Rabu, 17 Oktober 2007

Jakarta Kota Mimpi ?

oleh: Yonathan Rahardjo
dimuat di: Kabar Bumi/KONPHALINDO, 2000


Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi.

Jakarta adalah impian. Begitu anggapan yang beredar pada benak para urban di seantero nusantara. Setidaknya hingga masa peralihan penerapan sistem desentralisasi, menggantikan sistem sentralisasi yang menempatkan Jakarta sebagai Ibukota Indonesia menjadi muara kekayaan negeri yang sarat beraneka sumber alam ini.

Daya tarik Metropolitan Jakarta yang menyedot beraneka jenis penduduk dari berbagai daerah, membikin Jakarta seolah-olah pusat pemenuhan kebutuhan yang ada. Kalau mau cari uang, pergilah ke Jakarta, karena di situ banyak lapangan pekerjaan, begitu kata orang.

Atas 'iming-iming' yang menggiurkan itu, Rajikum mengaku meninggalkan semua pengalamannya di kota lain, untuk tinggal di Jakarta selama lebih dari 20 tahun. Sebelum ke Jakarta, ia pernah kerja apa saja. Di Surabaya, ia pernah menjadi penjual teh botol, lalu menjadi sopir angkutan kota bemo lin G Joyoboyo-Karang Menjangan. Hengkang dari Surabaya, selama 3 bulan, ia mengaku menjadi pendamping bule yang hobi menyelam di pantai Kuta, Bali.

Namun bagi Rajikum, hidup di luar Jakarta, ternyata kurang memberi tantangan. Makanya akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dan beruntung ia bisa menjadi Satpam, Satuan Pengaman, di sebuah kantor di bilangan Senayan, dekat lapangan dan gedung olah raga. Ia bersyukur, dengan pekerjaan ini, kebutuhan pokok pangan dan sandang, cukup terpenuhi.

Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan yang ke 3, yaitu mempunyai rumah tempat tinggal, di Jakarta ternyata tidak mudah. "Punya rumah di Jakarta termasuk suatu kemewahan. Tidak sedikit orang yang nggak bisa punya rumah, terpaksa ngontrak atau kos, dan paling sial menjadi gelandangan," tukasnya. Karena Rajikum ada penghasilan, ia pun bisa membayar sewa tempat tinggal. Namun untuk dapat membayar sewa yang dianggapnya layak, membutuhkan waktu. Setahap demi setahap, ia mengaku pernah tinggal di rumah bedengan yang cuma butuh bayar sewa Rp 15.000, hingga mengontrak rumah seharga Rp 200.000 per bulan.

Pikir-pikir, katanya, mengeluarkan uang seharga Rp 200.000 rutin setiap bulan, berarti sama saja harganya dengan membayar uang cicilan rumah KPR-BTN (Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara). Bedanya, untuk punya rumah BTN membutuhkan uang muka 7 jutaan. “Daripada mengeluarkan uang Rp 200.000- an per bulan, tapi akhirnya nggak punya rumah, lebih baik dengan menyicil Rp 200.000 per bulan, tapi dipastikan punya rumah sendiri,” kata Rajikum. “Kini tinggal saya harus menyediakan uang muka,” tegasnya, menirukan katanya ketika berencana saat itu.

Akhirnya dipunyailah uang muka 7 juta itu. Dan ia segera membayarkannya sebagai uang muka di sebuah pameran Real Estate di Gelora (Gedung Olah Raga) Senayan Jakarta tahun 1997-an. Kini, lelaki kelahiran tahun 1965 itu sudah menempati rumah KPR-BTN-nya, bersama seorang istrinya yang cantik, yang diminta untuk hemat agar kredit rumah bisa segera terlunasi nanti.

Mudahkah Memenuhi Keinginan?

Kisah sukses seperti yang dialami Rajikum, juga banyak dialami penduduk Jakarta yang lain. Bahkan bagi yang sudah lebih mapan, mempunyai rumah bukan lagi sekedar buat tempat tinggal. Tapi sudah menjadi citra kekayaan. Rumah mewah di kompleks-kompleks rumah elit, seperti di Villa Ragunan yang tidak sembarang orang bisa masuk, karena dijaga Satpam, menjadi suatu simbol keberadaan sang empunya.

Kebutuhan kalangan mapan seperti ini, sudah melampaui tahap dasar kebutuhan pokok pangan, sandang, dan papan tadi. Membeli sesuatu barang atau jasa, bukan lagi sekedar kebutuhan, atau keperluan. Terbang dan berbelanja di Singapura atau Hongkong, dengan mudah dilakukan dengan kaki yang enteng melangkahkan kaki menumpang pesawat, untuk menjawab hasrat yang sudah melejit hingga ambang keinginan.

Kalaupun berbelanja di dalam negeri, kalangan eksis semacam ini, akan sangat tampil beda dengan orang pas-pasan. Tampak ketika mereka membawa keluar barang belanjaan dari supermarket, seperti Sogo di pusat Jakarta di area Bundaran Hotel Indonesia. Begitu menggunungnya barang yang dibeli, di mata orang miskin, seolah-olah diborongnya semua barang dagangan yang dipajang. Dari gaun dan kacamata bermerek seharga ratusan ribu rupiah, hingga manisan upil yang mestinya juga bisa dibeli di warung dekat rumah tinggal.

Kalau membeli makanan, mudah sih kalau orang seperti ia mau membeli gorengan Rp 250-an perak yang dijajakan penjual dengan pikulan di pundak di pinggir jalan. Tapi kalau cuma ingin menraktir teman-temannya di restoran Meksiko di hotel berbintang pun, dengan ringan tangan kalangan mapan ini merogoh lembaran-lembaran duit di dompet, atau membayarnya dengan kartu kredit yang tertumpuk seperti kartu remi.

Jangan dikira untuk bisa mempunyai gaya hidup yang begitu, bisa diraih dengan mudah. Pendidikan saja tidak cukup. Hubungan 'baik' dengan para relasi sangat perlu. Mau mendapatkan pelayanan komputer gratis, dibantu segala macam pemrograman misalnya, bagaimana bisa dipenuhi kalau tidak ada hubungan khusus dengan person-personnya. Dan hubungan ini bisa bermacam-macam gayanya.

Kalaupun harus berpendidikan tinggi, bagaimana bisa bersekolah berbagai perguruan ternama, bila pintar saja tidak cukup. Terkadang diperlukan uluran tangan orang tua yang bisa membiayai keperluan sekolah atau kuliah, yang tentu biayanya tidak bisa disamakan dengan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) Perguruan Tinggi Negeri tahun 1985-an yang cuma Rp 35.000 per semester, atau bahkan SPP SMA (Sekolah Menangah Atas) di daerah, pada tahun yang sama, sekitar Rp 6.000 per bulan.

Nah, di Jakarta, menjumpai orang tua yang berkemampuan berlipat ganda untuk mendukung pendidikan yang semakin tinggi tingkatnya, semakin susah. Bayangkan, kalau orang tua tak lebih dari urban miskin dari desa, yang berduyun ke Jakarta hanya karena impian yang tak jelas di awalnya. Akhirnya, ya terpaksa melakukan pekerjaan apa saja, asal perut tidak selalu berbunyi.

Haruskah Hidup Seperti Ini?

Para urban yang tak berprospek inilah, yang membuat semua barang di Jakarta bisa menjadi begitu berharga. Barang paling mewah itu berharga, merupakan hal biasa. Namun kalau air seni menjadi begitu berharga, itu karena berjubelnya manusia. Ya, di Jakarta, air kencing pun bisa menyuapi orang untuk makan. Pekerjaan melayani orang kencing, dengan menjaga WC umum hingga terkantuk-kantuk di depan pintu WC, sudah sangat lazim dijumpai di kota yang dulu bernama Sunda Kelapa lalu Batavia ini.

Menjual suara sumbang pun dilakukan. Lihatlah di dalam bis Patas yang melaju dari Jakarta ke Depok. Seorang ibu gemuk sembari menggendong anaknya yang tidur pulas di dada, mendendangkan lagu ‘Desaku yang Kucinta’. Dilanjutkan lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang meliuk fals. Lagu-lagu itu sepantasnya dinyanyikan anak-anak sekolah di bangku sekolah dasar. Tapi ibu lusuh itu menjualnya dengan jalan mengamen, agar dapat uang receh dari penumpang yang berbelas kasihan.

Bahkan anak-anak sebagai hasil kegiatan menghasilkan keturunan pun, harus membantu diri sendiri untuk mencari sesuap nasi. Dengarlah lagu ‘Muda-mudi Jaman Sekarang’-nya Koes Plus diyanyikan anak dekil 10 tahun, dalam bis Patas Depok-Jakarta. Suaranya juga sumbang, namun tetap saja menyumbang lagu buat penumpang bis kota. Ditutup dengan uluran bungkus permen atau tangan menengadah, sebagai tempat penumpang memberi uang santunan.

Ada lagi yang setiap hari mencari uang di sela-sela kaki-kaki yang berdempet-dempet, di bawah gelantungan tangan-tangan berpegangan besi-besi di lorong kereta rel listrik Jakarta-Bogor. Di sela-sela kaki itu, ia bisa berkelit dengan menyeret tapak kakinya yang buntung tanpa jari, dengan luka kering akibat lepra yang diderita semenjak balita (bayi lima tahun). Tapak tangan yang menahan tubuh terseret kaki lepra itu, juga buntung, tanpa jari-jari. Bibirnya bergerak mengeluarkan pujian-pujian Asma Allah.

Matanya terpejam penuh duka, tapi masih berpengharapan. Ia pun berhasil menyentuh nurani para penumpang bergelayutan tadi. Sekalipun hanya satu atau dua dari ribuan penumpang, itu cukuplah memberi penghiburan baginya. Secara praktisnya, kaleng bekas kaleng Dancow dijepit dengan lipatan paha dan perut, terseret kaki yang ditahan tangan juga terserang kusta. Kaleng itu pun menjadi terisi lembar-lembar lima ratusan rupiah.

Lalu ada pula penduduk yang mengais rejeki di tanah lapang, luas, dibatasi kebun singkong dan pohon pisang, dan rumah-rumah kampung. Di situ, batu, kasur, campur sampah menghampar. Bolduzer istirahat di pinggir, menyisakan tanah tergali luas dan dalam. Lelaki dan wanita memegang, memindahkan, memilih sampah pilihan. Ada yang memilih logam, kayu, atau tripleks. Si lelaki mengulurkan tangan, menerima uang setelah sampah di bak truk habis. Truk lantas menyingkir, berputar, pergi ke jalan besar namun macet, di Jakarta. Tinggal mereka berenam, tiga, lelaki, tiga perempuan. Seorang perempuannya menggendong anak lelaki dengan kain batik lusuh.

Di kelompok lain, mereka yang ditenda, dikerubungi barang-barang bekas buangan yang sudah terkumpul. Barang bekas yang kecil menyatu di dalam karungplastik. Barang bekas yang besar tertumpuk di luar, diselimuti langit berawan hitam tanpa batas awan yang jelas. Seorang lelaki berjalan dengan sarung digulung di perut, tersenyum puas.

Di ujung tanah lapang itu, sebuah pos hansip berdiri tenang. Jam dua siang kurang 15 menit, 10 Oktober 2000 itu masih tertulis Dirgahayu RI ke 55 pada gabus tertempel pada tripleks di teras pos. Dindingnya tertulis dari semen timbul, 'Rukun Warga 68 Cipete Utara, 17-8-2000'. Berarti, Jakarta adalah ibukota negara yang sudah lebih dari 55 tahun merdeka. Ternyata di alam kemerdekaan, banyak wajah yang beraneka warna. Ada yang bergairah karena hidupnya cerah, ada yang resah karena kesehariannya susah.

Itulah wajah-wajah sebagian penduduk yang merasa 'terpanggil' untuk tinggal Jakarta kota impian, seperti tertulis pada awal rangkaian kisah nyata ini. Sebagian masih dalam impian, sekalipun hidup susah, masih saja mau meneruskan tinggal di Jakarta, karena barangkali keberuntungan masih sedia menghampiri. Sebagian lagi sudah hendak pulang ke daerah, karena mendengar bahwa dengan diterapkannya desentralisasi di Jakarta semakin sulit mencari rejeki. Seperti kata Yudi, Bintara Marinir yang tinggal di Ragunan dekat markas Marinir di Cilandak KKO yang cukup beruntung punya Vespa, TV, dan kamar kontrakan.

Mestikah Hidup Penuh Mimpi?

Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah itu, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi lagi. Salah satunya bernama Ririen, yang mengaku merasa tersisih dari keluarganya. Bukan karena disisihkan, namun karena ia sendiri yang menyisihkan diri. Ayahnya seorang Kepala Bagian pada suatu Bank di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi dirinya untuk mengambil jalan hidup seperti yang dialaminya di Jakarta saat ini.

Sejak semula, saat masih kecil, Ririen sudah merasa dirinya bukanlah yang tampak secara fisik di mata. Dijalaninya kenikmatan dan kenikmatan kala malam tiba, atau saat kesendirian datang, dengan melepas penampilan fisik tubuhnya. Tiba saatnya ia duduk di kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ririen mulai mendapatkan teman untuk membentuk dirinya yang sesungguhnya. "Saya ‘berlatih’ dengan mereka selama tiga tahun," katanya.

Dari situ Ririen mulai mengikuti gaya hidup teman-temannya. Berpakaian wanita nan seksi yang dulu selalu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, tidak lagi ditabui dan dimaluinya untuk dilakukan di depan orang lain. Ikut kegiatan sana-sini dengan teman-temannya, berujung mulai kelas satu SMA, Ririen mulai melacurkan diri dengan penampilannya sebagai seorang gadis, total. "Kalau kerja di suatu tempat, misalnya salon, tapi tidak melacurkan diri berarti setengah-setengah," ucap Ririen. Dengan melacurkan diri, menurutnya, ia merasakan suatu kepuasan.

Pengalaman inilah yang membuatnya semakin pasti akan jalan hidupnya dan tentang dirinya. Ririen pun memutuskan diri untuk mem'permak' pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang bisa mempercantik tubuh dan wajahnya laksana seorang wanita. Ia sudah mengoperasi dagunya dan berhasil membuat si dagu agak menggantung manis. Untuk hidung, operasinya gagal dan ada bekas sayatan yang belum membentuk hidungnya mancung dan mulus.

Ririen bilang, untuk operasi hidung dan dagu itu, ia cuma mengeluarkan uang masing-masing Rp 100.000 karena yang mengoperasi temannya sendiri. Operasi ulangan untuk hidungnya butuh Rp 300.000. Sedangkan untuk suntikan silikon pada buah dada, Ririen mengaku sudah menghabiskan duit Rp 2,6 juta.

Memang sedari dulu, Ririen sudah merasa ia adalah wanita, Tapi karena terkurung dalam tubuh lelaki bernama Reza Hermansyah, ia sudah menerima dirinya cukup sebagai ‘Waria’ (Wanita Pria) yang suka kepada lelaki. Kini, Ririen ‘beroperasi’ di sepanjang rel kereta api stasiun Pasar Minggu. Kalau bosan, ia suka pindah-pindah tempat ke Semarang, Yogya, Surabaya, Bandung, atau Bogor.

Malam gelap, sepanjang jalur rel kereta api Stasiun Pasar Minggu Jakarta temaram, disinari lampu di beberapa tempat. Ririen dengan penampilannya yang seksi, suka pakai kaos ketat dan rok mini, berlenggak-lenggok mencari kepuasan dan uang makan. Melacurkan diri, agar sempurna keberadaannya sebagai seorang banci. Itukah wajah Jakarta, kota mimpi? Haruskah hidup di sini cuma diisi dengan mimpi? **

0 komentar: