EHDB 6/26 Oktober 1999 ULAR, KUCING, SINAR MATAHARI, DAN MANUSIA

Menjalar di sela-sela pagar dedaunan taman kuburan satwa.. hitam mengkilat bersisik. Semeter panjangnya! Bang! Bang! Darah menetes mengucur dari kepalanya, menggeliat-geliat tubuh si ular Kobra, tertembak oleh pegawai Rumah Sakit Hewan Jakarta. Bang! Persis ke kepalanya. Sontak orang berkerumun. Mata kehaeranan bertanya, "Wah? Di Jakarta yang padat penduduknya kayak gini masih ada ular. Ular Piton sebetis besarnya saja acap berkeliaran. Ular makan tikus.. sedangkan tikus banyak di Jakarta.. 'segajah' gedenya! Maka munculnya si ular makan tikus tidak cukup mengherankan penduduk Ragunan, minimal penembak ular tadi… "Saya , trauma digigit ular," katanya sambil mencungkil ular bangkai kobra tewas dengan galah bambu.

Di Kebun Binatang Ragunan Jakarta kalau anda menjumpai ular semacam ini di kandang-kandangnya, adalah hasil tangkapan ular liar semacam itu. Manakala si jantan ketangkap dan dikandangkan, maka tak lama kemudian menyusullah si betina mencari di mana pasangannya berada. Mereka beretemu di kebun binatang itu! Begitulah… acap penduduk Ragunan menjumpai ular-ular itu 'berkeliaran' di tempat-tempat rimbun bersemak, yang cukup banyak di jumpai di Jakarta Selatan tadi.

Sebetulnya cukup mengherankan di kota besar macam Jakarta masih saja ada ular sungguhan, mestinya yang ada kan ular-ular berkepala hitam yang suka memangsa apa saja asal mendapatkan HARTA, TAHTA atau WANITA. Mestinya ular-ular sungguhan itu lebih pas rasanya kalau muncul di daerah yang masih cenderung perawan, belum begitu terjamah polusi dan polisi, macam di desa Seloliman Kecamatan Trawas Mojokerto. Di situ berdiri sebuah Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup yang sudah cukup santer terkenal sebagai 'role model' kawasan ramah lingkungan, bernuansa alami baik arsitektur bangunan, maupun area yang digarapnya, selain sebagai tempat lembaga swadaya masyarakat melakukan pemberdayaan pada masyarakat umum.

Pernah suatu kali saat para awak staf PPLH bercandaria di bawah pohon cherry alias keres, seekor ular kayu coklat menjalar di batang pohon di sela-sela dedaunan yang menjuntai.. Hap! Dengan sigap dia memagut seekor katak dengan mulut bertaringnya! Katak meronta!! Mengeluarkan suara pedih kesakitan! Melengking menyayat hati. Pada saat itulah terjadi pergulatan antara hidup dan mati si katak dalam kekuasaan si mulut ularkayu yang kecil tubuhnya (tidak sebesar ular kobra yang di Jakarta itu). Selama dua jam.. baru sang ular berhasil memindahkan katak di mulut masuk ke perutnya yang jadi menggelembung.

Di lain waktu saat anda berjalan di halaman 3,7 hektar PPLH nan asri itu mungkin anda akan disambut dengan ular kecil yang dengan cepat menyusur, melata, menyeberang lintasan anda.. Atau di kamar mandi.. seorang staf pernah harus menangkap ular air dengan tangannya yang sudah piawai. Di kolam depan restoran pun Anda bisa menikmati dengan lincah ular menyelam atau berjalan di atas air laksana Rasul Petrus saat menjumpai Gurunya dulu di Danau Galilea.

ULAR. Sering bikin orang takut karenanya. Hati-hati adalah solusinya bila mendengar dan tahu suatu tempat menjadi habitatnya. Namun juga tak perlu takut karenanya. Mengapa? Staf PPLH yang notabene adalah pendidik-pendidik lingkungan hidup yang setiap hari menggeluti dunia lingkungan hidup dengan penuh dedikasi dan loyalitas tinggi pada lingkungan lestari bilang, 'ULAR TIDAK AKAN MELEWATI suatu jalan atau wilayah yang sudah menjadi JALAN MANUSIA, YANG SUDAH DIJAMAH MANUSIA.

Begitulah nyatanya! Binatang sangat tahu, kalau sesuatu yang bukan menjadi milik atau bagiannya dia tidak segera memakan, menyantap ataupun cuma memakainya. Biasanya mereka baru melanggar suatu 'teritori' kalau teritori mereka pun dilibas atau diganggu! Mereka merasa terancam hidupnya, maka bertahan adalah solusinya… Maka jangan sekali-sekali membangunkan Singa yang sedang tidur, Anda akan diterkam karenanya. Atau paling gampang, jangan mengusik kucing tidur, Anda akan dicakar karenanya.

Si kucing pun tahu.. siapa itu katak.. Di halaman Rumah Sakit Hewan Jakarta, saat seekor katak dikerumuni tiga ekor kucing.. tak satupun kucing itu yang menggigitnya. Kucing rupanya tahu.. itu bukan makanannya. Maka si tiga kucing cuma menyentuh dengan kaki depannya.. seolah mainan… Hmm.. empuk.. kenyal.. pikir kucing.. Didengusnya si katak.. Amis! Pikir kucing. Tiba-tiba si katak melompat! Kucing kaget.. melonjak.. namun ikut mengejar si katak.. terus begitu.

Yang pasti sampai katak menghilang di semak.. si kucing tak sekalipun menancapkan taringnya untuk memangsa si katak. Sikap si kucing dapat dibandingkan dengan saat dia mencuri ikan asin.. selama dia masih lapar.. apapun yang jadi seleranya akan disantap habiskan. Namun manakala dia sudah merasa kenyang.. jangankan dihabiskan.. disentuh saja makanan itu tidak. Ditinggalkannya begitu saja, kendati makanan masih menggunung.

Kalau manusia rupanya lain! APAPUN YANG BISA MEMUASKAN HASRAT AKAN DIBABAT HINGGA ORANG LAIN SAMBAT!! Mengapa? Karena semua akan dikangkangi untuk diri sendiri, sering tidak mempedulikan bahwa masih ada orang lain disekitarnya, di lingkungannya. Tak mengherankan selama berkuasanya Raja Baru tanah Jawa dan Tanah Indoesia Suharto, hanya dia, keluarga dia dan para 'punggawanya' saja membesar perutnya, sementara berjuta-juta rakyat yang lain harus mengikat pinggang melilit kelaparan! .. tak tahu besok harus makan apa. MESTINYA MANUSIA BELAJAR DARI SI ULAR, SI KUCING, BELAJAR DARI LINGKUNGAN, BELAJAR DARI ALAM. Belajar untuk mengendalikan diri. Bahwa semua akan indah pada porsinya, semua akan indah pada saatnya, semua akan indah pada kodratnya, semua akan indah bila kita tahu batas-batasnya. Semua akan indah bila lingkungan sekitar juga indah dan mendapatkan jatah masing-masing.

Mestinya setiap manusia juga menganggap dirinya punya pembatas dan batas-batas.. sehingga ada harmoni, keselarasan dengan makhluk-makhluk yang lain. Bahkan alam yang sebegitu luas tak terbatas ini sebetulnya juga ada batasnya. Batasnya hanyalah pada suatu kenyataan bahwa kita punya porsi masing-masing. ALAM SUDAH BERCERITA TENTANG ITU. Bahwa sinar matahari yang begitu terang menyinari sembilan planet di tata surya, sinarnya tak akan terus bisa dipancarkan jauh melebihi jangkauannya. Mungkin dari galaksi Andromeda.. makhluk sana hanya akan melihat matahari (SUN) sebagai setitik BINTANG KECIL.. Matahari pun punya keterbatasan. Manusia juga.. kendati kita tak boleh membatasi diri untuk berkembang!! Yang tak terbatas hanya yang mempunyai semua itu, TUHAN. ***

Yonathan Rahardjo

Komentar

Postingan Populer