EHDB 16/ 5 Nopember 1999 JANJI WAYANG
Anda tentu pernah menonton wayang, minimal di layar televisi setiapmalam Sabtu bila Anda nongkrong di depan televisi Anda dan Anda ‘turn on’ salah satu stasiun televisi, ia selalu menampilkan kesenian tradisional hasil ciptaan raja-raja Mataram Solo dan Yogya tempo dulu.
Wayang kulit di tanah Jawa ini dulu juga dipakai Sunan Kalijogo untukmenyebarkan ajaran agamanya, dan berhasil! Maka sebuah LSM lingkungan di Jawa Timur juga acap menampilkan wayang alternatif ini kala suatu acara berpuncak di hari terakhir di areanya.
Kini, HARMONI LINGKUNGAN bukan mau mengundang Anda nonton wayang di lahan area HARMONI LINGKUNGAN seperti di LSM terkenal itu.
HARMONI mengajak untuk menikmati… BETAPA KEARIFAN TRADISIONAL warisan kakek moyang ini benar-benar bisa membawa rona wajah kita yang memerah untuk menjadi lebih segar berpikir : “Eksistensi dan Dedikasi saya sebagai orang lingkungan tak perlu harus luntur sekalipun himpitan membuat tubuh dan kepala tak menyatu kala leher dipenggal dan lepas dari tubuh… menggelinding bak roda pedati yang lepas… entah ke mana juntrungannya.
Ini kisah Wirata Parwa.. Dimainkan oleh WOR Bharata, di Gedung Kesenian Jakarta Oktober Wirata Parwa menceritakan para Pandawa yang sedang dalam hukuman pembuangan di hutan Kamiyaka.
Pandawa lima :
Purwaning Pandawa = Yudistira (Puntadewa, Dharmaaji, Dharmaputra)
Panenggak Pandawa = Bima (Bratasena, Werkudara, Bayuputra),
Panengah Pandawa = Arjuna (Janaka, Permadi)
Panunggul Pandawa = si kembar Nakula-Sadewa (Aswinputra)
Mengapa mereka dibuang?
Gara-gara kalah judi dadu melawan 100 Kurawa yang dipimpin oleh Suyudana (Duryudana, Destarata Putra) yang dengan bantuan si licik Sangkuni berhasil mempedayai si suci Yudistira menyerahkan semua wilayah negaranya (Indraprasta, Ngamarta yang dengan susah payah didirikan dengan membabat alas Amarta – A = tidak, Marta = mati, Amarta = tidak mati, hidup).. Mereka harus kehilangan itu semua, bahkan si cantik Drupadi pula!
Namun karena kelemahan hati Destarata yang ayah Duryudana, maka semua dikembalkan pada mereka. Tapi Sangkuni berhasil meyakinkan harus ada permainan dadu ulangan! Si Pandawa tetap kalah lagi! Hukumannya nggak nyerahin semua negaranya, tapi ‘cuman’ hukuman buang ! Sesudah tahun ke 12, satu tahun kemudian mereka harus nyamar! Nggak boleh ketahuan! Kalau ketahuan harus ditambah lagi selama 12 tahun.
Atas kemurahan Dewata, mereka mendapat petunjuk dari Dewa Darma untuk menyamar dan pergi ke negeri Wiratha. Kloter pertama Yudistira nyamar sebagai punggawa kerajaan. Kloter kedua Arjuna nyamar sebagai banci pelatih tari. Lantas Bima sebagai jagal hewan (Jagal Abilawa). Disusul yang terakhir Nakula Sadewa sebagai perawat kuda kerajaan.. Mengapa harus kloteran? Supaya tidak ketahuan.
Rupanya si Kurawa selalu tidak puas dengan kekuasaan wilayahnya.. Mereka ingin melebarkan hingga bahkan tanah Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Mereka mengepung kerajaan itu. Anak-anak Prabu Matsya, bernama Seta, Utara dan Wratsangka dengan gagah berani melawan serangan itu.. Namun kandas! Duryudana dibantu karna cukup piawai berperang, ya.. Jago Wirata keok.
Saat itulah five ranger datang dan membantu! Dimulai dengan Bima si Jagal Abilawa : gada rujak polonya ampuh menghantam Duryudana dan Kurawa.. Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksi, Citraksa, aswatama, Sangkuni, durna, karna, tunggang langgang..
Berkat perjuangan dipelopori Bima dan Arjuna, akhirnya negeri Wiratha dapat diselamatkan.
Sebagai balas jasa raja Wiratha, Prabu Matsya bersumpah
Bahwa kelak ia akan membela para Pandawa dalam kancah perang Bharatayuda.
Namun rupanya sumpah itu dilanggar sendiri.. karena saat suatu perjalanan mau ke Ngamarta.. rombongan Wiratha ini sangat kelelahan.. diberi makanan dan minuman segar oleh Kurawa atas utusan Duryudana.. dan sebagai ucapan terima kasihnya.. justru akan membantu Kurawa dalam peperangan di Baratayuda melawan Pandawa. Tetap pelanggaran sumpah, kendati itu atas kelicikan Sengkuni yang mempedayai mereka.
Flash Back sejenak…
Si Kurawa ingin menguasai Astina, mencelakai Pandawa dengan Bale Si Gala-Gala..
Pandawa justru bisa mendirikan Indraprasta, Kurawa iri..
Si Kurawa ingin menguasai indraprata pula.. Ngajak main dadu..
Pandawa kalah, jadi kere nggak punya apa-apa.. Untung Indraprtasta dikembalikam..
Diajak mau dadu lagi, tetap mau.. Gile! Ya kalah, oleh si Sengkuni.. Jadilah dibuang 12 tahun, pada tahun ke 13 nyamar di Wirata
Terjadilah peristiwa Wirata Parwa..
Si satria dianiaya bajingan, ditolong raja, raja dianiaya bajingan, ditolong satria, raja bersumpah menolong satria kalo melawan bajingan lagi.
Sampai seberapa jalankan sumpah itu? Ternyata tak berapa lama, sudah dilanggar sendiri. Kendatipun pelanggaran itu dilakukan dengan hati sakit dan tersayat-sayat..
Kita pun tak beda.. kini merasakan luluh lantaknya lingkungan dengan kesemrawutan dan segenap keburukannya sehingga merasa kurang nyaman tinggal di dalam bumi yang cuma satu itu. Asap memekati wajah hitam kusam, suara berisik mengorek gendang telinga hingga mau pecah, tanah yang tak cukup lagi memberi gizi karena sudah tercampur segenap pembasi.
Membayangkan betapa nyaman tinggal di bumi penuh harmoni keindahan, menyatu antara suara burung berkicau, air bergemericik segar membasahai kerongkongan dahaga.. kitapun tergerak dengan berbagai kemauan untuk melakukan perubahan demi perubahan. Berbagai sminar, lokakarya, dan berjenis pendidikan kita jalani.. menjunjung hati untuk mengeluarkan keinganan dan komitmen atawa janji untuk berturut serta dalam upaya pelestarian lingkungan..
ORANG LINGKUNGAN.. maukah hatimu teriris dan tersayat bila suatu saat menjalani suatu hal yang bertentangan dengan apa yang kau ucap? Bukankah dalam dadamu sudah ada sumpah itu sekalipun tak pernah diucap sebagai sumpah vulgar.. Bukankah KITA SERING MENDENGAR KATA-KATA.. SAYA BERMINAT PADA MASALAH LINGKUNGAN.. Sesuai dengan profesi saya,.. di dunia saya..???
Apalagi bagi kita yang sudah menganggap melestarikan lingkungan adalah PROFESI kita. Namanya saja profesi, selalu ada pengambilan sumpah itu. Profesi dokter, disumpah dulu. Profesi Dokter Hewan, Dokter Gigi, Advokat, Wartawan.. semua adalah profesi, secara akademis selalu ada pengambilan sumpah resmi sesudah seseorang menyandang Profesi ini. Kita kenal pula Program Profesi Lingkungan Hidup yang baru diselenggarakan oleh LSM nasional bekerjasama dengan LSM luar negeri… pesertanya sudah menyatakan Penyadaran Lingkungan adalah Profesi dalam hidupnya.. minimal akan menggeluti dunia ini..
Sampai seberapa jalankan “sumpah” itu? Sampai seberapa jauhkan kita mengimplemantasikan semua teori itu dalam kehidupan sehari-hari? Tetapkah itu akan terpelihara secara lestari?
Rupanya belajar dari kisah Prabu Matsya yang melanggar sumpahnya sendiri karena perut keroncongan dan kerongkongan kehausan… kita mengambil suatu pendalaman..
Jiwa kita musti tetap dan pasti … seperti kala kita berseru pada dunia sekalipun tak berada di puncak gunung tinggi. YANG PENTING ADALAH TETAP MEMEGANG KOMITMEN, KESETIAAN, bukan janti atau sumpah. JALANI DENGAN KATA YA dan CINTA. Bukan janji-janji. Sebab jangan-jangan janji kita tak lebih daripada Janji Wayang, sekedar bayang-bayang. ***
Yonathan Rahardjo
Wayang kulit di tanah Jawa ini dulu juga dipakai Sunan Kalijogo untukmenyebarkan ajaran agamanya, dan berhasil! Maka sebuah LSM lingkungan di Jawa Timur juga acap menampilkan wayang alternatif ini kala suatu acara berpuncak di hari terakhir di areanya.
Kini, HARMONI LINGKUNGAN bukan mau mengundang Anda nonton wayang di lahan area HARMONI LINGKUNGAN seperti di LSM terkenal itu.
HARMONI mengajak untuk menikmati… BETAPA KEARIFAN TRADISIONAL warisan kakek moyang ini benar-benar bisa membawa rona wajah kita yang memerah untuk menjadi lebih segar berpikir : “Eksistensi dan Dedikasi saya sebagai orang lingkungan tak perlu harus luntur sekalipun himpitan membuat tubuh dan kepala tak menyatu kala leher dipenggal dan lepas dari tubuh… menggelinding bak roda pedati yang lepas… entah ke mana juntrungannya.
Ini kisah Wirata Parwa.. Dimainkan oleh WOR Bharata, di Gedung Kesenian Jakarta Oktober Wirata Parwa menceritakan para Pandawa yang sedang dalam hukuman pembuangan di hutan Kamiyaka.
Pandawa lima :
Purwaning Pandawa = Yudistira (Puntadewa, Dharmaaji, Dharmaputra)
Panenggak Pandawa = Bima (Bratasena, Werkudara, Bayuputra),
Panengah Pandawa = Arjuna (Janaka, Permadi)
Panunggul Pandawa = si kembar Nakula-Sadewa (Aswinputra)
Mengapa mereka dibuang?
Gara-gara kalah judi dadu melawan 100 Kurawa yang dipimpin oleh Suyudana (Duryudana, Destarata Putra) yang dengan bantuan si licik Sangkuni berhasil mempedayai si suci Yudistira menyerahkan semua wilayah negaranya (Indraprasta, Ngamarta yang dengan susah payah didirikan dengan membabat alas Amarta – A = tidak, Marta = mati, Amarta = tidak mati, hidup).. Mereka harus kehilangan itu semua, bahkan si cantik Drupadi pula!
Namun karena kelemahan hati Destarata yang ayah Duryudana, maka semua dikembalkan pada mereka. Tapi Sangkuni berhasil meyakinkan harus ada permainan dadu ulangan! Si Pandawa tetap kalah lagi! Hukumannya nggak nyerahin semua negaranya, tapi ‘cuman’ hukuman buang ! Sesudah tahun ke 12, satu tahun kemudian mereka harus nyamar! Nggak boleh ketahuan! Kalau ketahuan harus ditambah lagi selama 12 tahun.
Atas kemurahan Dewata, mereka mendapat petunjuk dari Dewa Darma untuk menyamar dan pergi ke negeri Wiratha. Kloter pertama Yudistira nyamar sebagai punggawa kerajaan. Kloter kedua Arjuna nyamar sebagai banci pelatih tari. Lantas Bima sebagai jagal hewan (Jagal Abilawa). Disusul yang terakhir Nakula Sadewa sebagai perawat kuda kerajaan.. Mengapa harus kloteran? Supaya tidak ketahuan.
Rupanya si Kurawa selalu tidak puas dengan kekuasaan wilayahnya.. Mereka ingin melebarkan hingga bahkan tanah Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Mereka mengepung kerajaan itu. Anak-anak Prabu Matsya, bernama Seta, Utara dan Wratsangka dengan gagah berani melawan serangan itu.. Namun kandas! Duryudana dibantu karna cukup piawai berperang, ya.. Jago Wirata keok.
Saat itulah five ranger datang dan membantu! Dimulai dengan Bima si Jagal Abilawa : gada rujak polonya ampuh menghantam Duryudana dan Kurawa.. Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksi, Citraksa, aswatama, Sangkuni, durna, karna, tunggang langgang..
Berkat perjuangan dipelopori Bima dan Arjuna, akhirnya negeri Wiratha dapat diselamatkan.
Sebagai balas jasa raja Wiratha, Prabu Matsya bersumpah
Bahwa kelak ia akan membela para Pandawa dalam kancah perang Bharatayuda.
Namun rupanya sumpah itu dilanggar sendiri.. karena saat suatu perjalanan mau ke Ngamarta.. rombongan Wiratha ini sangat kelelahan.. diberi makanan dan minuman segar oleh Kurawa atas utusan Duryudana.. dan sebagai ucapan terima kasihnya.. justru akan membantu Kurawa dalam peperangan di Baratayuda melawan Pandawa. Tetap pelanggaran sumpah, kendati itu atas kelicikan Sengkuni yang mempedayai mereka.
Flash Back sejenak…
Si Kurawa ingin menguasai Astina, mencelakai Pandawa dengan Bale Si Gala-Gala..
Pandawa justru bisa mendirikan Indraprasta, Kurawa iri..
Si Kurawa ingin menguasai indraprata pula.. Ngajak main dadu..
Pandawa kalah, jadi kere nggak punya apa-apa.. Untung Indraprtasta dikembalikam..
Diajak mau dadu lagi, tetap mau.. Gile! Ya kalah, oleh si Sengkuni.. Jadilah dibuang 12 tahun, pada tahun ke 13 nyamar di Wirata
Terjadilah peristiwa Wirata Parwa..
Si satria dianiaya bajingan, ditolong raja, raja dianiaya bajingan, ditolong satria, raja bersumpah menolong satria kalo melawan bajingan lagi.
Sampai seberapa jalankan sumpah itu? Ternyata tak berapa lama, sudah dilanggar sendiri. Kendatipun pelanggaran itu dilakukan dengan hati sakit dan tersayat-sayat..
Kita pun tak beda.. kini merasakan luluh lantaknya lingkungan dengan kesemrawutan dan segenap keburukannya sehingga merasa kurang nyaman tinggal di dalam bumi yang cuma satu itu. Asap memekati wajah hitam kusam, suara berisik mengorek gendang telinga hingga mau pecah, tanah yang tak cukup lagi memberi gizi karena sudah tercampur segenap pembasi.
Membayangkan betapa nyaman tinggal di bumi penuh harmoni keindahan, menyatu antara suara burung berkicau, air bergemericik segar membasahai kerongkongan dahaga.. kitapun tergerak dengan berbagai kemauan untuk melakukan perubahan demi perubahan. Berbagai sminar, lokakarya, dan berjenis pendidikan kita jalani.. menjunjung hati untuk mengeluarkan keinganan dan komitmen atawa janji untuk berturut serta dalam upaya pelestarian lingkungan..
ORANG LINGKUNGAN.. maukah hatimu teriris dan tersayat bila suatu saat menjalani suatu hal yang bertentangan dengan apa yang kau ucap? Bukankah dalam dadamu sudah ada sumpah itu sekalipun tak pernah diucap sebagai sumpah vulgar.. Bukankah KITA SERING MENDENGAR KATA-KATA.. SAYA BERMINAT PADA MASALAH LINGKUNGAN.. Sesuai dengan profesi saya,.. di dunia saya..???
Apalagi bagi kita yang sudah menganggap melestarikan lingkungan adalah PROFESI kita. Namanya saja profesi, selalu ada pengambilan sumpah itu. Profesi dokter, disumpah dulu. Profesi Dokter Hewan, Dokter Gigi, Advokat, Wartawan.. semua adalah profesi, secara akademis selalu ada pengambilan sumpah resmi sesudah seseorang menyandang Profesi ini. Kita kenal pula Program Profesi Lingkungan Hidup yang baru diselenggarakan oleh LSM nasional bekerjasama dengan LSM luar negeri… pesertanya sudah menyatakan Penyadaran Lingkungan adalah Profesi dalam hidupnya.. minimal akan menggeluti dunia ini..
Sampai seberapa jalankan “sumpah” itu? Sampai seberapa jauhkan kita mengimplemantasikan semua teori itu dalam kehidupan sehari-hari? Tetapkah itu akan terpelihara secara lestari?
Rupanya belajar dari kisah Prabu Matsya yang melanggar sumpahnya sendiri karena perut keroncongan dan kerongkongan kehausan… kita mengambil suatu pendalaman..
Jiwa kita musti tetap dan pasti … seperti kala kita berseru pada dunia sekalipun tak berada di puncak gunung tinggi. YANG PENTING ADALAH TETAP MEMEGANG KOMITMEN, KESETIAAN, bukan janti atau sumpah. JALANI DENGAN KATA YA dan CINTA. Bukan janji-janji. Sebab jangan-jangan janji kita tak lebih daripada Janji Wayang, sekedar bayang-bayang. ***
Yonathan Rahardjo
Komentar