EHDB 26/ 15 Nopember 1999 WAKTU MAKAN DALAM PANJANGNYA HARI ITU
Soal cemas nggak mau makan
tidak hanya dialami orang yang tak bisa
menyediakan makanan pokok,
beserta lauk pauknya.
ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD juga kadang
cemas nggak menyediakan santapan harian
soal kemanusiaan pada problema lingkungan setiap hari
TAK ADA JALAN LAIN.
MAKANAN HARUS SELALU TERSEDIA.
Kalau makanan yang disediakan hari itu
adalah makanan yang seharusnya untuk kemarin..
rasanya juga kurap klop.
basi..
hambar..
mungkin..
Tapi rupanya kita tidak bicara soal makanan
yang demikian.
Kita bicara tentang sebuah perenungan
Bukan soal HOT NEWS.
Itulah yang membedakan antara karya sastra WS Rendra
dengan berita harian di surat kabar
yang lebih mengedepankan aktualisasi produknya
sesuai isu yang beredar.
Maka dengan heran seorang Rendra mengatakan
kecewa saat wartawan mengritiknya bahwa
karya-karyanya tak lebih karya lama yang
diangkat kembali.
Padahal bagi seorang budayawan..
yang dijadikan bobot karyanya
adalah perenungan itu sendiri.
Karena pada hakekatnya setiap problema superfisial
kalau digali lagi kedalamannya..
ya berinti sama.
Suatu problema pada masa lalu..
tak akan jauh beda dengan problema masa kini.
ESENSINYA.
TERMASUK PROBLEMA LINGKUNGAN.
Secara teknis memang bisa berpenampilan beda
bak panggung,
kostum pemain,
berkerlap-kerlipnya lampu,
maupun hingar bingarnya musik pengiring.
Penggundulan hutan yang membikin dunia ketakutan
asap knalpot hitam memekat
membuat seorang muda sudah kena pneumonia
pada masa seharusnya penuh vitalitas dan stamina
Hujan asam yang tak bisa dibuat sayur asam
Pemanasan global yang bukan sekedar isu gombal
Semua..
semua...
semua bisa berwarna-warni...
Namun bila digelintir itu semua,
dihayati dengan rasa
dalam hening dan tenang..
ada suatu pertanyaan yang sama..
Bagaimana aku harus menyikapi ini?
Sementara dalam 24 jam sehari begitu berpelanginya
problema yang kita alami
di sekitarku
di sekitarmu
disekitar kita kita,sekalipun.
Ketaktisan dalam menghadapi semua itu
perlu pula.. direnungkan laksana doa dan sembahyang..
yang mempunyai waktu tertentu..
pada panjangnya setiap hari itu..
Ketaktisan dalam menjalankan semua strategi
perlu pula.. dihayati laksana memilah lauk dan bumbu..
yang akan menyedapkan masakan..
yang akan menyedapkan makanan
yang kan membuat kita berseru nyaring,
'YUMMY!"
ENAK SEKALI..
ENAK SEKALI!!
MAKANANKU HARI INI
AKU BERENERGI!
BERVITALITAS TINGGI..
MENGGAPAI SANG MENTARI. ***
Yonathan Rahardjo
tidak hanya dialami orang yang tak bisa
menyediakan makanan pokok,
beserta lauk pauknya.
ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD juga kadang
cemas nggak menyediakan santapan harian
soal kemanusiaan pada problema lingkungan setiap hari
TAK ADA JALAN LAIN.
MAKANAN HARUS SELALU TERSEDIA.
Kalau makanan yang disediakan hari itu
adalah makanan yang seharusnya untuk kemarin..
rasanya juga kurap klop.
basi..
hambar..
mungkin..
Tapi rupanya kita tidak bicara soal makanan
yang demikian.
Kita bicara tentang sebuah perenungan
Bukan soal HOT NEWS.
Itulah yang membedakan antara karya sastra WS Rendra
dengan berita harian di surat kabar
yang lebih mengedepankan aktualisasi produknya
sesuai isu yang beredar.
Maka dengan heran seorang Rendra mengatakan
kecewa saat wartawan mengritiknya bahwa
karya-karyanya tak lebih karya lama yang
diangkat kembali.
Padahal bagi seorang budayawan..
yang dijadikan bobot karyanya
adalah perenungan itu sendiri.
Karena pada hakekatnya setiap problema superfisial
kalau digali lagi kedalamannya..
ya berinti sama.
Suatu problema pada masa lalu..
tak akan jauh beda dengan problema masa kini.
ESENSINYA.
TERMASUK PROBLEMA LINGKUNGAN.
Secara teknis memang bisa berpenampilan beda
bak panggung,
kostum pemain,
berkerlap-kerlipnya lampu,
maupun hingar bingarnya musik pengiring.
Penggundulan hutan yang membikin dunia ketakutan
asap knalpot hitam memekat
membuat seorang muda sudah kena pneumonia
pada masa seharusnya penuh vitalitas dan stamina
Hujan asam yang tak bisa dibuat sayur asam
Pemanasan global yang bukan sekedar isu gombal
Semua..
semua...
semua bisa berwarna-warni...
Namun bila digelintir itu semua,
dihayati dengan rasa
dalam hening dan tenang..
ada suatu pertanyaan yang sama..
Bagaimana aku harus menyikapi ini?
Sementara dalam 24 jam sehari begitu berpelanginya
problema yang kita alami
di sekitarku
di sekitarmu
disekitar kita kita,sekalipun.
Ketaktisan dalam menghadapi semua itu
perlu pula.. direnungkan laksana doa dan sembahyang..
yang mempunyai waktu tertentu..
pada panjangnya setiap hari itu..
Ketaktisan dalam menjalankan semua strategi
perlu pula.. dihayati laksana memilah lauk dan bumbu..
yang akan menyedapkan masakan..
yang akan menyedapkan makanan
yang kan membuat kita berseru nyaring,
'YUMMY!"
ENAK SEKALI..
ENAK SEKALI!!
MAKANANKU HARI INI
AKU BERENERGI!
BERVITALITAS TINGGI..
MENGGAPAI SANG MENTARI. ***
Yonathan Rahardjo
Komentar