Kesedihan yang sakit dan mendalam muncul di dalam hati kita masing-masing. Mengapa bumi saya, bumi kita..dikoyak-koyak begitu saja? Bahkan seringkali oleh orang-orang yang mengaku mengerti dan bahkan pecinta lingkungan? Sayang, saya, anda, dan kita cuma bisa diam. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Begitu banyak LSM tumbuh menjamur, begitu banyak pula dana dikucurkan dari luar negeri. Masih saja terjadi berbagai tindakan pengrusakan lingkungan terjadi, bahkan dengan model seremeh apapun. Berapa juta manusia setiap harinya menenteng tas plastik sebagai wadah belanjaan sepulang kios, warung, toko, pasar atau supermarket? Tidak tahukah mereka bahwa sampah plastik selalu menjadi benda asing penandus tanah? Tidak tahukah mereka bahwa asap pembakaran sampah plastik selalu membuat udara tak layak dihirup untuk bernafas?...
Bermilyar dana dihimpun, namun mengapa seorang petani di suatu desa Jawa Tengah tetap saja merasa tidak bisa bertanam? Hanya lantaran tidak punya uang pembeli pupuk? Bukankah tanpa uang pupuk tetap bisa dibuat? Air ludah, air kencing, kotoran hewan, bahkan kotoran manusia, bukankah itu media gratis untuk membuat pupuk? Mengapa harus tergantung pada urea yang maunya untuk menyuburkan lahan, ternyata malah kian menyedot kesuburan tanah dan membikin tandus tanah? Siapa yang salah...? Siapa yang bisa bikin betul...?
Apa ratusan LSM dadakan itu tidak bisa merubah apa pun? Kemanakah dana yang bertumpuk-tumpuk itu, mengapa tetap saja tertatih-tatih prinsip berlingkungan yang ramah? Sayang kalau berita ini benar, bahwa banyak dana untuk kegiatan pro lingkungan ternyata cuma mampir untuk kepentingan pribadi. Kalau begitu apa betul para pendekar LSM lingkungan tersebut SAHABAT hanya bagi kalangan sendiri? "OPOSAN" terhadap mereka yang dahinya tertera "Perusak Lingkungan"? Mengapa selalu bisa melakukan suatu aksi terhadap golongan yang sudah tampak jelas-jelas menggunduli hutan, mencemari sungai? Tapi bagi dirinya sendiri masih saja melakukan tindakan yang tidak konsekuen dengan apa yang disuarakan 'jaga kelestarian alam' bahkan terhadap pemakaian plastik sekalipun?
Sangat sulit bagi kita membedakan mana yang berpredikat PENDEKAR atau PERUSAK lingkungan. Itulah mengapa, banyak di antara kita yang tidak punya nyali untuk ikut bertindak dalam kegiatan sayang lingkungan bahkan sekalipun hanya untuk urun bicara atau tulis pada media-media atau milis-milis lingkungan. Karena secara langsung merasa diri sendiri juga "PENDOSA". Wajar sangat sulit bagi kita untuk bisa tahu jelas mengenai diri sendiri, kalau kita cuma hanya pernah merasakan menjadi PUTIH selalu padahal untuk tahu ABU-ABU saja kita juga harus tahu warna HITAM. Keberpihakan kita sangat tidak jelas!
Kini bukanlah saatnya bagi kita untuk memilah-milah siapa yang golongan putih dan golongan hitam. Siapa yang memperjuangkan kepentingan lingkungan, atau siapa yang justru merusak lingkungan. Sekalipun dicap sebagai perusak lingkungan, kita akui kadang muncul pembenaran dari sisi ego manusia kita : Bahwa kalau suatu saat kita juga menjadi pendekar lingkungan. Paling sedikit punya sudut pandang dari kedua sisi. Dengan bekal itu mungkin banyak di antara kita bisa mencoba untuk cukup arif mengayomi keduanya dan mencari solusi terbaik bagi ketiganya : Win... Win...Win.... baik saat terjadi perusakan lingkungan, pelestarian lingkungan atau saat kedua-keduanya terjadi dalam satu kepentingan. Kalaupun di mana-mana terjadi peperangan antara yang perusakan dan pelestarian, tetap harus ada keseimbangan.
Lantas siapa sesungguhnya THE REAL GENERATOR...Yang akan membangkitkan semua peran kita serta menjalankan semua fungsi sehingga tercapai keselarasan dalam harmoni..? Pada diri kita masing-masing, kita pernah memerankan fungsi pendekar lingkungan, bukan hanya perusak lingkungan. Jiwa inilah yang harus senantiasa kita kembangkan!
Dengan memupuk jiwa pendekar, seseorang bisa menjadi manusia yang HUMANIS, peduli pada sesama, pada lingkungannya. Semua berpotensi untuk itu, tak cuma menjadi hak patennya tokoh- dan orang besar itu. Bahkan seorang Paidjo petani di desa tepi hutan juga mempunyai jiwa humanis yang mau peduli sesamanya, minimal pada komunitasnya. Pada era demokratisasi di mana pejabat bukan lagi punggawa raja ala orde baru, namun bergeser pada civil society, menuntun kita menjawab pertanyaan siapa sebenarnya the real generator, yang menggerakkan suatu bangsa manusia untuk peduli pada lingkungannya. Dia adalah masyarakat itu sendiri, yang mempunyai jiwa satria, yang tertanam pada diri setiap insan yang ada.
Lantas siapa PEMIMPIN-nya? Bukankah semut pun punya ratunya, mengapa kita tidak juga begitu? Kalau tidak, bagaimana mau melangkah ke arah yang sama dengan visi dan misi yang sejalan? Siapa Satria Piningit yang akan memediasi semua pihak berangkat dari visi dan misi masing-masing serta mengayomi ke arah 'gambar yang lebih besar'. Siapakah dia? Apakah dia Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Emil Salim, Otto Soemarwoto, ataukah Anda...?
Orang bilang pemimpin tidak cuma yang bisa kita lihat secara kasat mata. Di dalam diri setiap anggota masyarakat, di situ terhadap suatu kekuatan yang sama itulah Jiwa Satria, Jiwa Pendekar, Satria Piningit, Sang Real Generator. Itulah pemimpin yang menggerakkan setiap manusia. Ada juga yang bilang itulah Roh Kudus, yang pada setiap manusia pasti sama. Sebagian lagi bilang, itulah The Greatest Spirit, Roh Yang Terbesar di antara segala roh di alam semesta. Ada lagi yang bilang Semua Masyarakat adalah pemimpin, karena semua mempunyai Jiwa Satria di dalam dirinya.
Maka pembahasan siapa pemimpin menjadi tidak begitu penting, justru yang dituntut adalah yang nyata di realita. Di mana peran setiap Anggota masyarakat? Di mana PERAN PARA PENDEKAR? Masing-masing memerankan satu organ yang masing-masing selalu melaksanakan satu fungsi, dan tak bisa digantikan oleh organ yang lain. Sebab organ yang lain itu juga punya fungsi sendiri. Fungsi kaki hanya bisa dijalankan oleh kaki. Fungsi hidung tak kan bisa digantikan oleh ibu jari. Untuk mendukung prinsip itu perlu ada pembagian tugas, wewenang, hak, kewajiban.
Bila dimulai dari suatu organisasi (LSM misalnya), bagaimana setiap divisi bisa dikelola dengan pembagian peran yang punya peran secara realita. Lantas bagaimana itu berimplikasi pada organ-organ (person lain) di luar satu divisi. Lantas bagaimana antar organ itu bila digabung dan ada satu organ yang di-'turn on' semua organ yang ada akan nyala, berputar, berjalan, berfungsi untuk satu gerakan saying lingkungan dari sebuah organisasi yang namanya 'Pusat Sayang Lingkungan Hidup' misalnya, untuk PUSAT SAYANG LINGKUNGAN HIDUP yang sesungguhnya yaitu lingkungan sekitar kita, bumi, alam semesta kita. Tentu saja termasuk semua yang ada di dalamnya.
Maka menjadi sangat manis saat kita mengetahui ada LSM yang menyuarakan advokasi dan pembelaan kaum tertindas dalam pengelolaan lingkungan, mengurusi hutan, lahan basah, mangrove, pertanian, konservasi burung dan satwa, atau yang cuma menyuarakan penerbitan lingkungan dan pendidikan lingkungan, serta yang lebih mengedepankan amal jariah dan dana untuk lingkungan. Belum lagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat, juga non LSM, pemerintah, perguruan tinggi, swasta, industri dalam peran masing-masing . Namun yang lebih manis adalah bila semua punya kepedulian yang sama untuk lingkungan. Yang membuang sampah tahu harus dikemanakan sampahnya, yang membutuhkan sapu tangan akan tahu lebih memilih tissue atau sapu tangan kain.
Semua yang dimiliki setiap lembaga atau pribadi tadi hanyalah satu potongan puzzle, gambar-gambar kecil saja. Untuk mendapatkan gambar utuhnya perlu kerelaan untuk bekerjasama, menanggalkan ego, melepaskan potongan puzzle tersebut untuk dijadikan sebuah gambar baru, BIGGER PICTURE. Gambar yang lebih besar, yang tak lain adalah lingkungan lestari, yang pada dasarnya tak lebih dari gambar lama, lingkungan yang sama, yang cuma satu-satunya kita tempati ini namun telah kita jaga dan kita tingkatkan keseimbangannya.
Artinya, saat MENUNGGU AKHIR dari semua ini terjadi, lingkungan kita tetap terjaga, dan kita masih bisa menikmati segarnya menghirup udara bersih, segarnya meneguk air bersih, nyamannya berdiri di kerimbunan pepohonan rindang yang berdiri di atas tanah subur. Sementara perusakan sana-sini terjadi, perbaikan-perbaikan pun harus tetap dilakukan. Minimal. ***
MY
Begitu banyak LSM tumbuh menjamur, begitu banyak pula dana dikucurkan dari luar negeri. Masih saja terjadi berbagai tindakan pengrusakan lingkungan terjadi, bahkan dengan model seremeh apapun. Berapa juta manusia setiap harinya menenteng tas plastik sebagai wadah belanjaan sepulang kios, warung, toko, pasar atau supermarket? Tidak tahukah mereka bahwa sampah plastik selalu menjadi benda asing penandus tanah? Tidak tahukah mereka bahwa asap pembakaran sampah plastik selalu membuat udara tak layak dihirup untuk bernafas?...
Bermilyar dana dihimpun, namun mengapa seorang petani di suatu desa Jawa Tengah tetap saja merasa tidak bisa bertanam? Hanya lantaran tidak punya uang pembeli pupuk? Bukankah tanpa uang pupuk tetap bisa dibuat? Air ludah, air kencing, kotoran hewan, bahkan kotoran manusia, bukankah itu media gratis untuk membuat pupuk? Mengapa harus tergantung pada urea yang maunya untuk menyuburkan lahan, ternyata malah kian menyedot kesuburan tanah dan membikin tandus tanah? Siapa yang salah...? Siapa yang bisa bikin betul...?
Apa ratusan LSM dadakan itu tidak bisa merubah apa pun? Kemanakah dana yang bertumpuk-tumpuk itu, mengapa tetap saja tertatih-tatih prinsip berlingkungan yang ramah? Sayang kalau berita ini benar, bahwa banyak dana untuk kegiatan pro lingkungan ternyata cuma mampir untuk kepentingan pribadi. Kalau begitu apa betul para pendekar LSM lingkungan tersebut SAHABAT hanya bagi kalangan sendiri? "OPOSAN" terhadap mereka yang dahinya tertera "Perusak Lingkungan"? Mengapa selalu bisa melakukan suatu aksi terhadap golongan yang sudah tampak jelas-jelas menggunduli hutan, mencemari sungai? Tapi bagi dirinya sendiri masih saja melakukan tindakan yang tidak konsekuen dengan apa yang disuarakan 'jaga kelestarian alam' bahkan terhadap pemakaian plastik sekalipun?
Sangat sulit bagi kita membedakan mana yang berpredikat PENDEKAR atau PERUSAK lingkungan. Itulah mengapa, banyak di antara kita yang tidak punya nyali untuk ikut bertindak dalam kegiatan sayang lingkungan bahkan sekalipun hanya untuk urun bicara atau tulis pada media-media atau milis-milis lingkungan. Karena secara langsung merasa diri sendiri juga "PENDOSA". Wajar sangat sulit bagi kita untuk bisa tahu jelas mengenai diri sendiri, kalau kita cuma hanya pernah merasakan menjadi PUTIH selalu padahal untuk tahu ABU-ABU saja kita juga harus tahu warna HITAM. Keberpihakan kita sangat tidak jelas!
Kini bukanlah saatnya bagi kita untuk memilah-milah siapa yang golongan putih dan golongan hitam. Siapa yang memperjuangkan kepentingan lingkungan, atau siapa yang justru merusak lingkungan. Sekalipun dicap sebagai perusak lingkungan, kita akui kadang muncul pembenaran dari sisi ego manusia kita : Bahwa kalau suatu saat kita juga menjadi pendekar lingkungan. Paling sedikit punya sudut pandang dari kedua sisi. Dengan bekal itu mungkin banyak di antara kita bisa mencoba untuk cukup arif mengayomi keduanya dan mencari solusi terbaik bagi ketiganya : Win... Win...Win.... baik saat terjadi perusakan lingkungan, pelestarian lingkungan atau saat kedua-keduanya terjadi dalam satu kepentingan. Kalaupun di mana-mana terjadi peperangan antara yang perusakan dan pelestarian, tetap harus ada keseimbangan.
Lantas siapa sesungguhnya THE REAL GENERATOR...Yang akan membangkitkan semua peran kita serta menjalankan semua fungsi sehingga tercapai keselarasan dalam harmoni..? Pada diri kita masing-masing, kita pernah memerankan fungsi pendekar lingkungan, bukan hanya perusak lingkungan. Jiwa inilah yang harus senantiasa kita kembangkan!
Dengan memupuk jiwa pendekar, seseorang bisa menjadi manusia yang HUMANIS, peduli pada sesama, pada lingkungannya. Semua berpotensi untuk itu, tak cuma menjadi hak patennya tokoh- dan orang besar itu. Bahkan seorang Paidjo petani di desa tepi hutan juga mempunyai jiwa humanis yang mau peduli sesamanya, minimal pada komunitasnya. Pada era demokratisasi di mana pejabat bukan lagi punggawa raja ala orde baru, namun bergeser pada civil society, menuntun kita menjawab pertanyaan siapa sebenarnya the real generator, yang menggerakkan suatu bangsa manusia untuk peduli pada lingkungannya. Dia adalah masyarakat itu sendiri, yang mempunyai jiwa satria, yang tertanam pada diri setiap insan yang ada.
Lantas siapa PEMIMPIN-nya? Bukankah semut pun punya ratunya, mengapa kita tidak juga begitu? Kalau tidak, bagaimana mau melangkah ke arah yang sama dengan visi dan misi yang sejalan? Siapa Satria Piningit yang akan memediasi semua pihak berangkat dari visi dan misi masing-masing serta mengayomi ke arah 'gambar yang lebih besar'. Siapakah dia? Apakah dia Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Emil Salim, Otto Soemarwoto, ataukah Anda...?
Orang bilang pemimpin tidak cuma yang bisa kita lihat secara kasat mata. Di dalam diri setiap anggota masyarakat, di situ terhadap suatu kekuatan yang sama itulah Jiwa Satria, Jiwa Pendekar, Satria Piningit, Sang Real Generator. Itulah pemimpin yang menggerakkan setiap manusia. Ada juga yang bilang itulah Roh Kudus, yang pada setiap manusia pasti sama. Sebagian lagi bilang, itulah The Greatest Spirit, Roh Yang Terbesar di antara segala roh di alam semesta. Ada lagi yang bilang Semua Masyarakat adalah pemimpin, karena semua mempunyai Jiwa Satria di dalam dirinya.
Maka pembahasan siapa pemimpin menjadi tidak begitu penting, justru yang dituntut adalah yang nyata di realita. Di mana peran setiap Anggota masyarakat? Di mana PERAN PARA PENDEKAR? Masing-masing memerankan satu organ yang masing-masing selalu melaksanakan satu fungsi, dan tak bisa digantikan oleh organ yang lain. Sebab organ yang lain itu juga punya fungsi sendiri. Fungsi kaki hanya bisa dijalankan oleh kaki. Fungsi hidung tak kan bisa digantikan oleh ibu jari. Untuk mendukung prinsip itu perlu ada pembagian tugas, wewenang, hak, kewajiban.
Bila dimulai dari suatu organisasi (LSM misalnya), bagaimana setiap divisi bisa dikelola dengan pembagian peran yang punya peran secara realita. Lantas bagaimana itu berimplikasi pada organ-organ (person lain) di luar satu divisi. Lantas bagaimana antar organ itu bila digabung dan ada satu organ yang di-'turn on' semua organ yang ada akan nyala, berputar, berjalan, berfungsi untuk satu gerakan saying lingkungan dari sebuah organisasi yang namanya 'Pusat Sayang Lingkungan Hidup' misalnya, untuk PUSAT SAYANG LINGKUNGAN HIDUP yang sesungguhnya yaitu lingkungan sekitar kita, bumi, alam semesta kita. Tentu saja termasuk semua yang ada di dalamnya.
Maka menjadi sangat manis saat kita mengetahui ada LSM yang menyuarakan advokasi dan pembelaan kaum tertindas dalam pengelolaan lingkungan, mengurusi hutan, lahan basah, mangrove, pertanian, konservasi burung dan satwa, atau yang cuma menyuarakan penerbitan lingkungan dan pendidikan lingkungan, serta yang lebih mengedepankan amal jariah dan dana untuk lingkungan. Belum lagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat, juga non LSM, pemerintah, perguruan tinggi, swasta, industri dalam peran masing-masing . Namun yang lebih manis adalah bila semua punya kepedulian yang sama untuk lingkungan. Yang membuang sampah tahu harus dikemanakan sampahnya, yang membutuhkan sapu tangan akan tahu lebih memilih tissue atau sapu tangan kain.
Semua yang dimiliki setiap lembaga atau pribadi tadi hanyalah satu potongan puzzle, gambar-gambar kecil saja. Untuk mendapatkan gambar utuhnya perlu kerelaan untuk bekerjasama, menanggalkan ego, melepaskan potongan puzzle tersebut untuk dijadikan sebuah gambar baru, BIGGER PICTURE. Gambar yang lebih besar, yang tak lain adalah lingkungan lestari, yang pada dasarnya tak lebih dari gambar lama, lingkungan yang sama, yang cuma satu-satunya kita tempati ini namun telah kita jaga dan kita tingkatkan keseimbangannya.
Artinya, saat MENUNGGU AKHIR dari semua ini terjadi, lingkungan kita tetap terjaga, dan kita masih bisa menikmati segarnya menghirup udara bersih, segarnya meneguk air bersih, nyamannya berdiri di kerimbunan pepohonan rindang yang berdiri di atas tanah subur. Sementara perusakan sana-sini terjadi, perbaikan-perbaikan pun harus tetap dilakukan. Minimal. ***
MY
0 komentar:
Poskan Komentar