Oli’O, nama sebuah dusun, sekitar 20 km dari Kupang Ibukota NTT. Dihuni kurang lebih 130 kepala keluarga (tahun 1996), Oli’O dipimpin oleh seorang kepala dusun. Menangkap ikan, udang dan kepiting yang biasa hidup di hutan bakau yang mengelilingi dusun, adalah matapencarian penduduk O’lio. Mereka juga mempunyai ternak sapi, kuda dan babi.
Untuk menuju ke hutan bakau kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati ladang-ladang ternak penduduk yang cukup kering, setelah keluar dari ladang tersebut barulah kita menjumpai hamparan “harak” yang cukup luas. Di hadapan hamparan harak yang luas barulah bisa dilihat hutan bakau. Pohon bakau yang ada merupakan sisa dari beberapa pohon yang telah ditebang.
Di tengah situasi alam yang cukup perawan..masyarakat Oli’O masih memelihara keseniannya. Saat ada penduduk hajatan, yang disuguhkan sebagai hiburannya tak lain adalah musik dan tari. “Gong” adalah alat musik tradisional yang biasa dimainkan bersama alat musik petik sasando dan tambur. Lagu-lagu yang dibawakan dengan iringan gong mengandung banyak makna…perjuangan/perang, cinta, dan segi kehidupan lainnya.
Ada mitos yang beredar Untuk alat musik tambur berhubungan dengan alat musik tambur Tambur, dalam membuatnya hanya boleh dilakukan oleh pria yang sudah tua “uzur” dan ahlinya. Kalaupun ia membutuhkan bantuan, yang boleh membantu hanya pria yang masih bujang (belum beristri & mempunyai anak). Mengapa?
Kalau yang membantu adalah orang yang sudah berkeluarga… apabila ia akan mempunyai anak, konon anak yang akan terlahir tersebut tidak akan mempunyai anus. Siapa yang mau nggak punya anus? Tentu ngeri, harus operasi, lantas dibuatkan jalan buatan di area yang seharusnya itu. Jadilah.. masyarakat Oli’O sangat memegang teguh tradisi ‘tambur’ tadi. Ini sejenis kearifan tradisional.. tentu ada makna terkandung di dalamnya. Sah bagi kita menerka-nerka.. mengembangkan daya imajinasi tentang hal ini, “Mengapa kalau orang yang membantuku membuat tambur sudah berkeluarga anakku nanti jadi tak punya anus?” ***
Nash/Staf Harmoni Lingkungan
Untuk menuju ke hutan bakau kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati ladang-ladang ternak penduduk yang cukup kering, setelah keluar dari ladang tersebut barulah kita menjumpai hamparan “harak” yang cukup luas. Di hadapan hamparan harak yang luas barulah bisa dilihat hutan bakau. Pohon bakau yang ada merupakan sisa dari beberapa pohon yang telah ditebang.
Di tengah situasi alam yang cukup perawan..masyarakat Oli’O masih memelihara keseniannya. Saat ada penduduk hajatan, yang disuguhkan sebagai hiburannya tak lain adalah musik dan tari. “Gong” adalah alat musik tradisional yang biasa dimainkan bersama alat musik petik sasando dan tambur. Lagu-lagu yang dibawakan dengan iringan gong mengandung banyak makna…perjuangan/perang, cinta, dan segi kehidupan lainnya.
Ada mitos yang beredar Untuk alat musik tambur berhubungan dengan alat musik tambur Tambur, dalam membuatnya hanya boleh dilakukan oleh pria yang sudah tua “uzur” dan ahlinya. Kalaupun ia membutuhkan bantuan, yang boleh membantu hanya pria yang masih bujang (belum beristri & mempunyai anak). Mengapa?
Kalau yang membantu adalah orang yang sudah berkeluarga… apabila ia akan mempunyai anak, konon anak yang akan terlahir tersebut tidak akan mempunyai anus. Siapa yang mau nggak punya anus? Tentu ngeri, harus operasi, lantas dibuatkan jalan buatan di area yang seharusnya itu. Jadilah.. masyarakat Oli’O sangat memegang teguh tradisi ‘tambur’ tadi. Ini sejenis kearifan tradisional.. tentu ada makna terkandung di dalamnya. Sah bagi kita menerka-nerka.. mengembangkan daya imajinasi tentang hal ini, “Mengapa kalau orang yang membantuku membuat tambur sudah berkeluarga anakku nanti jadi tak punya anus?” ***
Nash/Staf Harmoni Lingkungan
0 komentar:
Poskan Komentar