EHDB 3/23 Oktober 1999 ILMU LINGKUNGAN DAN KIMIA LINGKUNGAN

Setelah hari pertama seorang rekan milis bertempat tinggal di Jakarta mengirim pertanyaan Environmental Science dan Environmental Chemestry, di hari kedua edisi ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD seorang rekan milis datang dari jauh.. Mau tahu? Ternyata dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang bersekolah di luar negeri, Inggris tepatnya. Maka salah satu pikiran yang nongol di otak adalah, “Kita patut berterima kasih dengan adanya Milis Lingkungan ini, terutama kepada pemiliknya yang sudah menyediakan sarana bagi kita untuk saling mengisi, mengasah, dan mengasuh.” Bayangkan! Dengan milis ini semua anggota tak peduli sedang nongkrong di sudut bumi manapun dapat berkenalan di kabel telepon, bahkan bisa berujung di bawah gagang telpon sungguhan karena benar-benar berjumpa dan memakai telpon yang sama setiap harinya. Luar biasa!

Wajar kalau para pengasuh milis ini menjadi diusik kepengasihannya untuk mendudukkan kita semua dalam wadah yang sama saling berbagi, manakala seorang tak dikenal nyelonong dan merusak susana dengan dampratan dan kepongahannya. Mengapa tidak kita hormati media penuh jasa ini? APAKAH MATA KITA TIDAK TERCELIKKAN MANAKALA SERUMPUN PENDUDUK DI SEBUAH PUCUK GUNUNG DI TEMPAT TERPENCIL JAWA TIMUR, YANG UNTUK MENDAKINYA KAKI HARUS TERSEOK-SEOK PEGAL KESAKITAN, MENDAPATKAN KEBAHAGIAN DALAM ULURAN TANGAN LEMBAGA DANA UNTUK MENYINGKIRKAN TANGAN MEREKA YANG SUKA MEMINTA-MINTA MENJADI PEKERJA KERAS? APAKAH TIDAK TERBUKA MATA KITA MANAKALA ITU TERJADI JUSTRU LEMBAGA DANANYA TAHU PROGRAM LINGKUNGAN INI DI MILIS INI? Maka sadarlah sobat, yang suka melecehkan milis ini untuk kesombongan pribadi.

Lho! Apa hubungannya ini dengan Environmental Science alias Ilmu Lingkungan dan Environmental Chemistry alias Ilmu Kimia Lingkungan yang ditanyakan teman kita dari Jakarta tadi?

Kita mulai dengan KISAH MENDUANYA PROYEK PISANG CAVENDISH KARENA KURANGNYA PEMAHAMAN TERHADAP ENVIRONMENTAL SCIENCE DAN NILAI HUMANISM dalam suatu komunitas penduduk lokal maupun semua lembaga yang terkait. Kisahnya terjadi di satu desa di Jawa Timur. Proyek didanai pemerintah daerah berkolaborasi dengan satu perusahaan swasta ini berakhir dengan separo penduduk menolak untuk menanam pisang Chavendish. Separonya yang lain tetap bersedia dan menanam pisang Cavendish. Pemandangan ini dapat Anda saksikan sendiri dalam satu lokasi pohon-pohon tumbuh di daerah situ, sementara di lokasi yang lain masih daerah yang sama penduduk menanaminya dengan tanaman keras.

ENVIRONMENTAL SCIENCE. Projects here involve chemists, geographers, geologists and biologists working together in area of common interest such as soil erosion, the ecology of land snails, the study of the historical and present influences of global change and sedimentary organic and inorganic geochemistry. The behaviour in the environment of pollutants such as asbestos, acid rain and organo-tin compounds and their effects upon health are investigated. Research workers have the advantage of excellent specialist laboratory facilities in chemistry, physics, geography and biology.

Begitulah, penduduk, aparat dan lembaga swadaya masyarakat rupanya tidak bisa menerapkan atau memiliki suatu persepsi yang sama tentang baik-buruknya pisang Cavendish itu bila ditanam di daerah lereng gunung Penanggungan yang sering terjadi konflik pemakaian air, padahal pisang Cavendish sangat rakus air. Ia juga rakus pupuk urea, bahkan pestisida. Suatu yang sangat dilawan oleh para LSM lingkungan. Tapi mengapa sampai terjadi penanaman pisang itu juga?

Maslahnya memang sangat kompleks. Salah satunya diakui olejh para penduduk karena pendekatan yang kurang. Entah siapa dan apa kekurangannya. Yang pasti akhirnya sebagian penduduk yang mungkin karena lebih dekat nilai-nilai kemanusiaannya dengan aparat pemerintah (ATAU FAKTOR LAIN!?) akhirnya mengikuti untuk menanam pisang proyek itu. Sedangkan yang lain juga karena nilai kemanusiaan (BACA : PENDEKATAN MANUSIAWI) akhirnya dengan semangat juang 45 mau menolak segenap bentuk penjajahan pisang cavendish.

Implementasi ENVIRONMENTAL CHEMISTRY pun tak akan berhasil baik bila humanisme diabaikan. Akan berhasilkah sebuah LSM lingkungan di Jawa Timur meruntuhkan suatu pabrik kertas di Surabaya untuk menutup operasinya? Bila hanya menunjukkan data-data pencemaran saja? Tanpa menunjukkan efek-efeknya bagi manusia? Lantas dengan gagah menjadi Community Organizer penduduk setempat untuk mengadakan demontrasi agar pabrik ditutup?

ENVIRONMENTAL CHEMISTRY is the discipline which deals with: the environmental impact of pollutants, the reduction of contamination and management of the environment. Environmental Chemistry is thus the study of the behaviour of pollutants with respect to their environmental fate and effects on the environment. Toxic compounds consist of naturally occurring elements in variable quantities which usually have no adverse environmental effects. The effect of a chemical depends on its distribution, its form and its concentration.

Disiplin ilmu ini hanya akan menjadi ilmu mati tak berguna bila tak ada sentuhan kemanusiaan dalam aplikasinya.

ENVIRONMENTAL SCIENCE, ENVIRONMENTAL CHEMISTRY, rupanya diketahui (setidaknya ditanyakan) seorang rekan milis dengan menggunakan milis ini. Kisah PERGULATAN LSM di daerah untuk aplikasi ENVIRONMENTAL SCIENCE dan ENVIRONMENTAL CHEMISTRY (setidaknya sekilas) juga dan dinikmati oleh Anda saat ini. Dengan HUMANISME yang baik, pergulatan itu akan menghasilkan yang terbaik. Bersahabat, berperikemanusiaan, itu inti katanya. PERKEMANUSIAAN. Tak ada satupun orang di muka bumi yang suka dilecehkan dan direndahkan, bahkan semut pun menggeliat saat dia diinjak. ***

Yonathan Rahardjo

Komentar

Postingan Populer