Minggu, 26 Agustus 2007

EHDB 13/ 2 Nopember 1999 MEMORI KOALISI LINGKUNGAN

Ini sekedar memori di Gedung Sayap Garuda Yang Mengepak.
Tepatnya Gedung Wakil Rakyat MPR di Senayan Jakarta.
Saat para wakil rakyat yang mulia dari 13.600 pulau di Indonesia
berkerut dahi menjual omong, membabat habis semua pergulatan
penghalang masa depan republik dalam Sidang Umum MPR
tempo hari.

Pada suatu hari H, beberapa sosok yang selama ini dikenal
Sebagai pejuang-pejuang lingkungan mengatasnamakan diri
Sebagai “Koalisi LSM Lingkungan” kendati tanpa ikat kepala hijau
Ala Suporter Bonek Green Force Surabaya. JUSTRU DI DAHI MEREKA
TERTERA ‘STEMPEL’ SAVE OUR INDONESIA WORLD.

Keempat LSM lingkugan berdomisili di Jakarta/Bogor itu
Bercampur dengan kerumunan dan keringat wartawan dalam dan luar negeri,
para karyawan pendukung SU MPR, para wakil rakyat yang mulia sendiri,
tentara dan polisi penjaga keamanan jalannya sidang,
dan penjual barang kelontong di stan-stan yang disediakan di lokasi.

Yang membedakan dengan segebok masyarakat yang lain adalah
Kekhasannya bersuara lantang soal atasi isu-isu hijau, biru, dan coklat!
Atasi masalah-masalah lingkungan. Didesakkan pada yang mulia Presiden
yang saat itu belum lagi terpilih.

Laksana “Bekantan” yang berteriak nyaring di kiri-kanan sepanjang
Sungai Sekonyer Di Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah
manakala para manusia pengunjung lalu-lalang di sungai itu, para pentolan
LSM lingkungan itu dengan keras minta agar pemerintah
yang bakal dipilih saat itu mau di”celik mata”-nya terhadap berbagai kerusakan
dan degradasi alam yang meruyak negara 17 Agustus 1945.

Mereka kompak!… dan pada saat semua sudah bergulir
hingga terpilihnya Presiden, Wakil Presiden hingga terbentuknya
‘Kabinet Pelangi Nasional’ dipimpin Santri handal dari Jombang…
yang terjadi di antara mereka tampak justru membuat
Jidat berantakan! Mengapa?

Gantinya membicarakan dengan kepala dingin
bagaimana menteri lingkungan Kabinet pelangi beroperasi di lahan barunya,
para pengaku pengabdi dunia hijau itu
Justru merangsek penurunan seorang pendekar pendatang baru
sebagai sebagai menteri.

Kalaupun pemrotesan itu dilakukan dengan kepala dingin
ala negarawan atau petinggi Politik, itu kurang jadi masalah.
Yang jadi pertanyaan salah seorang pemrakarsa
‘koalisi’ lingkungan justru ‘Mengapa yang menonjol justru tampaknya
niatan untuk memperoleh kursi empuk menteri “Pendekar” lingkungan
kabinet pelangi?’

Begitulah, tak heran, kalau saat berkoar nyaring
di gedung sayap garuda terkepak untuk menggolkan rancangan
peduli lingkungan pada bakal penguasa baru ada 5 LSM..
Pada saat mendesak pendekar lingkungan dadakan untuk menjungkalkan diri
daripada maju dengan gentar, cuma jadi 3 LSM

Diakui oleh salah seorang pendekar kita itu
(yang tidak ikut mendesak mundur gunungnya Pendekar dadakan itu)
kepada HARMONI LINGKUNGAN..
“Saya lebih baik mendukung Menteri Baru itu untuk membuktikan
dedikasinya, minimal 100 hari di awal sepak terjangnya. “
Dan terbukti justru untaian kata-kata inilahnya yang akhirnya menjadi
garis kebijakan akhir koalisi LSM itu. Mengapa?
TERBUKTI DESAKAN AGAR MENTERI BARU MUNDUR.. GAGAL!

Pendekar dadakan tetap memegang pedang pengatur lingkungan, sementara
Nama tokoh yang mendesak justru semakin terpuruk menjelang pudar..
Karena menonjol emosionalnya dalam gerakan jajaran tingkat tinggi
elite nasional.

“Mestinya tak perlu emosional kalau dalam permainan catur tingkat tinggi
kayak gitu…,” kata pengide statemen 100 hari yang dipakai
sebagai garis kebijakan koalisi, dikatakan kepada HARMONI LINGKUNGAN.

Begitulah, masalah lingkungan tak akan pernah selesai dengan mengandalkan
Nafsu dan Okol. Yang perlu digunakan adalah “Akal” selain dengan Sang Okol
Sendiri (otot/tenaga/fisik). AKAL DAN OKOL, MENTAL DAN FISIK,
namanya saja PENGABDI KESEIMBANGAN, UNTUK KEBERLANJUTAN.
Ya, SEIMBANG. ***

Yonathan Rahardjo

0 komentar: