EHDB 50/ 9 Desember 1999 HANTU 4
Pengaruh Dioksin terhadap Kesehatan Manusia
Menurut pertemuan konsultasi WHO pada bulan Mei 1998 tentang penilaian resiko dioksin terhadap kesehatan manusia, dioksin dapat mengganggu kesehatan manusia, yaitu dapat menimbulkan gangguan pada kulit, kekebalan tubuh, reproduksi, kehamilan, hormon dan dapat menimbulkan kanker.
Dari pertemuan tersebut Tolarable Daily Intake (TDI) yang telah ditetapkan tahun 1990 diturunkan 10 kali lebih rendah menjadi 1-4 pg I-TEQ per kg berat badan, mengingat resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.
Gangguan kulit pada manusia yang dapat ditimbulkan oleh dioksin antara lain chloracne, hiperkeratosis dan hiperpigmentasi. Chloracne dilaporkan pertama kali pada tahun 1897 sebagai penyakit yang berkaitan dengan keterpaparan dioksin. Masalah chloracne pada pekerja terjadi sekitar tahun 1930 pada pekerja di pabrik pestisida dan pabrik penghasil PCB. Chloracne ditandai dengan terjadinya erupsi kulit, terdapatnya bisul dan pustula, seperti kasus jerawat yang parah pada remaja.
US Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan bahwa dioksin dapat merusak sistem kekebalan tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari penelitian yang menggunakan hewan percobaan, ditunjukkan bahwa dioksin dapat menurunkan jumlah sel B (sel kekebalan tubuh yang dihasilkan timus dan beredar di seluruh tubuh). Secara tidak langsung, dioksin mempengaruhi dan mengubah aktivitas hormon-hormon yang mengatur tanggap kebal (immune respons), seperti glukokortikoid, steroid, tiroksin, hormon pertumbuhan dan prolaktin.
Gangguan reproduksi yang disebabkan oleh dioksin antara lain penurunan kadar hormon kelamin pria (testosteron), penurunan jumlah sperma dan endometriosis pada wanita. Gejala tersebut dilaporkan dari penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan dan studi epidemiologis pada manusia.
Sifat karsinogenik dioksin telah dibuktikan dari studi epidemiologis pada sejumlah kelompok manusia yang terpapar dengan dioksin, seperti pada penduduk di Seveso Italia, Jepang dan Vietnam. Studi epidemiologis yang dilakukan di Jerman terhadap pekerja-pekerja di industri herbisida (triklorofenol) dari tahun 1942 sampai 1984 menunjukkan resiko terjadinya tumor dan kanker lebih tinggi pada pekerja yang terpapar lebih banyak dengan dioksin.
Pengendalian (?)Saat ini sangat kecil kemungkinannya bagi kita untuk tidak terpapar sama sekali dengan dioksin, terutama daerah industri dan padat lalu lintas. Yang dapat kita perbuat hanya mengurangi daily intake dioksin, antara lain dengan mengatur diet makanan, seperti memakan daging yang tidak berlemak banyak dan meminum susu berkadar lemak rendah.
Penggunaan pestisida yang mengandung senyawa klorin perlu dicegah di bidang pertanian. Konsep Good Farming Practice perlu diterapkan dalam bidang pertanian dan peternakan untuk menjamin produk pertanian dan peternakan yang aman dan bermutu.
Pencemaran dioksin pada bahan makanan harus dihindari. misalnya tidak menggunakan pembungkus plastik PVC untuk bahan makanan. Industri pangan perlu menerapkan sistem keamanan pangan dan manajemen mutu. Sistem keamanan pangan yang dianjurkan oleh Codex Alimentarius adalah Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Selanjutnya pengawasan pemerintah terhadap produk-produk makanan impor, terutama dari negara-negara maju, perlu dioptimumkan.Industri-industri yang menjadi sumber dioksin perlu mendapat pengawasan ketat. Pekerja-pekerja perlu mendapat perlindungan yang baik untuk mengurangi tingkat keterpaparan, misalnya melalui program keselamatan dan kesehatan kerja. Sistem manajemen mutu pada industri tersebut perlu diterapkan.
Pembakaran sampah mengandung senyawa organoklorin atau senyawa terklorinasi ganda (seperti PCB dan PVC) perlu diperhatikan. Pemerintah perlu menetapkan ambang dan menjaga emisi dioksin di lingkungan pada tingkat yang aman.Agar masyarakat paham, sadar dan peduli terhadap lingkungan, diperlukan informasi yang memadai dan berkesinambungan. Informasi tersebut perlu diberikan pada pendidikan formal, yang dimulai dari tingkat taman kanak-kanak. CUKUPKAH INI? ***Dari berbagai sumber
Menurut pertemuan konsultasi WHO pada bulan Mei 1998 tentang penilaian resiko dioksin terhadap kesehatan manusia, dioksin dapat mengganggu kesehatan manusia, yaitu dapat menimbulkan gangguan pada kulit, kekebalan tubuh, reproduksi, kehamilan, hormon dan dapat menimbulkan kanker.
Dari pertemuan tersebut Tolarable Daily Intake (TDI) yang telah ditetapkan tahun 1990 diturunkan 10 kali lebih rendah menjadi 1-4 pg I-TEQ per kg berat badan, mengingat resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.
Gangguan kulit pada manusia yang dapat ditimbulkan oleh dioksin antara lain chloracne, hiperkeratosis dan hiperpigmentasi. Chloracne dilaporkan pertama kali pada tahun 1897 sebagai penyakit yang berkaitan dengan keterpaparan dioksin. Masalah chloracne pada pekerja terjadi sekitar tahun 1930 pada pekerja di pabrik pestisida dan pabrik penghasil PCB. Chloracne ditandai dengan terjadinya erupsi kulit, terdapatnya bisul dan pustula, seperti kasus jerawat yang parah pada remaja.
US Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan bahwa dioksin dapat merusak sistem kekebalan tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari penelitian yang menggunakan hewan percobaan, ditunjukkan bahwa dioksin dapat menurunkan jumlah sel B (sel kekebalan tubuh yang dihasilkan timus dan beredar di seluruh tubuh). Secara tidak langsung, dioksin mempengaruhi dan mengubah aktivitas hormon-hormon yang mengatur tanggap kebal (immune respons), seperti glukokortikoid, steroid, tiroksin, hormon pertumbuhan dan prolaktin.
Gangguan reproduksi yang disebabkan oleh dioksin antara lain penurunan kadar hormon kelamin pria (testosteron), penurunan jumlah sperma dan endometriosis pada wanita. Gejala tersebut dilaporkan dari penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan dan studi epidemiologis pada manusia.
Sifat karsinogenik dioksin telah dibuktikan dari studi epidemiologis pada sejumlah kelompok manusia yang terpapar dengan dioksin, seperti pada penduduk di Seveso Italia, Jepang dan Vietnam. Studi epidemiologis yang dilakukan di Jerman terhadap pekerja-pekerja di industri herbisida (triklorofenol) dari tahun 1942 sampai 1984 menunjukkan resiko terjadinya tumor dan kanker lebih tinggi pada pekerja yang terpapar lebih banyak dengan dioksin.
Pengendalian (?)Saat ini sangat kecil kemungkinannya bagi kita untuk tidak terpapar sama sekali dengan dioksin, terutama daerah industri dan padat lalu lintas. Yang dapat kita perbuat hanya mengurangi daily intake dioksin, antara lain dengan mengatur diet makanan, seperti memakan daging yang tidak berlemak banyak dan meminum susu berkadar lemak rendah.
Penggunaan pestisida yang mengandung senyawa klorin perlu dicegah di bidang pertanian. Konsep Good Farming Practice perlu diterapkan dalam bidang pertanian dan peternakan untuk menjamin produk pertanian dan peternakan yang aman dan bermutu.
Pencemaran dioksin pada bahan makanan harus dihindari. misalnya tidak menggunakan pembungkus plastik PVC untuk bahan makanan. Industri pangan perlu menerapkan sistem keamanan pangan dan manajemen mutu. Sistem keamanan pangan yang dianjurkan oleh Codex Alimentarius adalah Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Selanjutnya pengawasan pemerintah terhadap produk-produk makanan impor, terutama dari negara-negara maju, perlu dioptimumkan.Industri-industri yang menjadi sumber dioksin perlu mendapat pengawasan ketat. Pekerja-pekerja perlu mendapat perlindungan yang baik untuk mengurangi tingkat keterpaparan, misalnya melalui program keselamatan dan kesehatan kerja. Sistem manajemen mutu pada industri tersebut perlu diterapkan.
Pembakaran sampah mengandung senyawa organoklorin atau senyawa terklorinasi ganda (seperti PCB dan PVC) perlu diperhatikan. Pemerintah perlu menetapkan ambang dan menjaga emisi dioksin di lingkungan pada tingkat yang aman.Agar masyarakat paham, sadar dan peduli terhadap lingkungan, diperlukan informasi yang memadai dan berkesinambungan. Informasi tersebut perlu diberikan pada pendidikan formal, yang dimulai dari tingkat taman kanak-kanak. CUKUPKAH INI? ***Dari berbagai sumber
Komentar