EHDB 12/ 1 Nopember 1999 SARWONO dan SARIP TAMBAK YOSO
PETANI ASIA TENGGARA,
telah membudidayakan udang dan ikan sejak beberapa abad silam.
PETANI INDONESIA
sudah memelihara bandeng (Chanos chanos)
di tambak kawasan hutan bakau 500 tahun lalu.
PETANI IKAN memelihara ikan dan jenis crustacea lainnya
seperti udang dan kepiting
di kolam berair payau
yang dikenal sebagai ‘tambak’
dari generasi ke generasi.
PETANI TAMBAK
awalnya adalah para narapidana!
NARAPIDANA pada jaman kerajaan Jawa kuno
beberapa ratus tahun sebelum masehi
dikirim ke hutan bakau yang sangat lebat
di tepi pantai utara Jawa Timur.
Mereka harus bekerja di kolam garam.
Sebagai upah atas garam yang dikumpulkan,
mereka mendapat sedikit makanan.
Karena terbatasnya makanan itu,
mereka melengkapi menu dengan menangkap ikan
yang banyak dijumpai di anak sungai saat pasang surut.
NARAPIDANA PEKERJA IKAN itu
mengumpulkan ikan-ikan yang terdampar ketika air surut
dan membiarkan mereka tetap hidup
dengan cara MEMBENDUNG sungai tersebut.
Cara ini kemudian berkembang menjadi TAMBAK,
yang kita kenal sampai kini.
TAMBAK awalnya merupakan kanal kecil.
Dibuat dengan membersihkan sebagian kecil hutan bakau.
Tambak-tambak tersebut berisikan sirip dan kerang-kerangan
dari varietas lokal dan menggunakan hutan bakau
sebagai tempat pengembangbiakan.
BUDIDAYA TAMBAK kemudian menyebar ke seluruh Nusantara,
terutama ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara
pada abad keempat belas.
Namun orang tak pernah melupakan nama Surabaya, Gresik atau Tuban.
Daerah asal nama itu,
Di pantai utara Jawa Timur.
Orang juga tak pernah lupa terhadap nama SARIP TAMBAK YOSO.
Nama orang yang berarti SARIP PEMBUAT TAMBAK!
Seorang tokoh legendaris di Surabaya,
yang karena kegigihannya melawan rejim penjajah Kompeni,
Dia diuber-uber ala WANTED!
Kepalanya dihargai sekian Gulden
untuk siapapun yang bisa menyerahkan SARIP TAMBAK OSO
hidup atau mati pada Kompeni.
Dan dia tewas karena pengkhianatan temannya.
Kehidupan yang keras dan penuh tantangan
di pesisir utara Jawa Timur itu sangat membentuk karakternya.
Ketegasannya bersikap, kesetiaannya menjunjung tinggi kebenaran,
dan loyalitasnya pada demokratisasi saat kolonialisme saat itu
membuat dia rela melawan imperialis yang juga imperialis PERAIRAN saat itu.
Semoga dengan kehadiran kementrian baru
KEMENTRIAN KELAUTAN
yang dipimpin seorang SARWONO KUSUMAATMADJA
yang sudah diakui track record-nya pada dedikasi untuk lingkungan,
para petani nelayan, tambak, kaum pesisir, kaum lepas bebas
di samudera raya mendapat suntikan semangat SARIP TAMBAK YOSO
untuk melawan kolonialisme-imperialisme baru di dunia perairan ini.
Semoga berani menyikapi atas adanya papan kosong
atas nama HKNI (Himpunan Kerukunan Nelayan Indonesia)
yang selama ini justru menjadi tempat bergoyangnya lutut para nelayan berdasi
memeras tenaga nelayan sungguhan
hingga bulir-bulir keringatnya berubah
menjadi bulir-bulir darah,
karena ancaman bom-bom terumbu karang …
dan sejenisnya…
dan sejenisnya…. ***
Yonathan Rahardjo
telah membudidayakan udang dan ikan sejak beberapa abad silam.
PETANI INDONESIA
sudah memelihara bandeng (Chanos chanos)
di tambak kawasan hutan bakau 500 tahun lalu.
PETANI IKAN memelihara ikan dan jenis crustacea lainnya
seperti udang dan kepiting
di kolam berair payau
yang dikenal sebagai ‘tambak’
dari generasi ke generasi.
PETANI TAMBAK
awalnya adalah para narapidana!
NARAPIDANA pada jaman kerajaan Jawa kuno
beberapa ratus tahun sebelum masehi
dikirim ke hutan bakau yang sangat lebat
di tepi pantai utara Jawa Timur.
Mereka harus bekerja di kolam garam.
Sebagai upah atas garam yang dikumpulkan,
mereka mendapat sedikit makanan.
Karena terbatasnya makanan itu,
mereka melengkapi menu dengan menangkap ikan
yang banyak dijumpai di anak sungai saat pasang surut.
NARAPIDANA PEKERJA IKAN itu
mengumpulkan ikan-ikan yang terdampar ketika air surut
dan membiarkan mereka tetap hidup
dengan cara MEMBENDUNG sungai tersebut.
Cara ini kemudian berkembang menjadi TAMBAK,
yang kita kenal sampai kini.
TAMBAK awalnya merupakan kanal kecil.
Dibuat dengan membersihkan sebagian kecil hutan bakau.
Tambak-tambak tersebut berisikan sirip dan kerang-kerangan
dari varietas lokal dan menggunakan hutan bakau
sebagai tempat pengembangbiakan.
BUDIDAYA TAMBAK kemudian menyebar ke seluruh Nusantara,
terutama ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara
pada abad keempat belas.
Namun orang tak pernah melupakan nama Surabaya, Gresik atau Tuban.
Daerah asal nama itu,
Di pantai utara Jawa Timur.
Orang juga tak pernah lupa terhadap nama SARIP TAMBAK YOSO.
Nama orang yang berarti SARIP PEMBUAT TAMBAK!
Seorang tokoh legendaris di Surabaya,
yang karena kegigihannya melawan rejim penjajah Kompeni,
Dia diuber-uber ala WANTED!
Kepalanya dihargai sekian Gulden
untuk siapapun yang bisa menyerahkan SARIP TAMBAK OSO
hidup atau mati pada Kompeni.
Dan dia tewas karena pengkhianatan temannya.
Kehidupan yang keras dan penuh tantangan
di pesisir utara Jawa Timur itu sangat membentuk karakternya.
Ketegasannya bersikap, kesetiaannya menjunjung tinggi kebenaran,
dan loyalitasnya pada demokratisasi saat kolonialisme saat itu
membuat dia rela melawan imperialis yang juga imperialis PERAIRAN saat itu.
Semoga dengan kehadiran kementrian baru
KEMENTRIAN KELAUTAN
yang dipimpin seorang SARWONO KUSUMAATMADJA
yang sudah diakui track record-nya pada dedikasi untuk lingkungan,
para petani nelayan, tambak, kaum pesisir, kaum lepas bebas
di samudera raya mendapat suntikan semangat SARIP TAMBAK YOSO
untuk melawan kolonialisme-imperialisme baru di dunia perairan ini.
Semoga berani menyikapi atas adanya papan kosong
atas nama HKNI (Himpunan Kerukunan Nelayan Indonesia)
yang selama ini justru menjadi tempat bergoyangnya lutut para nelayan berdasi
memeras tenaga nelayan sungguhan
hingga bulir-bulir keringatnya berubah
menjadi bulir-bulir darah,
karena ancaman bom-bom terumbu karang …
dan sejenisnya…
dan sejenisnya…. ***
Yonathan Rahardjo
Komentar