Begitu banyak LSM Berlaga.. kita amati satu persatu. Kebanyakan mereka selalu menganggap tabu untuk suatu yang bernama materi, pembayaran secara profesional. Jadilah LSM B1 yang begitu hebat itu cuman melakukan advokasi sana-sini, bermilyar-milyar uang dihabiskannya untuk melakukan pembelaan pada masyarakat. uang selalu dikucurkan dari luar negeri untuk kegiatan ini.. LSM B1 sangat menentang apa itu yang disebut PROFIT ORIENTED, sebagaimana menjadi sikap dasar suatu LSM. Radikalnya, semua yang berbau jual beli, dibenci dan disikat habis oleh LSM B1. Contohnya terhadap LSM, sebagian orang LSM B1 menganggap LSM B100 sudah melacurkan diri kepada dunia bisnis.. karena harus ada pembayaran untuk semua fasilitas dan programnya.... seharusnya kan NON PROFIT! (Sekali lagi, semua LSM harus berjiwa non profit).
Sebenarnya apa sih yang dimaui sebuah LSM B100 dengan menyediakan fasilitas bungalow, asrama, restoran dan lain-lain yang harus dibayar oleh para pengunjung yang datang di sana? Itu semata-mata untuk KEMANDIRIAN, keberdayaan, tidak bergantung pada kucuran dana penyandang dana. Untuk bisa mewujudkan swadana dan swadaya.Jadilah LSM B100 dalam organisasiannya dibuat serapi mungkin dan seprofesional kitangkin, termasuk dalam pengelolaan keuangan, termasuk agar bisa safety untuk keberlanjutan program. Ketekita kuncinya! KEBERLANJUTAN PROGRAM. Agar suatu saat bila tiada dana yang mengucur, kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat tetap bisa dilakukan.
Jadi di sini tidak ada kaitannya dengan PROFIT dan NON PROFIT. Disebut profit kalau goal (orientasinya) cuman memang untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. kalau Non Profit bukan, ada pemasukan adalah minimal untuk survive, dan melanjutkan program-program pemeberdayaannya.
Kalaupun kehidupan LSM B100 jadi lebih baik dan seolah-olah laksana bernuansa profit karena begitu bersayapnya keuangan dan perhitungan-perhitungannya, termasuk besarnya pendapatkan/penghasilan para stafnya, itu adalah suatu reward atau konsekuensi logis dari suatu kerja profesional. Siapa yang bekerja dengan sebaik-baiknya tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik pula! Masa kita sudah bekerja sebegitu keras, ternyata kita tidak dapat membeli susu untuk anak, membeli beras untuk istri, bahkan rumah kontrakanpun tak punya? Bukankah Aktivis LSM B100 sekalipun butuh rumah untuk tempat tinggal yang layak, dan pakaian yang layak pula? Bagaimana bisa melanjutkan program kalau kehidupannya di bawah standar rata-rata?
Titik tolak ke-LSM-an berawal dari fungsinya sebagai PENGGERAK/DINAMISATOR masyarakat agar bisa memerankan dirinya sebagai pelaku utama dalam roda kehidupan dan pembangunan. Selama ini kekuasaan cenderung dilakukan dan dimonopoli oleh pemerintahan. Padahal negara yang baik adalah negara yang memperhatikan demokrasi dan kepentingan rakyat sebesar-besarnya. Ironinya pemerintah dengan para kroni dan pengecap kenikmatan kekuasaannya selama ini cenderung Korup. Maka peran LSM tak lebih layaknya OPOSAN terhadap sekitar itu.
Kalau semua peran yang seharusnya ditangani oleh masyarakat, sudah bisa dikembalikan kepada masyarakat, di situlah terjadi suatu proses DEMOKRATISASI yang berhasil. Ini sama artinya, bila demokratisasi berhasil maka peran LSM pun sudah waktunya untuk dikembalikan kepada masyarakat! Masyarakat sendiri yang akan melakukan semua gerak yang selama ini dilakukan oleh LSM.
Konsekuensi logisnya, LSM semakin berkurang garapan untuk oposan dan memberdayakan. Karena sudah tidak ada lagi pemerintah yang perlu selalu dicari-cari kesalahannya. Tidak ada lagi masyarakat yang masih sangat perlu diberdayakan, sebab semua sudah berdaya! ITULAH PERUBAHAN BESAR ARAH LSM yang terbaru!!
Saat demokratisasi berhasil, keinginan dan kemauan para penyandang dana dan pemberi dana bantuan untuk membantu LSM sudah sangat kecil. Maka nasib LSM pun dibayang-bayangi kesuraman... dalam Konggres NGO di Korea tahun ini dan sebelumnya juga, hal ini sudah dibahas... Nasib LSM B1 yang menghabiskan bermilyar-milyar rupiah untuk selebaran-selebaran dan aktivitas advokasinya tanpa meninggalkan cadangan baik dalam bentuk barang, maupun kekayaan lain DIPROTES KERAS oleh para pembaharu gerakan NGO's. Bagaimana nasibnya bila lembaga dana tidak melirik LSM B1 (dan ribuan LSM di tanah air) untuk dibantu kucuran dana dalam sepak terjangnya?.. Suram @#$%^&;*()_+ Sulit dibayangkan keberlanjutannya.
Terjadi pergeseran paradigma, LSM yang selama ini cenderung cuma mengharapkan bantuan dana dari donatur, kini harus memikirkan dirinya sendiri dengan berbagai upaya dan usaha agar bisa bertahan hidup justru untuk memberdayakan masyarakat. Peran LSM masa depan tak akan jauh beda dengan peran-peran yang selama ini dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial seperti PMI, sekedar pelayan masyarakat. Untuk melancarkan roda kegiatannya juga butuh pengelolaan secara profesional. Itulah PR bagi para LSM dan aktivis Lingkungan. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA ISTILAH LSM yang layak dapat nilai A, yang terbaik alias Amat Bagus karena sulit untuk mengatakan yang terbagus dan terbaik itu yang bagaimana …
Semua mendapat nilai B… “BAGUS!!!!” kata Pak Tino Sidin, pelukis spesialis memompa semangat anak untuk rajin melukis itu. Semua LSM Bagus, asal visi, misi, aksinya jelas, dan bukan tukang main kibul sana-sini untuk kepentingan diri sendiri. Maka untuk membedakannya ya kita katakan LSM B1, B2, B3, B
100, B 1.000.000… hanya untuk mengurut saja! he..he.. MUNGKIN SETELAH ADA LEMBAGA AKREDITASI LSM, BARU BISA MEMILAH DENGAN TEPAT DAN BIJAK.. LSM A, LSM B, LSM C, LSM D, LSM E. Kita tunggu para pionir akreditasi LSM kita yang sekarang lagi berkerut dahi memikirkan hal ini. ***
Yonathan Rahardjo
Sebenarnya apa sih yang dimaui sebuah LSM B100 dengan menyediakan fasilitas bungalow, asrama, restoran dan lain-lain yang harus dibayar oleh para pengunjung yang datang di sana? Itu semata-mata untuk KEMANDIRIAN, keberdayaan, tidak bergantung pada kucuran dana penyandang dana. Untuk bisa mewujudkan swadana dan swadaya.Jadilah LSM B100 dalam organisasiannya dibuat serapi mungkin dan seprofesional kitangkin, termasuk dalam pengelolaan keuangan, termasuk agar bisa safety untuk keberlanjutan program. Ketekita kuncinya! KEBERLANJUTAN PROGRAM. Agar suatu saat bila tiada dana yang mengucur, kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat tetap bisa dilakukan.
Jadi di sini tidak ada kaitannya dengan PROFIT dan NON PROFIT. Disebut profit kalau goal (orientasinya) cuman memang untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. kalau Non Profit bukan, ada pemasukan adalah minimal untuk survive, dan melanjutkan program-program pemeberdayaannya.
Kalaupun kehidupan LSM B100 jadi lebih baik dan seolah-olah laksana bernuansa profit karena begitu bersayapnya keuangan dan perhitungan-perhitungannya, termasuk besarnya pendapatkan/penghasilan para stafnya, itu adalah suatu reward atau konsekuensi logis dari suatu kerja profesional. Siapa yang bekerja dengan sebaik-baiknya tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik pula! Masa kita sudah bekerja sebegitu keras, ternyata kita tidak dapat membeli susu untuk anak, membeli beras untuk istri, bahkan rumah kontrakanpun tak punya? Bukankah Aktivis LSM B100 sekalipun butuh rumah untuk tempat tinggal yang layak, dan pakaian yang layak pula? Bagaimana bisa melanjutkan program kalau kehidupannya di bawah standar rata-rata?
Titik tolak ke-LSM-an berawal dari fungsinya sebagai PENGGERAK/DINAMISATOR masyarakat agar bisa memerankan dirinya sebagai pelaku utama dalam roda kehidupan dan pembangunan. Selama ini kekuasaan cenderung dilakukan dan dimonopoli oleh pemerintahan. Padahal negara yang baik adalah negara yang memperhatikan demokrasi dan kepentingan rakyat sebesar-besarnya. Ironinya pemerintah dengan para kroni dan pengecap kenikmatan kekuasaannya selama ini cenderung Korup. Maka peran LSM tak lebih layaknya OPOSAN terhadap sekitar itu.
Kalau semua peran yang seharusnya ditangani oleh masyarakat, sudah bisa dikembalikan kepada masyarakat, di situlah terjadi suatu proses DEMOKRATISASI yang berhasil. Ini sama artinya, bila demokratisasi berhasil maka peran LSM pun sudah waktunya untuk dikembalikan kepada masyarakat! Masyarakat sendiri yang akan melakukan semua gerak yang selama ini dilakukan oleh LSM.
Konsekuensi logisnya, LSM semakin berkurang garapan untuk oposan dan memberdayakan. Karena sudah tidak ada lagi pemerintah yang perlu selalu dicari-cari kesalahannya. Tidak ada lagi masyarakat yang masih sangat perlu diberdayakan, sebab semua sudah berdaya! ITULAH PERUBAHAN BESAR ARAH LSM yang terbaru!!
Saat demokratisasi berhasil, keinginan dan kemauan para penyandang dana dan pemberi dana bantuan untuk membantu LSM sudah sangat kecil. Maka nasib LSM pun dibayang-bayangi kesuraman... dalam Konggres NGO di Korea tahun ini dan sebelumnya juga, hal ini sudah dibahas... Nasib LSM B1 yang menghabiskan bermilyar-milyar rupiah untuk selebaran-selebaran dan aktivitas advokasinya tanpa meninggalkan cadangan baik dalam bentuk barang, maupun kekayaan lain DIPROTES KERAS oleh para pembaharu gerakan NGO's. Bagaimana nasibnya bila lembaga dana tidak melirik LSM B1 (dan ribuan LSM di tanah air) untuk dibantu kucuran dana dalam sepak terjangnya?.. Suram @#$%^&;*()_+ Sulit dibayangkan keberlanjutannya.
Terjadi pergeseran paradigma, LSM yang selama ini cenderung cuma mengharapkan bantuan dana dari donatur, kini harus memikirkan dirinya sendiri dengan berbagai upaya dan usaha agar bisa bertahan hidup justru untuk memberdayakan masyarakat. Peran LSM masa depan tak akan jauh beda dengan peran-peran yang selama ini dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial seperti PMI, sekedar pelayan masyarakat. Untuk melancarkan roda kegiatannya juga butuh pengelolaan secara profesional. Itulah PR bagi para LSM dan aktivis Lingkungan. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA ISTILAH LSM yang layak dapat nilai A, yang terbaik alias Amat Bagus karena sulit untuk mengatakan yang terbagus dan terbaik itu yang bagaimana …
Semua mendapat nilai B… “BAGUS!!!!” kata Pak Tino Sidin, pelukis spesialis memompa semangat anak untuk rajin melukis itu. Semua LSM Bagus, asal visi, misi, aksinya jelas, dan bukan tukang main kibul sana-sini untuk kepentingan diri sendiri. Maka untuk membedakannya ya kita katakan LSM B1, B2, B3, B
100, B 1.000.000… hanya untuk mengurut saja! he..he.. MUNGKIN SETELAH ADA LEMBAGA AKREDITASI LSM, BARU BISA MEMILAH DENGAN TEPAT DAN BIJAK.. LSM A, LSM B, LSM C, LSM D, LSM E. Kita tunggu para pionir akreditasi LSM kita yang sekarang lagi berkerut dahi memikirkan hal ini. ***
Yonathan Rahardjo
0 komentar:
Poskan Komentar