EHDB 25/ 14 Nopember 1999 SUARA APA?
Terpisah
Dari rombongan,
Tersesat seorang diri
Di hutan.
Gelap.
Teramat sulit rupanya
Sang surya siang menembus
Lebat dedaunan pohon-pohon raksasa.
Lembab.
Senyap.
Di mana gerangan kau kawan?
Aku berteriak!!
Menjerit!!!
Sekuat tenaga !!!!!
Memanggil kalian.
Tapi..
Kenapa kalian membisu… ?
Aku bersiul keras!!
Tinggi !!!
Melengking!!!!!
Tapi..
Kenapa kalian tetap tak mencariku… ?
Dalam putus asaku..
Kala
Suara serak dan hampir habis..
Aku cuma
Bisa bersuara
Rendah..
“tolong…
Tolong…”
Oh!! Lega juga bilang begitu..
Tolong..
Tolong..
Jelas.
Ya. Jelas.
Dan semangatku
Pun tumbuh
Suara ini menjadi bisa
Sedikit lebih keras…
Toloong..
Toloong..!
Dan keras..
Toloong!!
Tetap dengan nada rendah.
Terdengar dedaunan bergesek
Terdengar suara-suara manusia
Wow!
Itu kalian!
Kalian datang!!
Kalian dengar suaraku
Kalian menjemputku
Menyelamatkan
Dari gelap,
Sesak,
Dan terasing
Tapi..
Bagaimana mungkin
Kalian baru muncul
Sesudah teriakanku
Yang ketiga?
Tipe ketiga?
Bagaimana bisa?
…
Rupanya..
Kalian menyangka suara
Pertama dan keduaku
Adalah suara burung
Yang melengking.
Melengking.
Sementara aku sendiri
Menjadi
Kehabisan tenaga
Karenanya
Atau kalian kurang terjangkau
Suara tinggi itu
Sebab… rupanya hanya
Nada rendah-lah
Yang dapat menjangkau
Tempat jauh
Dalam belantara..
Rupanya
Teriakanku
Yang ketiga
Adalah
Teriakan manusia
Yang bisa didengar oleh..
Manusia ..
Yang
Hanya tahu suara manusia
Di satu sisi
Yang lain..
Hanya manusia ..
Yang bisa
Berteriak
Ala
Manusia.
Manusiakah aku?
Manusiakah kalian?
Suara apa suaraku?
Suara apa suara kalian? ***
Yonathan Rahardjo
Dari rombongan,
Tersesat seorang diri
Di hutan.
Gelap.
Teramat sulit rupanya
Sang surya siang menembus
Lebat dedaunan pohon-pohon raksasa.
Lembab.
Senyap.
Di mana gerangan kau kawan?
Aku berteriak!!
Menjerit!!!
Sekuat tenaga !!!!!
Memanggil kalian.
Tapi..
Kenapa kalian membisu… ?
Aku bersiul keras!!
Tinggi !!!
Melengking!!!!!
Tapi..
Kenapa kalian tetap tak mencariku… ?
Dalam putus asaku..
Kala
Suara serak dan hampir habis..
Aku cuma
Bisa bersuara
Rendah..
“tolong…
Tolong…”
Oh!! Lega juga bilang begitu..
Tolong..
Tolong..
Jelas.
Ya. Jelas.
Dan semangatku
Pun tumbuh
Suara ini menjadi bisa
Sedikit lebih keras…
Toloong..
Toloong..!
Dan keras..
Toloong!!
Tetap dengan nada rendah.
Terdengar dedaunan bergesek
Terdengar suara-suara manusia
Wow!
Itu kalian!
Kalian datang!!
Kalian dengar suaraku
Kalian menjemputku
Menyelamatkan
Dari gelap,
Sesak,
Dan terasing
Tapi..
Bagaimana mungkin
Kalian baru muncul
Sesudah teriakanku
Yang ketiga?
Tipe ketiga?
Bagaimana bisa?
…
Rupanya..
Kalian menyangka suara
Pertama dan keduaku
Adalah suara burung
Yang melengking.
Melengking.
Sementara aku sendiri
Menjadi
Kehabisan tenaga
Karenanya
Atau kalian kurang terjangkau
Suara tinggi itu
Sebab… rupanya hanya
Nada rendah-lah
Yang dapat menjangkau
Tempat jauh
Dalam belantara..
Rupanya
Teriakanku
Yang ketiga
Adalah
Teriakan manusia
Yang bisa didengar oleh..
Manusia ..
Yang
Hanya tahu suara manusia
Di satu sisi
Yang lain..
Hanya manusia ..
Yang bisa
Berteriak
Ala
Manusia.
Manusiakah aku?
Manusiakah kalian?
Suara apa suaraku?
Suara apa suara kalian? ***
Yonathan Rahardjo
Komentar