengelolaan wisata yang ramah lingkungan. Artinya tidak cuman tempat rekreasi saja tanpa memperhatikan kepentingan sekitarnya, lingkungannya. Na.. di sini ada dua versi pula : Cuma wisata dengan kepentingan nature (alam). Yang kedua memperhatikan juga kepentingan masyarakat sekitarnya, dan sustainability (keberlanjutan) baik alam, lingkungan, maupun program itu sendiri, serta masyarakat setempat mendapat penghasilan yang selalu mengalir dari apa yang disebut sebagai INCOME GENERATING. Itu gampang-gampangan pengertiannya.

WAH! Kuncinya pasti di sini... MASYARAKAT! Penduduk Jakarta kan padat dan sangat padat.. maka wisata pun padat! Bagaimanapun, manusia butuh hiburan.. ya wisata itu salah satu sarananya... Apalagi di kota tempat berkerumunannya manusia-manusia laksana tembok berjajar karena padatnya. Maka Jakarta layak disebut sebagai bagian dari Ekowisata yang baik, kalau mau merukuk dari pengertian ekowisata yang juga melibatkan kepentinganmasyarakatnya juga. BISA JADI JAKARTA ADALAH SUATU CONTOH EKOWISATA YANG BAIK. Aneh! Gila! Pikiran gila! Kota penuh polusi baik tanah, air, maupujn udara bisa disebut sebagai contoh ekowisata yang baik..

NAMUN PIKIRAN BAHWA JAKARTA CONTOH EKOWISATA YANG BAIK SEGERA MANDEG, BUNTU. Hatinya jadi teriris manakala ternyata manusia-manusia yang butuh hiburan itu sering lupa untuk mendapatkan hiburan yang bisa meningkatkan kadar OKSIGEN dalam parunya, meningkatkan METABOLISME TUBUH dan PEREDARAN DARAH dengan kualitas semua mineral baik udara dan air yang memenuhi standar baku HIDUP SEHAT. Sayang!!! Rekreasi untuk mengembalikan kondisi terbaik hanya ditekankan pada kepuasan batin saja. Asal sudah melantai disko, sudah puas.. bahkan dengan ekstasi sekalipun. Asal Sudah dipijit para massager Pijat Tradisoanal (Pitrad) sudah puas.. pulang maunya stamina meningkat.. nyatanya malah loyo.

PERTANYAAN YANG PALING MENGGANJAL adalah: MENGAPA TIDAK MENCIPTAKAN WISATA YANG RAMAH LINGKUNGAN pula di kota suber semrawut?? Mengapa harus orang tepi hutan dan pegunungan saja yang boleh menikmati semilir angin berhembus menggesek dedaunan berwarna-warni memantulkan sinar mentari pagi dan petang?? Mengapa?

Padahal di kota padat orang dan padat polusi ini orangnya jauh melebihi jumlah orang di tepi hutan. Dan satu kenyataan yang sulit dipungkiri, justru sebagian besar orang di Jakarta tidak mampu untuk keluar sebentar ke alam bebas polusi entah itu di pegunungan di luar kota Bogor, atau di Puncak. Sebagian besar tak cukup punya uang bahkan cuma untuk menggeser telapak kakinya.

BUKANKAH PROGRAM EKOWISATA tak cukup bermanfaat bila tak banyak orang memanfaatkannya? Mengapa tak membuat program di mana orang sudah menunggunya, di dalamnya? Bahkan sampai-sampai sesak kehabisan O2... ***

Yonathan Rahardjo

Komentar