Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 23/ 12 Nopember 1999 KERBAU METROPOLITAN

Seekor kerbau ditembak mati.
Ia tinggal di Jakarta.
Aneh,
di kota metropolitan begitu
masih ada kerbau
yang identik dengan lumpur..
Apa memang Jakarta penuh lumpur?

Memang Jakarta penuh lumpur dan lumur dosa
laksana kota Sodom dan Gomora.
Namun bukan itu masalahnya
yang nyata..
apapun hewan bisa didomestikasi..
sekalipun habitat aslinya hutan belantara
bisa saja duduk berlantai marmer putih Italia
atau marmer merah Amerika..
di gedung megah.. meGAH.. dan MEGAH

Tapi kalau kebablasan
Ya tentu yang punya peradaban bisa naik pitam
Kerbau itu contohnya.
di dor! polisi karena beringas dan mengendus
melabrak tukang-tukang ojek di kampung Jakarta Timur

3 tukang ojek pontang-panting
lebih baik nyebur kali
daripada sok punya nyali
tapi mati seperti atlet matador Spanyol
ditanduk banteng, saudara tua si kerbau.

Eh!.
Apakah si kerbau jadi begitu lantaran
dia ingin menanduk?
Bukan, ternyata ia bisa kayak gitu
cuma karena kupungnya dimasuki "orong-orong"
oleh 3 anak kampung..
Karuan seperti kesetanan!
Karena kuping kok jadi rumah serangga!

Semua selalu bermula
dari tingkah polah si manusia..
Hingga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman
atau Australia sampai bertanya,
"Mengapa di Indonesia tidak ada
burung merpati terbang tinggi dan rendah
bebas bercengkerama di jalan-jalan raya..
laksana si manusia..
berkerumun dan bercanda
sekalipun di jalan kenangan kita?
Tidak seperti di Jerman..?
Tidak seperti di Australia..?”

OH.
Ternyata semua karena manusia.
Ternyata semua karena kita.
Kita yang
Tak lebih baik daripada
tiga anak kampung
yang kadang tanpa celana
yang memasukkan "serangga orong-orong"
ke telinga
sang kerbau perkasa. ***

Yonathan Rahardjo

0 komentar: