Kamis, 24 Juli 2008
Penulisan Lingkungan
Bertemu dengan kawan lama Koen Setyawan dan Amalia Hamidi dalam acara Bincang Novel lanang bersama Kelompok Menulis Bogor di Saung Aki bari PPLH Matoa Ciapus Bogor merupakan benang merah panjang dari pertemuan kami dalam kegiatan dalam berlingkunan setidaknya sejak 10 tahun silam di PPLH Seloliman Trawas Jawa Timur.
Selasa, 23 Oktober 2007
MENYULUH SANG NAGA
(Oleh : Yonathan Rahardjo, dimuat di Majalah OZON Pebruari 2000.)
Saat kita heboh dengan harapan besar di tahun baru 2000 yang sebagian orang bilang sebagai abad baru, abad 21 dan Millenium baru, Millenium III, kita boleh mempunyai harapan hebat pula per 5 Pebruari 2000.
Kalender Cina menurut perhitungan Cap Jie Shio per tanggal itu hingga 23 Januari 2001 merupakan tahun Naga Emas, tahun Geng Chen (baca = Khe Sien) yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali. Shio Naga Emas ini mempunyai makna hebat pada setiap perlindungan Sang Naga dalam melaksanakan tugasnya mengatur siklus bumi dengan segala penghuninya. Dari makna kepenuhan mengendalikan kebutuhan untuk perubahan (Khe = artinya emas, logam). Dan, lambang kemajuan tanpa mengindahkan bentuk-bentuk lama (Chen = wilayah timur tenggara, dimana Sang Naga sangat
berkuasa).
Sangat bertolak belakang dengan tahun Kelinci Tanah 1999 yang barusan kita `say good bye'. Semua merasakan ia benar-benar meninggalkan banyak peristiwa duka penuh luka bagi manusia yang pada hakekatnya merupakan para pengembara (kafilah) di bumi. Banyak kita yang merasa hilang asa dalam hidup, karena kehidupan benar-benar sulit, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pertahanan keamanan pun, khususnya di Indonesia.
Pada lingkungan hidup juga begitu. Berbagai permasalahan mengharubirukan lingkungan yang runyam bin mawut. Kendatipun semua tak lebih berupa muara 32 tahun merembetnya perusakan alam oleh penguasa berlabel Orde Baru dengan dalih demi pembangunan ekonomi.
Bertumpuk masalah lingkungan tak kunjung selesai di berbagai sektor segenap kehidupan berbangsa, yang setidaknya diwakili institusinya oleh kementrian-kementrian dalam Kabinet Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memang masalah lingkungan adalah masalah lintas sektoral, sehingga yang menangani isu ini di kabinet cukuplah Menteri Negara (Lingkungan Hidup). Namun alangkah baiknya semua departemen yang ada sangat peduli pada isu lingkungan di setiap departemennya. Bahkan departemen yang mengelola seni sekalipun.
Maka dengan harapan baru di tahun baru ini, kita tidak mau lagi departemen kehutanan dan perkebunan membiarkan berhektar-hektar hutan meranggas dan terbakar di negeri yang `seharusnya' punya hutan tropik terluas dan penuh keanekaragaman hayati kedua setelah Brazil. Kita tak suka lagi departemen ini meninggalkan kenangan pahit menghapus taman nasional seperti terhadapTaman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dengan menyisakan cuma beberapa orang utan kurus lapar.
Kita tak sudi lagi departemen pertambangan dan energi dengan congkak melegalkan penambangan berdarah ala Freeport di Irian Jaya menyisakan derita penduduk lokal, yang terampas haknya selaku masyarakat lokal dan terenggut hidup sehatnya lantaran pencemaran merkuri pengolah emas. Maupun membiarkan merebaknya penambangan liar ala ASPAI di kerumunan belantara Kalimantan Tengah yang membuat Sungai Sekonyer penuh limbah, tak layak dipakai mandi lagi, apalagi untuk diminum.
Kita tak berkehendak lagi departemen kesehatan menelantarkan pengelolaan limbah rumah sakit amburadul, berdampak penyakit dapatan dari rumah sakit pada pasien sepulang dirawat di tempat yang
semestinya justru merupakan rumah penyehatan, bukan tempat pemberi sakit.
Kita tak membiarkan lagi departemen pemukiman dan pengembangan wilayah membiarkan teriakan tangis anak kecil dan penghuni rumah kumuh, yang berjejal di sepanjang pinggiran sungai yang melintang kota-kota besar.
Kita tak berdiam diri lagi saat departemen pendidikan nasional mendukung guru pun atasannya tak peduli terhadap pentingnya pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak didik.
Kita pun segera bertindak kala departemen pertanian tak peka terhadap petani yang buta mata sebab memakai pestisida kimia pengusir hama. Juga ketika pemerintah sedang memasang kuda-kuda revolusi hijau kedua. Padahal sudah begitu mahfum betapa revolusi hijau kesatu sudah betul-betul menguras unsur hara tanah menjadi tandus lantaran pupuk kimia propagandanya. Padahal sudah begitu nyata keanekaragaman hayati padi penghasil beras lokal sudah begitu amblas lantaran penyeragaman bibit unggul provokasinya.
Banyak peran dimainkan oleh segenap jajaran dalam setiap departemen. Mulai dari pengambil kebijakan di tingkat presiden (baca=menteri, menteri adalah `presiden' di bidangnya, karena menteri adalah pembantu presiden dalam bidang itu). Sampai di lapisan bawah, petugas lapangan, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di masing-masing bidang.
Bagaimanapun rupa kebijakan suatu departemen, peran petugas lapangan tetap berarti dan cukup menentukan perubahan perilaku masyarakat. Dengan sendirinya pola sosialisasi ini akan ikut menentukan berhasil tidaknya program kerja suatu departemen. Di tangan orang lapangan inilah paling ditentukan sampai tidaknya kebijakan departemen yang bersangkutan untuk terealisasi di masyarakat.
Ambil contoh departemen pertanian, petugas lapangan yang berperan besar pada konteks sosialisasi program departemen adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam menghadapi masyarakat yang berbeda strata dalam fase yang berbeda, berbeda pula strategi yang diterapkan.
Penyuluhan secara paksa dilakukan menggunakan tekanan yang sah (peraturan-peraturan dan hukuman-hukuman), perintah top-down efektif pada fase awal pembangunan, ketika sebagian besar petani gurem, buta huruf dan primitif. Permulaan revolusi hijau sampai melibatkan semua aparat pemerintah daerah bahkan Koramil (Komando Rayon Militer) ikut membabat paksa padi-padi lokal untuk ganti ditanami padi-padi IR pada seluruh area persawahan di tanah Jawa, dan semua pulau yang lain.
Penyuluhan ekonomi menggunakan insentif ekonomi, distribusi beras, menyediakan subsidi-subsidi, menyediakan pinjam rendah. Efektif ketika petani berorientasi komersil dan kekurangan modal. KCK (Kredit Candak Kulak), dan KIK (Kredit Intensifikasi Kecil) misalnya.
Penyuluhan pendidikan mendorong minat belajar, membangkitkan pemikiran secara ilmiah, menyediakan bahan bacaan, organisasi kelompok belajar, menyediakan kursus-kursus jangka pendek. Model ini efektif ketika level pendidikan petani mencapai setingkat lebih tinggi dari pendidikan dasar. Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa`kelompencapir' produk Menteri Penerangan Harmoko saat itu, misalnya.
Penyuluhan secara menyeluruh membentuk dasar hukum, menggunakan insentif ekonomi (bantuan harga, menyediakan asuransi, memperhatikan pemasaran), menggunakan pendekatan pendidikan, koordinasi dengan kebijakan (program pembangunan masyarakat, proyek kesejahteraan pedesaan), efektif ketika ekonomi petani mengalami lebih banyak kesulitan.
Semakin besar, pandai, dan semakin berdayanya masyarakat, model penyuluhan seperti yang kita lihat dari gaya penyuluhan PPL itu, tak selamanya akan efektif. Bahkan petani yang sangat maju dan mandiri bisa jadi tidak membutuhkan penyuluhan yang menggurui begitu.
Ambil contoh penyuluhan pada petani peternak. Pada peternak ayam buras/ayam kampung, peternak kecil membutuhkan penyuluhan untuk meningkatkan budidaya, peternak menengah untuk mengembangkan usahanya. Peternak besar membutuhkan penyuluhan yang lebih kompleks, melibatkan semua model secara lengkap, utuh dan terintegrasi.
Pada peternak broiler, peternak kecil membutuhkan penyuluhan mirip pada peternak buras skala besar, karena ciri dan perilaku komunikasinya hampir sama dalam memperoleh informasi. Peternak menengah tak membutuhkan penyuluhan yang rutin formal seperti model penyuluhan PPL saat ini. Bagi peternak besar yang sangat mandiri, penyuluhan tak perlu lagi bila masih ala PPL. Yang diperlukan adalah konsultan berkapasitas tertentu, yang sebenarnya tak lain adalah fungsi penyuluh yang diperluas.
Intinya, semakin besar kapasitas suatu individu, kelompok, atau golongan maka semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih terintegratif, dan berbobot. Jangan heran bila di sektor industri kita menjumpai para petugas BAPEDAL/BAPEDALDA tak berkutik manakala harus menghadapi industriwan yang lebih pintar karena pendidikannya lebih tinggi, atau tumpukan uangnya lebih tebal karena industri dan `kuasa'nya jauh lebih berpengaruh baik kepada masyarakat maupun kepada penguasa (pemerintah) sekalipun.
Tak kaget begitu berjibun industri mencemari KaliMas Surabaya misalnya, tak satupun yang terseret ke meja hijau sekalipun sudah terbukti pencemaran industrinya sangat mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Memang faktornya sangat kompleks. Namun di sisi hubungan petugas lapangan (katakanlah penyuluh lingkungan) dengan industriwan, kita dapati tak berkutiknya orang Bapedal/Bapedalda dalam memperjuangkan visi dan misinya lebih karena petugas lingkungan itu `kalah hebat' dibanding penguasa pabrik. Lebih-lebih bila orang lapangan itu tak pernah memahami apa sebenarnya visi dan misinya sebagai `orang lingkungan'.
Sah bila mengambil konotasi hebat dari tahun naga emas, dari ilustrasi berhadapannya petugas lapangan Bapedal/Bapedalda dengan industriwan kita menilai siapa yang lebih HEBAT di sini. Bagaimana naga kecil mau menyuluh naga besar yang lebih berdaya dan punya kuasa? Bagaimana kita mau menyadarkan individu, kelompok atau golongan tertentu sementara kapabilitas, akseptabiltas, serta integritas kita sendiri tak bisa mengungguli yang mau kita sadarkan? Maka cukup wajar kalau banyak `kaum lingkungan' naik pitam kala seorang Sonny Keraf yang belum teruji tiga komponen ini mau menjadi pendekar lingkungan, sementara yang dihadapi adalah naga-naga besar penuh problematika.
Bagaimana petugas lingkungan Bapedal/Bapedalda bisa menyadarkan orang industri bila kapasitasnya cuma sekelas karyawan yang industriwan? Bagaimana seorang guru bisa menyadarkan anak didiknya bila pengetahuan, ketrampilan, dan komitmennya tentang lingkungan cuma sebatas hafalan buku pelajaran?
Kita memang tidak sedang membedakan siapa yang naga emas, siapa yang naga perak, siapa yang naga perunggu. Namun mengukur kehebatan siapa dan siapa terutama yang ada sangkut pautnya dengan bidang kita akan cukup banyak manfaatnya. Bagaimanapun akan sangat membantu kita menjalankan strategi yang tepat untuk membuat program dan merealisasikannya secara tepat pula. Salah satu alasan kuat adalah setiap orang, golongan, umat, pasti punya kehebatannya sendiri-sendiri. Lumrah ibu-ibu yang mengandung tahun lalu berharap anaknya yang lahir pada tahun naga emas ini akan menjadi hebat sesuai perlindungan Sang Shio, memberikan keberuntungan dan kejayaan keluarga.
Jalan keluarnya, untuk meningkatkan kapasitas dan kehebatan masing-masing dan semua, kita bisa bekerjasama. Siapapun yang terkait dengan problematika lingkungan hidup di bidang kita masing-masing, bisa kita ajak bekerja sama. Sebab pada prinsipnya mengatasi problema lingkungan hidup tak bisa tidak melibatkan setiap komponen Stake Holder LH sendiri yaitu pemerintah, swasta/industri, kalangan pendidikan dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lembaga di masyarakat.
Sekalipun kita dapat menilai kekuatan dan kehebatan masing-masing, kita toh tidak saling lomba menyuluh dan menyadarkan si belum hebat Menteri Sonny Keraf, si cukup hebat Presiden Gus Dur, atau si hebat Naga Emas. Yang sedang kita lakukan adalah SALING MENGINGATKAN DAN BEKERJASAMA untuk menjadi lebih baik sesuai harapan baru di tahun baru yang kebetulan secara penanggalan Cina dilambangkan sebagai Tahun Hebat Naga Emas.
Kita sedang dan akan memperbaiki semua kondisi yang ada secara lebih baik, lebih berbobot, dan lebih sukses. Hingga tercapai lingkungan yang lebih baik, lebih terpelihara, terawat, dan layak dihuni dengan
nyaman tanpa diganggu limbah, pencemar, perusak, ataupun sampah. Sebab, kehebatan sebenarnya adalah milik kita bersama, bukan cuma milik Sonny Keraf, Gus Dur atau Sang Naga.***
Saat kita heboh dengan harapan besar di tahun baru 2000 yang sebagian orang bilang sebagai abad baru, abad 21 dan Millenium baru, Millenium III, kita boleh mempunyai harapan hebat pula per 5 Pebruari 2000.
Kalender Cina menurut perhitungan Cap Jie Shio per tanggal itu hingga 23 Januari 2001 merupakan tahun Naga Emas, tahun Geng Chen (baca = Khe Sien) yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali. Shio Naga Emas ini mempunyai makna hebat pada setiap perlindungan Sang Naga dalam melaksanakan tugasnya mengatur siklus bumi dengan segala penghuninya. Dari makna kepenuhan mengendalikan kebutuhan untuk perubahan (Khe = artinya emas, logam). Dan, lambang kemajuan tanpa mengindahkan bentuk-bentuk lama (Chen = wilayah timur tenggara, dimana Sang Naga sangat
berkuasa).
Sangat bertolak belakang dengan tahun Kelinci Tanah 1999 yang barusan kita `say good bye'. Semua merasakan ia benar-benar meninggalkan banyak peristiwa duka penuh luka bagi manusia yang pada hakekatnya merupakan para pengembara (kafilah) di bumi. Banyak kita yang merasa hilang asa dalam hidup, karena kehidupan benar-benar sulit, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pertahanan keamanan pun, khususnya di Indonesia.
Pada lingkungan hidup juga begitu. Berbagai permasalahan mengharubirukan lingkungan yang runyam bin mawut. Kendatipun semua tak lebih berupa muara 32 tahun merembetnya perusakan alam oleh penguasa berlabel Orde Baru dengan dalih demi pembangunan ekonomi.
Bertumpuk masalah lingkungan tak kunjung selesai di berbagai sektor segenap kehidupan berbangsa, yang setidaknya diwakili institusinya oleh kementrian-kementrian dalam Kabinet Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memang masalah lingkungan adalah masalah lintas sektoral, sehingga yang menangani isu ini di kabinet cukuplah Menteri Negara (Lingkungan Hidup). Namun alangkah baiknya semua departemen yang ada sangat peduli pada isu lingkungan di setiap departemennya. Bahkan departemen yang mengelola seni sekalipun.
Maka dengan harapan baru di tahun baru ini, kita tidak mau lagi departemen kehutanan dan perkebunan membiarkan berhektar-hektar hutan meranggas dan terbakar di negeri yang `seharusnya' punya hutan tropik terluas dan penuh keanekaragaman hayati kedua setelah Brazil. Kita tak suka lagi departemen ini meninggalkan kenangan pahit menghapus taman nasional seperti terhadapTaman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dengan menyisakan cuma beberapa orang utan kurus lapar.
Kita tak sudi lagi departemen pertambangan dan energi dengan congkak melegalkan penambangan berdarah ala Freeport di Irian Jaya menyisakan derita penduduk lokal, yang terampas haknya selaku masyarakat lokal dan terenggut hidup sehatnya lantaran pencemaran merkuri pengolah emas. Maupun membiarkan merebaknya penambangan liar ala ASPAI di kerumunan belantara Kalimantan Tengah yang membuat Sungai Sekonyer penuh limbah, tak layak dipakai mandi lagi, apalagi untuk diminum.
Kita tak berkehendak lagi departemen kesehatan menelantarkan pengelolaan limbah rumah sakit amburadul, berdampak penyakit dapatan dari rumah sakit pada pasien sepulang dirawat di tempat yang
semestinya justru merupakan rumah penyehatan, bukan tempat pemberi sakit.
Kita tak membiarkan lagi departemen pemukiman dan pengembangan wilayah membiarkan teriakan tangis anak kecil dan penghuni rumah kumuh, yang berjejal di sepanjang pinggiran sungai yang melintang kota-kota besar.
Kita tak berdiam diri lagi saat departemen pendidikan nasional mendukung guru pun atasannya tak peduli terhadap pentingnya pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak didik.
Kita pun segera bertindak kala departemen pertanian tak peka terhadap petani yang buta mata sebab memakai pestisida kimia pengusir hama. Juga ketika pemerintah sedang memasang kuda-kuda revolusi hijau kedua. Padahal sudah begitu mahfum betapa revolusi hijau kesatu sudah betul-betul menguras unsur hara tanah menjadi tandus lantaran pupuk kimia propagandanya. Padahal sudah begitu nyata keanekaragaman hayati padi penghasil beras lokal sudah begitu amblas lantaran penyeragaman bibit unggul provokasinya.
Banyak peran dimainkan oleh segenap jajaran dalam setiap departemen. Mulai dari pengambil kebijakan di tingkat presiden (baca=menteri, menteri adalah `presiden' di bidangnya, karena menteri adalah pembantu presiden dalam bidang itu). Sampai di lapisan bawah, petugas lapangan, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di masing-masing bidang.
Bagaimanapun rupa kebijakan suatu departemen, peran petugas lapangan tetap berarti dan cukup menentukan perubahan perilaku masyarakat. Dengan sendirinya pola sosialisasi ini akan ikut menentukan berhasil tidaknya program kerja suatu departemen. Di tangan orang lapangan inilah paling ditentukan sampai tidaknya kebijakan departemen yang bersangkutan untuk terealisasi di masyarakat.
Ambil contoh departemen pertanian, petugas lapangan yang berperan besar pada konteks sosialisasi program departemen adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam menghadapi masyarakat yang berbeda strata dalam fase yang berbeda, berbeda pula strategi yang diterapkan.
Penyuluhan secara paksa dilakukan menggunakan tekanan yang sah (peraturan-peraturan dan hukuman-hukuman), perintah top-down efektif pada fase awal pembangunan, ketika sebagian besar petani gurem, buta huruf dan primitif. Permulaan revolusi hijau sampai melibatkan semua aparat pemerintah daerah bahkan Koramil (Komando Rayon Militer) ikut membabat paksa padi-padi lokal untuk ganti ditanami padi-padi IR pada seluruh area persawahan di tanah Jawa, dan semua pulau yang lain.
Penyuluhan ekonomi menggunakan insentif ekonomi, distribusi beras, menyediakan subsidi-subsidi, menyediakan pinjam rendah. Efektif ketika petani berorientasi komersil dan kekurangan modal. KCK (Kredit Candak Kulak), dan KIK (Kredit Intensifikasi Kecil) misalnya.
Penyuluhan pendidikan mendorong minat belajar, membangkitkan pemikiran secara ilmiah, menyediakan bahan bacaan, organisasi kelompok belajar, menyediakan kursus-kursus jangka pendek. Model ini efektif ketika level pendidikan petani mencapai setingkat lebih tinggi dari pendidikan dasar. Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa`kelompencapir' produk Menteri Penerangan Harmoko saat itu, misalnya.
Penyuluhan secara menyeluruh membentuk dasar hukum, menggunakan insentif ekonomi (bantuan harga, menyediakan asuransi, memperhatikan pemasaran), menggunakan pendekatan pendidikan, koordinasi dengan kebijakan (program pembangunan masyarakat, proyek kesejahteraan pedesaan), efektif ketika ekonomi petani mengalami lebih banyak kesulitan.
Semakin besar, pandai, dan semakin berdayanya masyarakat, model penyuluhan seperti yang kita lihat dari gaya penyuluhan PPL itu, tak selamanya akan efektif. Bahkan petani yang sangat maju dan mandiri bisa jadi tidak membutuhkan penyuluhan yang menggurui begitu.
Ambil contoh penyuluhan pada petani peternak. Pada peternak ayam buras/ayam kampung, peternak kecil membutuhkan penyuluhan untuk meningkatkan budidaya, peternak menengah untuk mengembangkan usahanya. Peternak besar membutuhkan penyuluhan yang lebih kompleks, melibatkan semua model secara lengkap, utuh dan terintegrasi.
Pada peternak broiler, peternak kecil membutuhkan penyuluhan mirip pada peternak buras skala besar, karena ciri dan perilaku komunikasinya hampir sama dalam memperoleh informasi. Peternak menengah tak membutuhkan penyuluhan yang rutin formal seperti model penyuluhan PPL saat ini. Bagi peternak besar yang sangat mandiri, penyuluhan tak perlu lagi bila masih ala PPL. Yang diperlukan adalah konsultan berkapasitas tertentu, yang sebenarnya tak lain adalah fungsi penyuluh yang diperluas.
Intinya, semakin besar kapasitas suatu individu, kelompok, atau golongan maka semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih terintegratif, dan berbobot. Jangan heran bila di sektor industri kita menjumpai para petugas BAPEDAL/BAPEDALDA tak berkutik manakala harus menghadapi industriwan yang lebih pintar karena pendidikannya lebih tinggi, atau tumpukan uangnya lebih tebal karena industri dan `kuasa'nya jauh lebih berpengaruh baik kepada masyarakat maupun kepada penguasa (pemerintah) sekalipun.
Tak kaget begitu berjibun industri mencemari KaliMas Surabaya misalnya, tak satupun yang terseret ke meja hijau sekalipun sudah terbukti pencemaran industrinya sangat mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Memang faktornya sangat kompleks. Namun di sisi hubungan petugas lapangan (katakanlah penyuluh lingkungan) dengan industriwan, kita dapati tak berkutiknya orang Bapedal/Bapedalda dalam memperjuangkan visi dan misinya lebih karena petugas lingkungan itu `kalah hebat' dibanding penguasa pabrik. Lebih-lebih bila orang lapangan itu tak pernah memahami apa sebenarnya visi dan misinya sebagai `orang lingkungan'.
Sah bila mengambil konotasi hebat dari tahun naga emas, dari ilustrasi berhadapannya petugas lapangan Bapedal/Bapedalda dengan industriwan kita menilai siapa yang lebih HEBAT di sini. Bagaimana naga kecil mau menyuluh naga besar yang lebih berdaya dan punya kuasa? Bagaimana kita mau menyadarkan individu, kelompok atau golongan tertentu sementara kapabilitas, akseptabiltas, serta integritas kita sendiri tak bisa mengungguli yang mau kita sadarkan? Maka cukup wajar kalau banyak `kaum lingkungan' naik pitam kala seorang Sonny Keraf yang belum teruji tiga komponen ini mau menjadi pendekar lingkungan, sementara yang dihadapi adalah naga-naga besar penuh problematika.
Bagaimana petugas lingkungan Bapedal/Bapedalda bisa menyadarkan orang industri bila kapasitasnya cuma sekelas karyawan yang industriwan? Bagaimana seorang guru bisa menyadarkan anak didiknya bila pengetahuan, ketrampilan, dan komitmennya tentang lingkungan cuma sebatas hafalan buku pelajaran?
Kita memang tidak sedang membedakan siapa yang naga emas, siapa yang naga perak, siapa yang naga perunggu. Namun mengukur kehebatan siapa dan siapa terutama yang ada sangkut pautnya dengan bidang kita akan cukup banyak manfaatnya. Bagaimanapun akan sangat membantu kita menjalankan strategi yang tepat untuk membuat program dan merealisasikannya secara tepat pula. Salah satu alasan kuat adalah setiap orang, golongan, umat, pasti punya kehebatannya sendiri-sendiri. Lumrah ibu-ibu yang mengandung tahun lalu berharap anaknya yang lahir pada tahun naga emas ini akan menjadi hebat sesuai perlindungan Sang Shio, memberikan keberuntungan dan kejayaan keluarga.
Jalan keluarnya, untuk meningkatkan kapasitas dan kehebatan masing-masing dan semua, kita bisa bekerjasama. Siapapun yang terkait dengan problematika lingkungan hidup di bidang kita masing-masing, bisa kita ajak bekerja sama. Sebab pada prinsipnya mengatasi problema lingkungan hidup tak bisa tidak melibatkan setiap komponen Stake Holder LH sendiri yaitu pemerintah, swasta/industri, kalangan pendidikan dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lembaga di masyarakat.
Sekalipun kita dapat menilai kekuatan dan kehebatan masing-masing, kita toh tidak saling lomba menyuluh dan menyadarkan si belum hebat Menteri Sonny Keraf, si cukup hebat Presiden Gus Dur, atau si hebat Naga Emas. Yang sedang kita lakukan adalah SALING MENGINGATKAN DAN BEKERJASAMA untuk menjadi lebih baik sesuai harapan baru di tahun baru yang kebetulan secara penanggalan Cina dilambangkan sebagai Tahun Hebat Naga Emas.
Kita sedang dan akan memperbaiki semua kondisi yang ada secara lebih baik, lebih berbobot, dan lebih sukses. Hingga tercapai lingkungan yang lebih baik, lebih terpelihara, terawat, dan layak dihuni dengan
nyaman tanpa diganggu limbah, pencemar, perusak, ataupun sampah. Sebab, kehebatan sebenarnya adalah milik kita bersama, bukan cuma milik Sonny Keraf, Gus Dur atau Sang Naga.***
Rabu, 17 Oktober 2007
BENANG MERAH ITU
oleh: Yonathan Rahardjo
dimuat di: Majalah Bumi, 1999
Yang kita tahu sekarang tentang kerusakan alam, hutan gundul, banjir, tanah longsor, ozon berlubang dengan efek rumah kacanya, satwa punah, air sungai busuk nan bau tak layak untuk mandi, tanah pertanian kering tandus, polusi kendaraan, dan beragam kerusakan yang lain, itu hanya AKIBAT DARI SUATU TINDAKAN.
Tindakannya sendiri berupa : orang menebang hutan, orang memakai AC yang tak ramah lingkungan membikin ruang di dalam rumah dingin, tapi di luarnya panas bukan main, orang menembaki satwa, orang membuang limbah seenak perutnya, orang memakai kendaraan bermotor yang berbahan bakar tak ramah lingkungan, dan sebagainya tingkah polah anak manusia dalam suatu yang disebut TINDAKAN.
Tindakan-tindakan itu ada sebabnya. Mungkin lantaran kebutuhan ekonomi yang melilit, kebutuhan ekonomi yang merangsang agar bisa menumpuk barang dan makhluk lain untuk dikuasai, diserakahi dan direngkuh jadi harta milik, gengsi yang mencengkeram gaya hidup,sifat gelojoh yang mendorong pola hidup konsumtif. Atau bahkan, sosial, budaya dan politik yang mengkondisikan sekelompok besar manusia dalam status 'bangsa' berperilaku disetir oleh kendali kebijakan politik.
Kalau kita runtut dan cari akar permasalahan dari semua tindakan itu, akan ketemu semua adalah akibat dari dari sesuatu nilai atau norma yang bernama Moral, Budaya, yang membuat orang sadar atau punya KESADARAN ataukah tidak. Dalam konteks ini tak bisa lepas dari apa yang dikata PENDIDIKAN. Maka akan ketemu benang merahnya :
Pendidikan ------- Kesadaran------Tindakan, berbagai perilaku merusak alam ------- Akibat dari tindakan, berbagai kerusakan alam
Ternyata, masalah pendidikan kita yang perlu dibenahi. Pendidikan kita selama ini lebih mencetak manusia-manusia yang lebih economic oriented, manusia digodok malah untuk tidak memanusiakan manusia. Namun lebih menjadi mesin-mesin pencetak uang. Apa saja keahlian, ketrampilan di stimulir untuk bisa mengeksploitasi alam sehingga menjadi duit. Anak disekolahkan hingga sarjana, motivasinya cuman bagaimana menjadi 'dokter, insinyur, atau atribut-atribut yang lain' yang bisa dengan cepat menghasilkan uang. Bahkan anak yang cukup lulus SMA dan sebelumnya pun demikian, lulus sekolah maunya langsung dapat kerja, apapun asal bisa dapat duit sehingga rela menjadi segerombolan pekerja pabrik, atau bahkan menjadi satpam. Padahal di rumah dia punya sawah, yang bisa dikelola namun rasanya risih harus berlumur lumpur, tambahan sawahnya sudah telanjur dijual untuk didirikan bangunan-bangunan tembok para juragan kota yang ingin istirahat di desa, sebagai ganti untuk memiliki sesuatu yang bernama uang.
Maka ini semacam muara dari pendidikan yang demikian. Lihat aja lahan-lahan subur disulap menjadi padang-padang tandus dengan membombangkar balik hutan-hutan perawan di Irian Jaya, Kalimantan, agar bisa diraup gambut berton-kilo emas untuk meningkatkan devisa negara. Berjuta hektar hutan dibabat direngkuh cuman oleh segelintir HPH berpatron Cendana, katanya agar bisa meningkatkan 'devisa' negara padahal cuman agar 'diabisa' kaya.
Sebetulnya cari duit itu sah-sah saja. Dan wajib bagi orang hidup. Namun sebetulnya kan bukan tujuan. Tujuan sebenarnya kan bagaimana bisa hidup sejahtera, hidup makmur. Na, hidup makmur ini yang diartikan dalam waktu singkat bisa kaya, sehingga melupakan ada jalur yang seharusnya dipelihara untuk menjaga kehidupan makmur ini terjaga sepanjang masa. Jalur ini justru dirampas untuk bisa makmur di masa kini. Alam yang menyediakan potensi berlimpah untuh kelanggengan kepentingan hidup, 'dieksploitasi', bukan 'dieksplorasi' lagi. Dengan kata lain mustinya kita bisa kaya kalau kekayaan alam ini terpelihara, dengan memanfaatkan sekaligus mengelola dan memeliharanya. Tapi kita tidak, alam kita rusak agar kita kaya. Kita memang kaya tapi cuman sekejap. Maka 'BAGAIMANA MUNGKIN KITA NYAMAN HIDUP DI ATAS BUMI YANG MURAM?'.
Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Pendidikan kita harus dibenahi dari yang berorientasi ekonomi menjadi berorientasi humanisme (di luar konteks Tuhanisme). Lantas yang berkecimpung di dunia sekolah ya menerapkan pendidikan lingkungan ini pada anak didik, bahkan kolega, maupun atasannya. Yang di pabrik, ya bertanggung jawab untuk merangsang rekan, karyawan, atau atasannya untuk lebih menjaga lingkungan. Yang di jalur norma, kebijakan, ya dengan intensif menjalankan fungsinya sebagai penjaga norma dengan berbagai kajian kebijakan, penyadaran untuk menjaga pagar legitimasi agar implikasi tak melenceng. Artinya siapapun kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam mengatasi problem-problem lingkungan. Sekecil atau sebesar apapun, kita tak bisa mengelak bahwa itu tanggung jawab KITA MASING-MASING, DI RUANG LINGKUP, DAN PADA PERAN MASING-MASING.
Lantas kalau problema lingkungan itu memerlukan singgungan yang bersinergi dengan sesama manusia yang lain, itulah saatnya kita berKOORDINASI, mengapa tidak? Koordinasi berdasar kajian bahwa ada problema bersama, lantas kita susun agenda bersama untuk dilakukan bersama, di bidang masing-masing. Contoh nyata adalah Juli 1999 di Surabaya dibentuk Forum Perkotaan Surabaya, yang mengakomodasi peran para stake holders :
-Stake holder utama : masyarakat
-Stake holder pemegang norma : tokoh masyarakat, LSM, Perguruan tinggi
-Stake holder pembuat dan pelaku kebijakan : DPR, Pemerintah
Mereka mencoba merumuskan langkah bersama untuk menyikapi dan mengatasi problem-problem lingkungan di perkotaaan Surabaya, yang kini sedang mendapat angin dengan akan terbitnya UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, yang membuka peluang bagi daerah untuk dengan leluasa memanage apapun di daerahnya, yang berimplikasi pula pada pengeloaan lingkungan.
Memang problema lingkungan tak bisa dipisahkan hanya dengan suatu atribut kementrian lingkungan hidup. Semua kementrian/departemen yang lain juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, baik itu departemen pariwisata dan kesenian, juga semua departemen kabinet pelangi yang kini masih penuh dengan pelangi problema itu. Pokoknya tidak seperti ala dulu lagi ada separatisme bahwa urusan lingkungan cuman urusan Menteri LH atau pejabat-pejabatnya, yang sudah merasa bekerja kalau sudah mengkoordinir anak buahnya untuk mengumpulkan informasi-informasi lingkungan, membuat pernyataan, cuma membikin seminar. ***
dimuat di: Majalah Bumi, 1999
Yang kita tahu sekarang tentang kerusakan alam, hutan gundul, banjir, tanah longsor, ozon berlubang dengan efek rumah kacanya, satwa punah, air sungai busuk nan bau tak layak untuk mandi, tanah pertanian kering tandus, polusi kendaraan, dan beragam kerusakan yang lain, itu hanya AKIBAT DARI SUATU TINDAKAN.
Tindakannya sendiri berupa : orang menebang hutan, orang memakai AC yang tak ramah lingkungan membikin ruang di dalam rumah dingin, tapi di luarnya panas bukan main, orang menembaki satwa, orang membuang limbah seenak perutnya, orang memakai kendaraan bermotor yang berbahan bakar tak ramah lingkungan, dan sebagainya tingkah polah anak manusia dalam suatu yang disebut TINDAKAN.
Tindakan-tindakan itu ada sebabnya. Mungkin lantaran kebutuhan ekonomi yang melilit, kebutuhan ekonomi yang merangsang agar bisa menumpuk barang dan makhluk lain untuk dikuasai, diserakahi dan direngkuh jadi harta milik, gengsi yang mencengkeram gaya hidup,sifat gelojoh yang mendorong pola hidup konsumtif. Atau bahkan, sosial, budaya dan politik yang mengkondisikan sekelompok besar manusia dalam status 'bangsa' berperilaku disetir oleh kendali kebijakan politik.
Kalau kita runtut dan cari akar permasalahan dari semua tindakan itu, akan ketemu semua adalah akibat dari dari sesuatu nilai atau norma yang bernama Moral, Budaya, yang membuat orang sadar atau punya KESADARAN ataukah tidak. Dalam konteks ini tak bisa lepas dari apa yang dikata PENDIDIKAN. Maka akan ketemu benang merahnya :
Pendidikan ------- Kesadaran------Tindakan, berbagai perilaku merusak alam ------- Akibat dari tindakan, berbagai kerusakan alam
Ternyata, masalah pendidikan kita yang perlu dibenahi. Pendidikan kita selama ini lebih mencetak manusia-manusia yang lebih economic oriented, manusia digodok malah untuk tidak memanusiakan manusia. Namun lebih menjadi mesin-mesin pencetak uang. Apa saja keahlian, ketrampilan di stimulir untuk bisa mengeksploitasi alam sehingga menjadi duit. Anak disekolahkan hingga sarjana, motivasinya cuman bagaimana menjadi 'dokter, insinyur, atau atribut-atribut yang lain' yang bisa dengan cepat menghasilkan uang. Bahkan anak yang cukup lulus SMA dan sebelumnya pun demikian, lulus sekolah maunya langsung dapat kerja, apapun asal bisa dapat duit sehingga rela menjadi segerombolan pekerja pabrik, atau bahkan menjadi satpam. Padahal di rumah dia punya sawah, yang bisa dikelola namun rasanya risih harus berlumur lumpur, tambahan sawahnya sudah telanjur dijual untuk didirikan bangunan-bangunan tembok para juragan kota yang ingin istirahat di desa, sebagai ganti untuk memiliki sesuatu yang bernama uang.
Maka ini semacam muara dari pendidikan yang demikian. Lihat aja lahan-lahan subur disulap menjadi padang-padang tandus dengan membombangkar balik hutan-hutan perawan di Irian Jaya, Kalimantan, agar bisa diraup gambut berton-kilo emas untuk meningkatkan devisa negara. Berjuta hektar hutan dibabat direngkuh cuman oleh segelintir HPH berpatron Cendana, katanya agar bisa meningkatkan 'devisa' negara padahal cuman agar 'diabisa' kaya.
Sebetulnya cari duit itu sah-sah saja. Dan wajib bagi orang hidup. Namun sebetulnya kan bukan tujuan. Tujuan sebenarnya kan bagaimana bisa hidup sejahtera, hidup makmur. Na, hidup makmur ini yang diartikan dalam waktu singkat bisa kaya, sehingga melupakan ada jalur yang seharusnya dipelihara untuk menjaga kehidupan makmur ini terjaga sepanjang masa. Jalur ini justru dirampas untuk bisa makmur di masa kini. Alam yang menyediakan potensi berlimpah untuh kelanggengan kepentingan hidup, 'dieksploitasi', bukan 'dieksplorasi' lagi. Dengan kata lain mustinya kita bisa kaya kalau kekayaan alam ini terpelihara, dengan memanfaatkan sekaligus mengelola dan memeliharanya. Tapi kita tidak, alam kita rusak agar kita kaya. Kita memang kaya tapi cuman sekejap. Maka 'BAGAIMANA MUNGKIN KITA NYAMAN HIDUP DI ATAS BUMI YANG MURAM?'.
Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Pendidikan kita harus dibenahi dari yang berorientasi ekonomi menjadi berorientasi humanisme (di luar konteks Tuhanisme). Lantas yang berkecimpung di dunia sekolah ya menerapkan pendidikan lingkungan ini pada anak didik, bahkan kolega, maupun atasannya. Yang di pabrik, ya bertanggung jawab untuk merangsang rekan, karyawan, atau atasannya untuk lebih menjaga lingkungan. Yang di jalur norma, kebijakan, ya dengan intensif menjalankan fungsinya sebagai penjaga norma dengan berbagai kajian kebijakan, penyadaran untuk menjaga pagar legitimasi agar implikasi tak melenceng. Artinya siapapun kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam mengatasi problem-problem lingkungan. Sekecil atau sebesar apapun, kita tak bisa mengelak bahwa itu tanggung jawab KITA MASING-MASING, DI RUANG LINGKUP, DAN PADA PERAN MASING-MASING.
Lantas kalau problema lingkungan itu memerlukan singgungan yang bersinergi dengan sesama manusia yang lain, itulah saatnya kita berKOORDINASI, mengapa tidak? Koordinasi berdasar kajian bahwa ada problema bersama, lantas kita susun agenda bersama untuk dilakukan bersama, di bidang masing-masing. Contoh nyata adalah Juli 1999 di Surabaya dibentuk Forum Perkotaan Surabaya, yang mengakomodasi peran para stake holders :
-Stake holder utama : masyarakat
-Stake holder pemegang norma : tokoh masyarakat, LSM, Perguruan tinggi
-Stake holder pembuat dan pelaku kebijakan : DPR, Pemerintah
Mereka mencoba merumuskan langkah bersama untuk menyikapi dan mengatasi problem-problem lingkungan di perkotaaan Surabaya, yang kini sedang mendapat angin dengan akan terbitnya UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, yang membuka peluang bagi daerah untuk dengan leluasa memanage apapun di daerahnya, yang berimplikasi pula pada pengeloaan lingkungan.
Memang problema lingkungan tak bisa dipisahkan hanya dengan suatu atribut kementrian lingkungan hidup. Semua kementrian/departemen yang lain juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, baik itu departemen pariwisata dan kesenian, juga semua departemen kabinet pelangi yang kini masih penuh dengan pelangi problema itu. Pokoknya tidak seperti ala dulu lagi ada separatisme bahwa urusan lingkungan cuman urusan Menteri LH atau pejabat-pejabatnya, yang sudah merasa bekerja kalau sudah mengkoordinir anak buahnya untuk mengumpulkan informasi-informasi lingkungan, membuat pernyataan, cuma membikin seminar. ***
Jakarta Kota Mimpi ?
oleh: Yonathan Rahardjo
dimuat di: Kabar Bumi/KONPHALINDO, 2000
Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi.
Jakarta adalah impian. Begitu anggapan yang beredar pada benak para urban di seantero nusantara. Setidaknya hingga masa peralihan penerapan sistem desentralisasi, menggantikan sistem sentralisasi yang menempatkan Jakarta sebagai Ibukota Indonesia menjadi muara kekayaan negeri yang sarat beraneka sumber alam ini.
Daya tarik Metropolitan Jakarta yang menyedot beraneka jenis penduduk dari berbagai daerah, membikin Jakarta seolah-olah pusat pemenuhan kebutuhan yang ada. Kalau mau cari uang, pergilah ke Jakarta, karena di situ banyak lapangan pekerjaan, begitu kata orang.
Atas 'iming-iming' yang menggiurkan itu, Rajikum mengaku meninggalkan semua pengalamannya di kota lain, untuk tinggal di Jakarta selama lebih dari 20 tahun. Sebelum ke Jakarta, ia pernah kerja apa saja. Di Surabaya, ia pernah menjadi penjual teh botol, lalu menjadi sopir angkutan kota bemo lin G Joyoboyo-Karang Menjangan. Hengkang dari Surabaya, selama 3 bulan, ia mengaku menjadi pendamping bule yang hobi menyelam di pantai Kuta, Bali.
Namun bagi Rajikum, hidup di luar Jakarta, ternyata kurang memberi tantangan. Makanya akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dan beruntung ia bisa menjadi Satpam, Satuan Pengaman, di sebuah kantor di bilangan Senayan, dekat lapangan dan gedung olah raga. Ia bersyukur, dengan pekerjaan ini, kebutuhan pokok pangan dan sandang, cukup terpenuhi.
Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan yang ke 3, yaitu mempunyai rumah tempat tinggal, di Jakarta ternyata tidak mudah. "Punya rumah di Jakarta termasuk suatu kemewahan. Tidak sedikit orang yang nggak bisa punya rumah, terpaksa ngontrak atau kos, dan paling sial menjadi gelandangan," tukasnya. Karena Rajikum ada penghasilan, ia pun bisa membayar sewa tempat tinggal. Namun untuk dapat membayar sewa yang dianggapnya layak, membutuhkan waktu. Setahap demi setahap, ia mengaku pernah tinggal di rumah bedengan yang cuma butuh bayar sewa Rp 15.000, hingga mengontrak rumah seharga Rp 200.000 per bulan.
Pikir-pikir, katanya, mengeluarkan uang seharga Rp 200.000 rutin setiap bulan, berarti sama saja harganya dengan membayar uang cicilan rumah KPR-BTN (Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara). Bedanya, untuk punya rumah BTN membutuhkan uang muka 7 jutaan. “Daripada mengeluarkan uang Rp 200.000- an per bulan, tapi akhirnya nggak punya rumah, lebih baik dengan menyicil Rp 200.000 per bulan, tapi dipastikan punya rumah sendiri,” kata Rajikum. “Kini tinggal saya harus menyediakan uang muka,” tegasnya, menirukan katanya ketika berencana saat itu.
Akhirnya dipunyailah uang muka 7 juta itu. Dan ia segera membayarkannya sebagai uang muka di sebuah pameran Real Estate di Gelora (Gedung Olah Raga) Senayan Jakarta tahun 1997-an. Kini, lelaki kelahiran tahun 1965 itu sudah menempati rumah KPR-BTN-nya, bersama seorang istrinya yang cantik, yang diminta untuk hemat agar kredit rumah bisa segera terlunasi nanti.
Mudahkah Memenuhi Keinginan?
Kisah sukses seperti yang dialami Rajikum, juga banyak dialami penduduk Jakarta yang lain. Bahkan bagi yang sudah lebih mapan, mempunyai rumah bukan lagi sekedar buat tempat tinggal. Tapi sudah menjadi citra kekayaan. Rumah mewah di kompleks-kompleks rumah elit, seperti di Villa Ragunan yang tidak sembarang orang bisa masuk, karena dijaga Satpam, menjadi suatu simbol keberadaan sang empunya.
Kebutuhan kalangan mapan seperti ini, sudah melampaui tahap dasar kebutuhan pokok pangan, sandang, dan papan tadi. Membeli sesuatu barang atau jasa, bukan lagi sekedar kebutuhan, atau keperluan. Terbang dan berbelanja di Singapura atau Hongkong, dengan mudah dilakukan dengan kaki yang enteng melangkahkan kaki menumpang pesawat, untuk menjawab hasrat yang sudah melejit hingga ambang keinginan.
Kalaupun berbelanja di dalam negeri, kalangan eksis semacam ini, akan sangat tampil beda dengan orang pas-pasan. Tampak ketika mereka membawa keluar barang belanjaan dari supermarket, seperti Sogo di pusat Jakarta di area Bundaran Hotel Indonesia. Begitu menggunungnya barang yang dibeli, di mata orang miskin, seolah-olah diborongnya semua barang dagangan yang dipajang. Dari gaun dan kacamata bermerek seharga ratusan ribu rupiah, hingga manisan upil yang mestinya juga bisa dibeli di warung dekat rumah tinggal.
Kalau membeli makanan, mudah sih kalau orang seperti ia mau membeli gorengan Rp 250-an perak yang dijajakan penjual dengan pikulan di pundak di pinggir jalan. Tapi kalau cuma ingin menraktir teman-temannya di restoran Meksiko di hotel berbintang pun, dengan ringan tangan kalangan mapan ini merogoh lembaran-lembaran duit di dompet, atau membayarnya dengan kartu kredit yang tertumpuk seperti kartu remi.
Jangan dikira untuk bisa mempunyai gaya hidup yang begitu, bisa diraih dengan mudah. Pendidikan saja tidak cukup. Hubungan 'baik' dengan para relasi sangat perlu. Mau mendapatkan pelayanan komputer gratis, dibantu segala macam pemrograman misalnya, bagaimana bisa dipenuhi kalau tidak ada hubungan khusus dengan person-personnya. Dan hubungan ini bisa bermacam-macam gayanya.
Kalaupun harus berpendidikan tinggi, bagaimana bisa bersekolah berbagai perguruan ternama, bila pintar saja tidak cukup. Terkadang diperlukan uluran tangan orang tua yang bisa membiayai keperluan sekolah atau kuliah, yang tentu biayanya tidak bisa disamakan dengan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) Perguruan Tinggi Negeri tahun 1985-an yang cuma Rp 35.000 per semester, atau bahkan SPP SMA (Sekolah Menangah Atas) di daerah, pada tahun yang sama, sekitar Rp 6.000 per bulan.
Nah, di Jakarta, menjumpai orang tua yang berkemampuan berlipat ganda untuk mendukung pendidikan yang semakin tinggi tingkatnya, semakin susah. Bayangkan, kalau orang tua tak lebih dari urban miskin dari desa, yang berduyun ke Jakarta hanya karena impian yang tak jelas di awalnya. Akhirnya, ya terpaksa melakukan pekerjaan apa saja, asal perut tidak selalu berbunyi.
Haruskah Hidup Seperti Ini?
Para urban yang tak berprospek inilah, yang membuat semua barang di Jakarta bisa menjadi begitu berharga. Barang paling mewah itu berharga, merupakan hal biasa. Namun kalau air seni menjadi begitu berharga, itu karena berjubelnya manusia. Ya, di Jakarta, air kencing pun bisa menyuapi orang untuk makan. Pekerjaan melayani orang kencing, dengan menjaga WC umum hingga terkantuk-kantuk di depan pintu WC, sudah sangat lazim dijumpai di kota yang dulu bernama Sunda Kelapa lalu Batavia ini.
Menjual suara sumbang pun dilakukan. Lihatlah di dalam bis Patas yang melaju dari Jakarta ke Depok. Seorang ibu gemuk sembari menggendong anaknya yang tidur pulas di dada, mendendangkan lagu ‘Desaku yang Kucinta’. Dilanjutkan lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang meliuk fals. Lagu-lagu itu sepantasnya dinyanyikan anak-anak sekolah di bangku sekolah dasar. Tapi ibu lusuh itu menjualnya dengan jalan mengamen, agar dapat uang receh dari penumpang yang berbelas kasihan.
Bahkan anak-anak sebagai hasil kegiatan menghasilkan keturunan pun, harus membantu diri sendiri untuk mencari sesuap nasi. Dengarlah lagu ‘Muda-mudi Jaman Sekarang’-nya Koes Plus diyanyikan anak dekil 10 tahun, dalam bis Patas Depok-Jakarta. Suaranya juga sumbang, namun tetap saja menyumbang lagu buat penumpang bis kota. Ditutup dengan uluran bungkus permen atau tangan menengadah, sebagai tempat penumpang memberi uang santunan.
Ada lagi yang setiap hari mencari uang di sela-sela kaki-kaki yang berdempet-dempet, di bawah gelantungan tangan-tangan berpegangan besi-besi di lorong kereta rel listrik Jakarta-Bogor. Di sela-sela kaki itu, ia bisa berkelit dengan menyeret tapak kakinya yang buntung tanpa jari, dengan luka kering akibat lepra yang diderita semenjak balita (bayi lima tahun). Tapak tangan yang menahan tubuh terseret kaki lepra itu, juga buntung, tanpa jari-jari. Bibirnya bergerak mengeluarkan pujian-pujian Asma Allah.
Matanya terpejam penuh duka, tapi masih berpengharapan. Ia pun berhasil menyentuh nurani para penumpang bergelayutan tadi. Sekalipun hanya satu atau dua dari ribuan penumpang, itu cukuplah memberi penghiburan baginya. Secara praktisnya, kaleng bekas kaleng Dancow dijepit dengan lipatan paha dan perut, terseret kaki yang ditahan tangan juga terserang kusta. Kaleng itu pun menjadi terisi lembar-lembar lima ratusan rupiah.
Lalu ada pula penduduk yang mengais rejeki di tanah lapang, luas, dibatasi kebun singkong dan pohon pisang, dan rumah-rumah kampung. Di situ, batu, kasur, campur sampah menghampar. Bolduzer istirahat di pinggir, menyisakan tanah tergali luas dan dalam. Lelaki dan wanita memegang, memindahkan, memilih sampah pilihan. Ada yang memilih logam, kayu, atau tripleks. Si lelaki mengulurkan tangan, menerima uang setelah sampah di bak truk habis. Truk lantas menyingkir, berputar, pergi ke jalan besar namun macet, di Jakarta. Tinggal mereka berenam, tiga, lelaki, tiga perempuan. Seorang perempuannya menggendong anak lelaki dengan kain batik lusuh.
Di kelompok lain, mereka yang ditenda, dikerubungi barang-barang bekas buangan yang sudah terkumpul. Barang bekas yang kecil menyatu di dalam karungplastik. Barang bekas yang besar tertumpuk di luar, diselimuti langit berawan hitam tanpa batas awan yang jelas. Seorang lelaki berjalan dengan sarung digulung di perut, tersenyum puas.
Di ujung tanah lapang itu, sebuah pos hansip berdiri tenang. Jam dua siang kurang 15 menit, 10 Oktober 2000 itu masih tertulis Dirgahayu RI ke 55 pada gabus tertempel pada tripleks di teras pos. Dindingnya tertulis dari semen timbul, 'Rukun Warga 68 Cipete Utara, 17-8-2000'. Berarti, Jakarta adalah ibukota negara yang sudah lebih dari 55 tahun merdeka. Ternyata di alam kemerdekaan, banyak wajah yang beraneka warna. Ada yang bergairah karena hidupnya cerah, ada yang resah karena kesehariannya susah.
Itulah wajah-wajah sebagian penduduk yang merasa 'terpanggil' untuk tinggal Jakarta kota impian, seperti tertulis pada awal rangkaian kisah nyata ini. Sebagian masih dalam impian, sekalipun hidup susah, masih saja mau meneruskan tinggal di Jakarta, karena barangkali keberuntungan masih sedia menghampiri. Sebagian lagi sudah hendak pulang ke daerah, karena mendengar bahwa dengan diterapkannya desentralisasi di Jakarta semakin sulit mencari rejeki. Seperti kata Yudi, Bintara Marinir yang tinggal di Ragunan dekat markas Marinir di Cilandak KKO yang cukup beruntung punya Vespa, TV, dan kamar kontrakan.
Mestikah Hidup Penuh Mimpi?
Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah itu, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi lagi. Salah satunya bernama Ririen, yang mengaku merasa tersisih dari keluarganya. Bukan karena disisihkan, namun karena ia sendiri yang menyisihkan diri. Ayahnya seorang Kepala Bagian pada suatu Bank di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi dirinya untuk mengambil jalan hidup seperti yang dialaminya di Jakarta saat ini.
Sejak semula, saat masih kecil, Ririen sudah merasa dirinya bukanlah yang tampak secara fisik di mata. Dijalaninya kenikmatan dan kenikmatan kala malam tiba, atau saat kesendirian datang, dengan melepas penampilan fisik tubuhnya. Tiba saatnya ia duduk di kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ririen mulai mendapatkan teman untuk membentuk dirinya yang sesungguhnya. "Saya ‘berlatih’ dengan mereka selama tiga tahun," katanya.
Dari situ Ririen mulai mengikuti gaya hidup teman-temannya. Berpakaian wanita nan seksi yang dulu selalu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, tidak lagi ditabui dan dimaluinya untuk dilakukan di depan orang lain. Ikut kegiatan sana-sini dengan teman-temannya, berujung mulai kelas satu SMA, Ririen mulai melacurkan diri dengan penampilannya sebagai seorang gadis, total. "Kalau kerja di suatu tempat, misalnya salon, tapi tidak melacurkan diri berarti setengah-setengah," ucap Ririen. Dengan melacurkan diri, menurutnya, ia merasakan suatu kepuasan.
Pengalaman inilah yang membuatnya semakin pasti akan jalan hidupnya dan tentang dirinya. Ririen pun memutuskan diri untuk mem'permak' pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang bisa mempercantik tubuh dan wajahnya laksana seorang wanita. Ia sudah mengoperasi dagunya dan berhasil membuat si dagu agak menggantung manis. Untuk hidung, operasinya gagal dan ada bekas sayatan yang belum membentuk hidungnya mancung dan mulus.
Ririen bilang, untuk operasi hidung dan dagu itu, ia cuma mengeluarkan uang masing-masing Rp 100.000 karena yang mengoperasi temannya sendiri. Operasi ulangan untuk hidungnya butuh Rp 300.000. Sedangkan untuk suntikan silikon pada buah dada, Ririen mengaku sudah menghabiskan duit Rp 2,6 juta.
Memang sedari dulu, Ririen sudah merasa ia adalah wanita, Tapi karena terkurung dalam tubuh lelaki bernama Reza Hermansyah, ia sudah menerima dirinya cukup sebagai ‘Waria’ (Wanita Pria) yang suka kepada lelaki. Kini, Ririen ‘beroperasi’ di sepanjang rel kereta api stasiun Pasar Minggu. Kalau bosan, ia suka pindah-pindah tempat ke Semarang, Yogya, Surabaya, Bandung, atau Bogor.
Malam gelap, sepanjang jalur rel kereta api Stasiun Pasar Minggu Jakarta temaram, disinari lampu di beberapa tempat. Ririen dengan penampilannya yang seksi, suka pakai kaos ketat dan rok mini, berlenggak-lenggok mencari kepuasan dan uang makan. Melacurkan diri, agar sempurna keberadaannya sebagai seorang banci. Itukah wajah Jakarta, kota mimpi? Haruskah hidup di sini cuma diisi dengan mimpi? **
dimuat di: Kabar Bumi/KONPHALINDO, 2000
Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi.
Jakarta adalah impian. Begitu anggapan yang beredar pada benak para urban di seantero nusantara. Setidaknya hingga masa peralihan penerapan sistem desentralisasi, menggantikan sistem sentralisasi yang menempatkan Jakarta sebagai Ibukota Indonesia menjadi muara kekayaan negeri yang sarat beraneka sumber alam ini.
Daya tarik Metropolitan Jakarta yang menyedot beraneka jenis penduduk dari berbagai daerah, membikin Jakarta seolah-olah pusat pemenuhan kebutuhan yang ada. Kalau mau cari uang, pergilah ke Jakarta, karena di situ banyak lapangan pekerjaan, begitu kata orang.
Atas 'iming-iming' yang menggiurkan itu, Rajikum mengaku meninggalkan semua pengalamannya di kota lain, untuk tinggal di Jakarta selama lebih dari 20 tahun. Sebelum ke Jakarta, ia pernah kerja apa saja. Di Surabaya, ia pernah menjadi penjual teh botol, lalu menjadi sopir angkutan kota bemo lin G Joyoboyo-Karang Menjangan. Hengkang dari Surabaya, selama 3 bulan, ia mengaku menjadi pendamping bule yang hobi menyelam di pantai Kuta, Bali.
Namun bagi Rajikum, hidup di luar Jakarta, ternyata kurang memberi tantangan. Makanya akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dan beruntung ia bisa menjadi Satpam, Satuan Pengaman, di sebuah kantor di bilangan Senayan, dekat lapangan dan gedung olah raga. Ia bersyukur, dengan pekerjaan ini, kebutuhan pokok pangan dan sandang, cukup terpenuhi.
Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan yang ke 3, yaitu mempunyai rumah tempat tinggal, di Jakarta ternyata tidak mudah. "Punya rumah di Jakarta termasuk suatu kemewahan. Tidak sedikit orang yang nggak bisa punya rumah, terpaksa ngontrak atau kos, dan paling sial menjadi gelandangan," tukasnya. Karena Rajikum ada penghasilan, ia pun bisa membayar sewa tempat tinggal. Namun untuk dapat membayar sewa yang dianggapnya layak, membutuhkan waktu. Setahap demi setahap, ia mengaku pernah tinggal di rumah bedengan yang cuma butuh bayar sewa Rp 15.000, hingga mengontrak rumah seharga Rp 200.000 per bulan.
Pikir-pikir, katanya, mengeluarkan uang seharga Rp 200.000 rutin setiap bulan, berarti sama saja harganya dengan membayar uang cicilan rumah KPR-BTN (Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara). Bedanya, untuk punya rumah BTN membutuhkan uang muka 7 jutaan. “Daripada mengeluarkan uang Rp 200.000- an per bulan, tapi akhirnya nggak punya rumah, lebih baik dengan menyicil Rp 200.000 per bulan, tapi dipastikan punya rumah sendiri,” kata Rajikum. “Kini tinggal saya harus menyediakan uang muka,” tegasnya, menirukan katanya ketika berencana saat itu.
Akhirnya dipunyailah uang muka 7 juta itu. Dan ia segera membayarkannya sebagai uang muka di sebuah pameran Real Estate di Gelora (Gedung Olah Raga) Senayan Jakarta tahun 1997-an. Kini, lelaki kelahiran tahun 1965 itu sudah menempati rumah KPR-BTN-nya, bersama seorang istrinya yang cantik, yang diminta untuk hemat agar kredit rumah bisa segera terlunasi nanti.
Mudahkah Memenuhi Keinginan?
Kisah sukses seperti yang dialami Rajikum, juga banyak dialami penduduk Jakarta yang lain. Bahkan bagi yang sudah lebih mapan, mempunyai rumah bukan lagi sekedar buat tempat tinggal. Tapi sudah menjadi citra kekayaan. Rumah mewah di kompleks-kompleks rumah elit, seperti di Villa Ragunan yang tidak sembarang orang bisa masuk, karena dijaga Satpam, menjadi suatu simbol keberadaan sang empunya.
Kebutuhan kalangan mapan seperti ini, sudah melampaui tahap dasar kebutuhan pokok pangan, sandang, dan papan tadi. Membeli sesuatu barang atau jasa, bukan lagi sekedar kebutuhan, atau keperluan. Terbang dan berbelanja di Singapura atau Hongkong, dengan mudah dilakukan dengan kaki yang enteng melangkahkan kaki menumpang pesawat, untuk menjawab hasrat yang sudah melejit hingga ambang keinginan.
Kalaupun berbelanja di dalam negeri, kalangan eksis semacam ini, akan sangat tampil beda dengan orang pas-pasan. Tampak ketika mereka membawa keluar barang belanjaan dari supermarket, seperti Sogo di pusat Jakarta di area Bundaran Hotel Indonesia. Begitu menggunungnya barang yang dibeli, di mata orang miskin, seolah-olah diborongnya semua barang dagangan yang dipajang. Dari gaun dan kacamata bermerek seharga ratusan ribu rupiah, hingga manisan upil yang mestinya juga bisa dibeli di warung dekat rumah tinggal.
Kalau membeli makanan, mudah sih kalau orang seperti ia mau membeli gorengan Rp 250-an perak yang dijajakan penjual dengan pikulan di pundak di pinggir jalan. Tapi kalau cuma ingin menraktir teman-temannya di restoran Meksiko di hotel berbintang pun, dengan ringan tangan kalangan mapan ini merogoh lembaran-lembaran duit di dompet, atau membayarnya dengan kartu kredit yang tertumpuk seperti kartu remi.
Jangan dikira untuk bisa mempunyai gaya hidup yang begitu, bisa diraih dengan mudah. Pendidikan saja tidak cukup. Hubungan 'baik' dengan para relasi sangat perlu. Mau mendapatkan pelayanan komputer gratis, dibantu segala macam pemrograman misalnya, bagaimana bisa dipenuhi kalau tidak ada hubungan khusus dengan person-personnya. Dan hubungan ini bisa bermacam-macam gayanya.
Kalaupun harus berpendidikan tinggi, bagaimana bisa bersekolah berbagai perguruan ternama, bila pintar saja tidak cukup. Terkadang diperlukan uluran tangan orang tua yang bisa membiayai keperluan sekolah atau kuliah, yang tentu biayanya tidak bisa disamakan dengan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) Perguruan Tinggi Negeri tahun 1985-an yang cuma Rp 35.000 per semester, atau bahkan SPP SMA (Sekolah Menangah Atas) di daerah, pada tahun yang sama, sekitar Rp 6.000 per bulan.
Nah, di Jakarta, menjumpai orang tua yang berkemampuan berlipat ganda untuk mendukung pendidikan yang semakin tinggi tingkatnya, semakin susah. Bayangkan, kalau orang tua tak lebih dari urban miskin dari desa, yang berduyun ke Jakarta hanya karena impian yang tak jelas di awalnya. Akhirnya, ya terpaksa melakukan pekerjaan apa saja, asal perut tidak selalu berbunyi.
Haruskah Hidup Seperti Ini?
Para urban yang tak berprospek inilah, yang membuat semua barang di Jakarta bisa menjadi begitu berharga. Barang paling mewah itu berharga, merupakan hal biasa. Namun kalau air seni menjadi begitu berharga, itu karena berjubelnya manusia. Ya, di Jakarta, air kencing pun bisa menyuapi orang untuk makan. Pekerjaan melayani orang kencing, dengan menjaga WC umum hingga terkantuk-kantuk di depan pintu WC, sudah sangat lazim dijumpai di kota yang dulu bernama Sunda Kelapa lalu Batavia ini.
Menjual suara sumbang pun dilakukan. Lihatlah di dalam bis Patas yang melaju dari Jakarta ke Depok. Seorang ibu gemuk sembari menggendong anaknya yang tidur pulas di dada, mendendangkan lagu ‘Desaku yang Kucinta’. Dilanjutkan lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang meliuk fals. Lagu-lagu itu sepantasnya dinyanyikan anak-anak sekolah di bangku sekolah dasar. Tapi ibu lusuh itu menjualnya dengan jalan mengamen, agar dapat uang receh dari penumpang yang berbelas kasihan.
Bahkan anak-anak sebagai hasil kegiatan menghasilkan keturunan pun, harus membantu diri sendiri untuk mencari sesuap nasi. Dengarlah lagu ‘Muda-mudi Jaman Sekarang’-nya Koes Plus diyanyikan anak dekil 10 tahun, dalam bis Patas Depok-Jakarta. Suaranya juga sumbang, namun tetap saja menyumbang lagu buat penumpang bis kota. Ditutup dengan uluran bungkus permen atau tangan menengadah, sebagai tempat penumpang memberi uang santunan.
Ada lagi yang setiap hari mencari uang di sela-sela kaki-kaki yang berdempet-dempet, di bawah gelantungan tangan-tangan berpegangan besi-besi di lorong kereta rel listrik Jakarta-Bogor. Di sela-sela kaki itu, ia bisa berkelit dengan menyeret tapak kakinya yang buntung tanpa jari, dengan luka kering akibat lepra yang diderita semenjak balita (bayi lima tahun). Tapak tangan yang menahan tubuh terseret kaki lepra itu, juga buntung, tanpa jari-jari. Bibirnya bergerak mengeluarkan pujian-pujian Asma Allah.
Matanya terpejam penuh duka, tapi masih berpengharapan. Ia pun berhasil menyentuh nurani para penumpang bergelayutan tadi. Sekalipun hanya satu atau dua dari ribuan penumpang, itu cukuplah memberi penghiburan baginya. Secara praktisnya, kaleng bekas kaleng Dancow dijepit dengan lipatan paha dan perut, terseret kaki yang ditahan tangan juga terserang kusta. Kaleng itu pun menjadi terisi lembar-lembar lima ratusan rupiah.
Lalu ada pula penduduk yang mengais rejeki di tanah lapang, luas, dibatasi kebun singkong dan pohon pisang, dan rumah-rumah kampung. Di situ, batu, kasur, campur sampah menghampar. Bolduzer istirahat di pinggir, menyisakan tanah tergali luas dan dalam. Lelaki dan wanita memegang, memindahkan, memilih sampah pilihan. Ada yang memilih logam, kayu, atau tripleks. Si lelaki mengulurkan tangan, menerima uang setelah sampah di bak truk habis. Truk lantas menyingkir, berputar, pergi ke jalan besar namun macet, di Jakarta. Tinggal mereka berenam, tiga, lelaki, tiga perempuan. Seorang perempuannya menggendong anak lelaki dengan kain batik lusuh.
Di kelompok lain, mereka yang ditenda, dikerubungi barang-barang bekas buangan yang sudah terkumpul. Barang bekas yang kecil menyatu di dalam karungplastik. Barang bekas yang besar tertumpuk di luar, diselimuti langit berawan hitam tanpa batas awan yang jelas. Seorang lelaki berjalan dengan sarung digulung di perut, tersenyum puas.
Di ujung tanah lapang itu, sebuah pos hansip berdiri tenang. Jam dua siang kurang 15 menit, 10 Oktober 2000 itu masih tertulis Dirgahayu RI ke 55 pada gabus tertempel pada tripleks di teras pos. Dindingnya tertulis dari semen timbul, 'Rukun Warga 68 Cipete Utara, 17-8-2000'. Berarti, Jakarta adalah ibukota negara yang sudah lebih dari 55 tahun merdeka. Ternyata di alam kemerdekaan, banyak wajah yang beraneka warna. Ada yang bergairah karena hidupnya cerah, ada yang resah karena kesehariannya susah.
Itulah wajah-wajah sebagian penduduk yang merasa 'terpanggil' untuk tinggal Jakarta kota impian, seperti tertulis pada awal rangkaian kisah nyata ini. Sebagian masih dalam impian, sekalipun hidup susah, masih saja mau meneruskan tinggal di Jakarta, karena barangkali keberuntungan masih sedia menghampiri. Sebagian lagi sudah hendak pulang ke daerah, karena mendengar bahwa dengan diterapkannya desentralisasi di Jakarta semakin sulit mencari rejeki. Seperti kata Yudi, Bintara Marinir yang tinggal di Ragunan dekat markas Marinir di Cilandak KKO yang cukup beruntung punya Vespa, TV, dan kamar kontrakan.
Mestikah Hidup Penuh Mimpi?
Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah itu, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi lagi. Salah satunya bernama Ririen, yang mengaku merasa tersisih dari keluarganya. Bukan karena disisihkan, namun karena ia sendiri yang menyisihkan diri. Ayahnya seorang Kepala Bagian pada suatu Bank di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi dirinya untuk mengambil jalan hidup seperti yang dialaminya di Jakarta saat ini.
Sejak semula, saat masih kecil, Ririen sudah merasa dirinya bukanlah yang tampak secara fisik di mata. Dijalaninya kenikmatan dan kenikmatan kala malam tiba, atau saat kesendirian datang, dengan melepas penampilan fisik tubuhnya. Tiba saatnya ia duduk di kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ririen mulai mendapatkan teman untuk membentuk dirinya yang sesungguhnya. "Saya ‘berlatih’ dengan mereka selama tiga tahun," katanya.
Dari situ Ririen mulai mengikuti gaya hidup teman-temannya. Berpakaian wanita nan seksi yang dulu selalu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, tidak lagi ditabui dan dimaluinya untuk dilakukan di depan orang lain. Ikut kegiatan sana-sini dengan teman-temannya, berujung mulai kelas satu SMA, Ririen mulai melacurkan diri dengan penampilannya sebagai seorang gadis, total. "Kalau kerja di suatu tempat, misalnya salon, tapi tidak melacurkan diri berarti setengah-setengah," ucap Ririen. Dengan melacurkan diri, menurutnya, ia merasakan suatu kepuasan.
Pengalaman inilah yang membuatnya semakin pasti akan jalan hidupnya dan tentang dirinya. Ririen pun memutuskan diri untuk mem'permak' pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang bisa mempercantik tubuh dan wajahnya laksana seorang wanita. Ia sudah mengoperasi dagunya dan berhasil membuat si dagu agak menggantung manis. Untuk hidung, operasinya gagal dan ada bekas sayatan yang belum membentuk hidungnya mancung dan mulus.
Ririen bilang, untuk operasi hidung dan dagu itu, ia cuma mengeluarkan uang masing-masing Rp 100.000 karena yang mengoperasi temannya sendiri. Operasi ulangan untuk hidungnya butuh Rp 300.000. Sedangkan untuk suntikan silikon pada buah dada, Ririen mengaku sudah menghabiskan duit Rp 2,6 juta.
Memang sedari dulu, Ririen sudah merasa ia adalah wanita, Tapi karena terkurung dalam tubuh lelaki bernama Reza Hermansyah, ia sudah menerima dirinya cukup sebagai ‘Waria’ (Wanita Pria) yang suka kepada lelaki. Kini, Ririen ‘beroperasi’ di sepanjang rel kereta api stasiun Pasar Minggu. Kalau bosan, ia suka pindah-pindah tempat ke Semarang, Yogya, Surabaya, Bandung, atau Bogor.
Malam gelap, sepanjang jalur rel kereta api Stasiun Pasar Minggu Jakarta temaram, disinari lampu di beberapa tempat. Ririen dengan penampilannya yang seksi, suka pakai kaos ketat dan rok mini, berlenggak-lenggok mencari kepuasan dan uang makan. Melacurkan diri, agar sempurna keberadaannya sebagai seorang banci. Itukah wajah Jakarta, kota mimpi? Haruskah hidup di sini cuma diisi dengan mimpi? **
Langgan:
Entri (Atom)