Sebagai LSM yang bergerak di bidang Jurnalistik Lingkungan Aplikatif, HARMONI LINGKUNGAN diundang oleh KSB-HIMABIO (Kelompok Studi Biologi Mahasiswa Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang, bekerjasama dengan Yayasan KEHATI untuk memberi materi bertema di atas dalam LOMBA MENULIS ESAI TINGKAT PERGURUAN TINGGI SE-JATIM 5-6-7 Desember 1999, di PPLH Seloliman Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Berikut cuplikan materi SEMINAR"PERAN JURNALISTIK LINGKUNGAN DALAM USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI"yang disampaikan oleh Yonathan Rahardjo, dari HARMONI LINGKUNGAN.
'Tulis yang anda lakukan , lakukan yang anda tulis.' Itulah upaya insan jurnalistik lingkungan untuk membuat tulisan yang bermanfaat bagi pembaca dan diri sendiri. Ini mengilhami dan diilhami jargon ISO seri 9000 dalam mewujudkan kecintaan kita pada lingkungan.
Begitu banyak tulisan mengenai lingkungan di berbagai media massa. Namun coba rasakan, apa pengaruhnya itu bagi perilaku kita? Adakah perubahan perilaku kita lebih cinta pada lingkungan hanya dengan membaca berita-berita yang menjamur itu? Belum tentu. Mengapa? Karena kebanyakan tulisan itu hanya sekedar informasi, lantas basi. Tidak menggugah pembaca. Tidak ada provokasi, tidak menggigit, tidak mendorong kita untuk berubah. Kurang satu sentuhan yang membuat kita setelah membaca tulisan itu ada kemauan untuk melakukan sesuatu pada lingkungan.
Kita akui dari berbagai tulisan itu lebih banyak pada pemberian ilmu pengetahuan, ketrampilan, cukup. Namun kurang menyentuh perasaan dan niatan kita, hingga setidaknya setelah membaca tulisan itu langsung mau menyetop penggunaan gas freon dalam AC-nya, parfumnya, menghentikan memakai tissue dan diganti sapu tangan kain, dan tidak memakai premium timbal lagi. Maklum, peran wartawan lebih bertumpu cukup cuma mewartakan sesuatu dan membuat orang tertarik untuk membaca, dan sudah.
Wartawan sering tidak terbebani dengan perubahan yang diinginkan untuk dilakukan oleh dirinya sendiri, apalagi orang lain. Bagi wartawan, karena sering dikejar untuk menulis hal baru lagi, tiada sempatlah ia melakukan di dunia sehari-hari apa yang justru ditulisnya.Kalaupun si wartawan tak punya waktu dan tenaga untuk melakukan sendiri, tentu peran melakukan di keseharian dari tulisan itu kini mestinya digantikan oleh pembacanya.
Maka untuk mendorong pembaca melakukan, mau tak mau tulisannya harus menggigit! Dan menyentuh! Dan mendorong! Kalau pembaca tergerak, yakinlah dengan sendirinya si penulis/wartawan itu sendiri juga akan tergerak. Sebab, dengan menulis kita bisa merubah orang lain, juga mengubah diri sendiri. Karena menulis adalah ekspresi diri si penulis. Untuk melakukannya dia sudah menggunakan energi terbesar dalam tubuhnya, untuk berpikir dengan otak kanannya,mengeluarkan segenap pengetahuannya, menyuruh sistem sarafnya menggerakkan jari-jari dan tangannya, menulis, menekan tuts-tuts keyboard komputer, tentu saja juga membaca dengan mata kepala sendiri setiap goresan pena, dan setiap huruf yang nongol di monitor.
Energi yang dipakai itu akan menjadi pendorong perubahan pada diri si penulis, yang menghasilkan tulisan yang akan mendorong si pembaca untuk berubah. Bahkan untuk suatu yang disebut sebagai KEANEKARAGAMAN HAYATI.
Lantas bagaimana kiatnya? Agar penulisan lingkungan itu bisa merubah perilaku? Bagaimana agar tulisan keanekaragaman hayati itu mendorong orang berubah untuk lebih sadar dan cinta segenap aneka ragam hayati Indonesia yang begitu berjibun namun seolah sedang menuju liang kubur karena tidak banyak yang mempedulikannya lagi?
REALISTIS, tulisan tidak muluk-muluk.Itu lebih mudah diterima pembaca karena dengan sendirinya dia lebih tahu persoalan yang sedang dihadapi. Bandingkan dua model ini. Anda menulis tentang Anda yang menanam tunas cabe dengan sentuhan lembut tangan Anda sendiri. Suatu pengalaman nyata. Bandingkan dengan seorang menanam pohon Americana gigantica squoia yang bila sudah besar akan bergaris tengah meteran. Orang sangat jarang melihatnya, hanya bisa membayangkan di belantara impian. Ternyata kita lebih mudah menerima gambaran yang pertama. Itulah Realistis!
IDEALIS, penuh dengan ide-ide segar dan bagus, yang mungkin baru sekalipun, tapi menyelamatkan lingkungan. Uraikan misalnya untuk mengatasi problem sampah yang berserakan di sepanjang kota kenangan namun kumuh Sunda Kelapa, Anda mengajak para penduduk di sepanjang daerah itu membersihkansampah di jalan-jalan itu, sambil memisahkan sampah menjadi plastik, kertas, ataupun yang mudah didaur ulang, juga mengapur kembali pagar-pagar tua, gedung-gedung tua dan dicat warna baru bahkan pada gedung ditulisiVOC bukan Kompeninya Belanda tapi Very Old Café, berkesan jaman dulu. Rasakan! Ada ide besar di situ. Ide itu memberi solusi adanya problem sampah. Sekaligus memberi angin segar pemukiman bahkan justru bisa dimanfaatkan sebagai obyek ekoturisme.. bermanfaat. Itulah idealis!
Menggabungkan REALISTIS dan IDEALIS pada problem keanekaragaman hayati? Anda bisa menuliskan suatu kenyataan/REALITA yang ironis bahwa tempe bangsa kita sebagai karya nenek moyang kita dari kedelai, ternyata diambil hak patennya oleh orang Jepang! Justru karena kepongahan mahasiswa kita yang sedang thesis di universitas negeri Sakura itu, dan mengambil bahasan dari negerinya sendiri, materi thesis itu akhirnya dimangsa oleh industriwan dan orang dagang Jepang, maka tempe diambil sebagai hak paten mereka, dan kita kehilangan itu!
Secara IDEALIS Anda bisa memberi solusi, mulai detik ini.. silahkan siapa saja mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri asing, saat menyusun thesis atau disertasi.. silahkan mengambil bahasan di negeri tempatnya belajar itu. Jangan mengeksplotasi bahasan di negeri kita yang orangnya kurang peka trik dan strategi pemasaran! Dengan membahas negeri orang, kan bisa dieksplorasi lantas sepulang ke Indonesia bisa menerapkannya di tanah air? Seumur-umur tanpa takut akan kehabisan waktu lagi?
Ya ! Hal-hal sederhana dapat dituliskan untuk membuat tulisan. Justru itu yang membuat tulisan kita menjadi lebih bermanfaat. Karena kita tahu permasalahan, maka dengan sendirinya tak sulit untuk memberi solusi. Gunakan bahasa sederhana, beri sesuatu realita untuk menggugah pembaca. Kenyataan buruk perlu dituliskan untuk mengetahui dampak aktivitas sehari-hari. Tuliskan "obat" untuk memberi solusi. Di manapun dan apapun profesi anda tuliskan menurut kemampuan anda.
Na.., untuk membuat tulisan yang "segar", informatif, penuh ide, edukatif, menggigit, bahkan menggugah untuk berubah, sudah tentu perlu senjata awal. Apa itu?:
Banyak membaca dan berlatih
Tulisan santai dan komunikatif
Memang, menulis itu mudah, pada dasarnya semua orang bisa menulis. Cuma kita sering menghadapi kesulitan, yaitu bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan. Maka, kita pun perlu persiapan :
Menggali bahan (cari bahan pendukung)
Harus mengetahui masalah
Dapat menggunakan panca indera, dan jiwa
Memperhatikan pangsa pasar pembaca. ***
Yonathan Rahardjo/dari berbagai sumber
0 komentar:
Poskan Komentar