EHDB 8/ 28 Oktober 1999 KAPITALISME BERADAB, BUKAN BIADAB

Semua organisasi membutuhkan pengelolaan organisasi yang benar, baik itu organisasi profesional maupun vokasional. Tak peduli itu LSM atau Lembaga Bisnis, Non Profit atau Profit Oriented yang paling dipentingkan di sini adalah spirit lembaga yang benar. Kalau spiritnya profit, jadilah profit yang beradab, bukan biadab. Demikian juga kalau non profit, jadilah non profit yang beradab, bukan non profit kurang adab.

Kondisi ini mewakili dunia dan Indonesia secara keseluruhan. Mengapa lingkungan kita rusak begitu hebat padahal kita menerapkan Ekonomi Pancasila yang dikeramatkan dan dijunjung setinggi langit kesaktian, humanisme, dan keberadabannya? Malahan kita kalah sama negara-negara barat, yang secara terang-terangan mengklaim sebagai negara kapitalis murni?

Jawabnya, ternyata dengan ekonomi Pancasila bangsa Indonesia dalam prakteknya justru menjadi KAPITALIS PRIMITIF. Kapitalisme biadab, yang semua nilai-nilai luhur hanya lewat sebatas slogan-slogan normatif yang kosong melompong bak tong kosong berbunyi berglontang. Prakteknya terlalu berat untuk menyangga predikat bangsa luhur, akibatnya terjadi hukum rimba, yang berkuasa membiadabi yang diperintah. Kata Government yang semantiknya dari Governness, INANG PENGASUH sudah dikebiri menjadi kata PEMERINTAH yang mengekspoitasi yang diperintah. Manivestasinya merasuk dalam segala sendi kehidupan, rakyat yang seharusnya dilayani (diasuh) justru menjadi diperintah, dikuasai, dikangkangi, dijahati, yang dengan sendirinya berakibat pada lingkungan yang ikut diperkosa keberadaannya.

Lain dengan negara-negara barat itu, sekalipun mereka kapitalis tetap dalam frame Kapitalis Beradab, yang lebih mengedepankan nilai-nilai etika, kemanusiaan, persamaan hak, demokrasi dan hak azasi. Karena memposisikan rakyat sebagai yang dilayani, dan pemerintah adalah pelayan, maka suara rakyat adalah SUARA TUHAN, SUARA TUAN. Apapun yang menjadi kebutuhan rakyat, permintaan rakyat, government harus mengakomodir. Efeknya cukup positif bagi lingkungan, karena lingkungan yang baik muncul dari suara-suara rakyat terhadap kebutuhan lingkungan nyaman dan itu didengarkan.

Dalam konsep yang demikian, tidak salah kita tetap berorientasi pada Bisnis, tapi tetaplah Bisnis yang beradab, sekali lagi bukan Biadab. Artinya di mana pun kita berada, sekalipun orientasi utamanya pada bisnis, asal dipagari dengan etika, norma, humanisme, dan susila yang baik, itu tetap PUTIH. Itu lebih baik daripada lembaga yang mengaku sebagi penyelamat lingkungan tapi ternyata cuma berbisnis tak kentara. ***

Yonathan Rahardjo

Komentar

Postingan Populer