Esai pada prinsipnya ilah bagian dari prosa berupa
pembahasan terhadap suatu masalah secara sepintas lalu berdasar
pendapat pribadi penulis/pengarangnya.
Bertitik tolak dari pendapat pribadi/opini pengarang,
maka tentu saja suatu Esai akan sangat berbobot bila Orisinilitas
dikedepankan.
Dalam keseusateraan Indonesia kita mengenal nama-nama
penulis Esai (Esaiis) handal semacam Gunawan Mohammad,
Arief Budiman, Wiratmo Sukito, Subagio Sastrowardoyo,
Darmanto Jatman, Abdul Hadi W.M., Ajip Rosjidi, M.S. Hutagalung,
dan konco-konconya. Tentu saja, di samping Paus Sastra Indonesia,
H.B. Jassin, yang juga penulis Esai yang tercemerlang!
Belajar dari para pendekar Esai,
kita pun bisa menulis Esai dengan bertolak dari suatu
pertanyaan kemudian mengerahkan segala kemampuan masing-masing
dalam menguraikan jawabannya, dengan gaya penulisan yang
menarik sesuai kepribadian masing-masing.
Itulah yang dipakai para pendekar itu.
Tak lari dari kepribadian sendiri!
BE YOUR SELF, so Kenali Diri Sendiri, kata Socrates.
Begitulah, Jassin muncul dengan gayanya yang ces pleng,
Darmanto dengan gaya bikin pening orang awam,
Wiratmo dengan gaya filsufnya,
Subagio dengan gaya penyairnya.
Andapun dapat muncul dengan gaya Anda,
khas Anda, milik Anda sendiri!
Ciptakan sendiri gaya Anda, jangan meniru orang lain,
kendati sah-sah saja ada pengaruhnya bagi Anda juga.
Tapi biarkan semua pengaruh itu justru membantu Anda
untuk menemukan jati diri Anda sendiri,
dalam menulis Esai, yang jadi ciri khas Anda.
Sehingga satu kali orang membaca guratan pena Anda,
maka akan segera dikenali, oo itu tulisannya Bejo!
Seperti sekali menikmati lukisan seseorang,
karena goresan kuasnya begitu kental, ekspresif! dan tegas,
orang segera mengenali itu adalah lukisan Affandi,
membedakan dengan Basuki Abdullah, ataupun D. Sudjojono.
Dalam pemilahannya, Esai dapat diklasifikasikan menjadi dua :
yang obyektif, dan subyektif.
Yang OBYEKTIF sering diberi predikat "Sebuah Studi".
Yang SUBYEKTIF sering disebut sebagai "Sebuah Esai kecil".
Ambil contoh berangkat dari pertanyaan
Apakah Keanekaragaman Hayati itu?
Orang pun dapat menguraikannya dalam sebuah buku tebal
kayak bantal. Sebuah studi.
Dan seorang penyair pun dapat menguraikannya
menurut seleranya sendiri. Subyektif!
Maka orang lain akan dapat memetik manfaat,
mereka mempunyai kesempatan mengenal pola
pikir sang penyair bersangkutan.
Dan hal ini akan sangat bermanfaat dalam peluluhan diri
manakala menikmati sajak-sajak gubahan sang penyair.
Namun, hati-hati. Sebuah tulisan baru dapat disebut sebagai Esai
bila karangan itu tidak ditulis secara acak-acakan, gaya bahasa
dan cara pengungkapannya memikat hati.
Jelas, sekalipun itu unek-unek Anda sendiri,
100 persen murni pendapat Anda sendiri, murni 24 karat…
jangan lantas menepuk dada, aku sudah mencipta Esai.
Kita kan nggak mau amburadul kan?
Memang, materi sebuah Esai bukan cuma persoalan sastra melulu.
Namun ini lebih berarti bahwa kita dapat mengangkat
apapun menjadi bahan Esai, seni yang lainnya,
politik, atau sejarah, atau religi, filsafat, dan sebagainya,
bahkan masalah esai itu sendiri bisa digarap,
seperti yang ditulis Arif Budiman dalam "Esai tentang Esai"
di Majalah Horison.
Dan kini? Kita ber-Esai Ria tentang Kenakeragaman Hayati!
Tentu saja Anda harus menjadi diri Anda sendiri.
Yang berlatar belakang hukum, mengapa tidak menulis
kecintaan terhadap Keragaman Hayati bernuansa Hukum?
Yang berlatar belakang ekonomi pun demikian,
antropologi, sosial, dan lain-lain, dan lain-lain.
Tentu saja, Esai Anda yang masih dalam kerangka
jurnalistik lingkungan, tetaplah berangkat dengan pola
REALISTIS, dan IDEALIS.
Beri masalah, namun jangan benamkan pembaca pada
MASALAH lantas tak bisa bangun dan berbuat nyata
bagi kehidupan dan lingkungan.
Maka Beri SOLUSI. Itulah yang menghidupkan,
dan pembaca Anda akan begitu bersemangat untuk
menjadi pecinta-pecinta lingkungan, pecinta-pecinta
keanekaragaman hayati sejati.
Termasuk Anda sendiri. ***
Yonathan Rahardjo/dari berbagai sumber
Minggu, 26 Agustus 2007
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar