MENYULUH SANG NAGA
(Oleh : Yonathan Rahardjo, dimuat di Majalah OZON Pebruari 2000.)
Saat kita heboh dengan harapan besar di tahun baru 2000 yang sebagian orang bilang sebagai abad baru, abad 21 dan Millenium baru, Millenium III, kita boleh mempunyai harapan hebat pula per 5 Pebruari 2000.
Kalender Cina menurut perhitungan Cap Jie Shio per tanggal itu hingga 23 Januari 2001 merupakan tahun Naga Emas, tahun Geng Chen (baca = Khe Sien) yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali. Shio Naga Emas ini mempunyai makna hebat pada setiap perlindungan Sang Naga dalam melaksanakan tugasnya mengatur siklus bumi dengan segala penghuninya. Dari makna kepenuhan mengendalikan kebutuhan untuk perubahan (Khe = artinya emas, logam). Dan, lambang kemajuan tanpa mengindahkan bentuk-bentuk lama (Chen = wilayah timur tenggara, dimana Sang Naga sangat
berkuasa).
Sangat bertolak belakang dengan tahun Kelinci Tanah 1999 yang barusan kita `say good bye'. Semua merasakan ia benar-benar meninggalkan banyak peristiwa duka penuh luka bagi manusia yang pada hakekatnya merupakan para pengembara (kafilah) di bumi. Banyak kita yang merasa hilang asa dalam hidup, karena kehidupan benar-benar sulit, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pertahanan keamanan pun, khususnya di Indonesia.
Pada lingkungan hidup juga begitu. Berbagai permasalahan mengharubirukan lingkungan yang runyam bin mawut. Kendatipun semua tak lebih berupa muara 32 tahun merembetnya perusakan alam oleh penguasa berlabel Orde Baru dengan dalih demi pembangunan ekonomi.
Bertumpuk masalah lingkungan tak kunjung selesai di berbagai sektor segenap kehidupan berbangsa, yang setidaknya diwakili institusinya oleh kementrian-kementrian dalam Kabinet Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memang masalah lingkungan adalah masalah lintas sektoral, sehingga yang menangani isu ini di kabinet cukuplah Menteri Negara (Lingkungan Hidup). Namun alangkah baiknya semua departemen yang ada sangat peduli pada isu lingkungan di setiap departemennya. Bahkan departemen yang mengelola seni sekalipun.
Maka dengan harapan baru di tahun baru ini, kita tidak mau lagi departemen kehutanan dan perkebunan membiarkan berhektar-hektar hutan meranggas dan terbakar di negeri yang `seharusnya' punya hutan tropik terluas dan penuh keanekaragaman hayati kedua setelah Brazil. Kita tak suka lagi departemen ini meninggalkan kenangan pahit menghapus taman nasional seperti terhadapTaman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dengan menyisakan cuma beberapa orang utan kurus lapar.
Kita tak sudi lagi departemen pertambangan dan energi dengan congkak melegalkan penambangan berdarah ala Freeport di Irian Jaya menyisakan derita penduduk lokal, yang terampas haknya selaku masyarakat lokal dan terenggut hidup sehatnya lantaran pencemaran merkuri pengolah emas. Maupun membiarkan merebaknya penambangan liar ala ASPAI di kerumunan belantara Kalimantan Tengah yang membuat Sungai Sekonyer penuh limbah, tak layak dipakai mandi lagi, apalagi untuk diminum.
Kita tak berkehendak lagi departemen kesehatan menelantarkan pengelolaan limbah rumah sakit amburadul, berdampak penyakit dapatan dari rumah sakit pada pasien sepulang dirawat di tempat yang
semestinya justru merupakan rumah penyehatan, bukan tempat pemberi sakit.
Kita tak membiarkan lagi departemen pemukiman dan pengembangan wilayah membiarkan teriakan tangis anak kecil dan penghuni rumah kumuh, yang berjejal di sepanjang pinggiran sungai yang melintang kota-kota besar.
Kita tak berdiam diri lagi saat departemen pendidikan nasional mendukung guru pun atasannya tak peduli terhadap pentingnya pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak didik.
Kita pun segera bertindak kala departemen pertanian tak peka terhadap petani yang buta mata sebab memakai pestisida kimia pengusir hama. Juga ketika pemerintah sedang memasang kuda-kuda revolusi hijau kedua. Padahal sudah begitu mahfum betapa revolusi hijau kesatu sudah betul-betul menguras unsur hara tanah menjadi tandus lantaran pupuk kimia propagandanya. Padahal sudah begitu nyata keanekaragaman hayati padi penghasil beras lokal sudah begitu amblas lantaran penyeragaman bibit unggul provokasinya.
Banyak peran dimainkan oleh segenap jajaran dalam setiap departemen. Mulai dari pengambil kebijakan di tingkat presiden (baca=menteri, menteri adalah `presiden' di bidangnya, karena menteri adalah pembantu presiden dalam bidang itu). Sampai di lapisan bawah, petugas lapangan, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di masing-masing bidang.
Bagaimanapun rupa kebijakan suatu departemen, peran petugas lapangan tetap berarti dan cukup menentukan perubahan perilaku masyarakat. Dengan sendirinya pola sosialisasi ini akan ikut menentukan berhasil tidaknya program kerja suatu departemen. Di tangan orang lapangan inilah paling ditentukan sampai tidaknya kebijakan departemen yang bersangkutan untuk terealisasi di masyarakat.
Ambil contoh departemen pertanian, petugas lapangan yang berperan besar pada konteks sosialisasi program departemen adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam menghadapi masyarakat yang berbeda strata dalam fase yang berbeda, berbeda pula strategi yang diterapkan.
Penyuluhan secara paksa dilakukan menggunakan tekanan yang sah (peraturan-peraturan dan hukuman-hukuman), perintah top-down efektif pada fase awal pembangunan, ketika sebagian besar petani gurem, buta huruf dan primitif. Permulaan revolusi hijau sampai melibatkan semua aparat pemerintah daerah bahkan Koramil (Komando Rayon Militer) ikut membabat paksa padi-padi lokal untuk ganti ditanami padi-padi IR pada seluruh area persawahan di tanah Jawa, dan semua pulau yang lain.
Penyuluhan ekonomi menggunakan insentif ekonomi, distribusi beras, menyediakan subsidi-subsidi, menyediakan pinjam rendah. Efektif ketika petani berorientasi komersil dan kekurangan modal. KCK (Kredit Candak Kulak), dan KIK (Kredit Intensifikasi Kecil) misalnya.
Penyuluhan pendidikan mendorong minat belajar, membangkitkan pemikiran secara ilmiah, menyediakan bahan bacaan, organisasi kelompok belajar, menyediakan kursus-kursus jangka pendek. Model ini efektif ketika level pendidikan petani mencapai setingkat lebih tinggi dari pendidikan dasar. Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa`kelompencapir' produk Menteri Penerangan Harmoko saat itu, misalnya.
Penyuluhan secara menyeluruh membentuk dasar hukum, menggunakan insentif ekonomi (bantuan harga, menyediakan asuransi, memperhatikan pemasaran), menggunakan pendekatan pendidikan, koordinasi dengan kebijakan (program pembangunan masyarakat, proyek kesejahteraan pedesaan), efektif ketika ekonomi petani mengalami lebih banyak kesulitan.
Semakin besar, pandai, dan semakin berdayanya masyarakat, model penyuluhan seperti yang kita lihat dari gaya penyuluhan PPL itu, tak selamanya akan efektif. Bahkan petani yang sangat maju dan mandiri bisa jadi tidak membutuhkan penyuluhan yang menggurui begitu.
Ambil contoh penyuluhan pada petani peternak. Pada peternak ayam buras/ayam kampung, peternak kecil membutuhkan penyuluhan untuk meningkatkan budidaya, peternak menengah untuk mengembangkan usahanya. Peternak besar membutuhkan penyuluhan yang lebih kompleks, melibatkan semua model secara lengkap, utuh dan terintegrasi.
Pada peternak broiler, peternak kecil membutuhkan penyuluhan mirip pada peternak buras skala besar, karena ciri dan perilaku komunikasinya hampir sama dalam memperoleh informasi. Peternak menengah tak membutuhkan penyuluhan yang rutin formal seperti model penyuluhan PPL saat ini. Bagi peternak besar yang sangat mandiri, penyuluhan tak perlu lagi bila masih ala PPL. Yang diperlukan adalah konsultan berkapasitas tertentu, yang sebenarnya tak lain adalah fungsi penyuluh yang diperluas.
Intinya, semakin besar kapasitas suatu individu, kelompok, atau golongan maka semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih terintegratif, dan berbobot. Jangan heran bila di sektor industri kita menjumpai para petugas BAPEDAL/BAPEDALDA tak berkutik manakala harus menghadapi industriwan yang lebih pintar karena pendidikannya lebih tinggi, atau tumpukan uangnya lebih tebal karena industri dan `kuasa'nya jauh lebih berpengaruh baik kepada masyarakat maupun kepada penguasa (pemerintah) sekalipun.
Tak kaget begitu berjibun industri mencemari KaliMas Surabaya misalnya, tak satupun yang terseret ke meja hijau sekalipun sudah terbukti pencemaran industrinya sangat mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Memang faktornya sangat kompleks. Namun di sisi hubungan petugas lapangan (katakanlah penyuluh lingkungan) dengan industriwan, kita dapati tak berkutiknya orang Bapedal/Bapedalda dalam memperjuangkan visi dan misinya lebih karena petugas lingkungan itu `kalah hebat' dibanding penguasa pabrik. Lebih-lebih bila orang lapangan itu tak pernah memahami apa sebenarnya visi dan misinya sebagai `orang lingkungan'.
Sah bila mengambil konotasi hebat dari tahun naga emas, dari ilustrasi berhadapannya petugas lapangan Bapedal/Bapedalda dengan industriwan kita menilai siapa yang lebih HEBAT di sini. Bagaimana naga kecil mau menyuluh naga besar yang lebih berdaya dan punya kuasa? Bagaimana kita mau menyadarkan individu, kelompok atau golongan tertentu sementara kapabilitas, akseptabiltas, serta integritas kita sendiri tak bisa mengungguli yang mau kita sadarkan? Maka cukup wajar kalau banyak `kaum lingkungan' naik pitam kala seorang Sonny Keraf yang belum teruji tiga komponen ini mau menjadi pendekar lingkungan, sementara yang dihadapi adalah naga-naga besar penuh problematika.
Bagaimana petugas lingkungan Bapedal/Bapedalda bisa menyadarkan orang industri bila kapasitasnya cuma sekelas karyawan yang industriwan? Bagaimana seorang guru bisa menyadarkan anak didiknya bila pengetahuan, ketrampilan, dan komitmennya tentang lingkungan cuma sebatas hafalan buku pelajaran?
Kita memang tidak sedang membedakan siapa yang naga emas, siapa yang naga perak, siapa yang naga perunggu. Namun mengukur kehebatan siapa dan siapa terutama yang ada sangkut pautnya dengan bidang kita akan cukup banyak manfaatnya. Bagaimanapun akan sangat membantu kita menjalankan strategi yang tepat untuk membuat program dan merealisasikannya secara tepat pula. Salah satu alasan kuat adalah setiap orang, golongan, umat, pasti punya kehebatannya sendiri-sendiri. Lumrah ibu-ibu yang mengandung tahun lalu berharap anaknya yang lahir pada tahun naga emas ini akan menjadi hebat sesuai perlindungan Sang Shio, memberikan keberuntungan dan kejayaan keluarga.
Jalan keluarnya, untuk meningkatkan kapasitas dan kehebatan masing-masing dan semua, kita bisa bekerjasama. Siapapun yang terkait dengan problematika lingkungan hidup di bidang kita masing-masing, bisa kita ajak bekerja sama. Sebab pada prinsipnya mengatasi problema lingkungan hidup tak bisa tidak melibatkan setiap komponen Stake Holder LH sendiri yaitu pemerintah, swasta/industri, kalangan pendidikan dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lembaga di masyarakat.
Sekalipun kita dapat menilai kekuatan dan kehebatan masing-masing, kita toh tidak saling lomba menyuluh dan menyadarkan si belum hebat Menteri Sonny Keraf, si cukup hebat Presiden Gus Dur, atau si hebat Naga Emas. Yang sedang kita lakukan adalah SALING MENGINGATKAN DAN BEKERJASAMA untuk menjadi lebih baik sesuai harapan baru di tahun baru yang kebetulan secara penanggalan Cina dilambangkan sebagai Tahun Hebat Naga Emas.
Kita sedang dan akan memperbaiki semua kondisi yang ada secara lebih baik, lebih berbobot, dan lebih sukses. Hingga tercapai lingkungan yang lebih baik, lebih terpelihara, terawat, dan layak dihuni dengan
nyaman tanpa diganggu limbah, pencemar, perusak, ataupun sampah. Sebab, kehebatan sebenarnya adalah milik kita bersama, bukan cuma milik Sonny Keraf, Gus Dur atau Sang Naga.***
Saat kita heboh dengan harapan besar di tahun baru 2000 yang sebagian orang bilang sebagai abad baru, abad 21 dan Millenium baru, Millenium III, kita boleh mempunyai harapan hebat pula per 5 Pebruari 2000.
Kalender Cina menurut perhitungan Cap Jie Shio per tanggal itu hingga 23 Januari 2001 merupakan tahun Naga Emas, tahun Geng Chen (baca = Khe Sien) yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali. Shio Naga Emas ini mempunyai makna hebat pada setiap perlindungan Sang Naga dalam melaksanakan tugasnya mengatur siklus bumi dengan segala penghuninya. Dari makna kepenuhan mengendalikan kebutuhan untuk perubahan (Khe = artinya emas, logam). Dan, lambang kemajuan tanpa mengindahkan bentuk-bentuk lama (Chen = wilayah timur tenggara, dimana Sang Naga sangat
berkuasa).
Sangat bertolak belakang dengan tahun Kelinci Tanah 1999 yang barusan kita `say good bye'. Semua merasakan ia benar-benar meninggalkan banyak peristiwa duka penuh luka bagi manusia yang pada hakekatnya merupakan para pengembara (kafilah) di bumi. Banyak kita yang merasa hilang asa dalam hidup, karena kehidupan benar-benar sulit, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pertahanan keamanan pun, khususnya di Indonesia.
Pada lingkungan hidup juga begitu. Berbagai permasalahan mengharubirukan lingkungan yang runyam bin mawut. Kendatipun semua tak lebih berupa muara 32 tahun merembetnya perusakan alam oleh penguasa berlabel Orde Baru dengan dalih demi pembangunan ekonomi.
Bertumpuk masalah lingkungan tak kunjung selesai di berbagai sektor segenap kehidupan berbangsa, yang setidaknya diwakili institusinya oleh kementrian-kementrian dalam Kabinet Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memang masalah lingkungan adalah masalah lintas sektoral, sehingga yang menangani isu ini di kabinet cukuplah Menteri Negara (Lingkungan Hidup). Namun alangkah baiknya semua departemen yang ada sangat peduli pada isu lingkungan di setiap departemennya. Bahkan departemen yang mengelola seni sekalipun.
Maka dengan harapan baru di tahun baru ini, kita tidak mau lagi departemen kehutanan dan perkebunan membiarkan berhektar-hektar hutan meranggas dan terbakar di negeri yang `seharusnya' punya hutan tropik terluas dan penuh keanekaragaman hayati kedua setelah Brazil. Kita tak suka lagi departemen ini meninggalkan kenangan pahit menghapus taman nasional seperti terhadapTaman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dengan menyisakan cuma beberapa orang utan kurus lapar.
Kita tak sudi lagi departemen pertambangan dan energi dengan congkak melegalkan penambangan berdarah ala Freeport di Irian Jaya menyisakan derita penduduk lokal, yang terampas haknya selaku masyarakat lokal dan terenggut hidup sehatnya lantaran pencemaran merkuri pengolah emas. Maupun membiarkan merebaknya penambangan liar ala ASPAI di kerumunan belantara Kalimantan Tengah yang membuat Sungai Sekonyer penuh limbah, tak layak dipakai mandi lagi, apalagi untuk diminum.
Kita tak berkehendak lagi departemen kesehatan menelantarkan pengelolaan limbah rumah sakit amburadul, berdampak penyakit dapatan dari rumah sakit pada pasien sepulang dirawat di tempat yang
semestinya justru merupakan rumah penyehatan, bukan tempat pemberi sakit.
Kita tak membiarkan lagi departemen pemukiman dan pengembangan wilayah membiarkan teriakan tangis anak kecil dan penghuni rumah kumuh, yang berjejal di sepanjang pinggiran sungai yang melintang kota-kota besar.
Kita tak berdiam diri lagi saat departemen pendidikan nasional mendukung guru pun atasannya tak peduli terhadap pentingnya pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak didik.
Kita pun segera bertindak kala departemen pertanian tak peka terhadap petani yang buta mata sebab memakai pestisida kimia pengusir hama. Juga ketika pemerintah sedang memasang kuda-kuda revolusi hijau kedua. Padahal sudah begitu mahfum betapa revolusi hijau kesatu sudah betul-betul menguras unsur hara tanah menjadi tandus lantaran pupuk kimia propagandanya. Padahal sudah begitu nyata keanekaragaman hayati padi penghasil beras lokal sudah begitu amblas lantaran penyeragaman bibit unggul provokasinya.
Banyak peran dimainkan oleh segenap jajaran dalam setiap departemen. Mulai dari pengambil kebijakan di tingkat presiden (baca=menteri, menteri adalah `presiden' di bidangnya, karena menteri adalah pembantu presiden dalam bidang itu). Sampai di lapisan bawah, petugas lapangan, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di masing-masing bidang.
Bagaimanapun rupa kebijakan suatu departemen, peran petugas lapangan tetap berarti dan cukup menentukan perubahan perilaku masyarakat. Dengan sendirinya pola sosialisasi ini akan ikut menentukan berhasil tidaknya program kerja suatu departemen. Di tangan orang lapangan inilah paling ditentukan sampai tidaknya kebijakan departemen yang bersangkutan untuk terealisasi di masyarakat.
Ambil contoh departemen pertanian, petugas lapangan yang berperan besar pada konteks sosialisasi program departemen adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam menghadapi masyarakat yang berbeda strata dalam fase yang berbeda, berbeda pula strategi yang diterapkan.
Penyuluhan secara paksa dilakukan menggunakan tekanan yang sah (peraturan-peraturan dan hukuman-hukuman), perintah top-down efektif pada fase awal pembangunan, ketika sebagian besar petani gurem, buta huruf dan primitif. Permulaan revolusi hijau sampai melibatkan semua aparat pemerintah daerah bahkan Koramil (Komando Rayon Militer) ikut membabat paksa padi-padi lokal untuk ganti ditanami padi-padi IR pada seluruh area persawahan di tanah Jawa, dan semua pulau yang lain.
Penyuluhan ekonomi menggunakan insentif ekonomi, distribusi beras, menyediakan subsidi-subsidi, menyediakan pinjam rendah. Efektif ketika petani berorientasi komersil dan kekurangan modal. KCK (Kredit Candak Kulak), dan KIK (Kredit Intensifikasi Kecil) misalnya.
Penyuluhan pendidikan mendorong minat belajar, membangkitkan pemikiran secara ilmiah, menyediakan bahan bacaan, organisasi kelompok belajar, menyediakan kursus-kursus jangka pendek. Model ini efektif ketika level pendidikan petani mencapai setingkat lebih tinggi dari pendidikan dasar. Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa`kelompencapir' produk Menteri Penerangan Harmoko saat itu, misalnya.
Penyuluhan secara menyeluruh membentuk dasar hukum, menggunakan insentif ekonomi (bantuan harga, menyediakan asuransi, memperhatikan pemasaran), menggunakan pendekatan pendidikan, koordinasi dengan kebijakan (program pembangunan masyarakat, proyek kesejahteraan pedesaan), efektif ketika ekonomi petani mengalami lebih banyak kesulitan.
Semakin besar, pandai, dan semakin berdayanya masyarakat, model penyuluhan seperti yang kita lihat dari gaya penyuluhan PPL itu, tak selamanya akan efektif. Bahkan petani yang sangat maju dan mandiri bisa jadi tidak membutuhkan penyuluhan yang menggurui begitu.
Ambil contoh penyuluhan pada petani peternak. Pada peternak ayam buras/ayam kampung, peternak kecil membutuhkan penyuluhan untuk meningkatkan budidaya, peternak menengah untuk mengembangkan usahanya. Peternak besar membutuhkan penyuluhan yang lebih kompleks, melibatkan semua model secara lengkap, utuh dan terintegrasi.
Pada peternak broiler, peternak kecil membutuhkan penyuluhan mirip pada peternak buras skala besar, karena ciri dan perilaku komunikasinya hampir sama dalam memperoleh informasi. Peternak menengah tak membutuhkan penyuluhan yang rutin formal seperti model penyuluhan PPL saat ini. Bagi peternak besar yang sangat mandiri, penyuluhan tak perlu lagi bila masih ala PPL. Yang diperlukan adalah konsultan berkapasitas tertentu, yang sebenarnya tak lain adalah fungsi penyuluh yang diperluas.
Intinya, semakin besar kapasitas suatu individu, kelompok, atau golongan maka semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih terintegratif, dan berbobot. Jangan heran bila di sektor industri kita menjumpai para petugas BAPEDAL/BAPEDALDA tak berkutik manakala harus menghadapi industriwan yang lebih pintar karena pendidikannya lebih tinggi, atau tumpukan uangnya lebih tebal karena industri dan `kuasa'nya jauh lebih berpengaruh baik kepada masyarakat maupun kepada penguasa (pemerintah) sekalipun.
Tak kaget begitu berjibun industri mencemari KaliMas Surabaya misalnya, tak satupun yang terseret ke meja hijau sekalipun sudah terbukti pencemaran industrinya sangat mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Memang faktornya sangat kompleks. Namun di sisi hubungan petugas lapangan (katakanlah penyuluh lingkungan) dengan industriwan, kita dapati tak berkutiknya orang Bapedal/Bapedalda dalam memperjuangkan visi dan misinya lebih karena petugas lingkungan itu `kalah hebat' dibanding penguasa pabrik. Lebih-lebih bila orang lapangan itu tak pernah memahami apa sebenarnya visi dan misinya sebagai `orang lingkungan'.
Sah bila mengambil konotasi hebat dari tahun naga emas, dari ilustrasi berhadapannya petugas lapangan Bapedal/Bapedalda dengan industriwan kita menilai siapa yang lebih HEBAT di sini. Bagaimana naga kecil mau menyuluh naga besar yang lebih berdaya dan punya kuasa? Bagaimana kita mau menyadarkan individu, kelompok atau golongan tertentu sementara kapabilitas, akseptabiltas, serta integritas kita sendiri tak bisa mengungguli yang mau kita sadarkan? Maka cukup wajar kalau banyak `kaum lingkungan' naik pitam kala seorang Sonny Keraf yang belum teruji tiga komponen ini mau menjadi pendekar lingkungan, sementara yang dihadapi adalah naga-naga besar penuh problematika.
Bagaimana petugas lingkungan Bapedal/Bapedalda bisa menyadarkan orang industri bila kapasitasnya cuma sekelas karyawan yang industriwan? Bagaimana seorang guru bisa menyadarkan anak didiknya bila pengetahuan, ketrampilan, dan komitmennya tentang lingkungan cuma sebatas hafalan buku pelajaran?
Kita memang tidak sedang membedakan siapa yang naga emas, siapa yang naga perak, siapa yang naga perunggu. Namun mengukur kehebatan siapa dan siapa terutama yang ada sangkut pautnya dengan bidang kita akan cukup banyak manfaatnya. Bagaimanapun akan sangat membantu kita menjalankan strategi yang tepat untuk membuat program dan merealisasikannya secara tepat pula. Salah satu alasan kuat adalah setiap orang, golongan, umat, pasti punya kehebatannya sendiri-sendiri. Lumrah ibu-ibu yang mengandung tahun lalu berharap anaknya yang lahir pada tahun naga emas ini akan menjadi hebat sesuai perlindungan Sang Shio, memberikan keberuntungan dan kejayaan keluarga.
Jalan keluarnya, untuk meningkatkan kapasitas dan kehebatan masing-masing dan semua, kita bisa bekerjasama. Siapapun yang terkait dengan problematika lingkungan hidup di bidang kita masing-masing, bisa kita ajak bekerja sama. Sebab pada prinsipnya mengatasi problema lingkungan hidup tak bisa tidak melibatkan setiap komponen Stake Holder LH sendiri yaitu pemerintah, swasta/industri, kalangan pendidikan dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lembaga di masyarakat.
Sekalipun kita dapat menilai kekuatan dan kehebatan masing-masing, kita toh tidak saling lomba menyuluh dan menyadarkan si belum hebat Menteri Sonny Keraf, si cukup hebat Presiden Gus Dur, atau si hebat Naga Emas. Yang sedang kita lakukan adalah SALING MENGINGATKAN DAN BEKERJASAMA untuk menjadi lebih baik sesuai harapan baru di tahun baru yang kebetulan secara penanggalan Cina dilambangkan sebagai Tahun Hebat Naga Emas.
Kita sedang dan akan memperbaiki semua kondisi yang ada secara lebih baik, lebih berbobot, dan lebih sukses. Hingga tercapai lingkungan yang lebih baik, lebih terpelihara, terawat, dan layak dihuni dengan
nyaman tanpa diganggu limbah, pencemar, perusak, ataupun sampah. Sebab, kehebatan sebenarnya adalah milik kita bersama, bukan cuma milik Sonny Keraf, Gus Dur atau Sang Naga.***
Komentar