Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 10/ 30 Oktober 1999 CENDANA,.. (oleh Yonathan Rahardjo dan Mohammad Ichsan)

Cendana,
nama pohon yang terkenal karena harumnya
juga nama jalan yang terkenal karena cemaran penghuninya
ternyata…
pohon ini sekarang hampir punah
karena eksploitasi yang berlebihan.

Cendana bisa diambil serbuknya,
bisa dijadikan minyak cendana,
kayunya bisa dijadi berbagai macam cendera mata
kipas, tasbih, rosario, gantungan kunci dan lain sebagainya.

Serbuk cendana, bisa sebagai pengganti kapur barus
dengan cara memasukkannya ke kantung kain,
lalu dijahit dan tinggal menggantungkan atau menaruhnya
di dalam lemari pakaian.
Bisa juga dibakar untuk menggantikan obat nyamuk bakar,

HARUM untuk mengharumkan ruangan
AMPUH dalam mengusir nyamuk.

Bila Cendana ditaburkan di tempat-tempat yang rawan sarang rayap,
serbuk cendana cukup efektif dalam menghalau rayap.

Mungkin karena kegunaan dan keharuman yang dihasilkannya itu
maka cendana terus mengalami penurunan dalam jumlah.
Dibutuhkan waktu 20 tahun untuk dapat menghasilkan pohon cendana yang wangi,
karena hanya cendana tua saja yang bisa diambil kayunya.

Rupanya nikmat hidup di tempat WANGI dan BERKHASIAT
Untuk hidup tak mikirin susahnya cari duit sampai anak cucu selama tujuh turunan
Sampai lupa tempat itu sendiri rupanya sudah HAMPIR PUNAH.. dan ‘PUNAH’ dan nyatanya
‘TELAH PUNAH’

“Cendana”,
Tragis benar nasibmu..
Sementara engkau tak pernah memincingkan mata sekalipun pada mereka..
Gadis kecil.. gadis remaja merah pipi, ibu-ibu segar sampai loyo, hingga nenek tua ompong…
Yang setiap hari nyunggi ranting kayu sisa-sisamu..
Dibakarnya ranting-rantingmu.. dijilat panas bara api dan berkobarnya api..
menghangati tubuh.. menghangati rumah yang dibalut dingin malam,
menghangati perut yang dingin lapar

Para lelaki berurat tangan dan kaki.. menjejaki lahanmu
dan… terdengar denting kapak itu! Melengking! Menusuk kuping..
terdengar deru gergaji listrik itu! Menyogrok telinga.. risih!
kaum lelaki itu.. menggasak pohon-pohonmu..
krosak!! Krosak!! BUM.
pohon tumbang.

Siapa mereka? Gadis kecil, gadis remaja merah pipi,
ibu-ibu, nenek tua ompong, dan lelaki-lelaki itu?
Mereka sebagian besar penduduk negeriku, Indonesia
yang tinggal di luar Pulau Jawa
maupun jutaan petani miskin yang ada di Pulau Jawa

Ada apa mereka?
Mencari nafkah
menggantungkan hidupnya secara langsung dari hutan.

Sayangnya..
Itu tak cukup bernilai dibanding hak mereka..
hak adat masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola hutan,
semua bilang,
itu
KARENA KAMU! ***

Nash/Yonathan - Harmoni Lingkungan

0 komentar: