<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558</id><updated>2011-12-16T01:15:33.539-08:00</updated><category term='Coret-Coret'/><title type='text'>Suara Lingkungan</title><subtitle type='html'>Selamat Datang (Welcome)!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>68</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3641091269319713380</id><published>2008-07-24T00:48:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T00:53:06.038-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coret-Coret'/><title type='text'>Penulisan Lingkungan</title><content type='html'>Bertemu dengan kawan lama Koen Setyawan dan Amalia Hamidi dalam acara Bincang Novel lanang bersama Kelompok Menulis Bogor di Saung Aki bari PPLH Matoa Ciapus Bogor merupakan benang merah panjang dari pertemuan kami dalam kegiatan dalam berlingkunan setidaknya sejak 10 tahun silam di PPLH Seloliman Trawas Jawa Timur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3641091269319713380?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3641091269319713380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3641091269319713380' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3641091269319713380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3641091269319713380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2008/07/penulisan-lingkungan.html' title='Penulisan Lingkungan'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3922470368557071557</id><published>2007-10-23T02:52:00.001-07:00</published><updated>2007-10-23T02:52:14.021-07:00</updated><title type='text'>Ozon</title><content type='html'>&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/menyuluh-sang-naga.html"&gt;MENYULUH SANG NAGA&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3922470368557071557?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3922470368557071557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3922470368557071557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3922470368557071557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3922470368557071557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/ozon.html' title='Ozon'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8492949249068740231</id><published>2007-10-23T02:38:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T02:51:36.639-07:00</updated><title type='text'>MENYULUH SANG NAGA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(Oleh : Yonathan Rahardjo, dimuat di Majalah OZON Pebruari 2000.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita heboh dengan harapan besar di tahun baru 2000 yang sebagian orang bilang sebagai abad baru, abad 21 dan Millenium baru, Millenium III, kita boleh mempunyai harapan hebat pula per 5 Pebruari 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Cina menurut perhitungan Cap Jie Shio per tanggal itu hingga 23 Januari 2001 merupakan tahun Naga Emas, tahun Geng Chen (baca = Khe Sien) yang hanya berulang setiap 60 tahun sekali. Shio Naga Emas ini mempunyai makna hebat pada setiap perlindungan Sang Naga dalam melaksanakan tugasnya mengatur siklus bumi dengan segala penghuninya. Dari makna kepenuhan mengendalikan kebutuhan untuk perubahan (Khe = artinya emas, logam). Dan, lambang kemajuan tanpa mengindahkan bentuk-bentuk lama (Chen = wilayah timur tenggara, dimana Sang Naga sangat&lt;br /&gt;berkuasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat bertolak belakang dengan tahun Kelinci Tanah 1999 yang barusan kita `say good bye'. Semua merasakan ia benar-benar meninggalkan banyak peristiwa duka penuh luka bagi manusia yang pada hakekatnya merupakan para pengembara (kafilah) di bumi. Banyak kita yang merasa hilang asa dalam hidup, karena kehidupan benar-benar sulit, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan pertahanan keamanan pun, khususnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lingkungan hidup juga begitu. Berbagai permasalahan mengharubirukan lingkungan yang runyam bin mawut. Kendatipun semua tak lebih berupa muara 32 tahun merembetnya perusakan alam oleh penguasa berlabel Orde Baru dengan dalih demi pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertumpuk masalah lingkungan tak kunjung selesai di berbagai sektor segenap kehidupan berbangsa, yang setidaknya diwakili institusinya oleh kementrian-kementrian dalam Kabinet Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang masalah lingkungan adalah masalah lintas sektoral, sehingga yang menangani isu ini di kabinet cukuplah Menteri Negara (Lingkungan Hidup). Namun alangkah baiknya semua departemen yang ada sangat peduli pada isu lingkungan di setiap departemennya. Bahkan departemen yang mengelola seni sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan harapan baru di tahun baru ini, kita tidak mau lagi departemen kehutanan dan perkebunan membiarkan berhektar-hektar hutan meranggas dan terbakar di negeri yang `seharusnya' punya hutan tropik terluas dan penuh keanekaragaman hayati kedua setelah Brazil. Kita tak suka lagi departemen ini meninggalkan kenangan pahit menghapus taman nasional seperti terhadapTaman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dengan menyisakan cuma beberapa orang utan kurus lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak sudi lagi departemen pertambangan dan energi dengan congkak melegalkan penambangan berdarah ala Freeport di Irian Jaya menyisakan derita penduduk lokal, yang terampas haknya selaku masyarakat lokal dan terenggut hidup sehatnya lantaran pencemaran merkuri pengolah emas. Maupun membiarkan merebaknya penambangan liar ala ASPAI di kerumunan belantara Kalimantan Tengah yang membuat Sungai Sekonyer penuh limbah, tak layak dipakai mandi lagi, apalagi untuk diminum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak berkehendak lagi departemen kesehatan menelantarkan pengelolaan limbah rumah sakit amburadul, berdampak penyakit dapatan dari rumah sakit pada pasien sepulang dirawat di tempat yang&lt;br /&gt;semestinya justru merupakan rumah penyehatan, bukan tempat pemberi sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak membiarkan lagi departemen pemukiman dan pengembangan wilayah membiarkan teriakan tangis anak kecil dan penghuni rumah kumuh, yang berjejal di sepanjang pinggiran sungai yang melintang kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak berdiam diri lagi saat departemen pendidikan nasional mendukung guru pun atasannya tak peduli terhadap pentingnya pendidikan lingkungan hidup bagi anak-anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun segera bertindak kala departemen pertanian tak peka terhadap petani yang buta mata sebab memakai pestisida kimia pengusir hama. Juga ketika pemerintah sedang memasang kuda-kuda revolusi hijau kedua. Padahal sudah begitu mahfum betapa revolusi hijau kesatu sudah betul-betul menguras unsur hara tanah menjadi tandus lantaran pupuk kimia propagandanya. Padahal sudah begitu nyata keanekaragaman hayati padi penghasil beras lokal sudah begitu amblas lantaran penyeragaman bibit unggul provokasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak peran dimainkan oleh segenap jajaran dalam setiap departemen. Mulai dari pengambil kebijakan di tingkat presiden (baca=menteri, menteri adalah `presiden' di bidangnya, karena menteri adalah pembantu presiden dalam bidang itu). Sampai di lapisan bawah, petugas lapangan, yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di masing-masing bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun rupa kebijakan suatu departemen, peran petugas lapangan tetap berarti dan cukup menentukan perubahan perilaku masyarakat. Dengan sendirinya pola sosialisasi ini akan ikut menentukan berhasil tidaknya program kerja suatu departemen. Di tangan orang lapangan inilah paling ditentukan sampai tidaknya kebijakan departemen yang bersangkutan untuk terealisasi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh departemen pertanian, petugas lapangan yang berperan besar pada konteks sosialisasi program departemen adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Dalam menghadapi masyarakat yang berbeda strata dalam fase yang berbeda, berbeda pula strategi yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan secara paksa dilakukan menggunakan tekanan yang sah (peraturan-peraturan dan hukuman-hukuman), perintah top-down efektif pada fase awal pembangunan, ketika sebagian besar petani gurem, buta huruf dan primitif. Permulaan revolusi hijau sampai melibatkan semua aparat pemerintah daerah bahkan Koramil (Komando Rayon Militer) ikut membabat paksa padi-padi lokal untuk ganti ditanami padi-padi IR pada seluruh area persawahan di tanah Jawa, dan semua pulau yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan ekonomi menggunakan insentif ekonomi, distribusi beras, menyediakan subsidi-subsidi, menyediakan pinjam rendah. Efektif ketika petani berorientasi komersil dan kekurangan modal. KCK (Kredit Candak Kulak), dan KIK (Kredit Intensifikasi Kecil) misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan pendidikan mendorong minat belajar, membangkitkan pemikiran secara ilmiah, menyediakan bahan bacaan, organisasi kelompok belajar, menyediakan kursus-kursus jangka pendek. Model ini efektif ketika level pendidikan petani mencapai setingkat lebih tinggi dari pendidikan dasar. Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa`kelompencapir' produk Menteri Penerangan Harmoko saat itu, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluhan secara menyeluruh membentuk dasar hukum, menggunakan insentif ekonomi (bantuan harga, menyediakan asuransi, memperhatikan pemasaran), menggunakan pendekatan pendidikan, koordinasi dengan kebijakan (program pembangunan masyarakat, proyek kesejahteraan pedesaan), efektif ketika ekonomi petani mengalami lebih banyak kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar, pandai, dan semakin berdayanya masyarakat, model penyuluhan seperti yang kita lihat dari gaya penyuluhan PPL itu, tak selamanya akan efektif. Bahkan petani yang sangat maju dan mandiri bisa jadi tidak membutuhkan penyuluhan yang menggurui begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh penyuluhan pada petani peternak. Pada peternak ayam buras/ayam kampung, peternak kecil membutuhkan penyuluhan untuk meningkatkan budidaya, peternak menengah untuk mengembangkan usahanya. Peternak besar membutuhkan penyuluhan yang lebih kompleks, melibatkan semua model secara lengkap, utuh dan terintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peternak broiler, peternak kecil membutuhkan penyuluhan mirip pada peternak buras skala besar, karena ciri dan perilaku komunikasinya hampir sama dalam memperoleh informasi. Peternak menengah tak membutuhkan penyuluhan yang rutin formal seperti model penyuluhan PPL saat ini. Bagi peternak besar yang sangat mandiri, penyuluhan tak perlu lagi bila masih ala PPL. Yang diperlukan adalah konsultan berkapasitas tertentu, yang sebenarnya tak lain adalah fungsi penyuluh yang diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, semakin besar kapasitas suatu individu, kelompok, atau golongan maka semakin besar pula kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih terintegratif, dan berbobot. Jangan heran bila di sektor industri kita menjumpai para petugas BAPEDAL/BAPEDALDA tak berkutik manakala harus menghadapi industriwan yang lebih pintar karena pendidikannya lebih tinggi, atau tumpukan uangnya lebih tebal karena industri dan `kuasa'nya jauh lebih berpengaruh baik kepada masyarakat maupun kepada penguasa (pemerintah) sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kaget begitu berjibun industri mencemari KaliMas Surabaya misalnya, tak satupun yang terseret ke meja hijau sekalipun sudah terbukti pencemaran industrinya sangat mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Memang faktornya sangat kompleks. Namun di sisi hubungan petugas lapangan (katakanlah penyuluh lingkungan) dengan industriwan, kita dapati tak berkutiknya orang Bapedal/Bapedalda dalam memperjuangkan visi dan misinya lebih karena petugas lingkungan itu `kalah hebat' dibanding penguasa pabrik. Lebih-lebih bila orang lapangan itu tak pernah memahami apa sebenarnya visi dan misinya sebagai `orang lingkungan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah bila mengambil konotasi hebat dari tahun naga emas, dari ilustrasi berhadapannya petugas lapangan Bapedal/Bapedalda dengan industriwan kita menilai siapa yang lebih HEBAT di sini. Bagaimana naga kecil mau menyuluh naga besar yang lebih berdaya dan punya kuasa? Bagaimana kita mau menyadarkan individu, kelompok atau golongan tertentu sementara kapabilitas, akseptabiltas, serta integritas kita sendiri tak bisa mengungguli yang mau kita sadarkan? Maka cukup wajar kalau banyak `kaum lingkungan' naik pitam kala seorang Sonny Keraf yang belum teruji tiga komponen ini mau menjadi pendekar lingkungan, sementara yang dihadapi adalah naga-naga besar penuh problematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana petugas lingkungan Bapedal/Bapedalda bisa menyadarkan orang industri bila kapasitasnya cuma sekelas karyawan yang industriwan? Bagaimana seorang guru bisa menyadarkan anak didiknya bila pengetahuan, ketrampilan, dan komitmennya tentang lingkungan cuma sebatas hafalan buku pelajaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak sedang membedakan siapa yang naga emas, siapa yang naga perak, siapa yang naga perunggu. Namun mengukur kehebatan siapa dan siapa terutama yang ada sangkut pautnya dengan bidang kita akan cukup banyak manfaatnya. Bagaimanapun akan sangat membantu kita menjalankan strategi yang tepat untuk membuat program dan merealisasikannya secara tepat pula. Salah satu alasan kuat adalah setiap orang, golongan, umat, pasti punya kehebatannya sendiri-sendiri. Lumrah ibu-ibu yang mengandung tahun lalu berharap anaknya yang lahir pada tahun naga emas ini akan menjadi hebat sesuai perlindungan Sang Shio, memberikan keberuntungan dan kejayaan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluarnya, untuk meningkatkan kapasitas dan kehebatan masing-masing dan semua, kita bisa bekerjasama. Siapapun yang terkait dengan problematika lingkungan hidup di bidang kita masing-masing, bisa kita ajak bekerja sama. Sebab pada prinsipnya mengatasi problema lingkungan hidup tak bisa tidak melibatkan setiap komponen Stake Holder LH sendiri yaitu pemerintah, swasta/industri, kalangan pendidikan dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lembaga di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun kita dapat menilai kekuatan dan kehebatan masing-masing, kita toh tidak saling lomba menyuluh dan menyadarkan si belum hebat Menteri Sonny Keraf, si cukup hebat Presiden Gus Dur, atau si hebat Naga Emas. Yang sedang kita lakukan adalah SALING MENGINGATKAN DAN BEKERJASAMA untuk menjadi lebih baik sesuai harapan baru di tahun baru yang kebetulan secara penanggalan Cina dilambangkan sebagai Tahun Hebat Naga Emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sedang dan akan memperbaiki semua kondisi yang ada secara lebih baik, lebih berbobot, dan lebih sukses. Hingga tercapai lingkungan yang lebih baik, lebih terpelihara, terawat, dan layak dihuni dengan&lt;br /&gt;nyaman tanpa diganggu limbah, pencemar, perusak, ataupun sampah. Sebab, kehebatan sebenarnya adalah milik kita bersama, bukan cuma milik Sonny Keraf, Gus Dur atau Sang Naga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8492949249068740231?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8492949249068740231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8492949249068740231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8492949249068740231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8492949249068740231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/menyuluh-sang-naga.html' title='MENYULUH SANG NAGA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-6343806130637773599</id><published>2007-10-17T18:37:00.001-07:00</published><updated>2007-10-17T18:37:38.337-07:00</updated><title type='text'>Majalah Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/benang-merah-itu.html"&gt;BENANG MERAH ITU&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-6343806130637773599?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/6343806130637773599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=6343806130637773599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6343806130637773599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6343806130637773599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/majalah-bumi.html' title='Majalah Bumi'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4874762292348584628</id><published>2007-10-17T18:34:00.000-07:00</published><updated>2007-10-17T18:35:38.550-07:00</updated><title type='text'>BENANG MERAH ITU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;oleh: Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;dimuat di: Majalah Bumi, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita tahu sekarang tentang kerusakan alam, hutan gundul, banjir, tanah longsor, ozon berlubang dengan efek rumah kacanya, satwa punah, air sungai busuk nan bau tak layak untuk mandi, tanah pertanian kering tandus, polusi kendaraan, dan beragam kerusakan yang lain, itu hanya AKIBAT DARI SUATU TINDAKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakannya sendiri berupa : orang menebang hutan, orang memakai AC yang tak ramah lingkungan membikin ruang di dalam rumah dingin, tapi di luarnya panas bukan main, orang menembaki satwa, orang membuang limbah seenak perutnya, orang memakai kendaraan bermotor yang berbahan bakar tak ramah lingkungan, dan sebagainya tingkah polah anak manusia dalam suatu yang disebut TINDAKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan-tindakan itu ada sebabnya. Mungkin lantaran kebutuhan ekonomi yang melilit, kebutuhan ekonomi yang merangsang agar bisa menumpuk barang dan makhluk lain untuk dikuasai, diserakahi dan direngkuh jadi harta milik, gengsi yang mencengkeram gaya hidup,sifat gelojoh yang mendorong pola hidup konsumtif. Atau bahkan, sosial, budaya dan politik yang mengkondisikan sekelompok besar manusia dalam status 'bangsa' berperilaku disetir oleh kendali kebijakan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita runtut dan cari akar permasalahan dari semua tindakan itu, akan ketemu semua adalah akibat dari dari sesuatu nilai atau norma yang bernama Moral, Budaya, yang membuat orang sadar atau punya KESADARAN ataukah tidak. Dalam konteks ini tak bisa lepas dari apa yang dikata PENDIDIKAN. Maka akan ketemu benang merahnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan ------- Kesadaran------Tindakan, berbagai perilaku merusak alam ------- Akibat dari tindakan, berbagai kerusakan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, masalah pendidikan kita yang perlu dibenahi. Pendidikan kita selama ini lebih mencetak manusia-manusia yang lebih economic oriented, manusia digodok malah untuk tidak memanusiakan manusia. Namun lebih menjadi mesin-mesin pencetak uang. Apa saja keahlian, ketrampilan di stimulir untuk bisa mengeksploitasi alam sehingga menjadi duit. Anak disekolahkan hingga sarjana, motivasinya cuman bagaimana menjadi 'dokter, insinyur, atau atribut-atribut yang lain' yang bisa dengan cepat menghasilkan uang. Bahkan anak yang cukup lulus SMA dan sebelumnya pun demikian, lulus sekolah maunya langsung dapat kerja, apapun asal bisa dapat duit sehingga rela menjadi segerombolan pekerja pabrik, atau bahkan menjadi satpam. Padahal di rumah dia punya sawah, yang bisa dikelola namun rasanya risih harus berlumur lumpur, tambahan sawahnya sudah telanjur dijual untuk didirikan bangunan-bangunan tembok para juragan kota yang ingin istirahat di desa, sebagai ganti untuk memiliki sesuatu yang bernama uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ini semacam muara dari pendidikan yang demikian. Lihat aja lahan-lahan subur disulap menjadi padang-padang tandus dengan membombangkar balik hutan-hutan perawan di Irian Jaya, Kalimantan, agar bisa diraup gambut berton-kilo emas untuk meningkatkan devisa negara. Berjuta hektar hutan dibabat direngkuh cuman oleh segelintir HPH berpatron Cendana, katanya agar bisa meningkatkan 'devisa' negara padahal cuman agar 'diabisa' kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya cari duit itu sah-sah saja. Dan wajib bagi orang hidup. Namun sebetulnya kan bukan tujuan. Tujuan sebenarnya kan bagaimana bisa hidup sejahtera, hidup makmur. Na, hidup makmur ini yang diartikan dalam waktu singkat bisa kaya, sehingga melupakan ada jalur yang seharusnya dipelihara untuk menjaga kehidupan makmur ini terjaga sepanjang masa. Jalur ini justru dirampas untuk bisa makmur di masa kini. Alam yang menyediakan potensi berlimpah untuh kelanggengan kepentingan hidup, 'dieksploitasi', bukan 'dieksplorasi' lagi. Dengan kata lain mustinya kita bisa kaya kalau kekayaan alam ini terpelihara, dengan memanfaatkan sekaligus mengelola dan memeliharanya. Tapi kita tidak, alam kita rusak agar kita kaya. Kita memang kaya tapi cuman sekejap. Maka 'BAGAIMANA MUNGKIN KITA NYAMAN HIDUP DI ATAS BUMI YANG MURAM?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Pendidikan kita harus dibenahi dari yang berorientasi ekonomi menjadi berorientasi humanisme (di luar konteks Tuhanisme). Lantas yang berkecimpung di dunia sekolah ya menerapkan pendidikan lingkungan ini pada anak didik, bahkan kolega, maupun atasannya. Yang di pabrik, ya bertanggung jawab untuk merangsang rekan, karyawan, atau atasannya untuk lebih menjaga lingkungan. Yang di jalur norma, kebijakan, ya dengan intensif menjalankan fungsinya sebagai penjaga norma dengan berbagai kajian kebijakan, penyadaran untuk menjaga pagar legitimasi agar implikasi tak melenceng. Artinya siapapun kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam mengatasi problem-problem lingkungan. Sekecil atau sebesar apapun, kita tak bisa mengelak bahwa itu tanggung jawab KITA MASING-MASING, DI RUANG LINGKUP, DAN PADA PERAN MASING-MASING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kalau problema lingkungan itu memerlukan singgungan yang bersinergi dengan sesama manusia yang lain, itulah saatnya kita berKOORDINASI, mengapa tidak? Koordinasi berdasar kajian bahwa ada problema bersama, lantas kita susun agenda bersama untuk dilakukan bersama, di bidang masing-masing. Contoh nyata adalah Juli 1999 di Surabaya dibentuk Forum Perkotaan Surabaya, yang mengakomodasi peran para stake holders :&lt;br /&gt;-Stake holder utama : masyarakat&lt;br /&gt;-Stake holder pemegang norma : tokoh masyarakat, LSM, Perguruan tinggi&lt;br /&gt;-Stake holder pembuat dan pelaku kebijakan : DPR, Pemerintah&lt;br /&gt;Mereka mencoba merumuskan langkah bersama untuk menyikapi dan mengatasi problem-problem lingkungan di perkotaaan Surabaya, yang kini sedang mendapat angin dengan akan terbitnya UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, yang membuka peluang bagi daerah untuk dengan leluasa memanage apapun di daerahnya, yang berimplikasi pula pada pengeloaan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang problema lingkungan tak bisa dipisahkan hanya dengan suatu atribut kementrian lingkungan hidup. Semua kementrian/departemen yang lain juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, baik itu departemen pariwisata dan kesenian, juga semua departemen kabinet pelangi yang kini masih penuh dengan pelangi problema itu. Pokoknya tidak seperti ala dulu lagi ada separatisme bahwa urusan lingkungan cuman urusan Menteri LH atau pejabat-pejabatnya, yang sudah merasa bekerja kalau sudah mengkoordinir anak buahnya untuk mengumpulkan informasi-informasi lingkungan, membuat pernyataan, cuma membikin seminar. ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4874762292348584628?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4874762292348584628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4874762292348584628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4874762292348584628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4874762292348584628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/benang-merah-itu.html' title='BENANG MERAH ITU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3686476718740250905</id><published>2007-10-17T18:26:00.000-07:00</published><updated>2007-10-17T18:29:10.257-07:00</updated><title type='text'>Jakarta Kota Mimpi ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;oleh: Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;dimuat di: Kabar Bumi/KONPHALINDO, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta adalah impian. Begitu anggapan yang beredar pada benak para urban di seantero nusantara. Setidaknya hingga masa peralihan penerapan sistem desentralisasi, menggantikan sistem sentralisasi yang menempatkan Jakarta sebagai Ibukota Indonesia menjadi muara kekayaan negeri yang sarat beraneka sumber alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik Metropolitan Jakarta yang menyedot beraneka jenis penduduk dari berbagai daerah, membikin Jakarta seolah-olah pusat pemenuhan kebutuhan yang ada. Kalau mau cari uang, pergilah ke Jakarta, karena di situ banyak lapangan pekerjaan, begitu kata orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas 'iming-iming' yang menggiurkan itu, Rajikum mengaku meninggalkan semua pengalamannya di kota lain, untuk tinggal di Jakarta selama lebih dari 20 tahun. Sebelum ke Jakarta, ia pernah kerja apa saja. Di Surabaya, ia pernah menjadi penjual teh botol, lalu menjadi sopir angkutan kota bemo lin G Joyoboyo-Karang Menjangan. Hengkang dari Surabaya, selama 3 bulan, ia mengaku menjadi pendamping bule yang hobi menyelam di pantai Kuta, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi Rajikum, hidup di luar Jakarta, ternyata kurang memberi tantangan. Makanya akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dan beruntung ia bisa menjadi Satpam, Satuan Pengaman, di sebuah kantor di bilangan Senayan, dekat lapangan dan gedung olah raga. Ia bersyukur, dengan pekerjaan ini, kebutuhan pokok pangan dan sandang, cukup terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan yang ke 3, yaitu mempunyai rumah tempat tinggal, di Jakarta ternyata tidak mudah. "Punya rumah di Jakarta termasuk suatu kemewahan. Tidak sedikit orang yang nggak bisa punya rumah, terpaksa ngontrak atau kos, dan paling sial menjadi gelandangan," tukasnya. Karena Rajikum ada penghasilan, ia pun bisa membayar sewa tempat tinggal. Namun untuk dapat membayar sewa yang dianggapnya layak, membutuhkan waktu. Setahap demi setahap, ia mengaku pernah tinggal di rumah bedengan yang cuma butuh bayar sewa Rp 15.000, hingga mengontrak rumah seharga Rp 200.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir-pikir, katanya, mengeluarkan uang seharga Rp 200.000 rutin setiap bulan, berarti sama saja harganya dengan membayar uang cicilan rumah KPR-BTN (Kredit Perumahan Rakyat Bank Tabungan Negara). Bedanya, untuk punya rumah BTN membutuhkan uang muka 7 jutaan. “Daripada mengeluarkan uang Rp 200.000- an per bulan, tapi akhirnya nggak punya rumah, lebih baik dengan menyicil Rp 200.000 per bulan, tapi dipastikan punya rumah sendiri,” kata Rajikum. “Kini tinggal saya harus menyediakan uang muka,” tegasnya, menirukan katanya ketika berencana saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dipunyailah uang muka 7 juta itu. Dan ia segera membayarkannya sebagai uang muka di sebuah pameran Real Estate di Gelora (Gedung Olah Raga) Senayan Jakarta tahun 1997-an. Kini, lelaki kelahiran tahun 1965 itu sudah menempati rumah KPR-BTN-nya, bersama seorang istrinya yang cantik, yang diminta untuk hemat agar kredit rumah bisa segera terlunasi nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahkah Memenuhi Keinginan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sukses seperti yang dialami Rajikum, juga banyak dialami penduduk Jakarta yang lain. Bahkan bagi yang sudah lebih mapan, mempunyai rumah bukan lagi sekedar buat tempat tinggal. Tapi sudah menjadi citra kekayaan. Rumah mewah di kompleks-kompleks rumah elit, seperti di Villa Ragunan yang tidak sembarang orang bisa masuk, karena dijaga Satpam, menjadi suatu simbol keberadaan sang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan kalangan mapan seperti ini, sudah melampaui tahap dasar kebutuhan pokok pangan, sandang, dan papan tadi. Membeli sesuatu barang atau jasa, bukan lagi sekedar kebutuhan, atau keperluan. Terbang dan berbelanja di Singapura atau Hongkong, dengan mudah dilakukan dengan kaki yang enteng melangkahkan kaki menumpang pesawat, untuk menjawab hasrat yang sudah melejit hingga ambang keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun berbelanja di dalam negeri, kalangan eksis semacam ini, akan sangat tampil beda dengan orang pas-pasan. Tampak ketika mereka membawa keluar barang belanjaan dari supermarket, seperti Sogo di pusat Jakarta di area Bundaran Hotel Indonesia. Begitu menggunungnya barang yang dibeli, di mata orang miskin, seolah-olah diborongnya semua barang dagangan yang dipajang. Dari gaun dan kacamata bermerek seharga ratusan ribu rupiah, hingga manisan upil yang mestinya juga bisa dibeli di warung dekat rumah tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membeli makanan, mudah sih kalau orang seperti ia mau membeli gorengan Rp 250-an perak yang dijajakan penjual dengan pikulan di pundak di pinggir jalan. Tapi kalau cuma ingin menraktir teman-temannya di restoran Meksiko di hotel berbintang pun, dengan ringan tangan kalangan mapan ini merogoh lembaran-lembaran duit di dompet, atau membayarnya dengan kartu kredit yang tertumpuk seperti kartu remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dikira untuk bisa mempunyai gaya hidup yang begitu, bisa diraih dengan mudah. Pendidikan saja tidak cukup. Hubungan 'baik' dengan para relasi sangat perlu. Mau mendapatkan pelayanan komputer gratis, dibantu segala macam pemrograman misalnya, bagaimana bisa dipenuhi kalau tidak ada hubungan khusus dengan person-personnya. Dan hubungan ini bisa bermacam-macam gayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun harus berpendidikan tinggi, bagaimana bisa bersekolah berbagai perguruan ternama, bila pintar saja tidak cukup. Terkadang diperlukan uluran tangan orang tua yang bisa membiayai keperluan sekolah atau kuliah, yang tentu biayanya tidak bisa disamakan dengan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) Perguruan Tinggi Negeri tahun 1985-an yang cuma Rp 35.000 per semester, atau bahkan SPP SMA (Sekolah Menangah Atas) di daerah, pada tahun yang sama, sekitar Rp 6.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di Jakarta, menjumpai orang tua yang berkemampuan berlipat ganda untuk mendukung pendidikan yang semakin tinggi tingkatnya, semakin susah. Bayangkan, kalau orang tua tak lebih dari urban miskin dari desa, yang berduyun ke Jakarta hanya karena impian yang tak jelas di awalnya. Akhirnya, ya terpaksa melakukan pekerjaan apa saja, asal perut tidak selalu berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah Hidup Seperti Ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para urban yang tak berprospek inilah, yang membuat semua barang di Jakarta bisa menjadi begitu berharga. Barang paling mewah itu berharga, merupakan hal biasa. Namun kalau air seni menjadi begitu berharga, itu karena berjubelnya manusia. Ya, di Jakarta, air kencing pun bisa menyuapi orang untuk makan. Pekerjaan melayani orang kencing, dengan menjaga WC umum hingga terkantuk-kantuk di depan pintu WC, sudah sangat lazim dijumpai di kota yang dulu bernama Sunda Kelapa lalu Batavia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjual suara sumbang pun dilakukan. Lihatlah di dalam bis Patas yang melaju dari Jakarta ke Depok. Seorang ibu gemuk sembari menggendong anaknya yang tidur pulas di dada, mendendangkan lagu ‘Desaku yang Kucinta’. Dilanjutkan lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang meliuk fals. Lagu-lagu itu sepantasnya dinyanyikan anak-anak sekolah di bangku sekolah dasar. Tapi ibu lusuh itu menjualnya dengan jalan mengamen, agar dapat uang receh dari penumpang yang berbelas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan anak-anak sebagai hasil kegiatan menghasilkan keturunan pun, harus membantu diri sendiri untuk mencari sesuap nasi. Dengarlah lagu ‘Muda-mudi Jaman Sekarang’-nya Koes Plus diyanyikan anak dekil 10 tahun, dalam bis Patas Depok-Jakarta. Suaranya juga sumbang, namun tetap saja menyumbang lagu buat penumpang bis kota. Ditutup dengan uluran bungkus permen atau tangan menengadah, sebagai tempat penumpang memberi uang santunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang setiap hari mencari uang di sela-sela kaki-kaki yang berdempet-dempet, di bawah gelantungan tangan-tangan berpegangan besi-besi di lorong kereta rel listrik Jakarta-Bogor. Di sela-sela kaki itu, ia bisa berkelit dengan menyeret tapak kakinya yang buntung tanpa jari, dengan luka kering akibat lepra yang diderita semenjak balita (bayi lima tahun). Tapak tangan yang menahan tubuh terseret kaki lepra itu, juga buntung, tanpa jari-jari. Bibirnya bergerak mengeluarkan pujian-pujian Asma Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya terpejam penuh duka, tapi masih berpengharapan. Ia pun berhasil menyentuh nurani para penumpang bergelayutan tadi. Sekalipun hanya satu atau dua dari ribuan penumpang, itu cukuplah memberi penghiburan baginya. Secara praktisnya, kaleng bekas kaleng Dancow dijepit dengan lipatan paha dan perut, terseret kaki yang ditahan tangan juga terserang kusta. Kaleng itu pun menjadi terisi lembar-lembar lima ratusan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada pula penduduk yang mengais rejeki di tanah lapang, luas, dibatasi kebun singkong dan pohon pisang, dan rumah-rumah kampung. Di situ, batu, kasur, campur sampah menghampar. Bolduzer istirahat di pinggir, menyisakan tanah tergali luas dan dalam. Lelaki dan wanita memegang, memindahkan, memilih sampah pilihan. Ada yang memilih logam, kayu, atau tripleks. Si lelaki mengulurkan tangan, menerima uang setelah sampah di bak truk habis. Truk lantas menyingkir, berputar, pergi ke jalan besar namun macet, di Jakarta. Tinggal mereka berenam, tiga, lelaki, tiga perempuan. Seorang perempuannya menggendong anak lelaki dengan kain batik lusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelompok lain, mereka yang ditenda, dikerubungi barang-barang bekas buangan yang sudah terkumpul. Barang bekas yang kecil menyatu di dalam karungplastik. Barang bekas yang besar tertumpuk di luar, diselimuti langit berawan hitam tanpa batas awan yang jelas. Seorang lelaki berjalan dengan sarung digulung di perut, tersenyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung tanah lapang itu, sebuah pos hansip berdiri tenang. Jam dua siang kurang 15 menit, 10 Oktober 2000 itu masih tertulis Dirgahayu RI ke 55 pada gabus tertempel pada tripleks di teras pos. Dindingnya tertulis dari semen timbul, 'Rukun Warga 68 Cipete Utara, 17-8-2000'. Berarti, Jakarta adalah ibukota negara yang sudah lebih dari 55 tahun merdeka. Ternyata di alam kemerdekaan, banyak wajah yang beraneka warna. Ada yang bergairah karena hidupnya cerah, ada yang resah karena kesehariannya susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah wajah-wajah sebagian penduduk yang merasa 'terpanggil' untuk tinggal Jakarta kota impian, seperti tertulis pada awal rangkaian kisah nyata ini. Sebagian masih dalam impian, sekalipun hidup susah, masih saja mau meneruskan tinggal di Jakarta, karena barangkali keberuntungan masih sedia menghampiri. Sebagian lagi sudah hendak pulang ke daerah, karena mendengar bahwa dengan diterapkannya desentralisasi di Jakarta semakin sulit mencari rejeki. Seperti kata Yudi, Bintara Marinir yang tinggal di Ragunan dekat markas Marinir di Cilandak KKO yang cukup beruntung punya Vespa, TV, dan kamar kontrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestikah Hidup Penuh Mimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sikap masyarakat Jakarta yang terpecah itu, hendak tetap tinggal atau pulang ke daerah, sebagian lagi masih hidup dalam dunia yang lebih maya, yang lebih penuh mimpi-mimpi lagi. Salah satunya bernama Ririen, yang mengaku merasa tersisih dari keluarganya. Bukan karena disisihkan, namun karena ia sendiri yang menyisihkan diri. Ayahnya seorang Kepala Bagian pada suatu Bank di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi dirinya untuk mengambil jalan hidup seperti yang dialaminya di Jakarta saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula, saat masih kecil, Ririen sudah merasa dirinya bukanlah yang tampak secara fisik di mata. Dijalaninya kenikmatan dan kenikmatan kala malam tiba, atau saat kesendirian datang, dengan melepas penampilan fisik tubuhnya. Tiba saatnya ia duduk di kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ririen mulai mendapatkan teman untuk membentuk dirinya yang sesungguhnya. "Saya ‘berlatih’ dengan mereka selama tiga tahun," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ Ririen mulai mengikuti gaya hidup teman-temannya. Berpakaian wanita nan seksi yang dulu selalu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, tidak lagi ditabui dan dimaluinya untuk dilakukan di depan orang lain. Ikut kegiatan sana-sini dengan teman-temannya, berujung mulai kelas satu SMA, Ririen mulai melacurkan diri dengan penampilannya sebagai seorang gadis, total. "Kalau kerja di suatu tempat, misalnya salon, tapi tidak melacurkan diri berarti setengah-setengah," ucap Ririen. Dengan melacurkan diri, menurutnya, ia merasakan suatu kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman inilah yang membuatnya semakin pasti akan jalan hidupnya dan tentang dirinya. Ririen pun memutuskan diri untuk mem'permak' pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang bisa mempercantik tubuh dan wajahnya laksana seorang wanita. Ia sudah mengoperasi dagunya dan berhasil membuat si dagu agak menggantung manis. Untuk hidung, operasinya gagal dan ada bekas sayatan yang belum membentuk hidungnya mancung dan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ririen bilang, untuk operasi hidung dan dagu itu, ia cuma mengeluarkan uang masing-masing Rp 100.000 karena yang mengoperasi temannya sendiri. Operasi ulangan untuk hidungnya butuh Rp 300.000. Sedangkan untuk suntikan silikon pada buah dada, Ririen mengaku sudah menghabiskan duit Rp 2,6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sedari dulu, Ririen sudah merasa ia adalah wanita, Tapi karena terkurung dalam tubuh lelaki bernama Reza Hermansyah, ia sudah menerima dirinya cukup sebagai ‘Waria’ (Wanita Pria) yang suka kepada lelaki. Kini, Ririen ‘beroperasi’ di sepanjang rel kereta api stasiun Pasar Minggu. Kalau bosan, ia suka pindah-pindah tempat ke Semarang, Yogya, Surabaya, Bandung, atau Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam gelap, sepanjang jalur rel kereta api Stasiun Pasar Minggu Jakarta temaram, disinari lampu di beberapa tempat. Ririen dengan penampilannya yang seksi, suka pakai kaos ketat dan rok mini, berlenggak-lenggok mencari kepuasan dan uang makan. Melacurkan diri, agar sempurna keberadaannya sebagai seorang banci. Itukah wajah Jakarta, kota mimpi? Haruskah hidup di sini cuma diisi dengan mimpi? **&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3686476718740250905?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3686476718740250905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3686476718740250905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3686476718740250905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3686476718740250905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/jakarta-kota-mimpi.html' title='Jakarta Kota Mimpi ?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3351113550620695862</id><published>2007-10-17T17:57:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T23:18:18.755-07:00</updated><title type='text'>Kabar Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/jakarta-kota-mimpi.html"&gt;Jakarta Kota Mimpi ?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jawabankekacauan.blogspot.com/2007/06/jawaban-kekacauan_831.html"&gt;JakartaKota – Bogor&lt;/a&gt; (Puisi)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jawabankekacauan.blogspot.com/2007/06/jawaban-kekacauan_8554.html"&gt;DI SITU&lt;/a&gt; (Puisi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3351113550620695862?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3351113550620695862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3351113550620695862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3351113550620695862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3351113550620695862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/kabar-bumi.html' title='Kabar Bumi'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5037307711075179177</id><published>2007-10-17T17:52:00.000-07:00</published><updated>2007-10-17T17:53:11.175-07:00</updated><title type='text'>Menutup Buku Pendidikan Orde Baru</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak manusia Indonesia 'melempem' terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat, khususnya para ahli pendidikan gerah. Kegagalan bangsa Indonesia dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah ruah, dan hanya menjadikan dirinya cu-ma sebagai 'sapi perahan' negara-negara maju memunculkan berbagai kritik pada pendidikan yang mencetak orang-orang Indonesia yang 'melempem' yang sok siap menerima tawaran bertarung di persaingan global, padahal daya saingnya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituding, dalam sistem pendidikan kita, terjadi salah paham dankerancuan memaknakan kurikulum hanya sebagai materi pelajaran. Sehingga anak didik diberi beban materi pelajaran yang menggunung tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-faktor kurikulum yang lain. Materi pelajaran sebetulnya, tak lebih hanya satu bagian dari delapan faktor kurikulum yaitu: aspek filosofis pendidikan, tujuan, materi ajar, metode, guru, murid, dan fasilitas. Pembaruan kurikulum dengan menambah atau menyederhanakan materi ajar merupakan jenis pengurangan terhadap kurikulum sendiri. "Kritik terhadap kurikulum harus ditujukan kepada keseluruhan sistem pendidikan," kata berbagai pihak ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Orientasi Sudah Mengakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kesadaran masyarakat terutama para ahli pendidikan memberi arti, pendidikan tak dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Mengapa? Karena pendidikan sudah begitu mengakar dalam kekurangan itu sepanjang masa orde baru yang berideologi keras sebagai ideologi pembangunan, sehingga paradigma pendidikan nasional pun dikembangkan ke arah paradigma pembangunan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi dari paradigma pembangunan itu adalah pada ekonomi, kemajuan teknologi, pesatnya industrialisasi, individualisasi, dan sekularisasi, yang melahirkan perombakan teori-teori ekonomi, teori-teori negara, dan pola tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan kepentingan manusia lebih dari kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika ekonomi teknologis, orientasi kebendaan, materialistis, menjadi gaya hidup. Masyarakat hanya dinilai berhasil bila pertumbuhan ekonomi rata-rata naik. Bahkan perbuatan baik apapun hanya dihargai bila bernilai ekonomi produktif dan dapat dimanfa-&lt;br /&gt;atkan bagi kehidupan praktis secara teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup Buku Pendidikan Orde Baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu terus berlanjut, maka akan timbul persoalan dalam kesahihan keputusan pemerintah tentang pemberlakuan kurikulum-kurikulum pendidikan. Masalahnya, keputusan dan penerapan kurikulum yang telah merasuk ke dalam segenap unsur pendidikan, mulai dari menteri hingga guru-guru pengajar di lapangan telah terpola secara homogen, sama saja. Sebagian melakukan pola itu, yang lain secara rombongan melakukan di tiap komunitasnya, tentu sulit dirubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini membuat upaya menutup buku pendidikan Orde Baru untuk memulai orde yang lebih baik, menjadi sulit. Ketegaran sikap pemerintah Orde Reformasi yang melanjutkan kurikulum pendidikan lama (bahkan semakin menambah beban dengan materi-materi program link and match) menjadi pengukuh, bahwa hasil pendidikan Orde Baru seolah tidak bersalah dalam membentuk bangsa yang mudah terpuruk menghadapi tekanan bangsa asing. Sebut saja era penjajahan modern WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetary Fund) yang dengan mudah membuat negara maju mendikte setiap kebijakan pemerintah dalam kesepakatan-kesepakatan yang melibatkan pengelolaan sumberdaya alam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Buntu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran terhadap kekurangan segala aspek pendidikan selama masa orde baru yang me-minta sikap baru dalam membuat peluang menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan dalam suatu kurikulum penyelamat menemui jalan buntu. Karena pandangan terhadap orientasi pendidikan yang masih untuk mengejar gelar, mencari kerja, dan me-&lt;br /&gt;ningkatkan status di masyarakat merupakan bagian dari pelestarian budaya feodal dimana uang dan ekonomi menjadi tolok ukur atau standar penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi produk pendidikan seperti ini, apa yang dilakukan selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, dan di titik inilah pusat persoalan. Seperti nasib Rahwana dalam lakon Ramayana, "kebenaran" pola pikir pendidikan macam ini tak pernah mati kendati tubuhnya terjepit oleh dua bukit batu yang masif. Bahkan, persis bagaikan babak akhir cerita Valmiki itu, dapat dibayangkan bagaimana gelembung-gelembung pengaruh juga akan diproduksi oleh "kebenaran" pendidikan yang berorientasi ekonomi, menyebar melalui dimensi ruang dan waktu, untuk memunculkan kader-kader baru di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratan Takdir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini sudah suratan takdir, bila bangsa ini selalu harus memikirkan "ekonomi sempit". Karena serbuan barang konsumsi tak pernah terkendali, maka apapun dilakukan untuk sekedar bisa menikmati tawaran negara-negara maju yang sekian langkah sudah memimpin di depan dalam hal produksi dan Indonesia cuma menjadi pasar konsumen&lt;br /&gt;yang paling luas dan empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia mungkin harus selalu cemas akan kemunculan generasi-generasi baru yang atas nama membangun kesejahteraan, merasa berhak untuk membuat kurikulum materialistik, dengan memendam dulu hak asasi untuk mengenal lebih jauh maksud alam dengan segenap konektivitasnya, dalam alam mikro (diri sendiri), alam meso (lingkungan sekitar), dan alam makro (semesta raya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pemikiran seperti inilah penuntasan kasus kegagalan produk pendidikan Orde Baru dalam mencetak manusia-manusia tangguh yang seimbang dalam berekonomi sekaligus tidak meninggalkan nilai-nilai non ekonomi menjadi terasa begitu penting. Seandainya saja Tuhan memberkati kita dengan kemampuan untuk mengaku salah, bertobat, dan meminta pengampunan kepada segenap generasi yang ada, banyak masalah pendidikan akan segera menemui jalan terang. Ini akan menjadi katarsis bagi seluruh bangsa, dan peluang perbaikan pendidikan nasional pun akan terbuka lebar. Sebuah babak yang banyak kelamnya akan ditutup dengan selayaknya, dan babak baru yang menjanjikan pencerahan, dapat dimulai dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Kita dapat berharap banyak terhadap kemungkinan ini karena kita tahu pasti munculnya ide-ide pemikiran brilian dan besar justru muncul dari para pemikir yang senantiasa membuat korelasi tak terpisahkan dari alam mikro, meso dan makro tadi. Katakanlah filsuf-filsuf Yunani yang melahirkan filsafat sebagai dasar dari segala ilmu pengetahuan yang ada adalah telaah terhadap alam dan gejala-gejala yang ditampakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, para filsuf tadi, bisa dikatakan menciptakan dasar dari segala ilmu murni yang ada, yang berkembang meluas dalam berbagai bentuk ilmu terapan. Ironisnya, dalam konteks pendidikan demi uang di negeri ini, pengajaran ilmu murni, apalagi dasar dari ilmu murni ini, terlempar jauh dalam pengucilan dibandingkan dengan pengajaran ilmu terapan yang menjadi idola. Alasannya, ilmu murni apalagi ilmu filsafat tak bisa memberi jaminan pekerjaan, tak sejalan dengan pandangan dunia, masyarakat yang terpacu mengejar pencapaian ekonomi. Padahal, nilai-nilai yang terkandung dalam pengajaran filsafat yang diikuti dengan ilmu-ilmu murni itu tetap saja bisa diaplikasikan dalam setiap ilmu terapan, tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofi-nya, bila konektivitas setiap ilmu dengan ilmu lain-nya dirangkai dalam suatu rantai pemahaman bah-wa satu bagian dengan bagian yang lain, apapun itu bidang terapannya, tak akan pernah bisa lepas dari kondisi saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, alternatif penuntasan pendidikan yang bisa saling mengisi antara nilai pendidikan praktis aplikatif dengan nilai hakiki yang membentuk kesadaran dan perilaku yang lebih memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dihegemoni cuma oleh nilai-nilai ekonomi, menjadi mendesak untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Pendidikan Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu model pendidikan yang menerapkan pola keterkaitan antara nilai-nilai aplikatif dan nilai-nilai filosofinya dalam keterkaitan segenap bidang kehidupan yang ada, barangkali tidak ada pilihan lain di luar pendidikan langsung terhadap apa yang dikatakan alam. Ekonomi boleh saja menjadi pendidikan mandiri, tetapi bila ia tak punya pengaruh terhadap kemampuan manusia dalam menghadapi kehidupan yang tak Cuma membutuhkan sentuhan materi, maka ilmu ekonomi ini menjadi senjata penghancur manusia yang lebih bersifat materialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan pendidikan matematika, biologi, fisika, bahkan terapan-terapannya macam pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kedokteran hewan. Bila semua jenis pendidikan ini hanya dikonsentrasikan cukup pada disiplin ilmunya, maka akan menjadi pendidikan mati yang hanya mencetak orang dengan egosentris yang akan membela mati-matian bidang kerja sesuai dengan latarbelakangnya, tanpa mempedulikan apakah bidang itu merusak bidang lain bahkan hubungan di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Manusia, Pendidikan Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, pendidikan yang dapat mengkombinasikan semua unsur pendidikan yang terkait satu sama lain adalah pendidikan lingkungan hidup. Bahwa pendidikan lingkungan hidup bukan hanya bermaksud untuk mencipta manusia yang mau menjaga kelestarian lingkungannya. Tapi yang lebih penting, pendidikan lingkungan hidup justru merupakan pendidikan yang menjadikan manusia mengetahui hakikat kemanusiaannya,&lt;br /&gt;setelah mempelajari semua unsur lingkungan secara terkait sebagai satu kesatuan yang tidak terkotak-kotakkan, mempelajari hubungan-hubungannya dan pengaruh-pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendidikan lingkungan itu, manusia akan tahu bahwa ternyata yang diperlukan bukanlah cuma mengejar ekonomi dan mencari status, sebagai tujuan akhir sempit. Tetapi sikap berdaya manu-sia dengan segala nilai kemanusiaannya untuk secara sadar tahu hanya bagian kecil dari lingkungan, apa yang dilakukannya terhadap satu unsur dari lingkungan akan senantiasa berpengaruh bagi bagian dan keseluruhan lingkungannya. Pemikiran semacam ini bisa mendesaknya untuk berdaya dan terbebas dari tekanan materialisme semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep semacam ini, produk pendidikan lingkungan akan terpacu untuk bisa melakukan pengelolaan ekonomi dan non ekonomi secara lebih seimbang dan harmonis. Akan berdampak juga pada pengelolaan lingkungan hidup dan kekayaan Indonesia secara berkelanjutan, yang dengan sendirinya memberi dampak perbaikan ekonomi dan kesejahteraan hidup secara berkesinambungan, tanpa harus melalui jalan pintas untuk mengeruk ekonomi sebesar-besarnya dan terpuruk tanpa bisa tahu kelanjutan dan kesinambungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, pendidikan menjadi persoalan ketika ditemui beragam kekurangannya. Namun yang lebih memprihatinkan, justru saat kita tak tahu kekurangannya. Dan agaknya kita kurang menyadari bahwa kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak manusia Indonesia 'melempem' tadi justru terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan ini. Apakah kita mau mengulanginya kembali? (Berita Bumi/KONPHALINDO).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5037307711075179177?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5037307711075179177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5037307711075179177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5037307711075179177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5037307711075179177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/menutup-buku-pendidikan-orde-baru.html' title='Menutup Buku Pendidikan Orde Baru'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4774235869711283310</id><published>2007-10-15T19:19:00.000-07:00</published><updated>2007-10-15T19:31:44.547-07:00</updated><title type='text'>STOP JUDI LINGKUNGAN PENYEWAAN PULAU !</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Orde Pasca Reformasi di bawah pimpinan Gus Dur masih saja menabur kontroversi di semua bidang. Tak ketinggalan bidang kelautan yang kini diperhatikan secara khusus dalam wadah Kementerian Eksplorasi Laut dan Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana para `penguasa pemerintahan' itu untuk menyewakan 2.000-10.000 pulau kecil tak berpenghuni (tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, dari 17.000 pulau di Indonesia) telah memicu bakal konflik yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bila tak diimbangi oleh kekuatan masyarakat yang aktif mengontrol semua rencana. Sekalipun, `panglima proyek' penyewaan pulau ini adalah Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Eksplorasi Laut dan&lt;br /&gt;Perikanan yang dikenal sebagai Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH) yang benar-benar peduli lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, rencana penyewaan pulau ini adalah ajang adu judi bagaimana seharusnya dan sesungguhnya orang Indonesia peduli terhadap lingkungannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Harus Menyewakan Pulau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan rencana menyewakan pulau tak lebih dari sikap latah Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (DELP) yang memakai alasan krisis ekonomi yang mendera negara sejak 1997/1998, memaksa semua pihak untuk mencari alternative keluar dari krisis, sekaligus agar bisa berperan dalam memecahkan masalah perekonomian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut DELP, dari berbaai sumber, daripada 2.000-10.000 pulau kecil yang terlantar dan tak berpenghuni, lebih baik dimanfaatkan untuk bisa menambah penghasilan negara sekaligus untuk membayar utang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan penyewaan 2.000 pulau bisa memberi masukan 20 milyar dollar AS selama 20 tahun, bila penyewa dikenakan tarif 2-10 juta dollar AS setiap pulau selama 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi masyarakat dan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi seperti dari wisata laut yang dikembangkan di setiap pulau yang disewa oleh investor. Beberapa pengusaha dari Kuwait, Singapura, Jepang, sudah menanggapi secara positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua dianggap aneh oleh banyak pihak. Yaitu alasan konservasi. Melakukan konservasi dengan mendatangkan pihak asing merupakan suatu paradoks, hal yang bertentangan. Sebab, masuknya asing biasanya dilandasi kepentingan bisnis, daripada konservasi. Apalagi pihak asing itu adalah investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pemerintah, pengelolaan 2.000 pulau yang disewakan hanya meliputi untuk konservasi, ekowisata (seperti menyelam, berselancar, snorkling), budidaya laut, dan penangkapan ikan. Pengelolaan pulau tidak boleh untuk kegiatan negatif seperti perjudian dan limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DELP menyatakan, tidak seluruh luas pulau yang disewakan akan diberikan kepada investor. Namun hanya 40 persennya saja. 60 peren dari luas pulau akan dijadikan sebagai kawasan `sabuk hijau'. DELP hanya akan mengelola pulau kecil yang berjarak melebihi 12 mil dari garis pantai. Sedangkan yang berjarak di bawah 12 mil dari garis pantai, sepenuhnya menjadi hak hak Pemda sesuai dengan ketentuan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model penyewaan pulau nanti, masih menurut DEPL, tetap akan mempertimbangkan aspek kepentingan nasional. Gambaran contohnya, seperti yang dilakukan Australia yang hanya menyewakan lahan di Gold Coastal Island, otoritasnya tetap berada pada pemilik. Jadi tidak seperti model Hongkong yang disewa Inggris, atau Macau yang disewa Portugal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri DELP, Sarwono, dalam satu kesempatan menyatakan semua akseptabilitas pulau yang akan disewakan harus dikaji melalui norma umum tentang manajemen pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil. Namun, berdasar peraturan otonomi daerah, yang mengambil keputusan adalah Pemda Tingkat II, bukan pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarwono menyatakan, Pemda Tingkat II dalam mengambil keputusan harus mengacu pada empat pembatas, yaitu harus berorientasi pada konservasi, akseptabilitas politik, akseptabilitas budaya, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Artinya, bagi secara konservasi, politik, budaya, ekonomi, harus bisa diterima banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop `Judi Lingkungan'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penyewaan pulau jadi dilaksanakan, maka diestimasi ada 3 kelompok investor asing yang akan segera masuk. Yakni, Amerika (AS) untuk kepentingan pangkalan perang, kelompok pencuri ikan dari Korea dan Negara Asean lainnya, serta kelompok pencuri harta karun Demikian Djeni Hasman, anggota DPR Komisi II dalam satu kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan omong kosong, pada mulanya masuknya investor asing itu sangat bermanfaat bagi Indonesia. Di awal kehadirannya, rambu-rambu apapun yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam perjanjian sewa akan dipatuhi dengan sempurna. Namun lama-kelamaan akan terbukti `belang' atau keburukannya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu waktu bergeser dan kepemilikan sewa atas pulau menjadi begitu lama, kadar `merasa memiliki' (sense of belonging) mereka terhadap pulau menjadi lebih besar. Di sini, seolah-olah pulau adalah milik mereka sendiri, dan mereka dapat berbuat semaunya atas nama "saya adalah pemilik". Dalam berbaga kasus, hal ini sangat manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tadi lebih mudah lagi terjadi, bila di awal kontrak sewa, sudah ada niatan investor itu untuk melakukan tindakan-tindakan memanfaatkan pulau untuk sebesar-besar kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, sistem dan peraturan dan moral bangsa Indonesia, terbukti, belum bisa diajak untuk mengontrol perilaku yang demikian secara jujur dan adil. Apapun rambu yang dibuat, dapat dengan mudah ditembus dan dilanggar. Celakanya lagi, sistem penegakan hukum atas pelanggaran yang demikian, masih sangat begitu lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menyewakan pulau dalam kondisi bangsa yang berperilaku demikian, laksana bermain judi saja. Dan kemungkinan untuk gagal lebih besar daripada kemungkinan berhasil. Bisa dibayangkan apa saja yang bakal terjadi bila penyewaan pulau jadi dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamanan pulau-pulau yang disewakan, yang dalam konsep DELP, adalah dengan melibatkan masyarakat setempat, bakal tidak efektif. Karena dengan `suap' pemilik pulau, masyarakat gampang di'sumpal' mulutnya asal kepentingan ekonominya aman di tangan penyewa pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep DELP, masyarakat yang bekerja sebagai pengawas di suatu resor akan melaporkan pada pemerintah setempat bila terjadi pelanggaran. Pelaporan semacam ini dapat, sekaligus penegakan hukumnya, dapat dengan mudah dimentahkan, bila sikap mental bobrok pemerintah dan penegak hukum sampai saat ini tidak juga `dicuci bersih'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pulau sudah menjadi eksklusif, akan lebih sulit lagi dipantau jika pulau itu digunakan untuk aktivitas yang terlarang, misalnya tempat prostitusi, perjudian, atau penimbunan limbah nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Sarwono bahwa inti permasalahan adalah pada manajemen pulau-pulau kecil dan bukan pada penyewaan pulau perlu dijawab. Bahwa, dalam mengatasi problem ini tidak bisa harus dengan `bermain judi, gambling, untung-untungan'. Karena akibat kegagalan pengelolaan pulau yang disewakan sangat besar pengaruhnya bagi lingkungan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau adalah sumber daya milik umum, common property resources. Tercantum dalam UUD 1945, pulau sebagai sumber daya alam digunakan semaksimal mungkin untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Dalih bahwa daripada masyarakat banyak yang mengganggur lebih baik dilibatkan dalam pengelolaan pulau untuk mendapatkan penghasilan, serta dilibatkan sejak penyusunan aturan hingga pengawasannya (sehingga ada dorongan kuat untuk memiliki dan memanfaatkannya), sangat riskan `perjudiannya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa pencegahan dan penanggulangan masalah lingkungan yang mungkin timbul dalam penyewaan pulau dapat dilakukan hanya empat peruntukan (ekowisata, konservasi, budidaya laut, dan penangkapan ikan) adalah omong kosong. Dan tak mungkin dilaksanakan. Sekali lagi tak lebih hanya merupakan judi lingkungan! Karenanya, penyewaan pulau harus distop! Jangan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, sistem kontrol dan penegakan hukum di Indonesia sudah berubah jauhh lebih baik dan lebih disiplin, tidak seperti sekarang. Sayangnya untuk mencapai sistem yang jujur dan adil ini, setidaknya kita masih embutuhkan waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau memaksakan kehendak menyewakan pulau, tunjukkan dulu permasalahan-permasalahan hukum dan penegakan hukum khususnya bagi para orang berduit yang masih meresahkan masyarakat saat ini bisa diselesaikan dengan tuntas. Baru bicara soal penyewaan pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kelola pulau-pulau yang ada, pulau kosong sekalipun, sesuai aturan main yang masih berlaku saat ini (terkait dengan Pemda setempat, Kementerian LH, Kementrerian Departemen Kehutanan, dan segenap unsur yang ada) secara disiplin. Baru bicara soal penyewaan pulau. (Berita Bumi/Konphalindo/dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4774235869711283310?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4774235869711283310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4774235869711283310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4774235869711283310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4774235869711283310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/stop-judi-lingkungan-penyewaan-pulau.html' title='STOP JUDI LINGKUNGAN PENYEWAAN PULAU !'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8123905453091016484</id><published>2007-08-28T02:53:00.001-07:00</published><updated>2007-08-28T02:54:20.350-07:00</updated><title type='text'>Hutan</title><content type='html'>Ketika hutan rusak tanpa harapan. Ketika nyawa-nyawa hanya menunggu tanpa kepastian, akanmasuk manakah perjalanan mereka?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8123905453091016484?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8123905453091016484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8123905453091016484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8123905453091016484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8123905453091016484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/hutan_28.html' title='Hutan'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2659358197990216802</id><published>2007-08-28T02:53:00.000-07:00</published><updated>2007-10-15T19:34:22.183-07:00</updated><title type='text'>Hutan</title><content type='html'>Ketika hutan rusak tanpa harapan. Ketika nyawa-nyawa hanya menunggu tanpa kepastian, akan masuk manakah perjalanan mereka?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2659358197990216802?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2659358197990216802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2659358197990216802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2659358197990216802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2659358197990216802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/hutan.html' title='Hutan'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7812304492375137107</id><published>2007-08-26T23:09:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T03:01:04.489-07:00</updated><title type='text'>Environmental Humanism Daily Bread Milis Lingkungan</title><content type='html'>Tulisan Lingkungan Yonathan Rahardjo selama 52 Hari Berturut-turut di Milis Lingkungan pada Tahun 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-1-21-oktober-1999-environmental.html"&gt;EHDB 1/ 21 Oktober 1999 ENVIRONMENTAL HUMANISM DAI...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-222-oktober-1999-nilai-kemanusiaan.html"&gt;EHDB 2/22 Oktober 1999 NILAI KEMANUSIAAN LINGKUNG...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-323-oktober-1999-ilmu-lingkungan.html"&gt;EHDB 3/23 Oktober 1999 ILMU LINGKUNGAN DAN KIMIA L...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-424-oktober-1999-ekowisata-butuh.html"&gt;EHDB 4/24 Oktober 1999 EKOWISATA BUTUH MANUSIA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-525-oktober-1999-belajar-dari.html"&gt;EHDB 5/25 Oktober 1999 BELAJAR DARI BURUNG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-626-oktober-1999-ular-kucing-sinar.html"&gt;EHDB 6/26 Oktober 1999 ULAR, KUCING, SINAR MATAHAR...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-7-27-oktober-1999-lsm-b1-dan-lsm.html"&gt;EHDB 7/ 27 Oktober 1999 LSM B1 dan LSM B100&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-8-28-oktober-1999-kapitalisme.html"&gt;EHDB 8/ 28 Oktober 1999 KAPITALISME BERADAB, BUKAN...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-9-29-oktober-1999-terpanggil-mau.html"&gt;EHDB 9/ 29 Oktober 1999 TERPANGGIL, MAU, BATIN NYA...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-10-30-oktober-1999-cendana-oleh.html"&gt;EHDB 10/ 30 Oktober 1999 CENDANA,.. (oleh Yonathan...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-11-31-oktober-1999-olio-oleh.html"&gt;EHDB 11/ 31 Oktober 1999 OLI’O (oleh Mohammad Ichs...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-12-1-nopember-1999-sarwono-dan.html"&gt;EHDB 12/ 1 Nopember 1999 SARWONO dan SARIP TAMBAK ...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-13-2-nopember-1999-memori-koalisi.html"&gt;EHDB 13/ 2 Nopember 1999 MEMORI KOALISI LINGKUNGAN...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-14-3-nopember-1999-karena-suka.html"&gt;EHDB 14/ 3 Nopember 1999 KARENA SUKA YANG SEBENTAR...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-15-4-nopember-1999-pendekar.html"&gt;EHDB 15/ 4 Nopember 1999 PENDEKAR LINGKUNGAN (ole...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-16-5-nopember-1999-janji-wayang.html"&gt;EHDB 16/ 5 Nopember 1999 JANJI WAYANG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-17-6-nopember-1999-bunga-padma.html"&gt;EHDB 17/ 6 Nopember 1999 BUNGA PADMA YANG BERMAKNA...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-18-7-nopember-1999-carbon-trading.html"&gt;EHDB 18/ 7 Nopember 1999 CARBON TRADING&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-19-8-nopember-1999-siraman.html"&gt;EHDB 19/ 8 Nopember 1999 SIRAMAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-20-9-nopember-1999-pernikahan.html"&gt;EHDB 20/ 9 Nopember 1999 PERNIKAHAN LINGKUNGAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-21-10-nopember-1999-bercinta.html"&gt;EHDB 21/ 10 Nopember 1999 BERCINTA MENCEGAH HUTAN ...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-22-11-nopember-1999-bunga-krisan.html"&gt;EHDB 22/ 11 Nopember 1999 BUNGA KRISAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-23-12-nopember-1999-kerbau.html"&gt;EHDB 23/ 12 Nopember 1999 KERBAU METROPOLITAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-24-13-nopember-1999-susu-indonesia.html"&gt;EHDB 24/ 13 Nopember 1999 SUSU INDONESIA RAYA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-25-14-nopember-1999-suara-apa.html"&gt;EHDB 25/ 14 Nopember 1999 SUARA APA?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-26-15-nopember-1999-waktu-makan.html"&gt;EHDB 26/ 15 Nopember 1999 WAKTU MAKAN DALAM PANJAN...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-27-16-nopember-1999-proses-dan.html"&gt;EHDB 27/ 16 Nopember 1999 PROSES DAN PROSEA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-28-17-nopember-1999-besar-milik.html"&gt;EHDB 28/ 17 Nopember 1999 BESAR MILIK SIAPA?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-29-18-nopember-1999-ayam.html"&gt;EHDB 29/ 18 Nopember 1999 AYAM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-30-19-nopember-1999-merk.html"&gt;EHDB 30/ 19 Nopember 1999 MERK-LINGKUNGAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-31-20-nopember-1999-medan-energi.html"&gt;EHDB 31/ 20 Nopember 1999 MEDAN ENERGI KITA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-32-21-nopember-1999-dua-kekasih.html"&gt;EHDB 32/ 21 Nopember 1999 DUA KEKASIH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-33-22-nopember-1999-benang-merah.html"&gt;EHDB 33/ 22 Nopember 1999 BENANG MERAH ITU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-34-23-nopember-1999-siapa-mau.html"&gt;EHDB 34/ 23 Nopember 1999 SIAPA MAU MAKANAN HASIL ...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-35-24-nopember-1999-keserakahan.html"&gt;EHDB 35/ 24 Nopember 1999 KESERAKAHAN MANUSIA TERH...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-36-25-nopember-1999-jurnalisme.html"&gt;EHDB 36/ 25 Nopember 1999 JURNALISME LINGKUNGAN (1...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-37-26-nopember-1999-jurnalisme.html"&gt;EHDB 37/ 26 Nopember 1999 JURNALISME LINGKUNGAN (...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-38-27-nopember-1999-memori-partai.html"&gt;EHDB 38/ 27 Nopember 1999 MEMORI PARTAI HIJAU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-39-28-nopember-1999-daur-ulang.html"&gt;EHDB 39/ 28 Nopember 1999 DAUR ULANG KERTAS DAN DA...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-40-39-nopember-1999-limbah-dan.html"&gt;EHDB 40/ 39 Nopember 1999 LIMBAH DAN SAMPAH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-41-30-nopember-1999-belajar-dari.html"&gt;EHDB 41/ 30 Nopember 1999 BELAJAR DARI PAMAN SAM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-42-1-desember-1999-jangkrik.html"&gt;EHDB 42/ 1 Desember 1999 JANGKRIK GENGGONG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-43-2-desember-1999-terjaga.html"&gt;EHDB 43/ 2 Desember 1999 TERJAGA&lt;/a&gt; &lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-9-29-oktober-1999-terpanggil-mau.html"&gt;EHDB 9/ 29 Oktober 1999 TERPANGGIL, MAU, BATIN NYA...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-44-3-desember-1999-pendidikan-yang.html"&gt;EHDB 44/ 3 Desember 1999 PENDIDIKAN YANG MENGHIDUP...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-45-4-desember-1999-dia-dan-sungai.html"&gt;EHDB 45/ 4 Desember 1999 DIA DAN SUNGAI ITU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-46-5-desember-1999-ayam-ras-orang.html"&gt;EHDB 46/ 5 Desember 1999 AYAM RAS, ORANG RAS ? AYA...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-47-6-desember-1999-hantu-1.html"&gt;EHDB 47/ 6 Desember 1999 HANTU 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-48-7-desember-1999-hantu-2.html"&gt;EHDB 48/ 7 Desember 1999 HANTU 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-49-8-desember-1999-hantu-3.html"&gt;EHDB 49/ 8 Desember 1999 HANTU 3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-50-9-desember-1999-hantu-4.html"&gt;EHDB 50/ 9 Desember 1999 HANTU 4&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-51-10-desember-1999-seminarperan.html"&gt;EHDB 51/ 10 Desember 1999 SEMINAR"PERAN JURNALISTI...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-52-11-desember-1999-seminar.html"&gt;EHDB 52/ 11 Desember 1999 SEMINAR KLARIFIKASI ESAI...&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7812304492375137107?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7812304492375137107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7812304492375137107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7812304492375137107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7812304492375137107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/environmental-humanism-daily-bread.html' title='Environmental Humanism Daily Bread Milis Lingkungan'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2826873188060111896</id><published>2007-08-26T23:08:00.000-07:00</published><updated>2007-10-26T23:16:41.380-07:00</updated><title type='text'>Berita Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/konflik-lingkungan-dan-otonomi-daerah.html"&gt;Konflik Lingkungan dan Otonomi Daerah&lt;/a&gt; (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/paket-otonomi-daerah-dan-warisan-dampak.html"&gt;PAKET OTONOMI DAERAH DAN WARISAN DAMPAK LINGKUNGAN...&lt;/a&gt; (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/stop-judi-lingkungan-penyewaan-pulau.html"&gt;STOP JUDI LINGKUNGAN PENYEWAAN PULAU !&lt;/a&gt; (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/10/menutup-buku-pendidikan-orde-baru.html"&gt;Menutup Buku Pendidikan Orde Baru&lt;/a&gt; (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jawabankekacauan.blogspot.com/2007/06/jawaban-kekacauan_5855.html"&gt;Bercinta Mencegah Hutan Gundul&lt;/a&gt; (Puisi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2826873188060111896?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2826873188060111896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2826873188060111896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2826873188060111896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2826873188060111896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/kabar-bumi.html' title='Berita Bumi'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7735132584732556293</id><published>2007-08-26T23:05:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T23:06:47.362-07:00</updated><title type='text'>Konflik Lingkungan dan Otonomi Daerah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Otonomi daerah merupakan salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai masalah pemerintahan, kemasyarakatan, dan lingkungan. Namun otonomi daerah juga bisa menyebabkan konflik lingkungan. Untuk menjaga harmoni, keselarasan antara otonomi dan lingkungan, kita perlu konsekuen dalam berotonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan banyak kalangan tentang siap atau tidaknya daerah melaksanakan otonomi dalam waktu dekat, terjawab dengan meyakinkan bahwa otonomi daerah mutlak harus dilakukan dalam tempo sesingkat- singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Otonomi daerah harus segera dilakukan. Tak bisa ditunda lagi," kata peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Tri Ratnawati dengan tegas pada Seminar Sehari menggagas HAM, Keadilan Gender dan Otonomi Daerah dalam UUD 1945 yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan di Jakarta, 21 Maret 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri yakin otonomi daerah adalah jawaban tepat untuk mengatasi krisis disintengrasi yang sedang tumbuh marak. "Kita butuh sense of crisis!" tegasnya menjawab keraguan dan kegamangan peserta yang sebagian besar anggota Koalisi Perempuan seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan otonomi daerah yang benar, justru setiap krisis disintegrasi akan terjawab. Masalah Aceh, Papua, Ambon, dan Riau, semuanya membutuhkan sentuhan sense of crisis dengan pemberian otonomi lokal untuk mengelola diri dan lingkungan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun daerah belum sepenuhnya siap berotonomi, hal itu bisa dilakukan secara bertahap. Apapun bidang yang siap berotonomi, segera saja terapkan otonomi, tidak perlu menunggu tahun 2001. Bidang lain yang belum siap, silakan segera menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun pengelolaan daerah oleh masyarakat lokal adalah satu- satunya jawaban dari keterpurukan daerah akibat kekayaan dan kekuasaannya disedot oleh pemerintah pusat untuk dinikmati hanya segelintir orang selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, hampir tidak mungkin sistem sentralisasi diterapkan secara penuh oleh suatu negara. "Desentralisasi merupakan suatu keharusan," tegas Tri lebih lanjut. Desentralisasi alias otonomi daerah merupakan salah satu ciri negara modern. Salah satunya berupa pemerintahan lokal yang secara murni mempunyai karakteristik- karakteristik sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Unit-unit pemerintahan setempat bersifat otonom, mandiri, dan jelas-jelas sebagai unit pemerintahan bertingkat yang terpisah dari pusat. Pusat melakukan sedikit, atau tidak ada kontrol langsung oleh pusat terhadap unit-unit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemerintahan-pemerintahan setempat mempunyai batas-batas geografis yang jelas dan diakui secara hukum di mana mereka menggunakan kekuasaan dan menjalankan fungsi-fungsi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemerintah daerah mempunyai status dan kekuasaan mengamankan sumber-sumber untuk menjalankan fungsi-fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Implikasi otonomi daerah adalah kebutuhan mengembangkan pemerintahan lokal sebagai institusi, yang dilihat warga setempat sebagai organisasi yang memberikan pelayanan, dan sebagai unit pemerintahan yang mempunyai pengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dengan otonomi daerah berarti ada hubungan timbal balik, saling menguntungkan, dan hubungan yang terkoordinasikan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa otonomi daerah, pemerintah pusat akan sulit mengatur negara secara efektif. Persoalan yang dulu tidak pernah kelihatan, disintegrasi misalnya, sekarang muncul dan secara serentak terjadi di hampir semua daerah di Indonesia. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika pemerintah daerah punya otoritas yang cukup untuk mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memegang prinsip-prinsip itu secara harmonis, akan dapat menghindarkan bumerang dalam pelaksanaan otonomi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewaspadaan ini beralasan apalagi dasar hukum otonomi yang bertumpu pada UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (tidak disebut tentang Otonomi Daerah) dan UU No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antar Pusat dan Daerah, sangat penuh dengan kekurangan sehingga aplikasinya pun dicecar cuma sebagai otonomi setengah hati, otonomi semu atau pseudo otonomy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara langkah menuju otonomi yang bukan lagi otonomi setengah hati, tidak pula otonomi semu, ataupun pseudo otonomy, akan cukup makan waktu dan energi dalam prosesnya. Yang harus dilakukan saat ini di antaranya adalah sosialisasi hingga ke masyarakat paling bawah dengan tetap mengacu pada spirit otonomi yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Konflik Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewaspadaan akan menghindarkan kita pada konflik lingkungan yang maunya diselesaikan dengan menerapkan otonomi daerah, namun hasilnya malah kacau karena ngawur dalam memahami dan mengagungkan nilai otonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya kasus nelayan Pekalongan, Jawa Tengah, belum lama ini. Sejak muncul UU Nomor 22/1999 yang disebut-sebut orang tentang Otonomi Daerah, mereka tak boleh lagi menangkap ikan di perairan Kepulauan Masalembo. Apa pasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata wilayah itu dianggap bukan wilayah teritorial mereka. Saat kedapatan menangkap ikan di lokasi itu oleh masyarakat setempat, kapal mereka ditangkap dan digiring ke luar dari jarak empat jam pelayaran atau sekitar 32 mil laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber yang dihimpun penulis, para pakar mengatakan hal ini sebagai salah satu akibat dari belum pahamnya masyarakat terhadap pengertian otonomi daerah. Ditambah lagi dengan kelambatan pemerintah menyusun peraturan (PP) pelaksanaan UU Otonomi Daerah. Padahal, pemerintah daerah menuntut otonomi daerah segera dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para pakar itu, otonomi di laut bukannya mengkapling-kapling laut, namun kewenangan pengelolaannya diserahkan kepada daerah. Kalau terjadi pencemaran di laut dalam radius 12 mil, siapa yang bertanggung jawab? Sama halnya kewenangan mengelola hutan yang dapat diberikan kepada daerah. Namun kalau terjadi kebakaran hutan, siapapun bertanggung jawab sekalipun tak punya kewenangan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, titik berat otonomi tidak hanya terletak pada kewenangan mengambil keuntungan tetapi juga berarti tanggung jawab. Apalagi problem lingkungan akan selalu terkait, tak bisa dibatasi oleh berbagai dimensi. Entah itu masalah lingkungan global, regional, maupun lokal. Penanggung jawab di wilayah otonomi akan berperan sebagai fasilitator atas wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus-kasus perompakan, pencemaran, penangkapan ikan dengan pukat harimau, daerah harus ikut bertanggung jawab. Tak bisa pula pusat memberi ijin penangkapan seluruh jenis ikan tanpa mendengar seruan daerah yang menolaknya. Misalnya ketika seluruh biota laut di daerah itu sedang menghadapi ancaman, kepunahan di antaranya.&lt;br /&gt;Hal itu tak bisa lagi dibiarkan berlarut-larut seperti yang terjadi selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya untuk izin penangkapan ikan tidak ada sama sekali kewenangan daerah. Hal itu tak bisa lagi terjadi ketika lingkungan hidup daerah hancur, penduduk lokal hanya gigit jari tidak bisa melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, salah satu upaya mengatasi konflik yang dilakukan Pemda Jatim dan Bali di Selat Bali dengan melalui surat keputusan bersama (SKB). Jadi, regulasi dan deregulasi bidang kelautan dan perikanan sangat dibutuhkan untuk mencegah konflik, tidak hanya pengkaplingan wilayah perairan hanya berdasarkan ketentuan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat potensi konflik pengelolaan lingkungan sangat besar sejalan dengan diberlakukanya otonomi daerah, sangat wajar kita peduli terhadap konsekuensi-kosekuensi yang mesti kita turuti untuk mewujudkan otonomi daerah secepatnya. Tak bisa ditawar lagi. Otonomi sangat perlu, dan konsekuen menghindari peluang penyelewengannya juga sangat perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi Otonomi Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi-konsekuensi yang mesti kita hadapi dalam menerapkan otonomi daerah ini, penulis himpun dari berbagai pendapat para pengamat, ahli dan pakar dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa menambahkan daftar konsekuensi itu sepanjang-panjangnya sesuai dengan pengetahuan yang Anda miliki untuk selalu mengingatkan kita. Agar kita selalu konsekuen, konsekuen, dan konsekuen. Bahkan dalam rancangan terbaik kita sekalipun (dalam hal ini rancangan otonomi daerah). Supaya konflik lingkungan benar-benar teratasi tanpa menimbulkan konflik tandingan ataupun konflik lanjutan dalam pengelolaan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah dilaksanakan serius, dalam waktu singkat wajah pemerintah pusat akan lebih ramping. Di sini perlu pengembangan organisasi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realokasi personil tidak terhindarkan, dan akan ada kompetisi pegawai yang ada di daerah untuk menduduki jabatan-jabatan dengan pola karir rasional. Semua membutuhkan alokasi sumberdaya manusia (SDM) yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, diperlukan standarisasi nasional penerimaan pegawai negeri sipil yang seleksinya tidak harus oleh pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski UU No 22/1999 menyebut otonomi berada di kabupaten, ada klausul kewenangan dapat berada di propinsi jika kabupaten yang dimaksud belum mempunyai infrastruktur yang memadai. Sejumlah masalah yang menyangkut sistem, sikap mental aparat, dan ketidakmampuan mengelola dan menyebarkan anggaran secara tepat ke sektor-sektor yang membutuhkan, dikhawatirkan bakal menghadang pelaksanaan desentralisasi dan otonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan sikap mental berupa ketergantungan aparat terhadap pemerintah pusat, apa-apa harus menunggu petunjuk pelaksanaan kemudian petunjuk teknis (padahal sudah otonomi), sudah saatnya dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pendanaan dan infrastruktur organisasi muncul karena tak semua kewenangan yang diserahkan bisa menghasilkan uang. Maka pemerintah daerah dituntut kreatif menghasilkan pendapatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada problem perimbangan keuangan pusat dan daerahnya, daerah-daerah yang kaya dan mempunyai sumberdaya alam yang luar biasa banyak menghendaki pembagian keuangan yang lebih banyak untuk mereka sehingga mendapatkan tambahan dana cukup signifikan. Akibatnya daerah yang tidak memiliki sumberdaya alam khawatir akan mendapatkan subsidi yang lebih sedikit dari pusat karena uang yang diterima pusat pun berkurang akibat pembagian keuangan baru dengan daerah kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak luar negeri pun punya alasan sangat cemas dengan otonomi daerah. Jika uang banyak diserahkan ke daerah maka pemerintah tidak bisa bayar utang. Luar negeri mempersoalkan siapa yang menjamin utang- utang pemerintah nantinya bisa dibayar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu setiap mengeluarkan kewenangan untuk daerah, dibuat Peraturan Pemerintah-nya dengan spesifikasi sangat lengkap dan detail, sekarang hanya ada satu PP yang menyebutkan kewenangan apa yang ada di tangan Jakarta dan kewenangan apa yang ada di propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak tercantum di dalam PP itu secara otomatis merupakan kewenangan kabupaten atau kota. Kewenangan apa saja di tangan kabupaten atau kota tergantung kreativitas masing-masing kabupaten atau kota itu menjabarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas kepada kabupaten antara lain otoritas di bidang politik, administrasi pembangunan, pertanahan dan investasi. Otoritas di bidang lain masih menunggu pembahasan dengan departemen terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya otoritas seperti ini di tangan kabupaten atau kota diharapkan dapat mengembalikan harga diri daerah-daerah dan mereka juga dapat lebih kreatif lagi menawarkan apa yang dapat digali di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan terbesar adalah kemauan politik pemerintah pusat, terutama departemen-departemen yang menurut analisa kementerian otonomi daerah harus menyerahkan kewenangannya kepada daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah, pelaksanaan otonomi daerah dapat menciptakan raja-raja kecil dan memindahkan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dari pusat ke daerah, jika tidak ditempatkan dalam kerangka demokratisasi. Di sini pengamat otonomi daerah merekomendasikan harus ditumbuhkan kekuatan pengontrol seperti pers lokal yang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi dalam pengelolaan lingkungan, selalu berbenturan dengan nilai ekonomi yang selalu diagung-agungkan. Investasi peduli lingkungan sama halnya dengan pendidikan (dan kesehatan) merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya tidak bisa dilihat dalam satu-dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironinya sering pejabat berpikir ia hanya menjabat sampai lima tahun, sehingga dana disalurkan untuk pembangunan yang bisa segera dinikmati hasilnya. Akibatnya, anggaran lebih banyak disalurkan untuk kegiatan ekonomi seperti jalan atau bangunan yang wujudnya bisa segera dilihat daripada menjaga keseimbangannya dengan pengelolaan lingkungan yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi masyarakat, semua bisa saja terjadi. Ini akibat tidak ada pemahaman pada masyarakat, serta kelambatan penyusunan peraturan pemerintah tentang Undang-undang Otonomi Daerah. Akibatnya kini mulai muncul benih-benih disintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini diperburuk dengan tuntutan pemerintah daerah agar segera diberlakukannya otonomi daerah, tanpa upaya sosialisasi sampai ke tingkat bawah sehingga muncul konflik lingkungan seperti dialami nelayan Pekalongan tadi (Yonathan Rahardjo/Berita Bumi/KONPHALINDO) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7735132584732556293?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7735132584732556293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7735132584732556293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7735132584732556293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7735132584732556293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/konflik-lingkungan-dan-otonomi-daerah.html' title='Konflik Lingkungan dan Otonomi Daerah'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-6162249273499754208</id><published>2007-08-26T23:04:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T23:05:37.680-07:00</updated><title type='text'>PAKET OTONOMI DAERAH DAN WARISAN DAMPAK LINGKUNGAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekalipun UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 bukan paket otonomi daerah dalam arti sesungguhnya, kita tak perlu patah arang. Sebab di sisi lain ia memberi harapan pengelolaan lingkungan lebih baik, walaupun masih juga ada tantangan di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manis di mulut, pahit di perut. Itulah efek paket otonomi daerah pada pengelolaan lingkungan. Anda suka? Berarti Anda suka tantangan. Paket ini bernama samaran Paket Desentralisasi. Isinya adalah UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dan UU No.25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.&lt;br /&gt;Sebenarnya sekalipun kedua UU tadi dilabeli orang secara informal sebagai Paket&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi Daerah, tetap saja bukan UU Otonomi Daerah. Namanya saja UU Pemerintahan Daerah dan UU Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah. Bahkan di situ definisi mengenai otonomi saja tidak ada. Namun lebih mengatur departemen-departemen teknis yang menyerahkan urusan-urusannya ke daerah, melalui suatu macam peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi yang sesungguhnya adalah semacam peningkatan kapasitas daerah, karena daerah lebih mampu, lebih menguasai dan mengetahui kondisi daerahnya. Daerah secara formil mempunyai hak untuk mengatur hal-hal yang bisa dia atur sesuai karakteristiknya sendiri-sendiri. Dan, kewenangan ini belum tergambar jelas pada kedua UU ini.&lt;br /&gt;Akibatnya, departemen-departemen dalam kabinet masih saja mengikuti cara-cata UU No. 5 Tahun 1974. Mereka membuat peraturan-peraturan yang semuanya memberikan pembagian tugas ini untuk pusat, ini propinsi, ini kabupaten. Dan ini diberlakukan untuk seluruh wilayah, padahal wilayah yang satu dengan yang lain tidaklah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, kita tak boleh patah arang dengan kenyataan yang ada. Sementara rekan yang dalam jalur ini menyuarakan koreksi- koreksinya, minimal itu langkah awal yang cukup memberi peluang bagi prospek pengembangan otonomi kita. Sekalipun kedua UU merupakan produk ketergesa-gesaan para penguasa kita yang kebakaran jenggot karena tuntutan reformasi. Sekalipun pula, merupakan perundangan prematur yang kurang penelitian komprehensif, sebab berdasar perintah Tap MPR No. XIV Tahun 1998, yang mesti dibuat adalah UU Otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak kandung reformasi, kedua UU cukup mendekatkan kedaulatan kembali ke tangan rakyat. Juga menyerahkan kewenangan dan keuangan yang lebih besar kepada lapisan pemerintah di bawah, yaitu daerah otonom propinsi dan kabupaten. Prakarsa harus dari bawah, mengutamakan kepentingan dan aspirasi masyarakat. Juga merubah hubungan kelembagaan penyelenggaraan pemerintahan antara eksekutif (pemerintah) dengan legislatif (DPRD). Serta hubungan keduanya dengan masyarakat (rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang-bidang pemerintah yang wajib dilaksanakan oleh daerah otonom menurut UU 22/1999 adalah pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi dan tenaga kerja. Daerah mendapat peluang mengelola aset nasional yang ada di daerahnya, sekaligus berkewajiban mengelola lingkungan hidupnya.&lt;br /&gt;Di sini terasa, `otonomi daerah' sangat manis untuk diterima, karena membuat kekuasaan dan kewenangan setiap daerah semakin kuat untuk menentukan segenap sendi kehidupan secara lebih baik. Namun keburu pongah dengan besarnya kewenangan menentukan nasib sendiri justru akan melupakan begitu banyak beban yang mesti ditanggung. Apalagi bila menyinggung masalah lingkungan hidup yang selalu terintegrasi, bersangkut paut dan tak akan mungkin bisa dipisahkan dengan semua problem di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah manapun Anda tinggal, Anda dapat menilai kondisi segala aspek yang muncul. Tentu saja daerah Anda sangat spesifik, tidak mungkin dan tidak akan pernah apa yang terjadi di daerah Anda sama dengan daerah-daerah lain. Namun setidaknya ini memberi gambaran apa saja yang bisa terjadi di daerah-daerah kita. Penggunaan istilah sektornya, menggunakan istilah peninggalan kabinet terdahulu sebelum sebagian dipangkas oleh Presiden Gus Dur dengan kabinet ala dia. Sektor-sektor itu adalah:&lt;br /&gt;Pekerjaan umum. Daerah perkotaan butuh jalan-jalan yang tepat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, drainase untuk mengatasi banjir, juga menangani kawasan kumuh. Daerah pedesaan dan terpencil justru penuh jalan belepotan karena masih berupa tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan. Daerah butuh meningkatkan pelayanan kesehatan dengan mengelola fasilitas yang ada secara mandiri (tanpa subsidi pemerintah pusat) apalagi permintaan layanan kesehatan meningkat tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dan kebudayaan. Daerah butuh mengembangkan kelembagaan pendidikan, sarana, dan prasarana bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian. Daerah perkotaan butuh mengembangkan pertanian kota dan kawasan terbuka hijau (urban farming) karena semakin langkanya lahan, memulihkan produktivitas perikanan dan hasil laut yang tidak tercemar dan tersedimentasi. Daerah pedesaan yang identik dengan lahan pertanian justru meringis karena lahan terdesak pembangunan real estat dan proyek pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhubungan. Daerah butuh menyediakan fasilitas perhubungan darat, laut dan udara kewajiban karena luas fungsi regional, nasional, dan internasional.&lt;br /&gt;Industri dan perdagangan. Daerah butuh menguasai teknologi dan pengelolaan dampak negatif tingkungan hidup, mengembangkan perilaku pihak swasta dan masyarakat lebih positif terhadap pengelolaan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman modal. Daerah butuh investor mau berusaha selama krisis dan politik keamanan, pengusaha punya komitmen terhadap pengelolaan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanahan. Daerah butuh pembangunan perumahan secara vertikal untuk membatasi pembangunan secara horisontal. Juga butuh menyelesaikan konflik penguasaan dan pemilikan tanah sampai tuntas. Tidak hanya cuma belum putus (belum diputuskan oleh lembaga peradilan), sudah putus tetapi belum dipatuhi, atau putus tetapi belum adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi. Daerah butuh citra baik koperasi sehingga masyarakat percaya, cukup modal dengan sistem perbankan yang selalu kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga kerja. Daerah butuh tidak ada pengangguran terutama saat krisis, dan bisa mengatasi masalah urbanisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk harapan yang selalu bersangkut dengan LH, selalu dikaitkan secara langsung dengan menteri negara LH, daerah membutuhkan : 1. Sungai yang melintas kota (daerah) bebas percemaran, 2. Limbah industri tertangani dengan baik, pengusaha pun taat, 3. Limbah padat domestik tidak berceceran tanpa dikelola, 4. Pantai bebas pencemaran, hutan mangrove tidak meranggas habis, 5. Udara bersih dari pencemaran di berbagai titik padat lalu lintas, 6. Hutan serta sumber daya alamnya tidak dibabat dan dikeruk seenaknya, 7. Meladeni keluhan (protes) yang sejak dulu disampaikan masyarakat, 8. Kelembagaan dan organisasi memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua kebutuhan daerah itu merupakan warisan yang sudah tertata baik dan beres untuk dilanjutkan? Dan bukan malah merupakan masalah lingkungan yang tak kunjung kapan berakhir problemanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya semua negatif, bikin perut mulas. Betapa pahitnya masalah lingkungan warisan bagi otonomi daerah. Kalau daerah belum siap dengan kondisi otonomi, bisa malah runyam. Seperti Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah yang justru telah melepaskan Taman Nasional Tanjung Puting, hingga TNTP hanya tinggal kenangan menyisakan segelintir orang utan kurus menangis di sela hutan dan Sungai Sekonyer yang tak karuan rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa begitu? Bukankah selalu ada perkembangan perundangan pengelolaan lingkungan? Bahkan dalam 15 tahun terakhir ada perbaikan tentang pengelolaan LH, UU 23/1997 mengganti UU 14/1982. Tentang pengendalian dampak lingkungan, PP 51/1993 mengganti PP 29/1986 diperbarui dengan PP No.51 Tahun 1993. Banyak pihak mengakui semua karena kelemahan undang-undang itu sendiri, juga kelemahan perangkat pendukung pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kata, pemerintah daerah mendapat warisan sistem hukum lingkungan tak memadai menjamin tindakan tegas atas berbagai pelanggaran. Warisan industri dengan perilaku industriwan yang buruk terhadap lingkungan karena KKN bersumbu otoritas melecehkan Pemda. Warisan industri, usaha lain, tak cukup mampu membiayai operasionalnya, apalagi untuk mengelola dampak operasional. Dan, warisan akumulasi dampak negatif tak tertangani karena minimnya wewenang, sumberdaya, manusia, teknologi, dan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan partner legistatif yang kurang bermutu karena lahir bersamaan dengan munculnya partai politik, tapi berkewenangan lebih besar. Warisan akumulasi krisis kepercayaan rakyat yang semakin sadar dengan demokratisasi. Warisan kelembagaan pemerintah yang tambun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat saja berkilah semua karena ulah pemerintahan yang tlah berlalu. Daerah tak mempunyai wewenang menentukan kebijakan dan mengambil keputusan, sehingga keputusan jadi tak demokratis alias sentralistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun manakala demokratisasi dan otonomi luas telah diberikan, bisa saja warisan itu malah tetap kita pelihara. Dan justru kita lanjut- wariskan pada generasi berikutnya. Akankah kita akan tetap berkilah bin berkelit? Masyarakat tentu tak akan memberi ampun lagi manakala kita mencari alasan apa lagi untuk menghindari kewajiban melayani, menanggapi keluhan dan menyelesaikan problem lingkungan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kini semua ada di genggaman tangan sendiri, tiada campur tangan pemerintah pusat, meminjam istilah Gus Dur pemerintah pusat hanya memfasilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tertantang? Tambahkan deret resep Anda dalam menyambut otonomi daerah dalam pengelolaan LH. Apapun bidang Anda, akan sangat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda aparat pemerintah, peran dan tugas Anda di sini cukup menonjol. Karena berbicara otonomi daerah, selalu terkait dengan pemerintah itu sendiri. Setidaknya peran dan tugas Anda adalah membina kualitas lingkungan hidup. Caranya dengan menyiapkan peran serta masyarakat dalam memantapkan dan memfungsikan kelembagaan di masyarakat dalam program pengelolaan lingkungan di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah membina pemerintah kecamatan. Pemerintah kecamatan mampu membina pemerintah kelurahan/desa. Peran camat membina instansi, kader-kader teknis pembangunan khusus peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup di wilayahnya. Para aparatnya berperan sebagai pengarah masyarakat dalam usaha menanamkan pengertian terhadap kesadaran dan cinta lingkungan hidup. Lantas, pamong meningkatkan kesadaran dan cinta serta kemampuan masyarakat untuk aktif dalam kelompok-kelompok sadar lingkungan. Serta, penyuluh dan penggerak masyarakat yang selalu membimbing dan memotivasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta masyarakat menjangkau lapisan masyarakat lebih luas. Informasi lingkungan hidup sangat penting agar pengetahuan dan kesadaran masyarakat meningkat. Kelembagaan partisipasi masyarakat dimampukan untuk tujuan itu. Lantas dasar utama dari semua pergerakan cinta lingkungan itu dimulai dari komponen lingkungan yang paling kecil dan dekat, yaitu individu kita masing-masing.(Yonathan Rahardjo/Berita Bumi/KONPHALINDO)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-6162249273499754208?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/6162249273499754208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=6162249273499754208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6162249273499754208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6162249273499754208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/paket-otonomi-daerah-dan-warisan-dampak.html' title='PAKET OTONOMI DAERAH DAN WARISAN DAMPAK LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4752507786833733519</id><published>2007-08-26T23:02:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T23:03:32.819-07:00</updated><title type='text'>EHDB 9/ 29 Oktober 1999 TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pencarian seseorang untuk benar-benar mengabdi pada lingkungan harus bergabung pada LSM yang notabene dunia PUTIH yang langsung berfungsi sebagai PENJAGA NORMA tidak menjamin seseorang terbebas dari hitam. Sudah banyak dicontohkan oleh perilaku LSM kita yang penuh rona dan noda. SUDAH KETEMU JAWABNYA!!!! Semua tempat tak menjamin seseorang menjadi hitam atau putih, semua tergantung pada orang itu sendiri... tergantung pada si empunya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekalipun demikian.. seberapa jauhkan ketahanan diri kita, diri si manusia dalam suatu tempat yang mengungkung dan mengebiri idealisme, untuk bisa tetap mewujudkan diri yang penuh dengan idealisme sehingga bisa berekspresi total untuk suatu sikap sayang lingkungan? Bukankah kalau bergabung dengan ruang yang memberi peluang menjadi putih jauh lebih baik, daripada di dalam ruang untuk menjadi hitam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi PROBLEMA adalah KECENDERUNGAN dan KEPUASAN BATIN. Apalagi bagi seseorang yang lebih mengedepankan tertunduknya jiwa pada Sang Hyang Gusti dalam segenap tindak-tanduk dan kehidupan segalanya... lebih mengutamakan ketenangan jiwa dalam menjalani perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bisa saja pernah bekerja di suatu pabrik yang sudah dicap oleh dirinya sendiri sebagai perusak lingkungan... dan ia tidak nyaman batinnya di situ.. karena menurutnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah ataupun mengendalikan dan menyeimbangkan semua yang terjadi UNTUK LINGKUNGAN HARMONIS..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lantas mencari kepuasan batin, mungkin dengan belajar berlingkungan di Perguruan Tinggi yang menawarkan progam-program lingkungan, mungkin lebih tenang dan pas jiwa Manusia di sini! Maka tawaran Bapedal dan Lembaga Ekowisata sangat menarik hati nya...Atau bahkan... ia malah bertanya.. Bagaimana bila bergabung dalam dunia LSM/NGO saja? Yang sudah jelas-jelas masuk stake holder katagori penjaga norma? Yang lingkungannya jelas-jelas lebih memberi peluang menjadi orang putih? ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau tetap di bisnis? Bagaimanapun BISNIS it's Oke,... Masalahnya, apakah hati nurani kita cukup kuat untuk selalu menyaksikan dengan mata kepala sendiri penelanjangan norma-norma? pemerkosaan hak-hak? Pengkulitan warna-warni kasih alami? Cukup tegarkah jiwa? Bisa nyamankan sukma saat melihat hancurnya nuansa cinta manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air dan udara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masalah panggilan,... Artinya apakah kita merasa cukup melakukan terbaik bagi Tuhan kita, Alam kita, Lingkungan kita, dan Sesama kita dalam posisi kita di dunia bisnis, atau dunia yang bukan bisnis? Di manakah kita merasa dapat memberikan yang terbaik untuk pilihan dalam hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ada konsekuensinya. Kalau memilih bisnis, tentu semakin banyak keuangan bisa dipenuhi untuk bisa melakukan banyak hal minimal lewat orang lain. Sang bisnisman cukup menyalurkan perhatiannya. Konsekuensinya, rasa untuk langsung mengabdi pada IDEALISME, berbuat baik kepada sesama dan lingkungan menjadi berkurang. Karena memang tidak tergarap langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Kita bisa merasa nyaman jika dalam mencari duit dalam bisnis Kita berkata, "Mencari duit itu Ibadah, saya cukup puas bila dapat menyalurkan hasil kerja keras ini pada teman-teman dan sesama yang&lt;br /&gt;membutuhkan." Maka Kita akan menggenjot diri dan waktukita untuk mencari Al Rupiah atau El Dollar. Sementara untuk mengisi kekosongan jiwa dalam berkemanusiaan, kita akan menyisihkan sebagian waktu kita dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi dan berkemanusiaan, termasuk peduli lingkungan, seperti yang dilakukan Yayasan-Yayasan yang didirikan oleh orang-orang sibuk. Yayasan Sahabat Aqua miliknya orang Aqua, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakmun cukupkah itu bagi kita? Ataukah jiwa kita sungguh terpanggil untuk menyerahkan sepenuhnya diri kita dalam lingkaran kasihnya dan berkonsentrasi total dalam kemanusiaan dan sayang lingkungan? SEBAGAI ORANG LINGKUNGAN, di sini Kita lebih memerankan diri sebagai penjaga norma... Kita akan merasa puas karena sudah menyalurkan energi kita begitu luar biasa untuk peran panggilan kita ini. Kita akan laksana seorang Biku, Biksu, Rahib, Sufi, bahkan Budha atau manusia Yesus, yang sudah rela menanggalkan semua gemerlapan keindahan dunia hanya untuk menyerahkan diri pada Hyang Gusti dalam bidang kemanusiaan dan lingkungan. Nuansa itu sangat indah tak terkatakan bagi kita. Karena hari-hari kita akan kita isi dengan penyembahan-pemujaan- yang religius dan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya (bisa jadi) Kita akan merasa kekurangan uang (Walau itu tak mesti). Sebetulnya waktu yang bagi kita bisa dipakai untuk mencari uang menjadi semakin berkurang hanya untuk memperhatikan orang-orang lain. Penyesalan akan terjadi bila Kita kita lalai memikirkan sebetulnya saya ingin ini ingin itu, tapi sayang tidak bisa beli karena tidak punya duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa saja terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah Kita akan memilih sebagai seorang yang BERDIRI DI DUA SISI? Itu bisa terjadi. Sekitar tergantung ketrampilan kita dalam Memanaje, Mengelola, Memanfaatkan sekitar sumber daya yang ada. Tinggal mengatur komponen-komponen yang diperlukan! Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Pendukung! Di sini kita akan lebih menjadi seorang TOP MANAJER, yang mengelola sekitarnya dari balik layar. Yang membiarkan makhluk-makhluk lain menjalankan aksi-aksi yang terstrategikan dalam Konsep Besar kita. Di sini dibutuhkan kerelaan untuk tidak melakukan semuanya sendiri,.. merelakan orang lain mengerjakan hal-hal yang sebetulnya menjadi kesukaan kita untuk kita lakukan sendiri... Ini kalau kita mau melakukan kedua bidang ini dengan sempurna dalam keterbatasan waktu, ruang dan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin kalau semua pekerjaan bisa dikerjakan dalam waktu yang sama. Jadi harus ada pengalokasian waktu, BETUL KATA KITA! Pertimbangan lain, apakah Kita sudah punya orang-orang yang bisa menjalankan konsep kita? Kalau dua hal ini sudah kita punya... SEMUA JALAN!! Waktu, dan Tenaga. Bahkan kalaupun bisa mengembangkan 1000 lembaga, itu pun tak mustahil... (Semoga bukan asal omong)... Konsep kita, kini, yang ditantang! KEMAMPUAN kita akan diuji dan ditelanjangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah kita menjadi pemilik, yang selain bekerja, juga berpikir, dan merasa memiliki? Atau cukup jadi Manager, yang bekerja dan berpikir? Atau cuma menjadi Pekerja, yang hanya bekerja saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terjawab sudah, kata-kata kuncinya : TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4752507786833733519?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4752507786833733519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4752507786833733519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4752507786833733519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4752507786833733519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-9-29-oktober-1999-terpanggil-mau.html' title='EHDB 9/ 29 Oktober 1999 TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8832027068905365426</id><published>2007-08-26T22:50:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:50:45.530-07:00</updated><title type='text'>EHDB 52/ 11 Desember 1999 SEMINAR KLARIFIKASI ESAI</title><content type='html'>Esai pada prinsipnya ilah bagian dari prosa berupa&lt;br /&gt;pembahasan terhadap suatu masalah secara sepintas lalu berdasar&lt;br /&gt;pendapat pribadi penulis/pengarangnya.&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari pendapat pribadi/opini pengarang,&lt;br /&gt;maka tentu saja suatu Esai akan sangat berbobot bila Orisinilitas&lt;br /&gt;dikedepankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseusateraan Indonesia kita mengenal nama-nama&lt;br /&gt;penulis Esai (Esaiis) handal semacam Gunawan Mohammad,&lt;br /&gt;Arief Budiman, Wiratmo Sukito, Subagio Sastrowardoyo,&lt;br /&gt;Darmanto Jatman, Abdul Hadi W.M., Ajip Rosjidi, M.S. Hutagalung,&lt;br /&gt;dan konco-konconya. Tentu saja, di samping Paus Sastra Indonesia,&lt;br /&gt;H.B. Jassin, yang juga penulis Esai yang tercemerlang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari para pendekar Esai,&lt;br /&gt;kita pun bisa menulis Esai dengan bertolak dari suatu&lt;br /&gt;pertanyaan kemudian mengerahkan segala kemampuan masing-masing&lt;br /&gt;dalam menguraikan jawabannya, dengan gaya penulisan yang&lt;br /&gt;menarik sesuai kepribadian masing-masing.&lt;br /&gt;Itulah yang dipakai para pendekar itu.&lt;br /&gt;Tak lari dari kepribadian sendiri!&lt;br /&gt;BE YOUR SELF, so Kenali Diri Sendiri, kata Socrates. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Jassin muncul dengan gayanya yang ces pleng,&lt;br /&gt;Darmanto dengan gaya bikin pening orang awam,&lt;br /&gt;Wiratmo dengan gaya filsufnya,&lt;br /&gt;Subagio dengan gaya penyairnya.&lt;br /&gt;Andapun dapat muncul dengan gaya Anda,&lt;br /&gt;khas Anda, milik Anda sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakan sendiri gaya Anda, jangan meniru orang lain,&lt;br /&gt;kendati sah-sah saja ada pengaruhnya bagi Anda juga.&lt;br /&gt;Tapi biarkan semua pengaruh itu justru  membantu Anda&lt;br /&gt;untuk menemukan jati diri Anda sendiri,&lt;br /&gt;dalam menulis Esai, yang jadi ciri khas Anda.&lt;br /&gt;Sehingga satu kali orang membaca guratan pena Anda,&lt;br /&gt;maka akan segera dikenali, oo itu tulisannya Bejo!&lt;br /&gt;Seperti sekali menikmati lukisan seseorang,&lt;br /&gt;karena goresan kuasnya begitu kental, ekspresif! dan tegas,&lt;br /&gt;orang segera mengenali itu adalah lukisan Affandi,&lt;br /&gt;membedakan dengan Basuki Abdullah, ataupun D. Sudjojono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemilahannya, Esai dapat diklasifikasikan menjadi dua :&lt;br /&gt;yang obyektif, dan subyektif.&lt;br /&gt;Yang OBYEKTIF sering diberi predikat "Sebuah Studi".&lt;br /&gt;Yang SUBYEKTIF sering disebut sebagai "Sebuah Esai kecil".&lt;br /&gt;Ambil contoh berangkat dari pertanyaan&lt;br /&gt;Apakah Keanekaragaman Hayati itu?&lt;br /&gt;Orang pun dapat menguraikannya dalam sebuah buku tebal&lt;br /&gt;kayak bantal. Sebuah studi.&lt;br /&gt;Dan seorang penyair pun dapat menguraikannya&lt;br /&gt;menurut seleranya sendiri. Subyektif!&lt;br /&gt;Maka orang lain akan dapat memetik manfaat,&lt;br /&gt;mereka mempunyai kesempatan mengenal pola&lt;br /&gt;pikir sang penyair bersangkutan.&lt;br /&gt;Dan hal ini akan sangat bermanfaat dalam peluluhan diri&lt;br /&gt;manakala menikmati sajak-sajak gubahan sang penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hati-hati. Sebuah tulisan baru dapat disebut sebagai Esai&lt;br /&gt;bila karangan itu tidak ditulis secara acak-acakan, gaya bahasa&lt;br /&gt;dan cara pengungkapannya memikat hati.&lt;br /&gt;Jelas, sekalipun itu unek-unek Anda sendiri,&lt;br /&gt;100 persen murni pendapat Anda sendiri, murni 24 karat…&lt;br /&gt;jangan lantas menepuk dada, aku sudah mencipta Esai.&lt;br /&gt;Kita kan nggak mau amburadul kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, materi sebuah  Esai bukan cuma persoalan sastra melulu.&lt;br /&gt;Namun ini lebih berarti bahwa kita dapat mengangkat&lt;br /&gt;apapun menjadi bahan Esai, seni yang lainnya,&lt;br /&gt;politik, atau sejarah, atau religi, filsafat, dan sebagainya,&lt;br /&gt;bahkan masalah esai itu sendiri bisa digarap,&lt;br /&gt;seperti yang ditulis Arif Budiman dalam "Esai tentang Esai"&lt;br /&gt;di Majalah Horison.&lt;br /&gt;Dan kini? Kita ber-Esai Ria tentang Kenakeragaman Hayati!&lt;br /&gt;Tentu saja Anda harus menjadi diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;Yang berlatar belakang hukum, mengapa tidak menulis&lt;br /&gt;kecintaan terhadap Keragaman Hayati bernuansa Hukum?&lt;br /&gt;Yang berlatar belakang ekonomi pun demikian,&lt;br /&gt;antropologi, sosial, dan lain-lain, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, Esai Anda yang masih dalam kerangka&lt;br /&gt;jurnalistik lingkungan, tetaplah berangkat dengan pola&lt;br /&gt;REALISTIS, dan IDEALIS.&lt;br /&gt;Beri masalah, namun jangan benamkan pembaca pada&lt;br /&gt;MASALAH lantas tak bisa bangun dan berbuat nyata&lt;br /&gt;bagi kehidupan dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Beri SOLUSI. Itulah yang menghidupkan,&lt;br /&gt;dan pembaca Anda akan begitu bersemangat untuk&lt;br /&gt;menjadi pecinta-pecinta lingkungan, pecinta-pecinta&lt;br /&gt;keanekaragaman hayati sejati.&lt;br /&gt;Termasuk Anda sendiri. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo/dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8832027068905365426?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8832027068905365426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8832027068905365426' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8832027068905365426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8832027068905365426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-52-11-desember-1999-seminar.html' title='EHDB 52/ 11 Desember 1999 SEMINAR KLARIFIKASI ESAI'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2921509472209808432</id><published>2007-08-26T22:49:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T22:50:04.495-07:00</updated><title type='text'>EHDB 51/ 10 Desember 1999 SEMINAR"PERAN JURNALISTIK LINGKUNGAN DALAM USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI"</title><content type='html'>Sebagai LSM yang bergerak di bidang Jurnalistik Lingkungan Aplikatif, HARMONI LINGKUNGAN diundang oleh KSB-HIMABIO (Kelompok Studi Biologi Mahasiswa Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang, bekerjasama dengan Yayasan KEHATI untuk memberi materi bertema di atas dalam LOMBA MENULIS ESAI TINGKAT PERGURUAN TINGGI SE-JATIM 5-6-7 Desember 1999, di PPLH Seloliman Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Berikut cuplikan materi SEMINAR"PERAN JURNALISTIK LINGKUNGAN DALAM USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI"yang disampaikan oleh Yonathan Rahardjo, dari HARMONI LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Tulis yang anda lakukan , lakukan yang anda tulis.' Itulah upaya insan jurnalistik lingkungan untuk membuat tulisan yang bermanfaat bagi pembaca dan diri sendiri. Ini mengilhami dan diilhami jargon ISO seri 9000 dalam mewujudkan kecintaan kita pada lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak tulisan mengenai lingkungan di berbagai media massa. Namun coba rasakan, apa pengaruhnya itu bagi perilaku kita? Adakah perubahan perilaku kita lebih cinta pada lingkungan hanya dengan membaca berita-berita yang menjamur itu? Belum tentu. Mengapa? Karena kebanyakan tulisan itu hanya sekedar informasi, lantas basi. Tidak menggugah pembaca. Tidak ada provokasi, tidak menggigit, tidak mendorong kita untuk berubah. Kurang satu sentuhan yang membuat kita setelah membaca tulisan itu ada kemauan untuk melakukan sesuatu pada lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akui dari berbagai tulisan itu lebih banyak pada pemberian ilmu pengetahuan, ketrampilan, cukup. Namun kurang menyentuh perasaan dan niatan kita, hingga setidaknya setelah membaca tulisan itu langsung mau menyetop penggunaan gas freon dalam AC-nya, parfumnya, menghentikan memakai tissue dan diganti sapu tangan kain, dan tidak memakai premium timbal lagi. Maklum, peran wartawan lebih bertumpu cukup cuma mewartakan sesuatu dan membuat orang tertarik untuk membaca, dan sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan sering tidak terbebani dengan perubahan yang diinginkan untuk dilakukan oleh dirinya sendiri, apalagi orang lain. Bagi wartawan, karena sering dikejar untuk menulis hal baru lagi, tiada sempatlah ia melakukan di dunia sehari-hari apa yang justru ditulisnya.Kalaupun si wartawan tak punya waktu dan tenaga untuk melakukan sendiri, tentu peran melakukan di keseharian dari tulisan itu kini mestinya digantikan oleh pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk mendorong pembaca melakukan, mau tak mau tulisannya harus menggigit! Dan menyentuh! Dan mendorong! Kalau pembaca tergerak, yakinlah dengan sendirinya si penulis/wartawan itu sendiri juga akan tergerak. Sebab, dengan menulis kita bisa merubah orang lain, juga mengubah diri sendiri. Karena menulis adalah ekspresi diri si penulis. Untuk melakukannya dia sudah menggunakan energi terbesar dalam tubuhnya, untuk berpikir dengan otak kanannya,mengeluarkan segenap pengetahuannya, menyuruh sistem sarafnya menggerakkan jari-jari dan tangannya, menulis, menekan tuts-tuts keyboard komputer, tentu saja juga membaca dengan mata kepala sendiri setiap goresan pena, dan setiap huruf yang nongol di monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi yang dipakai itu akan menjadi pendorong perubahan pada diri si penulis, yang menghasilkan tulisan yang akan mendorong si pembaca untuk berubah. Bahkan untuk suatu yang disebut sebagai KEANEKARAGAMAN HAYATI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kiatnya? Agar penulisan lingkungan itu bisa merubah perilaku? Bagaimana agar tulisan keanekaragaman hayati itu mendorong orang berubah untuk lebih sadar dan cinta segenap aneka ragam hayati Indonesia yang begitu berjibun namun seolah sedang menuju liang kubur karena tidak banyak yang mempedulikannya lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REALISTIS, tulisan tidak muluk-muluk.Itu lebih mudah diterima pembaca karena dengan sendirinya dia lebih tahu persoalan yang sedang dihadapi. Bandingkan dua model ini. Anda menulis tentang Anda yang menanam tunas cabe dengan sentuhan lembut tangan Anda sendiri. Suatu pengalaman nyata. Bandingkan dengan seorang menanam pohon Americana gigantica squoia yang bila sudah besar akan bergaris tengah meteran. Orang sangat jarang melihatnya, hanya bisa membayangkan di belantara impian. Ternyata kita lebih mudah menerima gambaran yang pertama. Itulah Realistis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDEALIS, penuh dengan ide-ide segar dan bagus, yang mungkin baru sekalipun, tapi menyelamatkan lingkungan. Uraikan misalnya untuk mengatasi problem sampah yang berserakan di sepanjang kota kenangan namun kumuh Sunda Kelapa, Anda mengajak para penduduk di sepanjang daerah itu membersihkansampah di jalan-jalan itu, sambil memisahkan sampah menjadi plastik, kertas, ataupun yang mudah didaur ulang, juga mengapur kembali pagar-pagar tua, gedung-gedung tua dan dicat warna baru bahkan pada gedung ditulisiVOC bukan Kompeninya Belanda tapi Very Old Café, berkesan jaman dulu. Rasakan! Ada ide besar di situ. Ide itu memberi solusi adanya problem sampah. Sekaligus memberi angin segar pemukiman bahkan justru bisa dimanfaatkan sebagai obyek ekoturisme.. bermanfaat. Itulah idealis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggabungkan REALISTIS dan IDEALIS pada problem keanekaragaman hayati? Anda bisa menuliskan suatu kenyataan/REALITA yang ironis bahwa tempe bangsa kita sebagai karya nenek moyang kita dari kedelai, ternyata diambil hak patennya oleh orang Jepang! Justru karena kepongahan mahasiswa kita yang sedang thesis di universitas negeri Sakura itu, dan mengambil bahasan dari negerinya sendiri, materi thesis itu akhirnya dimangsa oleh industriwan dan orang dagang Jepang, maka tempe diambil sebagai hak paten mereka, dan kita kehilangan itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara IDEALIS Anda bisa memberi solusi, mulai detik ini.. silahkan siapa saja mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri asing, saat menyusun thesis atau disertasi.. silahkan mengambil bahasan di negeri tempatnya belajar itu. Jangan mengeksplotasi bahasan di negeri kita yang orangnya kurang peka trik dan strategi pemasaran! Dengan membahas negeri orang, kan bisa dieksplorasi lantas sepulang ke Indonesia bisa menerapkannya di tanah air? Seumur-umur tanpa takut akan kehabisan waktu lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ! Hal-hal sederhana dapat dituliskan untuk membuat tulisan. Justru itu yang membuat tulisan kita menjadi lebih bermanfaat. Karena kita tahu permasalahan, maka dengan sendirinya tak sulit untuk memberi solusi. Gunakan bahasa sederhana, beri sesuatu realita untuk menggugah pembaca. Kenyataan buruk perlu dituliskan untuk mengetahui dampak aktivitas sehari-hari. Tuliskan "obat" untuk memberi solusi. Di manapun dan apapun profesi anda tuliskan menurut kemampuan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na.., untuk membuat tulisan yang "segar", informatif, penuh ide, edukatif, menggigit, bahkan menggugah untuk berubah, sudah tentu perlu senjata awal. Apa itu?:&lt;br /&gt;Banyak membaca dan berlatih&lt;br /&gt;Tulisan santai dan komunikatif&lt;br /&gt;Memang, menulis itu mudah, pada dasarnya semua orang bisa menulis. Cuma kita sering menghadapi kesulitan, yaitu bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan. Maka, kita pun perlu persiapan :&lt;br /&gt;Menggali bahan (cari bahan pendukung)&lt;br /&gt;Harus mengetahui masalah&lt;br /&gt;Dapat menggunakan panca indera, dan jiwa&lt;br /&gt;Memperhatikan pangsa pasar pembaca. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo/dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2921509472209808432?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2921509472209808432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2921509472209808432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2921509472209808432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2921509472209808432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-51-10-desember-1999-seminarperan.html' title='EHDB 51/ 10 Desember 1999 SEMINAR&quot;PERAN JURNALISTIK LINGKUNGAN DALAM USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI&quot;'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3408843427005591369</id><published>2007-08-26T22:49:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:49:26.204-07:00</updated><title type='text'>EHDB 50/ 9 Desember 1999 HANTU 4</title><content type='html'>Pengaruh Dioksin terhadap Kesehatan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pertemuan konsultasi WHO pada bulan Mei 1998 tentang penilaian resiko dioksin terhadap kesehatan manusia, dioksin dapat mengganggu kesehatan manusia, yaitu dapat menimbulkan gangguan pada kulit, kekebalan tubuh, reproduksi, kehamilan, hormon dan dapat menimbulkan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan tersebut Tolarable Daily Intake (TDI) yang telah ditetapkan tahun 1990 diturunkan 10 kali lebih rendah menjadi 1-4 pg I-TEQ per kg berat badan, mengingat resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan kulit pada manusia yang dapat ditimbulkan oleh dioksin antara lain chloracne, hiperkeratosis dan hiperpigmentasi. Chloracne dilaporkan pertama kali pada tahun 1897 sebagai penyakit yang berkaitan dengan keterpaparan dioksin. Masalah chloracne pada pekerja terjadi sekitar tahun 1930 pada pekerja di pabrik pestisida dan pabrik penghasil PCB. Chloracne ditandai dengan terjadinya erupsi kulit, terdapatnya bisul dan pustula, seperti kasus jerawat yang parah pada remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;US Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan bahwa dioksin dapat merusak sistem kekebalan tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari penelitian yang menggunakan hewan percobaan, ditunjukkan bahwa dioksin dapat menurunkan jumlah sel B (sel kekebalan tubuh yang dihasilkan timus dan beredar di seluruh tubuh). Secara tidak langsung, dioksin mempengaruhi dan mengubah aktivitas hormon-hormon yang mengatur tanggap kebal (immune respons), seperti glukokortikoid, steroid, tiroksin, hormon pertumbuhan dan prolaktin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan reproduksi yang disebabkan oleh dioksin antara lain penurunan kadar hormon kelamin pria (testosteron), penurunan jumlah sperma dan endometriosis pada wanita. Gejala tersebut dilaporkan dari penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan dan studi epidemiologis pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat karsinogenik dioksin telah dibuktikan dari studi epidemiologis pada sejumlah kelompok manusia yang terpapar dengan dioksin, seperti pada penduduk di Seveso Italia, Jepang dan Vietnam. Studi epidemiologis yang dilakukan di Jerman terhadap pekerja-pekerja di industri herbisida (triklorofenol) dari tahun 1942 sampai 1984 menunjukkan resiko terjadinya tumor dan kanker lebih tinggi pada pekerja yang terpapar lebih banyak dengan dioksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian (?)Saat ini sangat kecil kemungkinannya bagi kita untuk tidak terpapar sama sekali dengan dioksin, terutama daerah industri dan padat lalu lintas. Yang dapat kita perbuat hanya mengurangi daily intake dioksin, antara lain dengan mengatur diet makanan, seperti memakan daging yang tidak berlemak banyak dan meminum susu berkadar lemak rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pestisida yang mengandung senyawa klorin perlu dicegah di bidang pertanian. Konsep Good Farming Practice perlu diterapkan dalam bidang pertanian dan peternakan untuk menjamin produk pertanian dan peternakan yang aman dan bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencemaran dioksin pada bahan makanan harus dihindari. misalnya tidak menggunakan pembungkus plastik PVC untuk bahan makanan. Industri pangan perlu menerapkan sistem keamanan pangan dan manajemen mutu. Sistem keamanan pangan yang dianjurkan oleh Codex Alimentarius adalah Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Selanjutnya pengawasan pemerintah terhadap produk-produk makanan impor, terutama dari negara-negara maju, perlu dioptimumkan.Industri-industri yang menjadi sumber dioksin perlu mendapat pengawasan ketat. Pekerja-pekerja perlu mendapat perlindungan yang baik untuk mengurangi tingkat keterpaparan, misalnya melalui program keselamatan dan kesehatan kerja. Sistem manajemen mutu pada industri tersebut perlu diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran sampah mengandung senyawa organoklorin atau senyawa terklorinasi ganda (seperti PCB dan PVC) perlu diperhatikan. Pemerintah perlu menetapkan ambang dan menjaga emisi dioksin di lingkungan pada tingkat yang aman.Agar masyarakat paham, sadar dan peduli terhadap lingkungan, diperlukan informasi yang memadai dan berkesinambungan. Informasi tersebut perlu diberikan pada pendidikan formal, yang dimulai dari tingkat taman kanak-kanak. CUKUPKAH INI? ***Dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3408843427005591369?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3408843427005591369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3408843427005591369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3408843427005591369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3408843427005591369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-50-9-desember-1999-hantu-4.html' title='EHDB 50/ 9 Desember 1999 HANTU 4'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-1945735912728496810</id><published>2007-08-26T22:48:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:48:38.853-07:00</updated><title type='text'>EHDB 49/ 8 Desember 1999 HANTU 3</title><content type='html'>Keterpaparan Manusia dengan Dioksin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia terpapar dengan dioksin terutama melalui bahan makanan (kejadiannya sekitar 94%) serta melalui kontak kulit dan jalan pernafasan. Keterpaparan manusia melalui dioksin dalam makanan, 90% berasal dari bahan makanan asal hewan (susu, daging, ikan, telur dan hasil olahannya) dan hanya 10% berasal dari bahan makanan nabati.Pekerja-pekerja di industri-industri yang telah disebutkan di atas akan terpapar lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ibu-ibu yang sedang hamil dan yang sedang menyusui terpapar dengan dioksin, maka bayi dalam kandungan atau bayi yang sedang menyusui akan terpapar pula dengan dioksin melalui plasenta dan air susu ibu.Berdasarkan studi yang dilakukan di negara-negara industri, daily intake dioksin pada manusia sebesar 50-200 pikogram I-TEQ per orang per hari, atau 1-3 pikogram I-TEQ per kg berat badan per hari bagi orang dewasa seberat 60 kg. Satu pikogram sama dengan 0,000000000001 gram (10-12 gram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I-TEQ, singkatan dari International Toxicity Equivalency, merupakan satuan untuk menggambarkan tingkat toksisitas dioksin yang didasarkan pada faktor persamaan toksisitas atau Toxic Equivalency Factors (TEF) dari 2,3,7,8-TCDD. TEF berguna untuk analisis resiko dan pengendalian dioksin.Daily intake dioksin pada orang dewasa dari bahan makanan yang mengandung 100 g lemak hewani diperkirakan 2-20 pg I-TEQ per kg berat badan per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dioksin dalam Bahan Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya dioksin ke dalam rantai makanan terutama melalui pakan hewan baik hijauan, konsentrat maupun bahan imbuhan yang tercemar dioksin. Dioksin yang masuk ke dalam tubuh hewan akan diserap di usus dan diedarkan melalui aliran darah. Selanjutnya dioksin akan terdeposisi dan terakumulasi dalam lemak tubuh dan dikeluarkan melalui air susu. Akumulasi dioksin pada tubuh ikan berasal dari air yang tercemar dioksin. Kadar dioksin pada ikan dapat 100 000 kali kadar dioksin di lingkungannya (air).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencemaran dioksin pada tumbuhan terutama berasal dari partikel-partikel udara yang tercemar. Dioksin tersebut hanya berada di permukaan daun atau tumbuhan dan tidak beredar secara sistemik dalam tumbuhan. Oleh sebab itu, dioksin pada buah-buahan dan sayuran akan hilang melalui proses pencucian. ***Dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-1945735912728496810?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/1945735912728496810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=1945735912728496810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1945735912728496810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1945735912728496810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-49-8-desember-1999-hantu-3.html' title='EHDB 49/ 8 Desember 1999 HANTU 3'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8885675657769644281</id><published>2007-08-26T22:47:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T22:48:06.829-07:00</updated><title type='text'>EHDB 48/ 7 Desember 1999 HANTU 2</title><content type='html'>Pengertian Dioksin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dioksin merupakan istilah umum untuk kelompok senyawa organik yang tidak berbau, tidak berwarna dan mengandung karbon, hidrogen, oksigen dan klorin. Senyawa tersebut disebut juga senyawa terklorinasi-ganda (polychlorinated compounds).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah dioksin dikenal ratusan senyawa yang berbeda-beda tergantung dari lokasi dan jumlah atom khlor pada molekul. Polychlorinated paradibenzodioxin (PCDD) dan polychlorinated paradibenzofuran (PCDF) adalah senyawa yang dikategorikan sebagai dioksin.Telah dikenal 210 senyawa yang termasuk PCDD dan PCDF dan kurang lebih 20 diantaranya bersifat toksik bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu senyawa yang terkenal sangat toksik adalah 2,3,7,8-tetrakloro-p-dibenzodioksin (TCDD). Pada bulan Februari 1997 the International Agency for Research on Cancer (IARC) yang merupakan bagian dari World Health Organization (WHO) menyatakan TCDD sebagai karsinogen kelas 1,yang berarti penyebab kanker pada manusia. Oleh sebab itu toksisitas senyawa dioksin lainnya didasarkan pada TCDD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dioksin bersifat lipofilik, sehingga mudah larut dan terikat dalam lemak. Daya larut dioksin dalam air rendah sekali. Sifat tersebut yang menyebabkan bioakumulasi pada makhluk hidup.Sumber DioksinDioksin berasal dari hasil sampingan yang tidak diharapkan dari bencana alam (gunung meletus, kebaran hutan) atau dari aktivitas manusia (pembakaran sampah, industri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber utama dioksin (95%) berasal dari pembakaran bahan-bahan berklorin (misalnya plastik polivinil klorida/PVC), terutama jika proses pembakaran bahan tersebut tidak sempurna (suhunya hanya 300-600 oC). Selain itu, dioksin dihasilkan juga sebagai hasil sampingan yang tidak diinginkan pada industri pestisida (klorfenol), herbisida (asam 2,4,5-triklorofenoksiasetat atau 2,4,5-T dan Silvex), farmasi (heksaklorofen), kertas yang melakukan proses pemutihan dengan klorin, plastik PVC dan kendaraan yang menggunakan bensin mengandung dikloretan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dioksin yang terbentuk dari sumber di atas akan mencemari udara, tanah, air, permukaan tanaman dan selanjutnya masuk ke dalam rantai makanan. Di udara, dioksin dapat berbentuk gas, namun hanya dalam waktu singkat, dan selanjutnya akan berikatan dengan partikel-partikel di udara. Dalam tanah, dioksin akan bertahan lama karena berikatan dengan zat-zat organik, tetapi umumnya tidak diserap oleh tumbuhan. Masa paruh dioksin dalam tanah diperkirakan minimum 10 tahun. Dioksin yang mencemari air akan terdeposit pada sedimen dan akan terakumulasi pada ikan. ***Dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8885675657769644281?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8885675657769644281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8885675657769644281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8885675657769644281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8885675657769644281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-48-7-desember-1999-hantu-2.html' title='EHDB 48/ 7 Desember 1999 HANTU 2'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7984445435131862598</id><published>2007-08-26T22:47:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:47:35.397-07:00</updated><title type='text'>EHDB 47/ 6 Desember 1999 HANTU 1</title><content type='html'>Kisah ini ditulis oleh HARMONI LINGKUNGAN Menanggapi resah gelisah moderator dan ownermilis lingkungan@egroups.com terhadap BEBAS MASUKNYA DIOXIN! di INDONESIA. Sementara DI negara-negara EROPA.. DIOXIN INI SUDAH SANGAT DILARANG!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu detik-detak kita mengungkap semua tabir hingga suatu saat KITA SEMUA BERGERAK! untuk suatu perubahan kebijakan bebas masuknya Dioxin di Indonesia.. menjadi yang terbaik yang bagaimana.Sementara ini mari kita telaah bersama sosok hantu yang disebut Dioksin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan HANTU ini, HARMONI PECAH JADI 4 : supaya nggak terlalu panjang, masing-masing dalam&lt;br /&gt;EHDB 47 : HANTU 1&lt;br /&gt;EHDB 48 : HANTU 2&lt;br /&gt;EHDB 49 : HANTU 3&lt;br /&gt;EHDB 50 : HANTU 4&lt;br /&gt;Tulisan ini dari berbagai sumber. Yang jelas, sementara mungkin begitu apa adanya yang ditulis penulis tulisan itu (di bawah ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABIR KEBENARAN SEMUANYA HINGGA di Eropa dilarang, kenapa di Indonesia tidak, dan selanjutnya-dan selanjutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARMONI LINGKUNGAN harap kita semua saling memberi masukan terhadap hal ini.Kita semua pun tetap melakukan fungsi masing-masing..&lt;br /&gt;Siapapun yang memulai dan melakukan pergerakanTerhadap isue ini.. mari kita dukung. Kita beri kotribusi kita masing-masing. Yuk! bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pencemaran dioksin pada pakan ayam dan bahan makanan di Belgia sejak Mei 1999 lalu merupakan kasus kedua terbesar di Eropa setelah kasus penyakit sapi gila (BSE). Dari segi keamanan pangan, dioksin dikategorikan sebagai bahaya kimiawi yang sangat membahayakan konsumen karena dapat menyebabkan kanker dan gangguan kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pencemaran dioksin pernah terjadi pula sebelumnya antara lain pada minyak yang berasal dari beras di Jepang tahun 1968 dan di Taiwan tahun 1979 serta yang paling terkenal di Seveso Italia tahun 1976 akibat kecelakaan yang terjadi di pabrik pembuatan bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelakaan tersebut mengakibatkan terbentuknya kabut kimia mengandung dioksin yang mencemari wilayah sekitar 2000 hektar di sekitar pabrik. Kematian hewan dan tumbuhan serta masalah-masalah gangguan kesehatan manusia dilaporkan. Studi epidemiologi yang dilakukan dari ketiga kasus tersebut menunjukkan bahwa dioksin dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia. ***Dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7984445435131862598?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7984445435131862598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7984445435131862598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7984445435131862598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7984445435131862598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-47-6-desember-1999-hantu-1.html' title='EHDB 47/ 6 Desember 1999 HANTU 1'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2518551055490302741</id><published>2007-08-26T22:46:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:46:54.501-07:00</updated><title type='text'>EHDB 46/ 5 Desember 1999 AYAM RAS, ORANG RAS ? AYAM KAMPUNG, ORANG KAMPUNG ?</title><content type='html'>Banyak ayam ras dipelihara dan berbaur dengan ayam kampung.  Di Jakarta di daerah padat penduduk  jamak terlihat ayam-ras berbulu putih kusam mengais-ngais tanah atau tempat sampah mencari makanan. Perhatikan! Dengan menu makan yang sama dengan ayam kampung mereka tumbuh lebih gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum berlangsung lama. Sejak krisis menimpa, para produsen bibit atau breeder kelabakan menjual bibit. Ini dikarenakan para peternak tidak bersedia menerima bibit DOC karena pakan ayam melambung tinggi dan harus membayar tunai. DOC pun banyak dijual eceran oleh pedagang keliling dan bahkan dapat ditukar dengan barang-barang bekas. Anak ayam umur sehari ini kemudian mulai banyak menghunirumah-rumah tangga dengan manajemen ala kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula anak-anak ayam itu dijual sebagai mainan anak kecil dengan diberi warna warni pada bulunya. Namun lama kelamaan sebagian dari anak-anak ayam tersebut mampu bertahan dan dapat hidup dengan pola manajemen rumah tangga. Pagi dilepas mencari makan sendiri. Malam harinya dikurung. Sebagian masyarakat kemudian membeli DOC yang tidak jelas asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, Ayam Ras yang datang dari ras lain, negara lain, kini berbaur dengan ayam kampung. Adaptif! AYAM LUAR NEGERI SAJA BISA BEGITU.APALAGI ORANG LUAR NEGERI.YANG SUDAH MELUBER DI INDONESIA..APALAGI DENGAN DIBUKANYA BANYAK KRAN GLOBALISASI.&lt;br /&gt;AWAS ORANG KAMPUNG..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN-JANGAN KAMU JUGA CUMA JADI AYAM KAMPUNG&lt;br /&gt;YANG DENGAN MUDAH DIGILAS OLEH AYAM RAS YANG ORANG RAS.&lt;br /&gt;DALAM BISNISMU.&lt;br /&gt;DALAM KERJAMU&lt;br /&gt;DALAM STUDIMU.&lt;br /&gt;JUGA DALAM PEDULIMU..&lt;br /&gt;TERHADAP SUNGAI KOTOR.&lt;br /&gt;TERHADAP KEPEMIMPINAN PENGEKOR&lt;br /&gt;TERHADAP SUNGAI TERCEMAR&lt;br /&gt;TERHADAP HUTAN TERBAKAR.&lt;br /&gt;TERHADAP BEKANTAN SISA.&lt;br /&gt;TERHADAP ORANG UTAN BERAIR MATA.&lt;br /&gt;TERHADAP SEMUA.&lt;br /&gt;YANG KITA SEMUA SUDAH TAHU NYATA.&lt;br /&gt;BETAPA AKSI LINGKUNGAN KITA&lt;br /&gt;NYATA-NYATA hampir SELALU BERDANA MEREKA.&lt;br /&gt;MENGEKOR MEREKA. hampir selalu.&lt;br /&gt;MAU BERKATA APA?&lt;br /&gt;SILAHKAN SAJA. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2518551055490302741?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2518551055490302741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2518551055490302741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2518551055490302741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2518551055490302741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-46-5-desember-1999-ayam-ras-orang.html' title='EHDB 46/ 5 Desember 1999 AYAM RAS, ORANG RAS ? AYAM KAMPUNG, ORANG KAMPUNG ?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-446159517414881881</id><published>2007-08-26T22:45:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T22:46:20.110-07:00</updated><title type='text'>EHDB 45/ 4 Desember 1999  DIA DAN SUNGAI ITU</title><content type='html'>Saat dia berjalan &lt;br /&gt;Kakinya yang tak beralas apapun &lt;br /&gt;Tertusuk duri dan berdarah.   &lt;br /&gt;Namun pada saat kaki itu dimasukkan air sungai  mengalir bening &lt;br /&gt;Darah itu larut &lt;br /&gt;Entah pergi ke mana..   &lt;br /&gt;Tapi kakinya tetap terluka   &lt;br /&gt;Kaki itu pun dikotori lumpur &lt;br /&gt;Di setiap jengkal tanah jalanan di sepanjang  susuran  sungai itu.. &lt;br /&gt;Saat kaki itu dimasukkan air sungai mengalir bening  lumpur itu pun larut &lt;br /&gt;Entah pergi ke mana..   &lt;br /&gt;Tapi kakinya tetap pernah terkena lumpur   &lt;br /&gt;Mengalir..  &lt;br /&gt;mengalir dari dari puncak gunung tinggi &lt;br /&gt;Sungai itu seolah tidak berujung.. &lt;br /&gt;Entah di mana muaranya &lt;br /&gt;Entah di mana pertemuannya  &lt;br /&gt;dengan sang samudera.   &lt;br /&gt;Dipakainya ingatan matematikanya.. &lt;br /&gt;Berapa panjangkah sungai yang harus kulalui? &lt;br /&gt;Berapa batukah yang sudah kujejaki? &lt;br /&gt;Berapa daunkah yang sudah menemaniku sepanjang  kususuri sungai ini? &lt;br /&gt;Berapa ekorkah ikan yang sudah bernyanyi di kakiku? &lt;br /&gt;Dan .. &lt;br /&gt;Berapa..&lt;br /&gt;berapa yang lain &lt;br /&gt;Yang dihitungnya cuma menjadi satu makna.  &lt;br /&gt;Tak yang lainnya.   &lt;br /&gt;AKU SEDANG MENGHITUNG BERKAT ILAHI  &lt;br /&gt;YANG SUDAH TERJADI ATAS DIRI INI. &lt;br /&gt;TERIMA KASIH GUSTI.  &lt;br /&gt;TERIMA KASIH.   &lt;br /&gt;Saat dipakainya ingatan biologinya. &lt;br /&gt;Ia pun berpikir ilmu-ilmu hayati. &lt;br /&gt;Terkait dengan sungai itu.   &lt;br /&gt;Saat dipakainya ingatan fisikanya. &lt;br /&gt;Ia pun berpikir ilmu-ilmu alami. &lt;br /&gt;Terkait dengan sungai itu   &lt;br /&gt;Saat dipakainya ingatan sosiologinya &lt;br /&gt;Ia pun berpikir ilmu-ilmu sosial. &lt;br /&gt;Terkait dengan sungai itu   &lt;br /&gt;Saat dipakainya ingatan antropologinya &lt;br /&gt;Ia pun berpikir hal-hal berkaitan dengan budaya  manusia &lt;br /&gt;Terkait dengan sungai itu.   &lt;br /&gt;Suatu saat ia berhenti. &lt;br /&gt;Istirahat. &lt;br /&gt;terpekur.  &lt;br /&gt;Duduk merenung sendiri. &lt;br /&gt;Di atas sebuah batu besar di tepi sungai itu. &lt;br /&gt;"Apa yang terjadi pada diriku? &lt;br /&gt;Terkait dengan sungai ini?" &lt;br /&gt;Pikirannya melayang tanpa kendali &lt;br /&gt;Hatinya berterbang tanpa tali &lt;br /&gt;Senangnya bertempur dengan susah &lt;br /&gt;Tenangnya bertarung dengan gundah   &lt;br /&gt;Tanpa disadari &lt;br /&gt;Dia sudah memakai sungai &lt;br /&gt;Sebagai media PLH &lt;br /&gt;Pendidikan  &lt;br /&gt;Lingkungan &lt;br /&gt;Hidup   &lt;br /&gt;Pengetahuan &lt;br /&gt;Ketrampilan &lt;br /&gt;Komitmen &lt;br /&gt;Aksi &lt;br /&gt;Evaluasi &lt;br /&gt;Refleksi &lt;br /&gt;Berputar ala spiral &lt;br /&gt;Menjadi Spiral-spiral yang lebih besar &lt;br /&gt;Dalam Aksi-aksi yang lebih besar   &lt;br /&gt;Terkait dengan penyusurannya di sungai itu.. &lt;br /&gt;Terkait dengan penyusurannya menjajagi kehidupan  diri   &lt;br /&gt;Semua menyatu dalam &lt;br /&gt;Setiap desah &lt;br /&gt;Dan hembus nafas . &lt;br /&gt;Yang dimilikinya &lt;br /&gt;Yang menopang semangatnya &lt;br /&gt;Menapakkan kaki tertusuk duri-nya   &lt;br /&gt;Dan dia pun berkata.. &lt;br /&gt;Tepatnya bertanya.. &lt;br /&gt;Sungaiku.. &lt;br /&gt;Mau kau bawa ke manakah aku? &lt;br /&gt;Apa yang kan terjadi pada diriku? &lt;br /&gt;Jadi lebih baikkah aku?   &lt;br /&gt;Dan kamu? ***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-446159517414881881?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/446159517414881881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=446159517414881881' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/446159517414881881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/446159517414881881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-45-4-desember-1999-dia-dan-sungai.html' title='EHDB 45/ 4 Desember 1999  DIA DAN SUNGAI ITU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3045032486367745943</id><published>2007-08-26T22:44:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T22:45:26.148-07:00</updated><title type='text'>EHDB 44/ 3 Desember 1999 PENDIDIKAN YANG MENGHIDUPKAN</title><content type='html'>Wah! Tua-tua nyanyi lagu Balonku Ada Lima.&lt;br /&gt;Trus dilanjutin lagu Naik-naik ke Puncak Gunung.&lt;br /&gt;Nggak cukup gitu, semua diikuti gerak tangan, kaki&lt;br /&gt;dan mimik wajah yang lucu-lucu.&lt;br /&gt;Dalam sejuk hawa gunung nan anggun,&lt;br /&gt;Pemandangan hutan, lembah mempesona,&lt;br /&gt;Dan pepohonan hijau,&lt;br /&gt;Nyanyian orang-orang tua itu memecah&lt;br /&gt;ketenang-nyamanan&lt;br /&gt;Suasana.&lt;br /&gt;Bikin hidup. Segar!&lt;br /&gt;Itulah salah satu metode&lt;br /&gt;untuk membuat kita melupakan sejenak&lt;br /&gt;berbagai penat, tekanan, dan stress&lt;br /&gt;dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari&lt;br /&gt;yang bikin dahi selalu berkerut,&lt;br /&gt;muka bercarut marut,&lt;br /&gt;bikin umur semakin pendek&lt;br /&gt;dari hidup yang sudah begitu pendek.&lt;br /&gt;Dengan menyanyikan lagu anak-anak,&lt;br /&gt;Para orang tua diajak mengenang, merasakan&lt;br /&gt;Dan membuka kembali hidup yang penuh gairah&lt;br /&gt;Tanpa beban nan diisi ceria dan senang.&lt;br /&gt;Metode ini, menurut ahlinya&lt;br /&gt;Bisa mengembalikan gairah hidup,&lt;br /&gt;Membantu kelancaran anabolisme tubuh&lt;br /&gt;Daripada sekedar katabolisme&lt;br /&gt;Yang membuat sel-sel tubuh mengerut,&lt;br /&gt;Pecah dan hancur lantas mati.&lt;br /&gt;Memori masa kecil yang selalu indah&lt;br /&gt;Merupakan vitamin penyegar kehidupan.&lt;br /&gt;Ya! Memori kebahagiaan itu bila dinikmati,&lt;br /&gt;Lantas dihayati dan dipraktekkan&lt;br /&gt;Senantiasa akan memberi kesegaran hidup&lt;br /&gt;Yang baru.&lt;br /&gt;Mengapa tidak kita ikuti&lt;br /&gt;Alir dan alur bahagia semacam itu?&lt;br /&gt;Itulah salah satu makna dari&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Lingkungan&lt;br /&gt;Hidup.&lt;br /&gt;Selalu menghidupkan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3045032486367745943?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3045032486367745943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3045032486367745943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3045032486367745943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3045032486367745943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-44-3-desember-1999-pendidikan-yang.html' title='EHDB 44/ 3 Desember 1999 PENDIDIKAN YANG MENGHIDUPKAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-1508724078120870837</id><published>2007-08-26T22:44:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:44:47.713-07:00</updated><title type='text'>EHDB 43/ 2 Desember 1999 TERJAGA</title><content type='html'>Dia bangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;Digulungnya tikar alasnya&lt;br /&gt;Dimasukkannya dalam plastik pembungkusnya.&lt;br /&gt;Dia berpikir kok pembungkusnya plastik ya?&lt;br /&gt;Kan jadinya menunjang industri yang tak bisa didaur ulang.&lt;br /&gt;Untung dia tidak menyalakan AC tadi malam&lt;br /&gt;Kalau menyalakan berarti dia kan pengkhianat lingkungan&lt;br /&gt;Karena itu AC freon.&lt;br /&gt;Dia trus menyapu lantai ruangannya.&lt;br /&gt;Diusapnya meja dan kursi berdebu&lt;br /&gt;Dipel-nya lantai yang berdebu.&lt;br /&gt;Dia buka pintu&lt;br /&gt;Pergi ke kamar mandi&lt;br /&gt;Untung air bergemericik semalam sudah ditahannya&lt;br /&gt;Kalau dibiarkan mengalir terus kan berarti dia Pengkhianat lingkungan&lt;br /&gt;Karena setiap tetes air selalu berharga&lt;br /&gt;Diusapnya dahinya&lt;br /&gt;dibasahi dengan air maunya dia mandi&lt;br /&gt;tapi dia takut degup jantungnya tak segera tenang&lt;br /&gt;dan bertambah kencang karena ia lagi tak enak badan&lt;br /&gt;sebab ia bangun tergagap.&lt;br /&gt;Dadanya bergetar&lt;br /&gt;Detaknya kencang&lt;br /&gt;Berdegup-degap&lt;br /&gt;Hantu barusan menemuinya di mimpinya.&lt;br /&gt;Merah muda&lt;br /&gt;Kecil..&lt;br /&gt;Tak berbulu&lt;br /&gt;Bertaring Satu di muka.&lt;br /&gt;dengan taring itu&lt;br /&gt;Si hantu menancapkannya di keningnya&lt;br /&gt;Dan keningnya luka&lt;br /&gt;Darah segar mengalir melewati legok lekuk wajahnya&lt;br /&gt;Juga matanya&lt;br /&gt;Darah itu tergenang di matanya&lt;br /&gt;Lantas pipinyaLantas mulutnya&lt;br /&gt;Lantas lehernya&lt;br /&gt;Lantas membasahi bajunya&lt;br /&gt;Merah segar&lt;br /&gt;Merah darah&lt;br /&gt;Dia gusar&lt;br /&gt;Mau diusapnya darah itu&lt;br /&gt;Tapi sudah mengalir dan mengalir&lt;br /&gt;Entah kapan berhentinya&lt;br /&gt;Karena dia rupanya tak pernah kehabisan darah&lt;br /&gt;Rupanya dia mempunyai persediaan darah&lt;br /&gt;Yang tak akan pernah kering&lt;br /&gt;Yang tak akan pernah kerontang&lt;br /&gt;Dan dengan darah itu dia membasahi tanah tempatnya berdiri dan terjeringgat dari bangun tidurnya.&lt;br /&gt;Tanah itu menjadi subur.&lt;br /&gt;Padi bertumbuh di atasnya.&lt;br /&gt;Tunas hijau muncul&lt;br /&gt;Membesar dan berkembang&lt;br /&gt;Muncul bulir-bulir padi&lt;br /&gt;Yang hijau kemudian menguning&lt;br /&gt;Dan mengeras&lt;br /&gt;Jadilah calon beras&lt;br /&gt;Dan dipanen petani tua&lt;br /&gt;Menjadi santapan para raja.&lt;br /&gt;Dia yang terjaga.&lt;br /&gt;Menjadi agak lega.&lt;br /&gt;Ternyata hantu dalam mimpinya&lt;br /&gt;Mengingatkan&lt;br /&gt;Bahwa dia tak akan pernah kehabisan darah&lt;br /&gt;Dan justru dengan darah itu&lt;br /&gt;Ia mau pergi ke setiap jengkal tanah&lt;br /&gt;Yang ditemuinya&lt;br /&gt;Untuk menjadikannya bermakna&lt;br /&gt;Sekalipun di situ&lt;br /&gt;Ia sebatang kara.&lt;br /&gt;Ia cuma mau mempraktekkan hal-hal kecil dan sepele&lt;br /&gt;Saat mengurangi menggunakan plastik&lt;br /&gt;Mengusir debu&lt;br /&gt;Tidak memakai gas pelobang ozon&lt;br /&gt;Menghemat air&lt;br /&gt;Dan sebagainya&lt;br /&gt;Dan sebagainya&lt;br /&gt;Walaupun orang bilang&lt;br /&gt;Itu hal lumrah,dan biasa. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-1508724078120870837?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/1508724078120870837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=1508724078120870837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1508724078120870837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1508724078120870837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-43-2-desember-1999-terjaga.html' title='EHDB 43/ 2 Desember 1999 TERJAGA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7582816077150425007</id><published>2007-08-26T22:43:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T22:43:54.643-07:00</updated><title type='text'>EHDB 42/ 1 Desember 1999 JANGKRIK GENGGONG</title><content type='html'>Saat ada pameran ternak jangkrik di Surabaya&lt;br /&gt;beberapa bulan lalu,&lt;br /&gt;teman LSM dari Trawas seperti kebakaran jenggot..&lt;br /&gt;memang dia punya jenggot sih.&lt;br /&gt;Namun ternyata bukan api yang menyebabkannya terbakar..&lt;br /&gt;tapi ya jangkrik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada-ada saja!&lt;br /&gt;Semua dieksploitasi hanya untuk ekonomi!&lt;br /&gt;Sampai-sampai jangkrik pun&lt;br /&gt;tak luput dari serakahnya kita!”&lt;br /&gt;katanya tak peduli melirik lagi&lt;br /&gt;tempat pameran di hotel terkemuka itu.&lt;br /&gt;Kayak banteng ketaton,&lt;br /&gt;yang melihat tempat itu hanya punggungnya.&lt;br /&gt;Teman satu LSM-nya juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memang orang LSM lingkungan,&lt;br /&gt;jadi yang dibela ya soal keseimbangan alam,&lt;br /&gt;antara pelestarian dan pemanfaatan.&lt;br /&gt;Tentu saja lebih santer&lt;br /&gt;pelestarian dalam gerak mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak mengomentari sisi kelestarian si jangkrik.&lt;br /&gt;Kini kita soroti sisi yang bikin&lt;br /&gt;‘bukan orang lingkungan’ bisa bilang,&lt;br /&gt;“JANGKRIK!!!!!!”&lt;br /&gt;ala Jawa Timuran. Mengumpat.&lt;br /&gt;Mirip si teman LSM lingkungan itu,&lt;br /&gt;tapi kini yang mengumpat justru orang peternakan.&lt;br /&gt;Ada apa gerangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ini jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis cacing dan jangkrik yang marak&lt;br /&gt;setahun terakhir ternyata tidak banyak diketahui oleh&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.&lt;br /&gt;Padahal bisnis yang mencuat saat krisis ekonomi ini&lt;br /&gt;begitu menyedot perhatian masyarakat.&lt;br /&gt;Bahkan di berbagai tempat banyak bermunculan seminar&lt;br /&gt;Tentang cara berbisnis cacing atau jangkrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri&lt;br /&gt;bahwa usaha yang bisa dikerjakan&lt;br /&gt;secara home industry ini&lt;br /&gt;memang banyak mendatangkan duit.&lt;br /&gt;Ini kabarnya dipicu bahwa&lt;br /&gt;cacing dan jangkrik itu diekspor&lt;br /&gt;ke Taiwan, Cina dan Jepang&lt;br /&gt;sebagai bahan baku kosmetik serta obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua ternyata cuma isapan ibu jari!&lt;br /&gt;Jangkrik belum pernah diekspor!&lt;br /&gt;“Saya sudah melacak ke Karantina Hewan&lt;br /&gt;dan ternyata baik cacing maupun jangkrik&lt;br /&gt;belum pernah diekspor,”&lt;br /&gt;kata satu tokoh peternakan di pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa kali saya menulis untuk mengingatkan&lt;br /&gt;agar hati-hati berbisnis jangkrik maupun cacing.&lt;br /&gt;Banyak penipuan di daerah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menambahkan…&lt;br /&gt;Mengenai manfaat tepung jangkrik maupun cacing&lt;br /&gt;untuk obat-obatan atau kosmetik&lt;br /&gt;hingga saat ini belum ia temukan satu bukti industri&lt;br /&gt;kosmetik/obat yang menggunakan tepung jangkrik/cacing.&lt;br /&gt;Seandainya memakaipun&lt;br /&gt;Ia yakin lebih mudah memelihara sendiri&lt;br /&gt;atau bekerjasama dengan koperasi karyawan,&lt;br /&gt;karena memelihara jangkrik maupun cacing&lt;br /&gt;bukan pekerjaan sulit, bisa sebagai usaha sambilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tepung jangkrik/cacing untuk pakan ternak,&lt;br /&gt;itu bohong besar&lt;br /&gt;sebab tepung ikan impor jauh lebih murah.&lt;br /&gt;“Saya tahu persis&lt;br /&gt;karena profesi saya di bidang peternakan&lt;br /&gt;dan sekarang mengelola majalah peternakan,” katanya.&lt;br /&gt;Tepung ikan harganya hanya Rp. 4.000/kg.&lt;br /&gt;Kalau harga jangrik Rp. 60/ekor,&lt;br /&gt;tepung jangrik harganya ratusan ribu rupiah.&lt;br /&gt;Tepung cacing juga sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tokoh kunci di bidang peternakan negeri ini&lt;br /&gt;menjadi penentu komentar:&lt;br /&gt;''Terus terang saya tidak pernah menandatangani&lt;br /&gt;surat ekspor untuk cacing dan jangkrik.&lt;br /&gt;Masyarakat jangan mau dibohongi,''&lt;br /&gt;ujar Dirjen Peternakan Departemen Pertanian&lt;br /&gt;Dr Sofjan Sudardjat&lt;br /&gt;kepada wartawan di sela-sela&lt;br /&gt;pertemuan pengusaha peternakan&lt;br /&gt;se-Jawa Tengah di Purwokerto Kamis (11/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAAH.. Kayak JANGKRIK GENGGONG saja&lt;br /&gt;Yang dalam syair lagunya Waljinah,&lt;br /&gt;penyanyi langgam Jawa itu..&lt;br /&gt;Dikatakan&lt;br /&gt;JANGKRIK GENGGONG WANI NGERIK SEPI UWONG..&lt;br /&gt;(Jangkrik genggong&lt;br /&gt;berani berkerik/bersuara&lt;br /&gt;kalau sepi orang… sepi masalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis&lt;br /&gt;orang pada diam menahan lapar membutuhkan&lt;br /&gt;sesuap nasi dan segelintir duit&lt;br /&gt;yang untuk mencarinya susah setengah mati,&lt;br /&gt;Si Jangkrik benar-benar santer BOOMING.&lt;br /&gt;Sehingga hampir semua lapisan masyarakat&lt;br /&gt;ikut beternak jangkrik.&lt;br /&gt;Bahkan sampai terbentuk wadah&lt;br /&gt;Persatuan Peternak Jangkrik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada saat orang&lt;br /&gt;dari berbagai penjuru tanah air&lt;br /&gt;menadahkan tangan penuh harap&lt;br /&gt;untuk dapat pasar ekspor&lt;br /&gt;dari jangkriknya yang sudah menggunung..&lt;br /&gt;ternyata pasarnya tak tersedia.&lt;br /&gt;Kita mencatat&lt;br /&gt;mereka yang selalu ikut Seminar jangkrik&lt;br /&gt;yang diadakan berkali-kali..&lt;br /&gt;Cuma mendengar janji-janji saja..&lt;br /&gt;Sekarang Seminar.. dikasih janji&lt;br /&gt;Besok seminar.. dikasih janji lagi..&lt;br /&gt;Yah.. bikin janji memang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka agaknya teman LSM lingkungan Jatim tadi&lt;br /&gt;yang uring-uringan pada acara jangkrik cukup lega..&lt;br /&gt;karena ia tidak pernah mau&lt;br /&gt;menerima janjinya jangkrik.&lt;br /&gt;Bahka dia sangat menentangnya..&lt;br /&gt;karena dia memikirkan satu hal&lt;br /&gt;Yang selalu dijaganya sesuai&lt;br /&gt;dengan logo lembaganya..&lt;br /&gt;KESEIMBANGAN&lt;br /&gt;Bahkan saat mau berbicara jangkrik pun&lt;br /&gt;dia memikirkan unsur lingkungannya&lt;br /&gt;Rupanya dia telah terlebih dulu&lt;br /&gt;berpikir ala Waljinah&lt;br /&gt;“NGGAK MAU JADI JANGKRIK GENGGONG,&lt;br /&gt;WANI NGERIK YEN SEPI UWONG.”&lt;br /&gt;Dia tetap mau 'ngerik'&lt;br /&gt;kala dilihatnya ternak jangkrik&lt;br /&gt;itu mengundang masalah.&lt;br /&gt;Kendati kenyataannya 'ngerik'nya&lt;br /&gt;malah memunggungi pameran,&lt;br /&gt;tidak demontrasi ala teman LSM&lt;br /&gt;anti perdagangan satwa liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah.. gitulah di lingkungan..&lt;br /&gt;mestinya saat kita lagi  penuh gejolak&lt;br /&gt;dalam mempersoalkan dan memperbaiki lingkungan&lt;br /&gt;yang sudah rusak di mana-mana,&lt;br /&gt;kita nggak bisa diam begitu saja. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7582816077150425007?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7582816077150425007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7582816077150425007' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7582816077150425007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7582816077150425007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-42-1-desember-1999-jangkrik.html' title='EHDB 42/ 1 Desember 1999 JANGKRIK GENGGONG'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4896986865856898994</id><published>2007-08-26T22:39:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T22:43:21.661-07:00</updated><title type='text'>EHDB 41/ 30 Nopember 1999 BELAJAR DARI PAMAN SAM</title><content type='html'>Entah benar atau tidak,&lt;br /&gt;yang tahu tentu yang pernah tinggal di Amerika.&lt;br /&gt;Yang pasti kesaksian banyak media informasi mengatakan &lt;br /&gt;di  Amerika soal lingkungan  sangat  diutamakan, &lt;br /&gt;kendatipun pembangunan  ekonominya digenjot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian bangsa Amerika  pada lingkungan &lt;br /&gt;tercermin  saat munculnya Hari Bumi yang  pertama &lt;br /&gt;22 April 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlaksa  ribu manusia pada saat itu&lt;br /&gt;membebaskan diri dari  pikiran-pikiran profit.&lt;br /&gt;Mereka menyuarakan seruan selamatkan lingkungan  bumi &lt;br /&gt;dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efeknya muncul  berbagai  perundangan lingkungan  Amerika, &lt;br /&gt;yang  notabene  implementasinya  diterapkan dengan  tegas  di sana.&lt;br /&gt;Sekalipun banyak  yang  melanggar,  namun jajaran  masyarakat &lt;br /&gt;dan  kalangan  pemerintah  yang  tegas-tegas menegakkan &lt;br /&gt;hukum lingkungan ini selalu memposisikan diri  memacu&lt;br /&gt;Amerika  menjadi pendekar utama lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa  yang melawan lingkungan, di Amerika akan terbabat. &lt;br /&gt;George Bush  Presiden yang sedang bertarung&lt;br /&gt;untuk menyambung masa  jabatannya  terjungkal oleh lawan politiknya&lt;br /&gt;Bill Clinton. &lt;br /&gt;Pasalnya? George  Bush  menolak menandatangani&lt;br /&gt;Deklarasi KTT  Bumi  Rio  de Janeiro 1992&lt;br /&gt;yang menggerakkan masyarakat bumi peduli pada  lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah, kampanye politiknya tak menyinggung sedikitpun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soal pelestarian lingkungan sebagai materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas  rakyat Amerika  lebih  mendukung Bill Clinton &lt;br /&gt;yang  menyuarakan  secara lantang tentang kepedulian Amerika Serikat&lt;br /&gt;terhadap isu  lingkungan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efeknya  tetap  mengedepan,&lt;br /&gt;setelah  berbagai  perundangan  ramah lingkungan  diluncurkan,&lt;br /&gt;Amerika tetap menjadi  pemimpin  ekonomi tangguh di dunia,&lt;br /&gt;di bumi yang hanya satu ini.&lt;br /&gt;Itu karena  mereka berupaya  melaksanakan  perundangan itu &lt;br /&gt;dengan  disiplin  ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak ada bangsa yang hidup enak di atas bumi yang rusak. &lt;br /&gt;Hanya bangsa  yang  peduli  pada lingkungan&lt;br /&gt;bisa  menjadi  bangsa  yang  Hidup nyaman.&lt;br /&gt;Dan ini hanya akan bisa dicapai&lt;br /&gt;dengan politik yang tidak hanya  berpihak pada ekonomi untuk kekuasaan,&lt;br /&gt;tapi juga  lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BISAKAH KITA BELAJAR HAL ITU DARI PAMAN SAM?&lt;br /&gt;BISAKAH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA. SEBAB DARI APAPUN KITA BISA BELAJAR,&lt;br /&gt;KENDATIPUN KITA TAHU&lt;br /&gt;SI PAMAN SAM JUGA PENUH HATI YANG  ASAM,&lt;br /&gt;KITA TOH BISA MENGAMBIL PELAJARAN YANG NGGAK SURAM.&lt;br /&gt;DARIPADA NEGERI INI TERUS-MENERUS SURAM,&lt;br /&gt;SETELAH SADAR 32 TAHUN INDONESIA JAYA&lt;br /&gt;TERNYATA CUMA SUAM. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4896986865856898994?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4896986865856898994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4896986865856898994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4896986865856898994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4896986865856898994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-41-30-nopember-1999-belajar-dari.html' title='EHDB 41/ 30 Nopember 1999 BELAJAR DARI PAMAN SAM'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2305222066887915888</id><published>2007-08-26T19:19:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:19:18.971-07:00</updated><title type='text'>EHDB 35/ 24 Nopember 1999 KESERAKAHAN MANUSIA TERHADAP SESAMA DAN ALAM (oleh Ika Nur Krishnayanti)</title><content type='html'>Pernah mendengar jagung Bt, kapas Bt, atau kedelai Bt? (Bt bukan “bosan total” atau “bad temper”, tapi Bacillus thuringiensis yaitu mikroorganisme tanah yang digunakan dalam rekayasa genetik untuk menghasilkan sifat toksik terhadap hama tertentu yang menyerang suatu tanaman). Pernah jugakah anda membaca teknologi terminator atau benih terminator? Jika pernah, mungkin anda bisa menganggap diri menjadi salah seorang saksi wujud keserakahan manusia terhadap sesama dan alam, paling tidak itu menurut saya. Bila belum pernah mendengar, silakan merenungkan kisah di bawah ini. Tentu saja jika anda mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan telah berhasil mengutak-atik gen-gen tanaman sehingga dapat disisipi gen mikroorganisme tertentu, hingga pada akhirnya tanaman tersebut dapat mengekspresikan suatu sifat baru seperti sifat racun bagi hama tertentu yang menyerangnya. Misalnya jagung Bt yang menghasilkan racun khusus dari Bacillus thuringiensis sehingga bila dikonsumsi oleh ulat dari ngengat dan kupu-kupu, mereka mati. Namun bagaimana nasib hewan-hewan lain, seperti serangga berguna, predator yang menjadi pemangsa ulat-ulat tersebut, burung, atau hewan ternak yang diberi pakan daun jagung transgenik tersebut? Bagaimana pula pengaruh tanaman transgenik tersebut terhadap flora dan fauna dalam tanah di sekitarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Universitas Cornell menunjukkan bahwa kupu-kupu monarch yang memakan serbuk sari jagung Bt tingkat kematiannya tinggi dan pertumbuhannya terlambat dibandingkan kupu-kupu yang memakan jenis jagung alami. Sementara para ilmuwan Swiss menyimpulkan bahwa jagung Bt berpengaruh merugikan terhadap serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Para ilmuwan itu berkesimpulan bahwa tanaman-tanaman Bt lainnya akan mempercepat evolusi resisten racun-racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten terhadap racun Bt, para petani organik dan petani yang menggunakan Bt untuk mengendalikan hama akan kehilangan efektifitas pengendalian hama secara hayati (Terompet No. 22, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalagi teknologi terminator. Perusahaan raksasa bioteknologi yang menciptakan teknologi ini yakin bahwa tanaman yang “diciptakannya” dapat membunuh keturunannya sendiri dengan menghasilkan benih-benih mandul. Sehingga perusahaan bioteknologi penghasil benih tersebut dapat terus mengendalikan tanaman ber-paten itu dan membuat para petani tidak mungkin menyimpan benih untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Padahal menyimpan benih dan saling mempertukarkannya telah dilakukan para petani sejak berabad-abad lamanya. Kini mereka harus tergantung pada perusahaan benih multinasional yang telah menjulurkan kaki-tangannya ke seluruh dunia, seperti gurita yang mencengkeram mangsa dengan tentakelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kisah di atas boleh kita anggap menunjukkan betapa manusia (diwakili pihak perusahaan multinasional) ingin berkuasa dan menguasai makhluk lainnya. Manusia kini enggan lagi berbagi dengan serangga yang ingin ikut makan di kebunnya. Semua upaya ditujukan untuk perlindungan maksimal dan mengejar produktifitas tanamannya guna meraih tujuan akhir, “memberi makan dunia”. Manusia lupa bahwa mereka pernah dibantu oleh serangga-serangga bermanfaat dalam penyerbukan dan persilangan. Manusia tampaknya juga ingin melupakan jasa para petani dan breeder yang sejak dahulu kala gigih mencari varietas unggul dengan menyilangkan berbagai tanaman mereka hingga yang ada kini. Benarkah perusahaan-perusahaan benih pencipta teknologi dan produk canggih itu dapat memberi makan dunia, mengatasi kelaparan dan rawan gizi? Ataukah hanya keserakahan atau sifat loba yang dibungkus kata-kata manis? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika N. Krishnayanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2305222066887915888?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2305222066887915888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2305222066887915888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2305222066887915888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2305222066887915888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-35-24-nopember-1999-keserakahan.html' title='EHDB 35/ 24 Nopember 1999 KESERAKAHAN MANUSIA TERHADAP SESAMA DAN ALAM (oleh Ika Nur Krishnayanti)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7510895923382789842</id><published>2007-08-26T19:17:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:18:13.525-07:00</updated><title type='text'>EHDB 40/ 39 Nopember 1999 LIMBAH DAN SAMPAH</title><content type='html'>LIMBAH&lt;br /&gt;Timbul sejak adanya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Hasil samping&lt;br /&gt;Dalam mengambil sumber daya alam bahan mentah,&lt;br /&gt;menambah nilai menjadi bahan baku,&lt;br /&gt;bahan setengah jadi,&lt;br /&gt;memanfaatkannya sebagai barang jadi.&lt;br /&gt;Untuk hidup dan kesejahteraan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMBAH&lt;br /&gt;Adalah barang buangan dari aktivitas manusia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMBAH CAIR&lt;br /&gt;biasa disebut air limbah/air buangan&lt;br /&gt;dan lazim disebut effluent,&lt;br /&gt;tapi bukan sampah cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMBAH GAS disebut gas buangan atau emisi,&lt;br /&gt;Bukan sampah gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMBAH PADAT dapat berwujud sampah,&lt;br /&gt;tetapi tidak semua limbah padat disebut sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMBAH… BUKANLAH SAMPAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMPAH&lt;br /&gt;adalah limbah padat yang dibuang dari aktivitas manusia,&lt;br /&gt;tetapi tidak termasuk aktivitas biologis.&lt;br /&gt;maksudnya tidak dipergunakan lagi oleh pemilik aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS SAMPAH&lt;br /&gt;sangat bervariasi.&lt;br /&gt;Dilihat dari cara terurainya,&lt;br /&gt;sampah dapat dibagi 2, yaitu sampah yang sulit terurai (Degradable)&lt;br /&gt;dan sampah yang mudah terurai (Biodegradable)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah yang sulit terurai (DEGRADABLE)&lt;br /&gt;memerlukan waktu yang cukup lama untuk terurai,&lt;br /&gt;misalnya plastik, aluminium, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Plastik tidak bisa terurai secara alami.&lt;br /&gt;Plastik yang kita buang hari ini baru akan hancur setelah 300 tahun.&lt;br /&gt;Plastik terbuat dari bahan baku fosil,&lt;br /&gt;terutama dari minyak bumi, gas alam dan batu bara.&lt;br /&gt;Ikatan karbonnya sangat kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika plastik dibakar, akan melepaskan dioksin,&lt;br /&gt;gas&amp;shy;gas asam dan logam berat tersisa pada abu sisa pembakarannya&lt;br /&gt;yang membahayakan kesehatan dan merusak kesuburan tanah.&lt;br /&gt;Untuk mengurangi pencemaran lingkungan sebaiknya plastik&lt;br /&gt;didaur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aluminium merupakan salah satu logam&lt;br /&gt;yang jumlahnya berlimpah di bumi kita.&lt;br /&gt;Contoh barang yang dibuat dari aluminium adalah kaleng minuman.&lt;br /&gt;Bila kaleng minuman dibuang&lt;br /&gt;maka kaleng tersebut akan berada di tempatnya sampai 500 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah yang mudah terurai (BIODEGRADABLE)&lt;br /&gt;tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai.&lt;br /&gt;Misalnya : sisa&amp;shy;sisa makanan, daun-daun&lt;br /&gt;kering, kertas dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik sampah yang sulit terurai&lt;br /&gt;maupun mudah terurai,&lt;br /&gt;dapat berpengaruh&lt;br /&gt;terhadap kesehatan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun begitu&lt;br /&gt;limbah tak selamanya&lt;br /&gt;berakhir sebagai sampah&lt;br /&gt;yang merugikan manusia.&lt;br /&gt;Sisa-sisa makanan&lt;br /&gt;dan daun-daun kering dapat dimanfaatkan&lt;br /&gt;Sebagai kompos.&lt;br /&gt;Sedangkan kertas bisa dimanfaatkan kembali&lt;br /&gt;dengan membuat kertas daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI LAGI..&lt;br /&gt;LIMBAH TAK SELAMANYA BERAKHIR&lt;br /&gt;SEBAGAI SAMPAH. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7510895923382789842?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7510895923382789842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7510895923382789842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7510895923382789842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7510895923382789842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-40-39-nopember-1999-limbah-dan.html' title='EHDB 40/ 39 Nopember 1999 LIMBAH DAN SAMPAH'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8996075819306352237</id><published>2007-08-26T19:17:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:17:37.185-07:00</updated><title type='text'>EHDB 39/ 28 Nopember 1999 DAUR ULANG KERTAS DAN DAUR ULANG MANUSIA</title><content type='html'>KERTAS sangat umum dipakai dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Tak seorangpun bisa membayangkan&lt;br /&gt;bagaimana bentuk dunia ini bila tanpa kertas.&lt;br /&gt;Pernahkah anda membayangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kertas ditemukan,&lt;br /&gt;buku umumnya dibuat dari bambu (Cina)&lt;br /&gt;atau kulit kambing atau lembu (Barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas ditemukan pertama kali di Cina&lt;br /&gt;pada tahun 105 M oleh Ts'ai Lun,&lt;br /&gt;seorang pegawai negeri pengadilan kerajaan&lt;br /&gt;pada masa pemerintahan kaisar Ho Ti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2&lt;br /&gt;Kemudian menyebar ke seluruh negara Arab.&lt;br /&gt;Baru pada abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kertas disobek akan tampak serat-seratnya&lt;br /&gt;yang disebut CELLULOSE,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kertas bisa terbuat dari kayu, kadang-kadang merang,&lt;br /&gt;ampas tebu, jenis rumput-rumputan seperti gandum.&lt;br /&gt;Tetapi umumnya kertas terbuat dari kulit kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuatnya,&lt;br /&gt;mula-mula merang, kayu atau ampas tebu dihancurkan&lt;br /&gt;dalam sebuah mesin penghancur.&lt;br /&gt;Mesin ini memotong-motong kayu, merang dan ampas tebu &lt;br /&gt;sampai halus sekali, sampai menjadi semacam bubur yang disebut pulp.&lt;br /&gt;Ada 2 macam pulp, yaitu pulp mekanis dan pulp kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULP MEKANIS&lt;br /&gt;dibuat dengan menumbuk atau menggiling bahan cellulose (dari kayu).&lt;br /&gt;Pulp mekanis ini sangat cocok untuk kertas koran karena sangat&lt;br /&gt;menyerap cairan tinta cetak  dan cepat kering.&lt;br /&gt;Ciri khas pulp mekanis ini jika dibasahi akan kehilangan kekuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu secara mekanis dijadikan remah-remah kecil.&lt;br /&gt;Kemudian dimasak pada tekanan tinggi&lt;br /&gt;dengan bahan-bahan kimia tertentu yang akan meluluhkan ikatan&lt;br /&gt;antara serat-serat dan menjadikannya pulp (bubur kayu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan untuk PULP KIMIA yang biasa dipakai yaitu&lt;br /&gt;Caustik Soda dan Sodium Sulphat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang menjadikan serat kasar dan sangat kuat,&lt;br /&gt;cocok  untuk kantong dan kotak-kotak penyimpan barang-barang yang berat.&lt;br /&gt;Berbagai jenis Sulphit (seperti Amonium &amp; Calsium)&lt;br /&gt;yang  menghasilkan serat halus&lt;br /&gt;cocok untuk membuat kertas cetak dan kertas tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan,&lt;br /&gt;berapa banyak pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia terhadap aneka macam kertas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan KERTAS DAUR ULANG artinya&lt;br /&gt;kita telah mengurangi penggunaan kertas dan telah ikut&lt;br /&gt;menyelamatkan hutan  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun secara sadar tahu&lt;br /&gt;bahwa limbah (seperti limbah kertas)..&lt;br /&gt;tak selamanya berakhir sebagai sampah&lt;br /&gt;yang merugikan manusia.&lt;br /&gt;Bahkan sebaliknya&lt;br /&gt;dapat kita rubah menjadi sesuatu yang bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita pun tahu..&lt;br /&gt;Limbah yang berwujud manusia,&lt;br /&gt;Yang penuh dengan noda dan dosa..&lt;br /&gt;Penuh dengan kesalahan dan kekhilafan..&lt;br /&gt;Tak selamanya berakhir sebagai sampah&lt;br /&gt;yang harus terpuruk dalam nista dan derita (saat ini)&lt;br /&gt;yang melayang bak layang-layang putus, terbakar, hangus ..&lt;br /&gt;di neraka (nanti)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas koran bungkus kacang atau penimpal tai saja bisa didaur ulang&lt;br /&gt;Apalagi Manusia..&lt;br /&gt;yang gambar dan peta dan model dan ciptaanNya&lt;br /&gt;yang paling sempurna..&lt;br /&gt;tentu saja bisa didaur ulang&lt;br /&gt;secara dan menjadi&lt;br /&gt;lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala daur ulang kertas menyelamatkan hutan..&lt;br /&gt;Apa yang kita selamatkan dengan daur ulang manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan hitung.. berapa banyak manusia-manusia yang jadi tanggung jawab&lt;br /&gt;Si manusia daur ulang.&lt;br /&gt;Silahkan hitung.. berapa luas semesta&lt;br /&gt;tempat si manusia mampu menggerakkan tangan dan kaki&lt;br /&gt;hanya untuk mengabdi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8996075819306352237?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8996075819306352237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8996075819306352237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8996075819306352237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8996075819306352237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-39-28-nopember-1999-daur-ulang.html' title='EHDB 39/ 28 Nopember 1999 DAUR ULANG KERTAS DAN DAUR ULANG MANUSIA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4617826022122877316</id><published>2007-08-26T19:16:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:17:04.172-07:00</updated><title type='text'>EHDB 38/ 27 Nopember 1999 MEMORI PARTAI HIJAU</title><content type='html'>Akhir abad 20 menginjak milenium ke tiga yang gempar,&lt;br /&gt;pendakian Gunung Pangrango akan dilakukan&lt;br /&gt;oleh sekelompok insan menamakan diri Partai Hijau.&lt;br /&gt;Top!&lt;br /&gt;Mungkin moment tepat untuk menancapkan Bendera Hijau&lt;br /&gt;di puncak ketinggian dataran bumi&lt;br /&gt;sehingga seisi rimba belantara,&lt;br /&gt;sungai-sungai yang berkelak-kelok,&lt;br /&gt;beserta lelaki perempuan seisi planet biru&lt;br /&gt;bisa melihat warna hijau,&lt;br /&gt;dan mau menjadikan hijau&lt;br /&gt;sebagai bagian tak terpisahkan dari si biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARTAI HIJAU..&lt;br /&gt;nama sebuah partai..&lt;br /&gt;yang biasanya bergulat dalam dunia politik&lt;br /&gt;untuk mempertaruhkan harta dan jabatan&lt;br /&gt;dalam perombakan suatu norma dan sistem&lt;br /&gt;berbangsa dan bernegara..&lt;br /&gt;Kita tunggu apakah dalam kekritisan&lt;br /&gt;berbagai nilai berbangsa sedang menyeruak,&lt;br /&gt;‘partai’ ini benar-benar mampu menunjukkan kehijauannya,&lt;br /&gt;bersama pendekar hijau yang lain.&lt;br /&gt;Atau..&lt;br /&gt;adakah yang tak kita ketahui tentang sepak terjang&lt;br /&gt;yang menjadi visi-misinya?&lt;br /&gt;Kok sekarang adem-ayem saja?&lt;br /&gt;Karena terlalu hijau merimbun-kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah!&lt;br /&gt;Sekedar memori..&lt;br /&gt;dalam sebuah cerpen partai hijau..&lt;br /&gt;untuk MENGINGATKAN BAHWA KEHADIRAN PARTAI HIJAU&lt;br /&gt;BUKAN SEMATA DIBUTUHKAN UNTUK MENANCAPKAN BENDERA HIJAU&lt;br /&gt;DI PUNCAK GUNUNG TINGGI,&lt;br /&gt;NAMUN LEBIH UNTUK MENANCAPKAN NORMA HIJAU&lt;br /&gt;DI PERGULATAN PENYUSUNAN KEBIJAKAN DAN PELAKSANAANNYA&lt;br /&gt;DI TATARAN POLITIK BERBANGSA DAN BERNEGARA..&lt;br /&gt;Yah!&lt;br /&gt;Namanya saja PARTAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya dianalogikan dengan perdebatan antara dua saudara..&lt;br /&gt;OldGreen  dan NewGreen ..&lt;br /&gt;yang mempersoalkan esensi kehadiran GREEN PARTY sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betulkah animo kepedulian masyarakat&lt;br /&gt;terhadap lingkungan sudah tinggi?"&lt;br /&gt;tanya OldGreen  pada NewGreen.&lt;br /&gt;Saat itu mereka di GreenReality, beranda rumah..&lt;br /&gt;Keduanya beradu argumentasi, keras,&lt;br /&gt;dan saling tarik urat leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bah! tidak betul.&lt;br /&gt;Kalau pedulian masyarakat pada lingkungan sangat tinggi,&lt;br /&gt;mereka akan angkat spanduk,&lt;br /&gt;berteriak-teriak di jalan-jalan&lt;br /&gt;untuk merangsek para pengusaha menutup pabrik&lt;br /&gt;yang tanpa pengolah limbah.&lt;br /&gt;Mereka akan D-E-M-O-N-T-R-A-S-I !" seru NewGreen .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya sama-sama orang lingkungan,&lt;br /&gt;tapi cara pembawaannya sangat kontradiktif.&lt;br /&gt;OldGreen  lebih memperhatikan perasaan&lt;br /&gt;dan kepentingan orang-orang yang selama ini&lt;br /&gt;dicap di dahinya sebagai PERUSAK LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;Gerakan-gerakannya lebih tertata sistematis dan rapi,&lt;br /&gt;melakukan pendekatan dengan pendidikan,&lt;br /&gt;juga filantropi dengan acara-acara amal bersama&lt;br /&gt;para industriwan yang sudah telanjur dianak tirikan&lt;br /&gt;oleh mereka yang menamakan diri sebagai PENDEKAR LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di seberangnya,&lt;br /&gt;NewGreen  sangat anti perusak lingkungan.&lt;br /&gt;Tindakan-tindakannya sangat keras&lt;br /&gt;terhadap apa yang dicap sebagai perusak itu.&lt;br /&gt;Dia Radikal!&lt;br /&gt;Tampak dari tutur katanya yang cenderung ngawur dan tanpa&lt;br /&gt;perasaan.&lt;br /&gt;Bahkan kurang menghargai perasaan orang lain, sangat kontras&lt;br /&gt;dengan OldGreen  yang perasa dan halus tutur katanya.&lt;br /&gt;Untuk duduk satu meja saja dengan industriwan&lt;br /&gt;dalam suatu Forum Kota, New Green tidak mau.&lt;br /&gt;Maunya diseret saja mereka.. industriwan dan pengusaha itu,&lt;br /&gt;dikenai sanksi hukum lantaran tidak memenuhi amdal,&lt;br /&gt;atau UU Lingkungan dalam pengelolaan pabriknya.&lt;br /&gt;Dia sangat getol melakukan advokasi sana-sini,&lt;br /&gt;menjadi promotor (bahkan cenderung provokator)&lt;br /&gt;demonstrasi Ekoling, LSM lingkungan di kotanya&lt;br /&gt;menuntut pengusaha yang kolusi dengan walikota&lt;br /&gt;supaya diganjar bui.&lt;br /&gt;"Biar tahu rasa!! hh!!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tanggapan OldGreen terhadap rencana NewGreen ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimanapun juga, pengusaha dan MR 'X'&lt;br /&gt;di balik cap lingkungan itu juga bagian di antara kita.&lt;br /&gt;Mereka menjadi kurang fasih soal lingkungan karena memang&lt;br /&gt;yang digeluti saban hari cuman uang," ujar OldGreen.&lt;br /&gt;"Makanya untuk mendekati mereka bisa dengan&lt;br /&gt;cara-cara yang lebih manis, beradab, dan menggaet&lt;br /&gt;hati secara perlahan tapi pasti," tambahnya.&lt;br /&gt;Maksudnya, yang penting penyadaran, lantas ada perubahan&lt;br /&gt;sikap, tingkah laku, dan komitmen lantas aksi dari&lt;br /&gt;pengusaha.&lt;br /&gt;Bukannya langsung dihukum, karena justru itu menghambat&lt;br /&gt;proses melestarikan lingkungan secara ramah&lt;br /&gt;dan penuh kesadaran dari dalam diri masing-masing orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu?!!!" tanya NewGreen  dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;"Macam-macam saja! Perusak lingkungan ya perusak lingkungan.&lt;br /&gt;Tak usah pakai eufimisme Orde Baru kayak gitu!!&lt;br /&gt;*&amp;^%$#....@$$$..!!" serak parau suara NewGreen ,&lt;br /&gt;saking marahnya pada OldGreen.&lt;br /&gt;Matanya mendelik memandang tajam pada Old Green.&lt;br /&gt;"Kamu ini! orang macam pengusaha gitu kok kamu bela...!!"&lt;br /&gt;Tangannya mengepal mengarah pada OldGreen&lt;br /&gt;yang diam tenang dengan pandangan mata damai, sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, NewGreen ..., benar..&lt;br /&gt;Adanya sampah membumbung di pelataran belakang pabrik,&lt;br /&gt;limbah mengucur di sungai yang dilalui pabrik...&lt;br /&gt;Asap yang hitam pekat laksana kepulan asap rokok Dewa Neraka...&lt;br /&gt;semua memang akibat ulah usil para pengusaha industri itu,"&lt;br /&gt;katanya tenang.&lt;br /&gt;OldGreen  meletakkan tangannya di atas pahanya,&lt;br /&gt;sekalipun tak duduk di kursi (di beranda itu tak ada kursi)&lt;br /&gt;dia membetulkan cara duduknya ... rapi....&lt;br /&gt;"Namun pernahkah terlintas dalam pikiranmu, atau tidak...&lt;br /&gt;suatu pertanyaan yang tidak perlu menyalahkan..&lt;br /&gt;Mengapa mereka begitu??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NewGreen  membalas ganti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lantas OldGreen ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan seterusnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bantah-membantah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka 'bertengkar' sampai tengah malam,&lt;br /&gt;Hingga keduanya sama-sama teler...&lt;br /&gt;Tak ada solusinya...&lt;br /&gt;Yang muncul justru tawaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuk kita bikin PARTAI HIJAU saja,"&lt;br /&gt;keduanya berkata bareng,&lt;br /&gt;seolah-olah sudah janjian dulu...&lt;br /&gt;mereka tersenyum...&lt;br /&gt;mata berpandangan..&lt;br /&gt;ada pancaran cerah keluar dari kedua mata kedua belah pihak..&lt;br /&gt;mereka berangkulan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu keluar LoveGreen dari dalam rumah,&lt;br /&gt;menyingkap korden putih transparan...&lt;br /&gt;melihat dari kaca transaparan..&lt;br /&gt;membuka pintu,&lt;br /&gt;membawa air dingin&lt;br /&gt;untuk menyejukkan kerongkongan kedua Green.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya meneguk...&lt;br /&gt;“Hmmm segaaaaarrrrrr....!!!”&lt;br /&gt;kata mereka bersama-sama lagi!!&lt;br /&gt;Rupanya mereka sudah berdamai..&lt;br /&gt;Sesudah minum malah tertawa terbahak-bahak..&lt;br /&gt;keras sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LoveGreen tertegun&lt;br /&gt;Matanya memandang mereka...&lt;br /&gt;"Ada apa ini?" tanya ia terheran-heran.&lt;br /&gt;Dia memakai daster pendek, merah motif kembang.&lt;br /&gt;Kulitnya putih mulus, berrambut jagung lurus seleher,&lt;br /&gt;tangannya masih memegang nampan yang berisi gelas&lt;br /&gt;kosong dengan sisa air dingin&lt;br /&gt;yang barusan diminum kedua Green...&lt;br /&gt;“Ada apa ini?”&lt;br /&gt;.....tanyanya penuh ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mau mendirikan Partai Hijau!"&lt;br /&gt;kata NewGreen tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... maksudnya supaya ada tempat&lt;br /&gt;bagi seluruh stake holder masyarakat&lt;br /&gt;membicarakan semua problema lingkungannya&lt;br /&gt;di tempat yang tepat...&lt;br /&gt;Mudah diaspirasikan ke Dewan&lt;br /&gt;atau Wakil-wakil rakyat secara beradab...,"&lt;br /&gt;kata OldGreen  sabar, datar, dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya! tapi tetap akan melakukan DEMONSTRASI!"&lt;br /&gt;sergah NewGreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudnya?..." tanya LoveGreen penuh ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amerika menjadi negara pertama yang merangsang&lt;br /&gt;gerakan ramah lingkungan di dunia,&lt;br /&gt;dengan berbagai perundangannya&lt;br /&gt;Clean Water Act,.. Clean Air Act, dll.. dll......&lt;br /&gt;Mengapa?" tanya OldGreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran New Green yang bicara,&lt;br /&gt;"Karena mereka bisa mengadakan demonstrasi&lt;br /&gt;secara besar-besaran pada 22 April 1970&lt;br /&gt;di negaranya, semua masyarakat tanpa kecuali,&lt;br /&gt;semua menyerukan SELAMATKAN BUMI,&lt;br /&gt;LINGKUNGAN kita yang cuma satu-satunya kita tempati..,"&lt;br /&gt;kata NewGreen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kalau mau bikin lingkungan baik, ya kita demontrasi&lt;br /&gt;besar-besaran," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba bandingkan dengan PDI Perjuangannya Megawati&lt;br /&gt;yang menang besar di Pemilu 7 Juli kemarin,&lt;br /&gt;Mengapa menang? Karena mereka demonstrasi secara&lt;br /&gt;besar-besaran... Tujuannya untuk menarik perhatian&lt;br /&gt;rakyat, hingga bahkan rakyat sendiri yang melakukannya...&lt;br /&gt;Muluslah Mega ke Istana.. walau terjegal Gus Dur..&lt;br /&gt;ha..ha..ha..,"  NewGreen tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya,&lt;br /&gt;OldGreen  cuma tersenyum sambil berkata lirih...&lt;br /&gt;"Yang penting kan konsepnya yang digodok&lt;br /&gt;untuk dijadikan semua perangkat peraturan&lt;br /&gt;lingkungan lestari di negeri ini.&lt;br /&gt;Jadi tak cuma cukup bertindak dengan okol.&lt;br /&gt;Tapi juga akal. Itulah perlunya PARTAI."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LoveGreen tersenyum,&lt;br /&gt;ia tahu kedua-duanya tak ada yang salah.&lt;br /&gt;Pengkajian kebijakan maupun aksi ketegasan,&lt;br /&gt;kedua-duanya sangat dibutuhkan...&lt;br /&gt;keduanya saling membutuhkan.&lt;br /&gt;Walau yang pertama lebih terasa lambat,&lt;br /&gt;dan yang kedua lebih banyak aksi kekerasan..&lt;br /&gt;Keduanya bisa saling melengkapi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4617826022122877316?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4617826022122877316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4617826022122877316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4617826022122877316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4617826022122877316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-38-27-nopember-1999-memori-partai.html' title='EHDB 38/ 27 Nopember 1999 MEMORI PARTAI HIJAU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5645738796246340647</id><published>2007-08-26T19:15:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:16:09.347-07:00</updated><title type='text'>EHDB 37/ 26 Nopember 1999  JURNALISME LINGKUNGAN (2)</title><content type='html'>"HALLO CHARLIE, APA KABAR?"&lt;br /&gt;Itulah satu judul tulisan liputan lingkungan  yang dilihat dari persoalan kependudukan,  sosial, budaya, ekonomi, politik &lt;br /&gt;"HARI PENCINTA LINGKUNGAN…"&lt;br /&gt;Itulah satu judul tulisan liputan lingkungan dari sudut ideologi &lt;br /&gt;"PENYU-PENYU ITU MENANGIS"&lt;br /&gt;Itulah satu judul tulisan liputan lingkungan dari dimensi iptek &lt;br /&gt;"ADA DUA JENIS KEONG MAS"&lt;br /&gt;Itulah satu judul tulisan liputan lingkungan dari angle iptek juga &lt;br /&gt;Ada lagi yang ditulis dari sudut pandang kesehatan&lt;br /&gt;Dan lain-lain..&lt;br /&gt;Dan lain-lain.. &lt;br /&gt;Mengapa tidak Anda tulis "MENGAPA PAIDJO BERMUKA SURAM?"&lt;br /&gt;Sebagai tulisan lingkungan dari sudut pandang ada derita?&lt;br /&gt;Manakala hati tercabik-cabik sebab lingkungan hampir binasa.. &lt;br /&gt;Mengapa tidak Anda tulis "MENGAPA MINAH SEDIA BERBINAR MATA?" Sebagai tulisan lingkungan dari sudut pandang  Ada cita-cita yang segera akan terwujud begitu nyata? Bilamana lingkungan asri nan elok begitu terpelihara. &lt;br /&gt;Mengapa tidak Anda tulis&lt;br /&gt;"LIHAT! .. PAIDJO DAN MINAH BERSUKACITA..! .. BERBAHAGIA!" &lt;br /&gt;Sebagai tulisan lingkungan dari sudut &lt;br /&gt;BETAPA MANUSIA BISA BERPROSES  BEGITU SEMPURNA &lt;br /&gt;LAKSANA TUHAN  DALAM MENCIPTA &lt;br /&gt;DAN MENCINTAI LINGKUNGAN?&lt;br /&gt;HINGGA HARMONI ITU BEGITU TERPELIHARA! &lt;br /&gt;Anda bisa kok menulisnya.&lt;br /&gt;Anda pun bisa kok melakukannya!&lt;br /&gt;Mengapa tidak? &lt;br /&gt;Lihat! &lt;br /&gt;Lingkungan Anda sudah menunggu..&lt;br /&gt;Tulisan Anda &lt;br /&gt;Dan&lt;br /&gt;Tindakan Anda.. &lt;br /&gt;Mengapa tidak? &lt;br /&gt;ITULAH JURNALISME LINGKUNGAN. ***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5645738796246340647?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5645738796246340647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5645738796246340647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5645738796246340647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5645738796246340647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-37-26-nopember-1999-jurnalisme.html' title='EHDB 37/ 26 Nopember 1999  JURNALISME LINGKUNGAN (2)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2325542635714846311</id><published>2007-08-26T19:14:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:15:34.129-07:00</updated><title type='text'>EHDB 36/ 25 Nopember 1999 JURNALISME LINGKUNGAN (1)</title><content type='html'>Anda sedih?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Anda kecewa?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Anda terluka?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Anda menderita?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Atau justru Anda senang?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Atau gembira?…&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Atau bahkan bahagia?...&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis..&lt;br /&gt;Atau sangat bersukacita?&lt;br /&gt;Tulis yang anda lakukan,&lt;br /&gt;Lakukan yang anda tulis.&lt;br /&gt;TENTU SAJA..&lt;br /&gt;ANDA TULIS YANG TERBAIK&lt;br /&gt;YANG MEMBERI SOLUSI,&lt;br /&gt;YANG MEMBERI HARAPAN,&lt;br /&gt;YANG MENGEMBANGKAN,&lt;br /&gt;BUKAN YANG JUSTRU MEMBENAMKAN.&lt;br /&gt;Ah! Ngomong apa sih ini!..&lt;br /&gt;Ya! Kita sedang ngomong soal jargon ISO seri 9000&lt;br /&gt;yaitu : "TULIS YANG ANDA LAKUKAN,&lt;br /&gt;LAKUKAN YANG ANDA TULIS."&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena.. Tulisan bisa mengubah .. prilaku menjadi lebih positif, bila.. berasal dari perbuatan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau kan? Menggugah orang untuk menanam pohon? Dengan menulis tentang kecambah.. yang betul-betul Anda tanam dengan sentuhan lembut tangan sendiri? .. Daripada berkisah soal pohon raksasa berdiameter meteran.. Namun hanya ada di belantara impian? ITULAH REALISTIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau kan? Menggugah orang menyetop berak sembarangan di pantai? Dengan menulis tentang jamban.. Yang Anda bikin dengan para tetangga menjadi jamban kolektif, Untuk mencegah tai bergelimpangan di mana-mana .. Dan dengan nyaman keluarga demi keluarga menyimpannya dalam Septi-tank bersama yang justru bisa dibikin BIOGAS? ITULAH IDEALIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau kan? MENULIS YANG ANDA LAKUKAN, DAN MELAKUKAN YANG ANDA TULIS? .. ITULAH JURNALISME LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;Rekaman tindakan nyata.&lt;br /&gt;Memperbaiki keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau kan? MENULIS YANG ANDA LAKUKAN, DAN MELAKUKAN YANG ANDA TULIS? .. Sekecil apapun, Anda bisa ganti perilaku pembaca ..&lt;br /&gt;Dan perilaku Anda sendiri..&lt;br /&gt;Dengan tulisan Anda itu.&lt;br /&gt;Bolehkan mengutip kata-kata Iwan Fals?&lt;br /&gt;PERJUANGAN.. ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA.&lt;br /&gt;Maka bagi lingkungan..&lt;br /&gt;PERJUANGAN UNTUK LINGKUNGAN..&lt;br /&gt;ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA..&lt;br /&gt;MANA LAGI ?&lt;br /&gt;KALAU BUKAN TENTANG LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;Ya nggak?&lt;br /&gt;Semoga Anda bilang ya..&lt;br /&gt;Dan.. Menulis&lt;br /&gt;yang Anda lakukan,&lt;br /&gt;Lantas..&lt;br /&gt;Melakukan yang Anda tulis.&lt;br /&gt;ITULAH JURNALISME LINGKUNGAN :&lt;br /&gt;"TULIS YANG ANDA LAKUKAN, LAKUKAN YANG ANDA TULIS." ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2325542635714846311?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2325542635714846311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2325542635714846311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2325542635714846311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2325542635714846311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-36-25-nopember-1999-jurnalisme.html' title='EHDB 36/ 25 Nopember 1999 JURNALISME LINGKUNGAN (1)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-877447220299469798</id><published>2007-08-26T19:13:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:14:54.002-07:00</updated><title type='text'>EHDB 34/ 23 Nopember 1999 SIAPA MAU MAKANAN HASIL REKAYASA GENETIK? (oleh Ika Nur Krishnayanti)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Seorang teman dari Thailand mengaku dirinya “tidak normal” hanya karena ia seorang peneliti atau ilmuwan, tanpa memerinci alasannya. Bukan hanya dirinya saja, ia bahkan berani menyebut para scientists itu “tidak normal”. “Aneh”, mungkin itulah maksudnya yang lebih tepat. Pengalaman itu saya dapatkan ketika saya berkesempatan memasuki sebentar dunia scientists (ilmuwan), khususnya bioteknologi, dalam suatu kursus sepanjang dua pekan di negara tetangga tempo hari. Belakangan, baru saya sadari benar juga katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik paling “gres” sekaligus menjadi obsesi para pejuang di dunia bioteknologi saat ini adalah memasyarakatkan produk-produk hasil rekayasa genetika. Entah itu tanaman hasil rekayasa genetika (dikenal dengan genetically modified organisms/GMOs) seperti jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai Bt, makanan atau minuman hasil rekayasa genetika, atau produk-produk lainnya (Bt di sini bukan “bosan total”, tapi Bacillus thuringiensis, mikroorganisme yang direkayasa ke dalam rangkaian gen suatu tanaman agar menghasilkan suatu sifat toksis bagi hama tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan bioteknologi pertanian telah “menciptakan” tanaman jagung yang mengandung gen Bt sehingga (katanya) tanaman tersebut dapat mengusir hama ulat yang menggerogoti tubuhnya dengan sendirinya, tanpa petani repot-repot membasminya dengan pestisida. Begitu juga dengan kapas Bt dan kedelai Bt. Bila kita hitung luas areal tanaman-tanaman tersebut di dunia, bayangkan berapa banyak penggunaan pestisida dapat dikurangi dari muka bumi. Bayangkan juga berapa besar pencemaran lingkungan akibat pestisida dapat dikurangi! Petani pun boleh lega, karena pengeluaran untuk pestisida jadi berkurang. Ramah lingkungan, bukan? Pernah mendengar argumen seperti itu? Itulah argumen yang selalu digembar-gemborkan para pendukung GMO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, para ilmuwan tampak enggan membicarakan serius soal “biosafety” produk-produk tersebut. Apakah produk itu aman buat lingkungan? Aman buat kesehatan manusia dan ternak? Tidak mencemari sumber-sumber genetika di alam? Sulit dipungkiri, karena sejarah pernah mencatat, lusinan orang meninggal dunia sementara ratusan lainnya menderita setelah mengkonsumsi L-tryptophan (asam amino yang mengandung bakteri hasil rekayasa genetika) di Amerika Utara pada tahun 1989. Orang yang alergi terhadap makanan tertentu akan semakin berisiko tinggi akibat mengkonsumsi makanan yang direkayasa mengandung bahan tertentu (misalnya pada kasus kacang brazil, brazil nut). Tanaman-tanaman rekayasa genetik sangat mungkin saling kawin dengan kerabat liarnya di alam, bahkan juga mungkin bakal menggusur tanaman alami di dunia karena tuntutan dunia industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara maju yang sudah sadar soal biosafety, terutama di Eropa, tidak mau negaranya menjadi ajang uji coba penanaman tanaman transgenik (hasil rekayasa genetik) tersebut. Sementara itu Amerika Serikat masih agak longgar. Di sinilah anehnya scientists, para ilmuwan pendukung rekayasa genetik umumnya belum tentu mau mengkonsumsi produk-produk bioteknologi modern tersebut. Kalau masih dapat memilih, mereka cenderung akan mengkonsumsi produk-produk alami. Mereka juga cukup sadar, jika mereka berhasil memproduksi suatu produk rekayasa genetik, belum tentu mereka bisa memasarkannya sekalipun di negara sendiri, baik negara maju maupun negara berkembang. Misalnya anggur transgenik. Meski dalam suatu permainan simulasi, para peneliti masih bingung ke negara mana akan mengekspor produk transgenik tersebut. Mereka masih harus memilih-milih dengan cermat, negara mana yang masih longgar regulasinya sehingga dapat menerima produk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi siapa sebenarnya yang bakal menjadi pasar produk-produk rekayasa genetik? Negara majukah? Negara berkembangkah? Konsumen yang tidak kritiskah? Kitakah? Atau mungkin anda yang berminat? Tampaknya dalam hal ini konsumen masih menjadi raja. Pilihan berada di tangan konsumen, yaitu kita semua. Menerima atau menolak? Atau cuek? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika N. Krishnayanti &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-877447220299469798?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/877447220299469798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=877447220299469798' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/877447220299469798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/877447220299469798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-34-23-nopember-1999-siapa-mau.html' title='EHDB 34/ 23 Nopember 1999 SIAPA MAU MAKANAN HASIL REKAYASA GENETIK? (oleh Ika Nur Krishnayanti)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5593381918109799642</id><published>2007-08-26T19:11:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:13:37.139-07:00</updated><title type='text'>EHDB 33/ 22 Nopember 1999 BENANG MERAH ITU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Yang kita tahu sekarang tentang kerusakan alam, hutan gundul, banjir, tanah longsor, ozon berlubang dengan efek rumah kacanya, satwa punah, air sungai busuk nan bau tak layak untuk mandi, tanah pertanian kering tandus, polusi kendaraan, dan beragam kerusakan yang lain, itu hanya AKIBAT DARI SUATU TINDAKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakannya sendiri berupa : orang menebang hutan, orang memakai AC yang tak ramah lingkungan membikin ruang di dalam rumah dingin, tapi di luarnya panas bukan main, orang menembaki satwa, orang membuang limbah seenak perutnya, orang memakai kendaraan bermotor yang berbahan bakar tak ramah lingkungan, dan sebagainya tingkah polah anak manusia dalam suatu yang disebut TINDAKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan-tindakan itu ada sebabnya. Mungkin lantaran kebutuhan ekonomi yang melilit, kebutuhan ekonomi yang merangsang agar bisa menumpuk barang dan makhluk lain untuk dikuasai, diserakahi dan direngkuh jadi harta milik, gengsi yang mencengkeram gaya hidup,sifat gelojoh yang mendorong pola hidup konsumtif. Atau bahkan, sosial, budaya dan politik yang mengkondisikan sekelompok besar manusia dalam status 'bangsa' berperilaku disetir oleh kendali kebijakan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita runtut dan cari akar permasalahan dari semua tindakan itu, akan ketemu semua adalah akibat dari dari sesuatu nilai atau norma yang bernama Moral, Budaya, yang membuat orang sadar atau punya KESADARAN ataukah tidak. Dalam konteks ini tak bisa lepas dari apa yang dikata PENDIDIKAN. Maka akan ketemu benang merahnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan ------- Kesadaran------Tindakan, berbagai perilaku merusak alam ------- Akibat dari tindakan, berbagai kerusakan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, masalah pendidikan kita yang perlu dibenahi. Pendidikan kita selama ini lebih mencetak manusia-manusia yang lebih economic oriented, manusia digodok malah untuk tidak memanusiakan manusia. Namun lebih menjadi mesin-mesin pencetak uang. Apa saja keahlian, ketrampilan di stimulir untuk bisa mengeksploitasi alam sehingga menjadi duit. Anak disekolahkan hingga sarjana, motivasinya cuman bagaimana menjadi 'dokter, insinyur, atau atribut-atribut yang lain' yang bisa dengan cepat menghasilkan uang. Bahkan anak yang cukup lulus SMA dan sebelumnya pun demikian, lulus sekolah maunya langsung dapat kerja, apapun asal bisa dapat duit sehingga rela menjadi segerombolan pekerja pabrik, atau bahkan menjadi satpam. Padahal di rumah dia punya sawah, yang bisa dikelola namun rasanya risih harus berlumur lumpur, tambahan sawahnya sudah telanjur dijual untuk didirikan bangunan-bangunan tembok para juragan kota yang ingin istirahat di desa, sebagai ganti untuk memiliki sesuatu yang bernama uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ini semacam muara dari pendidikan yang demikian. Lihat aja lahan-lahan subur disulap menjadi padang-padang tandus dengan membombangkar balik hutan-hutan perawan di Irian Jaya, Kalimantan, agar bisa diraup gambut berton-kilo emas untuk meningkatkan devisa negara. Berjuta hektar hutan dibabat direngkuh cuman oleh segelintir HPH berpatron Cendana, katanya agar bisa meningkatkan 'devisa' negara padahal cuman agar 'diabisa' kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya cari duit itu sah-sah saja. Dan wajib bagi orang hidup. Namun sebetulnya kan bukan tujuan. Tujuan sebenarnya kan bagaimana bisa hidup sejahtera, hidup makmur. Na, hidup makmur ini yang diartikan dalam waktu singkat bisa kaya, sehingga melupakan ada jalur yang seharusnya dipelihara untuk menjaga kehidupan makmur ini terjaga sepanjang masa. Jalur ini justru dirampas untuk bisa makmur di masa kini. Alam yang menyediakan potensi berlimpah untuh kelanggengan kepentingan hidup, 'dieksploitasi', bukan 'dieksplorasi' lagi. Dengan kata lain mustinya kita bisa kaya kalau kekayaan alam ini terpelihara, dengan memanfaatkan sekaligus mengelola dan memeliharanya. Tapi kita tidak, alam kita rusak agar kita kaya. Kita memang kaya tapi cuman sekejap. Maka 'BAGAIMANA MUNGKIN KITA NYAMAN HIDUP DI ATAS BUMI YANG MURAM?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Pendidikan kita harus dibenahi dari yang berorientasi ekonomi menjadi berorientasi humanisme (di luar konteks Tuhanisme). Lantas yang berkecimpung di dunia sekolah ya menerapkan pendidikan lingkungan ini pada anak didik, bahkan kolega, maupun atasannya. Yang di pabrik, ya bertanggung jawab untuk merangsang rekan, karyawan, atau atasannya untuk lebih menjaga lingkungan. Yang di jalur norma, kebijakan, ya dengan intensif menjalankan fungsinya sebagai penjaga norma dengan berbagai kajian kebijakan, penyadaran untuk menjaga pagar legitimasi agar implikasi tak melenceng. Artinya siapapun kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam mengatasi problem-problem lingkungan. Sekecil atau sebesar apapun, kita tak bisa mengelak bahwa itu tanggung jawab KITA MASING-MASING, DI RUANG LINGKUP, DAN PADA PERAN MASING-MASING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kalau problema lingkungan itu memerlukan singgungan yang bersinergi dengan sesama manusia yang lain, itulah saatnya kita berKOORDINASI, mengapa tidak? Koordinasi berdasar kajian bahwa ada problema bersama, lantas kita susun agenda bersama untuk dilakukan bersama, di bidang masing-masing. Contoh nyata adalah Juli 1999 di Surabaya dibentuk Forum Perkotaan Surabaya, yang mengakomodasi peran para stake holders :&lt;br /&gt;-Stake holder utama : masyarakat&lt;br /&gt;-Stake holder pemegang norma : tokoh masyarakat, LSM, Perguruan tinggi&lt;br /&gt;-Stake holder pembuat dan pelaku kebijakan : DPR, Pemerintah&lt;br /&gt;Mereka mencoba merumuskan langkah bersama untuk menyikapi dan mengatasi problem-problem lingkungan di perkotaaan Surabaya, yang kini sedang mendapat angin dengan akan terbitnya UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, yang membuka peluang bagi daerah untuk dengan leluasa memanage apapun di daerahnya, yang berimplikasi pula pada pengeloaan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang problema lingkungan tak bisa dipisahkan hanya dengan suatu atribut kementrian lingkungan hidup. Semua kementrian/departemen yang lain juga bertanggung jawab terhadap lingkungan, baik itu departemen pariwisata dan kesenian, juga semua departemen kabinet pelangi yang kini masih penuh dengan pelangi problema itu. Pokoknya tidak seperti ala dulu lagi ada separatisme bahwa urusan lingkungan cuman urusan Menteri LH atau pejabat-pejabatnya, yang sudah merasa bekerja kalau sudah mengkoordinir anak buahnya untuk mengumpulkan informasi-informasi lingkungan, membuat pernyataan,&lt;br /&gt;cuma membikin seminar. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5593381918109799642?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5593381918109799642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5593381918109799642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5593381918109799642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5593381918109799642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-33-22-nopember-1999-benang-merah.html' title='EHDB 33/ 22 Nopember 1999 BENANG MERAH ITU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5633938717015355421</id><published>2007-08-26T19:11:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:11:50.815-07:00</updated><title type='text'>EHDB  32/ 21 Nopember 1999 DUA KEKASIH</title><content type='html'>Seorang manusia seneng banget sama pelestarian lingkungan...&lt;br /&gt;Dia juga seneng banget sama pembangunan..&lt;br /&gt;Baginya susah mbedain mana hidup untuk pelestarian lingkungan, mana&lt;br /&gt;hidup untuk pembangunan..&lt;br /&gt;Seorang setan menggoda kesetiaannya..&lt;br /&gt;Agar dia nggak seneng sama pelestarian lingkungan juga sama pembangunan..&lt;br /&gt;Tapi agar seneng sama setan..&lt;br /&gt;"Betul kamu seneng en cinta sama pelestarian lingkungan?"&lt;br /&gt;Jawab manusia, "Iya.. Seneng banget."&lt;br /&gt;Setan tersenyum, trus tanya lagi..," Sama pembangunan?"&lt;br /&gt;Jawab manusia, "Pembangunan juga."&lt;br /&gt;Setan lagi, "Apakah hidupmu untuk pelestarian lingkungan?"&lt;br /&gt;Si Manusia lagi, "Iya.."&lt;br /&gt;"Kalau untuk pembangunan?"&lt;br /&gt;"Iya, untuk pembangunan juga," jawab manusia tersenyum,&lt;br /&gt;mengingat dua kekasihnya itu, pelestarian lingkungan dan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan kelimputan!! Lari terbirit-birit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia membayangkan pelestarian lingkungan dan pembangunan tersenyum, tertawa, berangkulan, berpelukan, berciuman, bercumbu, bergandeng tangan, berbalik badan, berjalan, bercinta! Luar biasa, betul-betul, pelestarian lingkungan dan pembangunan benar-benar saling mencinta ...  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5633938717015355421?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5633938717015355421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5633938717015355421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5633938717015355421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5633938717015355421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-32-21-nopember-1999-dua-kekasih.html' title='EHDB  32/ 21 Nopember 1999 DUA KEKASIH'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5346643615551741456</id><published>2007-08-26T19:10:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:11:05.277-07:00</updated><title type='text'>EHDB  31/ 20 Nopember 1999 MEDAN ENERGI KITA</title><content type='html'>Aura …&lt;br /&gt;Adalah&lt;br /&gt;medan energi yang mengelilingi&lt;br /&gt;semua materi&lt;br /&gt;benda hidup maupun mati&lt;br /&gt;ke segala arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan energi aura merupakan&lt;br /&gt;garis-garis pancaran energi,&lt;br /&gt;berwarna-warni pelangi.&lt;br /&gt;merah, orange, kuning,&lt;br /&gt;hijau, biru, indigo, violet,&lt;br /&gt;putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna ini menggambarkan&lt;br /&gt;kesehatan jasmaniah, suasana hati,&lt;br /&gt;sikap dan pengalaman rohani. &lt;br /&gt;Dapat pula mendatangkan kedamaian,&lt;br /&gt;merangsang aktifitas,&lt;br /&gt;percaya diri,&lt;br /&gt;aktifitas mental dan&lt;br /&gt;pergolakan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua,&lt;br /&gt;Warna aura ini&lt;br /&gt;dapat berubah sepanjang hari,&lt;br /&gt;tergantung pengalaman hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aura&lt;br /&gt;berciri khusus&lt;br /&gt;berfrekwensi khusus :&lt;br /&gt;tidak ada dua yang sama,&lt;br /&gt;maximal cuma mirip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTANYAANNYA..&lt;br /&gt;BAGAIMANA AURA MUNCUL?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata&lt;br /&gt;Aura disebabkan oleh medan listrik,&lt;br /&gt;magnetik, bunyi, panas, cahaya,&lt;br /&gt;elektromagnet&lt;br /&gt;yang dibangkitkan dari dalam tubuh&lt;br /&gt;dan dari luar tubuh melalui interaksi alam,&lt;br /&gt;antara satu medan energi dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aura seseorang&lt;br /&gt;berinteraksi dengan aura orang lain.&lt;br /&gt;juga berinteraksi&lt;br /&gt;dengan hewan&lt;br /&gt;dan tumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin intim hubungan&lt;br /&gt;semakin besar pertukaran energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membagi  aura (energi)&lt;br /&gt;kepada anaknya seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam aura :&lt;br /&gt;gambaran fisik,&lt;br /&gt;emosi,&lt;br /&gt;mental&lt;br /&gt;dan rohani .&lt;br /&gt;( pancaran energi )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah&lt;br /&gt;Aura berfungsi melindungi tubuh&lt;br /&gt;Mengkoordinir&lt;br /&gt;mengatur kegiatan jiwa dalam&lt;br /&gt;kehidupan jasmani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAH! ALAMKU TERNYATA PENUH AURA.&lt;br /&gt;PENUH MEDAN ENERGI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling mengisi dengan sesama&lt;br /&gt;Saling mengisi dengan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA MENJADI LEBIH&lt;br /&gt;BERARTI KALA ADA INTERAKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi antara kau dan aku&lt;br /&gt;Interaksi antara kau dan mereka&lt;br /&gt;Interaksi antara aku dan mereka&lt;br /&gt;Interaksi antara kita dan mereka&lt;br /&gt;Interkasi antara mereka dan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi antara semua itu dengan alam&lt;br /&gt;Interaksi antara alam dengan kau&lt;br /&gt;Interaksi antara alam dengan aku&lt;br /&gt;Interaksi antara alam dengan mereka&lt;br /&gt;Interaksi antara alam dengan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAMPUN AKAN BERSAHABAT&lt;br /&gt;DENGAN KITA&lt;br /&gt;KALA KITA BERINTERAKSI&lt;br /&gt;SECARA POSITIF DENGANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang akalu interaksi penuh medan energi ini&lt;br /&gt;Dianggap hanya sebagai angin lalu saja.&lt;br /&gt;Sebab dengannya kita bisa menjaga alam&lt;br /&gt;Sebab dengannya kita bisa memelihara lingkungan&lt;br /&gt;Kita bisa saling menjaga dan memelihara&lt;br /&gt;Juga dengan dia,&lt;br /&gt;Alam lingkungan kita&lt;br /&gt;Entah itu hewan, tumbuhan, dan segala perhiasan&lt;br /&gt;Di hamparan planet biru&lt;br /&gt;Juga planet dan bintang tetangga. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5346643615551741456?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5346643615551741456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5346643615551741456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5346643615551741456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5346643615551741456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-31-20-nopember-1999-medan-energi.html' title='EHDB  31/ 20 Nopember 1999 MEDAN ENERGI KITA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5112785152106937670</id><published>2007-08-26T19:09:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:10:34.619-07:00</updated><title type='text'>EHDB 30/ 19 Nopember 1999  MERK-LINGKUNGAN</title><content type='html'>Pemberian MERK adalah  seni  dan landasan pemasaran.  &lt;br /&gt;MERK adalah  nama, istilah,  tanda, simbol  atau rancangan, &lt;br /&gt;atau kombinasi hal-hal itu,  &lt;br /&gt;MERK berfungsi mengidentifikasi &lt;br /&gt;barang atau jasa dari seseorang  atau kelompok penjual &lt;br /&gt;untuk membedakannya dari produk pesaing.  &lt;br /&gt;MERK mengidentifikasikan  penjual,  atau pembuat,  &lt;br /&gt;MERK dapat berupa nama,&lt;br /&gt;MERK dagang,  logo  atau simbol.  &lt;br /&gt;MERK merupakan janji penjual  untuk konsisten  memberikan keistimewaan, &lt;br /&gt;manfaat dan  jasa tertentu pada pembeli.  &lt;br /&gt;MERK mengingatkan  pada atribut-atribut tertentu.&lt;br /&gt;Mahal-kah?&lt;br /&gt;Terancang baik-kah?&lt;br /&gt;Tahan lama-kah?&lt;br /&gt;Cepat bernilai jual kembali yang tinggi-kah?&lt;br /&gt;Mewah-kah?&lt;br /&gt;Eksklusif-kah??&lt;br /&gt;Ataukah….. ?. &lt;br /&gt;MERK lebih dari serangkaian atribut.&lt;br /&gt;Tapi lebih menunjukkan suatu manfaat.&lt;br /&gt;Sebab konsumen tidak membeli atribut  tetapi membeli manfaat. &lt;br /&gt;MERK menyatakan sesuatu  tentang nilai produsen.&lt;br /&gt;Berkinerja tinggi-kah?&lt;br /&gt;Berkeamanan-kah?&lt;br /&gt;Bergengsi-kah?&lt;br /&gt;Ataukah…..? &lt;br /&gt;MERK juga mewakili budaya tertentu.&lt;br /&gt;Budaya Grogol-kah?&lt;br /&gt;Glodok-kah?&lt;br /&gt;Glasgow-kah?&lt;br /&gt;Teroganisasi-kah?&lt;br /&gt;Efisien-kah?&lt;br /&gt;Berkualitas tinggi-kah?.&lt;br /&gt;Atau-kah? &lt;br /&gt;MERK juga mencerminkan  kepribadian tertentu. &lt;br /&gt;MERK menunjukkan jenis pemakai, konsumen yang membeli &lt;br /&gt;atau menggunakan produk tertentu. &lt;br /&gt;Dengan memberi MERK,  produk tidak lagi dikatakan sebagai komoditi, &lt;br /&gt;dan terhindar dari fluktuasi harga  yang disebabkan oleh pasokan &lt;br /&gt;dan permintaan tidak seimbang.  &lt;br /&gt;Untuk menyantumkan MERK produk &lt;br /&gt;sebaiknya berpedoman pada diferensiasi, &lt;br /&gt;sehingga tampil beda  apabila diperbandingkan dengan komoditi.&lt;br /&gt;DIMANAKAH MERK-MU?&lt;br /&gt;YANG MANAKAH MERK-MU?&lt;br /&gt;BAGAIMANAKAH MERK-MU? &lt;br /&gt;HAI KITA.. &lt;br /&gt;YANG MENGAKU BER-MERK LINGKUNGAN? *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5112785152106937670?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5112785152106937670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5112785152106937670' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5112785152106937670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5112785152106937670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-30-19-nopember-1999-merk.html' title='EHDB 30/ 19 Nopember 1999  MERK-LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-379845548506238071</id><published>2007-08-26T19:09:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:09:50.167-07:00</updated><title type='text'>EHDB  29/ 18 Nopember 1999 AYAM</title><content type='html'>BENARKAH MASALAH LINGKUNGAN&lt;br /&gt;TAK PERNAH MENYENGGOL MASALAH PETERNAKAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKANKAH PETERNAKAN BAGIAN DARI PERTANIAN?&lt;br /&gt;YANG PUNYA PROBLEMATIKA LINGKUNGAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIHAT!&lt;br /&gt;YANG BERPROBLEMA DI MASLAH PETERNAKAN INI&lt;br /&gt;SANGAT MENGGURITA..&lt;br /&gt;MULAI DARI INVESTOR, PELAKSANA PERUSAHAAN.&lt;br /&gt;PELAKSANA KEMITRAAN.. PETERNAK PENGIKUT PROGRAM&lt;br /&gt;KEMITRAAN.. PETERNAK GUREM.. PETERNAK KECIL..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG LINGKUNGAN?&lt;br /&gt;COBA DEH.. PAHAMI PROBLEMA PETERNAK KECIL DI SINI..&lt;br /&gt;TELUSURI.. BETAPA MASALAH PETERNAKAN INI&lt;br /&gt;TAK JAUH BEDA DENGAN MASALAH PERTANIAN TUMBUHAN&lt;br /&gt;YANG SELAMA INI SELALU DISOROTI KAUM LINGKUNGAN..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COBA RASAKAN&lt;br /&gt;COOBA ANGKAT DERITA PETERNAK ITU..&lt;br /&gt;BEBASKAN DARI JERATAN GURITA DAN MENGIKAT INI. OKE?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 1999,&lt;br /&gt;Lihat!&lt;br /&gt;Betapa ramainya&lt;br /&gt;transaksi saham sektor pakan&lt;br /&gt;dan peternakan&lt;br /&gt;di lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harga saham pakan&lt;br /&gt;dan peternakan meningkat&lt;br /&gt;7,64%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuritas Anwar Sierad dan Sierad Produce&lt;br /&gt;mencipta keuntungan tertinggi&lt;br /&gt;sama-sama 28,57%,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cipendawa Farm Enterprices 22,22%,&lt;br /&gt;Multibreeder Adirama menguat 18,19%,&lt;br /&gt;Surya Hidup Satwa meningkat 7,69%&lt;br /&gt;Charoen Pokphand Indonesia serta CP Prima&lt;br /&gt;sebesar 4,92% dan 4,35%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saham JAPFA&lt;br /&gt;diperdagangkan dengan harga yang sama,&lt;br /&gt;tiada menghasilkan keuntungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan harga saham&lt;br /&gt;dan aktivitas transaksi di lantai BEJ&lt;br /&gt;adalah salah satu indikator baik atau tidaknya&lt;br /&gt;prospek bisnis sektor pakan dan peternakan.&lt;br /&gt;Indikator yang lain&lt;br /&gt;dapat dilihat dari harga jual pronak&lt;br /&gt;(daging dan telur ayam)&lt;br /&gt;serta ketersediaannya&lt;br /&gt;(produksinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi positif pasar&lt;br /&gt;cermin optimisme investor&lt;br /&gt;terhadap semakin membaiknya.&lt;br /&gt;prospek usaha pakan&lt;br /&gt;dan peternakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah! Tampaknya krisis&lt;br /&gt;yang sempat membuat hampir seluruh pelaku&lt;br /&gt;dunia peternakan tak nyenyak tidur.&lt;br /&gt;Telah mulai dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun benarkah?&lt;br /&gt;Benarkah itu nyaman&lt;br /&gt;Bagi seluruh masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLASH BACK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis mendera segenap sendi ekonomi kita,&lt;br /&gt;industri peternakan bukan cuma terkena getahnya &lt;br /&gt;tapi malah masuk sebagai sektor yang cukup parah&lt;br /&gt;tertimpa krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jatuh tertimpa tangga pula.&lt;br /&gt;Biaya produksi melonjak tinggi&lt;br /&gt;karena terlalu banyak dolar yang digunakan&lt;br /&gt;Sementara..&lt;br /&gt;Kebutuhan masyarakat menurun tajam&lt;br /&gt;karena menyusutnya pendapatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINI…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahap puing kehancuran industri peternakan&lt;br /&gt;mulai dibangun.&lt;br /&gt;Gairah budidaya merekah&lt;br /&gt;kandang-kandang ayam ras&lt;br /&gt;terisi kembali dengan anak-anak ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan protein hewani asal ayam baik telur&lt;br /&gt;maupun daging mulai beranjak naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-perusahaan yang kala krisis&lt;br /&gt;habis-habisan  mengosongkan kandang&lt;br /&gt;dan menghentikan pabriknya&lt;br /&gt;karena tak kuat menanggung beban produksi&lt;br /&gt;telah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi peternakan kembali menggelinding&lt;br /&gt;mesin-mesin sebagian telah bekerja&lt;br /&gt;lajunya semakin bertambah.&lt;br /&gt;Perunggasan yang sempat sepi dari kritik&lt;br /&gt;kembali nyaring terdengar.&lt;br /&gt;Berbagai kebijakan kembali dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya tanpa disadari&lt;br /&gt;krisis telah membuat karakter dunia peternakan berubah.&lt;br /&gt;Perunggasan yang semula&lt;br /&gt;para peternak mandiri masih cukup seimbang&lt;br /&gt;dibanding kemitraan&lt;br /&gt;sekarang semakin terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang,&lt;br /&gt;“Ahh.. itu lumrah…!?&lt;br /&gt;membangun peternakan&lt;br /&gt;kan membutuhkan modal&lt;br /&gt;yang cukup besar…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala para peternak berkhayal&lt;br /&gt;mengisi kembali kandang-kandang&lt;br /&gt;dengan anak ayam manis, mungil,&lt;br /&gt;datanglah “para tuan” kemitraan&lt;br /&gt;menawarkan kerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pucuk dicinta ulam tiba”&lt;br /&gt;sebagian peternak&lt;br /&gt;menyambut ajakan kerjasama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciap-ciap anak ayam kembali mengisi telinga.&lt;br /&gt;Satu tujuan diingini peternak…&lt;br /&gt;kembalinya penghasilan&lt;br /&gt;yang mandeg 2 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rupanya&lt;br /&gt;kerjasama tersebut bukanlah kemitraan,&lt;br /&gt;melainkan kontrak kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada nilai lebih akan diperoleh,&lt;br /&gt;Justru keuntungan akan berkurang&lt;br /&gt;dibanding usaha sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya menjadi mesin produksi&lt;br /&gt;tanpa mempunyai posisi tawar yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah mematri niatnya untuk mandiri&lt;br /&gt;harus benar-benar piawai, lihai, cerdik.&lt;br /&gt;Kalau tidak..&lt;br /&gt;entah pakan&lt;br /&gt;atau bibitnya&lt;br /&gt;bisa terlambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau kalaupun ada&lt;br /&gt;harganya mahal&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;harus bayar kontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BETULKAH?&lt;br /&gt;BETULKAH.. ITU&lt;br /&gt;PENCERAHAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi di sisi lingkungan&lt;br /&gt;Sebagian orang lingkungan selalu menggemakan&lt;br /&gt;Stop budidaya ayam ras!&lt;br /&gt;Lestarikan ayam kampung&lt;br /&gt;Lestarikan Plasma nutfah&lt;br /&gt;Lestarikan keragaman hayati asli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop industri peternakan!&lt;br /&gt;Yang menyedot antibiotika&lt;br /&gt;dan hormon penumbuh kebancian!&lt;br /&gt;Yang mebikin pengkonsumsi teracuni&lt;br /&gt;Yang membikin peternak selalu terpecundangi&lt;br /&gt;Selalu tergantung produk luar negeri..&lt;br /&gt;Jadi hamba investor pemegang hak properti..&lt;br /&gt;Mengirim rupiah jadi dollar ke negeri asing..&lt;br /&gt;Sementara peternak cuma menggigit bibir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop upaya kemitraan yang..&lt;br /&gt;Mengebiri keberdayaan rakyat kecil&lt;br /&gt;Cuma jadi pecundang petani berdasi&lt;br /&gt;Sementara peternak cuma dapat angan-angan basi&lt;br /&gt;Sepanjang hari&lt;br /&gt;Sepanjang hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AH!!&lt;br /&gt;MANA INI YANG BENAR?&lt;br /&gt;Selalu begitu..&lt;br /&gt;Selalu begitu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau maju..&lt;br /&gt;begitu banyak yang harus dipertimbangkan..&lt;br /&gt;harus mikir dari alfa sampai omega&lt;br /&gt;harus berkerut dahi dari alif sampai ya’&lt;br /&gt;harus bermarut jidat dari Aa smpai Zet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Semua perlu kearifan..&lt;br /&gt;Dalam memilih..&lt;br /&gt;Dan melangkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bagi pengabdi lingkungan&lt;br /&gt;Yang mengenal bahwa&lt;br /&gt;Semua hal&lt;br /&gt;tak bisa lepas&lt;br /&gt;sendiri-sendiri..&lt;br /&gt;Semua&lt;br /&gt;Selalu terkait..&lt;br /&gt;Selalu mengait&lt;br /&gt;Ekonomi.&lt;br /&gt;Politik.&lt;br /&gt;Sosial.&lt;br /&gt;Budaya.&lt;br /&gt;Hankam&lt;br /&gt;Lingkungan.&lt;br /&gt;Kesinambungan&lt;br /&gt;Keberlanjutan&lt;br /&gt;Kelestarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sustainable-kah?&lt;br /&gt;Berlanjut-kah?&lt;br /&gt;Atau cuma greget sesaat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGALA MESTI TERANYAM&lt;br /&gt;DALAM BISNIS AYAM&lt;br /&gt;PAKAN AYAM&lt;br /&gt;TELUR AYAM&lt;br /&gt;TAI AYAM&lt;br /&gt;AGAR SEMUA MERASA NYAMAN&lt;br /&gt;AMAN&lt;br /&gt;DAN NYAM-NYAM. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-379845548506238071?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/379845548506238071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=379845548506238071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/379845548506238071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/379845548506238071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-29-18-nopember-1999-ayam.html' title='EHDB  29/ 18 Nopember 1999 AYAM'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-9028703418542537374</id><published>2007-08-26T19:08:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:09:11.013-07:00</updated><title type='text'>EHDB 28/ 17 Nopember 1999 BESAR MILIK SIAPA?</title><content type='html'>Presiden Gus Dur menyebut-nyebut Poros Indonesia-China-India&lt;br /&gt;Ada apa?&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;Ketiganya adalah negara-negara BESAR.&lt;br /&gt;dengan penduduk TERBESAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia 200 juta.&lt;br /&gt;China 1,4 miliar.&lt;br /&gt;India 900 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya?&lt;br /&gt;Ketiganya sangat besar artinya bagi peradaban bumi&lt;br /&gt;Di satu sisi.. semakin banyak manusia&lt;br /&gt;yang lagi dan lagi dan lagi..&lt;br /&gt;memperebutkan makanan pokok&lt;br /&gt;juga tak ketinggalan.. makanan suplemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak manusia&lt;br /&gt;yang berebut kamar tidur dan membangunnya&lt;br /&gt;Semakin banyak mengeduk tanah pertanian jadi bara merah&lt;br /&gt;pembakaran bata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak kali lebih deras&lt;br /&gt;untuk pembangkit erosi karena diambilnya batu kali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak pencuri mencuri miliknya sendiri&lt;br /&gt;Bukankah alam itu milik kita sendiri?&lt;br /&gt;Tapi kenapa mesti mencuri?&lt;br /&gt;Semua karena banyak yang memiliki..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang sekali..&lt;br /&gt;Yang memiliki banyak..&lt;br /&gt;cuma yang sudah punya kursi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-9028703418542537374?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/9028703418542537374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=9028703418542537374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/9028703418542537374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/9028703418542537374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-28-17-nopember-1999-besar-milik.html' title='EHDB 28/ 17 Nopember 1999 BESAR MILIK SIAPA?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5419223956745423398</id><published>2007-08-26T19:08:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:08:38.670-07:00</updated><title type='text'>EHDB 27/ 16 Nopember 1999 PROSES DAN PROSEA</title><content type='html'>Kita semua mahfum,&lt;br /&gt;Orientasi dari semua kegiatan berlingkungan kita&lt;br /&gt;adalah PROSES, BUKAN HASIL.&lt;br /&gt;Kendati hasil yang baik itu perlu.&lt;br /&gt;Namun haqul yaqin hasil dari suatu program atau proyek&lt;br /&gt;bersifat sementara.&lt;br /&gt;MASIH ADA KELANJUTAN YANG HARUS DIGARAP dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidikan yang tepat supaya penggarapannya&lt;br /&gt;selalu bisa baik sesuai apa yang diharap&lt;br /&gt;adalah BIDIKAN PADA PELAKUNYA.&lt;br /&gt;Siapa lagi kalau bukan manusianya sendiri.&lt;br /&gt;Istilah bekennya ..&lt;br /&gt;Perlu PROSES BELAJAR dan PEMBELAJARAN.&lt;br /&gt;Itu kalau kita bicara soal proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamannya plesetan..&lt;br /&gt;PROSEA bisa menggelincir menjadi kata PROSEA&lt;br /&gt;Baiknya, itu tepat bermakna..&lt;br /&gt;Dan maknanya lumayan berguna.&lt;br /&gt;POSEA = PLANT RESOURCES OF SOUTH EAST ASIA.&lt;br /&gt;Tiga hari ini, 15, 16, 17 Nopember 1999&lt;br /&gt;PROSEA menyelenggarakan sebuah PROSES.&lt;br /&gt;Tepatnya Lokakarya Internasional ke 3:&lt;br /&gt;PROSEA BEYOND 2000&lt;br /&gt;(PROSEA SETELAH TAHUN 2000. di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan membicarakan Yayasan penyelenggaranya&lt;br /&gt;yang kebetulan namanya juga sama.&lt;br /&gt;Tapi soal pahit getirnya para pakar lingkungan&lt;br /&gt;dan sahabat-sahabatnya menjaga&lt;br /&gt;sirnanya PROSEA itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6000 jenis tumbuhan berguna sebagai&lt;br /&gt;penghasil utama, penghasil tambahan, dan kurang dikenal&lt;br /&gt;DIBAHAS.&lt;br /&gt;Suatu proses pembahasan setelah entah berapa ribu/juta&lt;br /&gt;prosea-prosea yang lain sirna..&lt;br /&gt;dan entah bagaimana nasibnya..&lt;br /&gt;Padahal kegunaannya yang begitu beraneka ragam&lt;br /&gt;bisa membasuh noda-noda problematika manusia&lt;br /&gt;dalam berbagai bentuknya.&lt;br /&gt;Entah sebagai pengobtan, mata pencaharian, atau sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cemas akan kehilangan, karena kita telah kehilangan&lt;br /&gt;Rupanya hampir selalu begitu..&lt;br /&gt;Semua menjadi begitu bermakna..dan penuh arti&lt;br /&gt;setelah diri sendiri mengalami sendiri betapa sakitnya&lt;br /&gt;kehilangan, perpisahan, kehampaan..&lt;br /&gt;Bahkan terhadap keanekaragaman hayati..&lt;br /&gt;yang beranjak meluncur..&lt;br /&gt;deras&lt;br /&gt;deRAS&lt;br /&gt;dan DERAS!! ..&lt;br /&gt;menuju lobang kesirnaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses itu telah menggelitik lembaga-lembaga kita&lt;br /&gt;yang bertabur menjunjung tinggi keragaman hayati..&lt;br /&gt;sekalipun motivasinya cuma agar&lt;br /&gt;makanan semacam tempe dan tahu tak lagi dihaki dan patenkan&lt;br /&gt;oleh negara tak entah di mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun motivasinya..&lt;br /&gt;Sumber-sumber hayati tumbuhan dalam suatu kata PROSEA&lt;br /&gt;patut kita sambut prosesnya.&lt;br /&gt;Setidaknya sudah dimulai dengan meluncurnya&lt;br /&gt;Buku Pegangan Prosea yang memuat sifat alamiah, lintas disiplin&lt;br /&gt;ilmu pertanian, hortikultura, kehutanan, botani,&lt;br /&gt;khusunya taksonomi, etnobotani, ekologi,&lt;br /&gt;dan kawan-kawan sejenisnya..&lt;br /&gt;dan teman-teman sebangsanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal bagaimana sekarang..&lt;br /&gt;buku hidup alam, dan buku hidup manusia ini&lt;br /&gt;membuktikan bahwa PROSES MELESTARIKAN PROSEA&lt;br /&gt;adalah suatu mata rantai yang selalu bertautan&lt;br /&gt;satu dengan dua..&lt;br /&gt;dua dengan tiga..&lt;br /&gt;dan seterusnya..&lt;br /&gt;dan seterusnya.&lt;br /&gt;tak pernah tidak..&lt;br /&gt;SELALU BERTAUTAN. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5419223956745423398?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5419223956745423398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5419223956745423398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5419223956745423398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5419223956745423398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-27-16-nopember-1999-proses-dan.html' title='EHDB 27/ 16 Nopember 1999 PROSES DAN PROSEA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-576018021750442837</id><published>2007-08-26T19:07:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:08:07.155-07:00</updated><title type='text'>EHDB 26/ 15 Nopember 1999 WAKTU MAKAN DALAM PANJANGNYA HARI ITU</title><content type='html'>Soal cemas nggak mau makan&lt;br /&gt;tidak hanya dialami orang yang tak bisa&lt;br /&gt;menyediakan makanan pokok,&lt;br /&gt;beserta lauk pauknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD juga kadang&lt;br /&gt;cemas nggak menyediakan santapan harian&lt;br /&gt;soal kemanusiaan pada problema lingkungan setiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ADA JALAN LAIN.&lt;br /&gt;MAKANAN HARUS SELALU TERSEDIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau makanan yang disediakan hari itu&lt;br /&gt;adalah makanan yang seharusnya untuk kemarin..&lt;br /&gt;rasanya juga kurap klop.&lt;br /&gt;basi..&lt;br /&gt;hambar..&lt;br /&gt;mungkin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya kita tidak bicara soal makanan&lt;br /&gt;yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bicara tentang sebuah perenungan&lt;br /&gt;Bukan soal HOT NEWS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membedakan antara karya sastra WS Rendra&lt;br /&gt;dengan berita harian di surat kabar&lt;br /&gt;yang lebih mengedepankan aktualisasi produknya&lt;br /&gt;sesuai isu yang beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan heran seorang Rendra mengatakan&lt;br /&gt;kecewa saat wartawan mengritiknya bahwa&lt;br /&gt;karya-karyanya tak lebih karya lama yang&lt;br /&gt;diangkat kembali.&lt;br /&gt;Padahal bagi seorang budayawan..&lt;br /&gt;yang dijadikan bobot karyanya&lt;br /&gt;adalah perenungan itu sendiri.&lt;br /&gt;Karena pada hakekatnya setiap problema superfisial&lt;br /&gt;kalau digali lagi kedalamannya..&lt;br /&gt;ya berinti sama.&lt;br /&gt;Suatu problema pada masa lalu..&lt;br /&gt;tak akan jauh beda dengan problema masa kini.&lt;br /&gt;ESENSINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERMASUK PROBLEMA LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis memang bisa berpenampilan beda&lt;br /&gt;bak panggung,&lt;br /&gt;kostum pemain,&lt;br /&gt;berkerlap-kerlipnya lampu,&lt;br /&gt;maupun hingar bingarnya musik pengiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggundulan hutan yang membikin dunia ketakutan&lt;br /&gt;asap knalpot hitam memekat&lt;br /&gt;membuat seorang muda sudah kena pneumonia&lt;br /&gt;pada masa seharusnya penuh vitalitas dan stamina&lt;br /&gt;Hujan asam yang tak bisa dibuat sayur asam&lt;br /&gt;Pemanasan global yang bukan sekedar isu gombal&lt;br /&gt;Semua.. &lt;br /&gt;semua...&lt;br /&gt;semua bisa berwarna-warni...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila digelintir itu semua,&lt;br /&gt;dihayati dengan rasa&lt;br /&gt;dalam hening dan tenang..&lt;br /&gt;ada suatu pertanyaan yang sama..&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus menyikapi ini?&lt;br /&gt;Sementara dalam 24 jam sehari begitu berpelanginya&lt;br /&gt;problema yang kita alami&lt;br /&gt;di sekitarku&lt;br /&gt;di sekitarmu&lt;br /&gt;disekitar kita kita,sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaktisan dalam menghadapi semua itu&lt;br /&gt;perlu pula.. direnungkan laksana doa dan sembahyang..&lt;br /&gt;yang mempunyai waktu tertentu..&lt;br /&gt;pada panjangnya setiap hari itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaktisan dalam menjalankan semua strategi&lt;br /&gt;perlu pula.. dihayati laksana memilah lauk dan bumbu..&lt;br /&gt;yang akan menyedapkan masakan..&lt;br /&gt;yang akan menyedapkan makanan&lt;br /&gt;yang kan membuat kita berseru nyaring,&lt;br /&gt;'YUMMY!"&lt;br /&gt;ENAK SEKALI..&lt;br /&gt;ENAK SEKALI!!&lt;br /&gt;MAKANANKU HARI INI&lt;br /&gt;AKU BERENERGI!&lt;br /&gt;BERVITALITAS TINGGI..&lt;br /&gt;MENGGAPAI SANG MENTARI. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-576018021750442837?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/576018021750442837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=576018021750442837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/576018021750442837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/576018021750442837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-26-15-nopember-1999-waktu-makan.html' title='EHDB 26/ 15 Nopember 1999 WAKTU MAKAN DALAM PANJANGNYA HARI ITU'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7535246117099405929</id><published>2007-08-26T19:07:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:07:31.976-07:00</updated><title type='text'>EHDB 25/ 14 Nopember 1999 SUARA APA?</title><content type='html'>Terpisah&lt;br /&gt;Dari rombongan,&lt;br /&gt;Tersesat seorang diri&lt;br /&gt;Di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap.&lt;br /&gt;Teramat sulit rupanya&lt;br /&gt;Sang surya siang menembus&lt;br /&gt;Lebat dedaunan pohon-pohon raksasa.&lt;br /&gt;Lembab.&lt;br /&gt;Senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana gerangan kau kawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak!!&lt;br /&gt;Menjerit!!!&lt;br /&gt;Sekuat tenaga !!!!!&lt;br /&gt;Memanggil kalian.&lt;br /&gt;Tapi..&lt;br /&gt;Kenapa kalian membisu… ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersiul keras!!&lt;br /&gt;Tinggi !!!&lt;br /&gt;Melengking!!!!!&lt;br /&gt;Tapi..&lt;br /&gt;Kenapa kalian tetap tak mencariku… ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam putus asaku..&lt;br /&gt;Kala&lt;br /&gt;Suara serak dan hampir habis..&lt;br /&gt;Aku cuma&lt;br /&gt;Bisa bersuara&lt;br /&gt;Rendah..&lt;br /&gt;“tolong…&lt;br /&gt;Tolong…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh!! Lega juga bilang begitu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong..&lt;br /&gt;Tolong..&lt;br /&gt;Jelas.&lt;br /&gt;Ya. Jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semangatku&lt;br /&gt;Pun tumbuh&lt;br /&gt;Suara ini menjadi bisa&lt;br /&gt;Sedikit lebih keras…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toloong..&lt;br /&gt;Toloong..!&lt;br /&gt;Dan keras..&lt;br /&gt;Toloong!!&lt;br /&gt;Tetap dengan nada rendah.&lt;br /&gt;Terdengar dedaunan bergesek&lt;br /&gt;Terdengar suara-suara manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow!&lt;br /&gt;Itu kalian!&lt;br /&gt;Kalian datang!!&lt;br /&gt;Kalian dengar suaraku&lt;br /&gt;Kalian menjemputku&lt;br /&gt;Menyelamatkan&lt;br /&gt;Dari gelap,&lt;br /&gt;Sesak,&lt;br /&gt;Dan terasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi..&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin&lt;br /&gt;Kalian baru muncul&lt;br /&gt;Sesudah teriakanku&lt;br /&gt;Yang ketiga?&lt;br /&gt;Tipe ketiga?&lt;br /&gt;Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya..&lt;br /&gt;Kalian menyangka suara&lt;br /&gt;Pertama dan keduaku&lt;br /&gt;Adalah suara burung&lt;br /&gt;Yang melengking.&lt;br /&gt;Melengking.&lt;br /&gt;Sementara aku sendiri&lt;br /&gt;Menjadi&lt;br /&gt;Kehabisan tenaga&lt;br /&gt;Karenanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalian kurang terjangkau&lt;br /&gt;Suara tinggi itu&lt;br /&gt;Sebab… rupanya  hanya&lt;br /&gt;Nada rendah-lah&lt;br /&gt;Yang dapat menjangkau&lt;br /&gt;Tempat jauh&lt;br /&gt;Dalam belantara..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya&lt;br /&gt;Teriakanku&lt;br /&gt;Yang ketiga&lt;br /&gt;Adalah&lt;br /&gt;Teriakan manusia&lt;br /&gt;Yang bisa didengar oleh..&lt;br /&gt;Manusia  ..&lt;br /&gt;Yang&lt;br /&gt;Hanya tahu suara manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi&lt;br /&gt;Yang lain..&lt;br /&gt;Hanya manusia ..&lt;br /&gt;Yang bisa&lt;br /&gt;Berteriak&lt;br /&gt;Ala&lt;br /&gt;Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusiakah aku?&lt;br /&gt;Manusiakah kalian?&lt;br /&gt;Suara apa suaraku?&lt;br /&gt;Suara apa suara kalian? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7535246117099405929?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7535246117099405929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7535246117099405929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7535246117099405929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7535246117099405929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-25-14-nopember-1999-suara-apa.html' title='EHDB 25/ 14 Nopember 1999 SUARA APA?'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-6526582114473376240</id><published>2007-08-26T19:06:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:06:58.847-07:00</updated><title type='text'>EHDB 24/ 13 Nopember 1999 SUSU INDONESIA RAYA</title><content type='html'>Siapa itu yang mengendarai sepeda mengantarkan susu?&lt;br /&gt;susu siapakah itu?susu sapi?&lt;br /&gt;susu kuda liar?&lt;br /&gt;atau susu cap sapi?&lt;br /&gt;atau susu cap kuda liar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka rencana Direktur Jendral Peternakan&lt;br /&gt;Departemen Pertanian&lt;br /&gt;yang menyatakan akan sosialisasi susu&lt;br /&gt;sebagai minuman wajib berprotein hewani tinggi&lt;br /&gt;dalam setiap kegiatan dinas&lt;br /&gt;minimal dinas peternakan&lt;br /&gt;patut disikapi secara arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan susu yang memenuhi kaidah hygiene..&lt;br /&gt;mulai dari pemerasan si puting&lt;br /&gt;pengiriman&lt;br /&gt;pemrosesan&lt;br /&gt;pengemasan&lt;br /&gt;pengiriman lagi..&lt;br /&gt;Bahkan sejak pemberian pakan&lt;br /&gt;pada para ternak penghasilnya&lt;br /&gt;Bukan cuma pakan pada peternaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin susu sapi yang kita minum&lt;br /&gt;menjadi bebas residu antibiotika&lt;br /&gt;kalau para medis dan medis ternaknya&lt;br /&gt;selalu menyuntikkan antibiotik spektrum luas&lt;br /&gt;untuk setiap gejala penyakit yang cuma mirip-mirip?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin susu sapi yang kita sedot nikmat dan yummy&lt;br /&gt;bisa bebas dari dari pestisida?&lt;br /&gt;Kalau air yang mengaliri rumput yang dinikmati&lt;br /&gt;adalah air yang sama dengan yang mengaliri&lt;br /&gt;padi-padi yang tak pernah bebas dari pestisida?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan..&lt;br /&gt;dan Lingkungan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sangat terkait..&lt;br /&gt;dan mengait..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan,,&lt;br /&gt;saat mau minum susu saja..&lt;br /&gt;kita harus bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini susu sapi?&lt;br /&gt;Ataukah susu cap sapi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini susu kuda?&lt;br /&gt;Ataukah cuma cap kuda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini susu bebas residu antibiotika?&lt;br /&gt;Atau cuma susu cap bebas residu antibiotika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya jangan sampai keluar kata-kata..&lt;br /&gt;AH!!&lt;br /&gt;Mau minum susu saja mikirnya se Indonesia Raya! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-6526582114473376240?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/6526582114473376240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=6526582114473376240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6526582114473376240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6526582114473376240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-24-13-nopember-1999-susu-indonesia.html' title='EHDB 24/ 13 Nopember 1999 SUSU INDONESIA RAYA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8210255098797354920</id><published>2007-08-26T19:05:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:06:24.699-07:00</updated><title type='text'>EHDB 23/ 12 Nopember 1999 KERBAU METROPOLITAN</title><content type='html'>Seekor kerbau ditembak mati.&lt;br /&gt;Ia tinggal di Jakarta.&lt;br /&gt;Aneh,&lt;br /&gt;di kota metropolitan begitu&lt;br /&gt;masih ada kerbau&lt;br /&gt;yang identik dengan lumpur..&lt;br /&gt;Apa memang Jakarta penuh lumpur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Jakarta penuh lumpur dan lumur dosa&lt;br /&gt;laksana kota Sodom dan Gomora.&lt;br /&gt;Namun bukan itu masalahnya&lt;br /&gt;yang nyata..&lt;br /&gt;apapun hewan bisa didomestikasi..&lt;br /&gt;sekalipun habitat aslinya hutan belantara&lt;br /&gt;bisa saja duduk berlantai marmer putih Italia&lt;br /&gt;atau marmer merah Amerika..&lt;br /&gt;di gedung megah.. meGAH.. dan MEGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kebablasan&lt;br /&gt;Ya tentu yang punya peradaban bisa naik pitam&lt;br /&gt;Kerbau itu contohnya.&lt;br /&gt;di dor! polisi karena beringas dan mengendus&lt;br /&gt;melabrak tukang-tukang ojek di kampung Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tukang ojek pontang-panting&lt;br /&gt;lebih baik nyebur kali&lt;br /&gt;daripada sok punya nyali&lt;br /&gt;tapi mati seperti atlet matador Spanyol&lt;br /&gt;ditanduk banteng, saudara tua si kerbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh!.&lt;br /&gt;Apakah si kerbau jadi begitu lantaran&lt;br /&gt;dia ingin menanduk?&lt;br /&gt;Bukan, ternyata ia bisa kayak gitu&lt;br /&gt;cuma karena kupungnya dimasuki "orong-orong"&lt;br /&gt;oleh 3 anak kampung..&lt;br /&gt;Karuan seperti kesetanan!&lt;br /&gt;Karena kuping kok jadi rumah serangga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua selalu bermula&lt;br /&gt;dari tingkah polah si manusia..&lt;br /&gt;Hingga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman&lt;br /&gt;atau Australia sampai bertanya,&lt;br /&gt;"Mengapa di Indonesia tidak ada&lt;br /&gt;burung merpati terbang tinggi dan rendah&lt;br /&gt;bebas bercengkerama di jalan-jalan raya..&lt;br /&gt;laksana si manusia..&lt;br /&gt;berkerumun dan bercanda&lt;br /&gt;sekalipun di jalan kenangan kita?&lt;br /&gt;Tidak seperti di Jerman..?&lt;br /&gt;Tidak seperti di Australia..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OH.&lt;br /&gt;Ternyata semua karena manusia.&lt;br /&gt;Ternyata semua karena kita.&lt;br /&gt;Kita yang&lt;br /&gt;Tak lebih baik daripada&lt;br /&gt;tiga anak kampung&lt;br /&gt;yang kadang tanpa celana&lt;br /&gt;yang memasukkan "serangga orong-orong"&lt;br /&gt;ke telinga&lt;br /&gt;sang kerbau perkasa. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8210255098797354920?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8210255098797354920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8210255098797354920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8210255098797354920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8210255098797354920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-23-12-nopember-1999-kerbau.html' title='EHDB 23/ 12 Nopember 1999 KERBAU METROPOLITAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-34500481884086290</id><published>2007-08-26T19:05:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:05:47.199-07:00</updated><title type='text'>EHDB 22/ 11 Nopember 1999 BUNGA KRISAN</title><content type='html'>Pengeluaran devisa negara 200 juta US$&lt;br /&gt;Semua untuk pestisida..luar biasa!&lt;br /&gt;Sepertinya kita cuma bisa makan padi&lt;br /&gt;yang disemprot pestida saja..&lt;br /&gt;Atau ber'yummy' ria cuma dengan apel gunung&lt;br /&gt;yang berlumur semprotan hama ini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mau dikata.&lt;br /&gt;perut gelojoh anak negeri sudah begitu menggelojoh&lt;br /&gt;kayak tak bisa lepas dari itu semua&lt;br /&gt;seperti anak negeri yang suka ayam negeri&lt;br /&gt;tak bisa lagi membedakan antara&lt;br /&gt;keinginan atau kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah..!!!&lt;br /&gt;Mau apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting usaha..&lt;br /&gt;sekalipun itu nggak bisa langsung membina.&lt;br /&gt;Bisa setahap.. demi setahap..&lt;br /&gt;Sementara sang perkasa pestisida begitu mencengkeram&lt;br /&gt;setidaknya kita upaya lepaskan cengkeraman&lt;br /&gt;dengan tandingannya&lt;br /&gt;apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESTISIDA ORGANIK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. contohnya si bunga krisan..&lt;br /&gt;Bubuknya dapat dipakai sebagai racun kontak untuk pestida&lt;br /&gt;Daya larutnya lebih baik dibanding pestisida kimiawi&lt;br /&gt;yang kini marak di pasar beredar&lt;br /&gt;Racunnya.. cepat tergredasi..&lt;br /&gt;aman&lt;br /&gt;baik untuk lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat pietrum dalam bunga krisan..&lt;br /&gt;merupakan biang kehebatan si bunga manis..&lt;br /&gt;berkhasiat ebagai racun kontak dan saraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau membuat?&lt;br /&gt;mudah... katanya.&lt;br /&gt;bubuk krisan 2,5 gram&lt;br /&gt;larutakan dalam 1 liter air&lt;br /&gt;masukkan sedikit detergen&lt;br /&gt;Udah. Jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HEEE!! SERANGGA HAMA!&lt;br /&gt;Masuk..&lt;br /&gt;masuk..&lt;br /&gt;rusak..&lt;br /&gt;rusaklah padi.. atau tanaman lainnya&lt;br /&gt;di sawah.. di ladang.. di kebun..&lt;br /&gt;KE SINI KAU!&lt;br /&gt;Ku semprot pestisida organik&lt;br /&gt;si manis Krisan.&lt;br /&gt;MATI. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-34500481884086290?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/34500481884086290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=34500481884086290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/34500481884086290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/34500481884086290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-22-11-nopember-1999-bunga-krisan.html' title='EHDB 22/ 11 Nopember 1999 BUNGA KRISAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3398371586474043614</id><published>2007-08-26T19:04:00.001-07:00</published><updated>2007-10-15T19:35:53.448-07:00</updated><title type='text'>EHDB 21/ 10 Nopember 1999 BERCINTA MENCEGAH HUTAN GUNDUL</title><content type='html'>Apa yang suami perlakukan pada istri&lt;br /&gt;dan sebaliknya&lt;br /&gt;akan menentukan kehidupan rumah tangga&lt;br /&gt;laksana di surga&lt;br /&gt;atau di neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita perlakukan pada lingkungan&lt;br /&gt;di situlah jawab dari semua problema kita&lt;br /&gt;Ia, lingkungan..&lt;br /&gt;akan memberi kenyamanan&lt;br /&gt;ataukah justru ancaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menciptakan lingkungan laksana surgakah?&lt;br /&gt;Atau malah neraka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal pikiran,&lt;br /&gt;hati,&lt;br /&gt;dan tangan ini&lt;br /&gt;mau secara praktis menyingkirkan AC freon&lt;br /&gt;atau tidak.&lt;br /&gt;Ataukah masih memakai tissue kertas&lt;br /&gt;pembawa bencana bagi hutan&lt;br /&gt;ataukah lebih memilih&lt;br /&gt;sapu tangan kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat syair lagu&lt;br /&gt;'SAPU TANGANKU WARNA MERAH JAMBU?"&lt;br /&gt;Berikan pada kekasihmu&lt;br /&gt;sapu tangan kain macam ini.&lt;br /&gt;Bukan sapu tangan tissue kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun kekasihmu meneteskan air mata..&lt;br /&gt;Atau dia merengek manja&lt;br /&gt;membutuhkan belaian yang menghiburnya&lt;br /&gt;dan ia begitu bahagia sampai air matanya mengembang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan usap dengan tissue itu..&lt;br /&gt;Jangan usap sekalipun lembut kertas itu..&lt;br /&gt;Usap dia dengan sapu tangan cintamu&lt;br /&gt;entah itu warna merah jambu.. atau biru, ataupun ungu..&lt;br /&gt;Usap ia dengan sapu kain tanganmu&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;Mengapa harus begitu?&lt;br /&gt;Sebab dengan cara itu..&lt;br /&gt;Pada saat bercintapun..&lt;br /&gt;Kamu..&lt;br /&gt;Anda..sudah mengurangi penebangan pohon&lt;br /&gt;Mengurangi&lt;br /&gt;penggundulan hutan&lt;br /&gt;mengurangi anak cucu semakin berwajah kuyu&lt;br /&gt;di kehidupan yang penuh semu&lt;br /&gt;karena tanah pijakannya tak lagi seperti dulu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3398371586474043614?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3398371586474043614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3398371586474043614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3398371586474043614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3398371586474043614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-21-10-nopember-1999-bercinta.html' title='EHDB 21/ 10 Nopember 1999 BERCINTA MENCEGAH HUTAN GUNDUL'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-6221778148891431915</id><published>2007-08-26T19:03:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:04:21.968-07:00</updated><title type='text'>EHDB 20/ 9 Nopember 1999 PERNIKAHAN LINGKUNGAN</title><content type='html'>Apa hubungan pernikahan dengan lingkungan?&lt;br /&gt;Tidak mengada-ada.&lt;br /&gt;Kalau kita bisa menyikapi, kecintaan kita pada lingkungan&lt;br /&gt;laksana cinta seorang suami terhadap seorang istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebaliknya,&lt;br /&gt;Karena cinta itu..&lt;br /&gt;Lingkungan akan memberi yang terbaik bagi manusia..&lt;br /&gt;laksana hormat seorang istri terhadap seorang suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ajaran di antara kita menyatakan:&lt;br /&gt;Suami mengasihi istri seperti Tuhan mengasihi umat.&lt;br /&gt;Istri menghormati suami seperti umat terhadap Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka suami adalah sumber kasih dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;Di sini tidak pernah terjadi kesemena-menaan,&lt;br /&gt;sekalipun ada wibawa pada suami atau istri..&lt;br /&gt;Sebab kesemena-menaan tidak pada tempatnya di rumah tangga.&lt;br /&gt;Kalau lelaki mendapatkan perempuan sebagai istri,&lt;br /&gt;dan sebaliknya perempuan mendapatkan lelaki sebagai suami..&lt;br /&gt;Itu adalah anugerah Tuhan. Karunia, yang harus selalu dipelihara dan selalu mengingatkan keduanya. Dalam perjalanan bahtera rumah tangga suami istri..&lt;br /&gt;Iblis memang akan selalu berupaya menghancurkannya&lt;br /&gt;dengan apapun yang bisa datang sebagai pencobaan..&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, apapun yang akan datang ke rumah tangga itu : dapat dipakai sebagai suatu ujian.&lt;br /&gt;Bahwa sebagai suami istri, mereka ibaratnya harus saling sekolah..&lt;br /&gt;Dan  tidak pernah mendapat ijazah,&lt;br /&gt;karena tanda kelulusannya hanya akan diberikan bila kiamat tiba, atau maut memisahkan mereka&lt;br /&gt;Di sini setiap hari mereka akan selalu belajar,&lt;br /&gt;sebab setiap hari akan selalu ada ujian.&lt;br /&gt;Maka suami istri selalu mengerti perasaan masing-masing..&lt;br /&gt;Didasarkan pada kasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak didasarkan pada kasih Tuhan..&lt;br /&gt;Rumah tangga akan mudah goyah dan jatuh.&lt;br /&gt;Maka untuk bahagia hanya bisa didasarkan&lt;br /&gt;percintaan mereka dalam kasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa membayangkan?&lt;br /&gt;Indahnya lingkungan bila dicintai&lt;br /&gt;kayak lelaki mencintai perempuan pujaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan selalu belajar..&lt;br /&gt;Belajar..&lt;br /&gt;Dan belajar&lt;br /&gt;Agar lingkungannya manis menyapa&lt;br /&gt;Agar lingkungannya memberi tempat nyaman baginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan akan selalu dijaga dan dipelihara..&lt;br /&gt;Sekalipun ada pengorbanan di dalamnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar tetesan air mata menggenang&lt;br /&gt;Asal ia bisa mengganti air sawah&lt;br /&gt;yang sudah mengerontang&lt;br /&gt;karena kemarau panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar tetesan keringat berubah menjadi darah&lt;br /&gt;Asal bisa mengganti darah&lt;br /&gt;anak kecil yang tertimpa&lt;br /&gt;Pohon tumbang menimpa rumah gubuknya&lt;br /&gt;di tepi hutan HPH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia,&lt;br /&gt;Lingkungan..&lt;br /&gt;Akan selalu dijaga dan dicinta..&lt;br /&gt;Bila manusia&lt;br /&gt;tahu..&lt;br /&gt;lingkungan adalah istrinya..&lt;br /&gt;ibu dari anak-anak generasi selanjutnya..&lt;br /&gt;yang menyediakan gunung dan lembah.. sebagai buah cinta bagi manusia..&lt;br /&gt;yang khalifahnya..&lt;br /&gt;yang khafilahnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-6221778148891431915?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/6221778148891431915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=6221778148891431915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6221778148891431915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6221778148891431915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-20-9-nopember-1999-pernikahan.html' title='EHDB 20/ 9 Nopember 1999 PERNIKAHAN LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4496550489462747541</id><published>2007-08-26T19:03:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:03:47.101-07:00</updated><title type='text'>EHDB 19/ 8 Nopember 1999 SIRAMAN</title><content type='html'>Masih ingat JKTI?&lt;br /&gt;Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia ?&lt;br /&gt;Yang terbentuk sebagai hasil&lt;br /&gt;pertemuan para LSM lingkungan&lt;br /&gt;yang peduli kearifan tradisional (traditional knowledge)&lt;br /&gt;awal tahun ini?&lt;br /&gt;Masih jalankah mereka&lt;br /&gt;dengan fokus visi dan misinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… semoga!!&lt;br /&gt;Semoga masih tetap fokus&lt;br /&gt;dan berdedikasi&lt;br /&gt;pada semangat tidak anget-anget bubur pagi&lt;br /&gt;dan tidak dibiaskan&lt;br /&gt;oleh sibuk kegiatan&lt;br /&gt;yang menggeser bubur pagi&lt;br /&gt;menjadi makanan sampah&lt;br /&gt;lantas sibuk mencari makanan&lt;br /&gt;yang lebih menggiurkan&lt;br /&gt;karena kemewahan yang ditawarkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita percaya,&lt;br /&gt;dengan pengorganisasian yang rapi,&lt;br /&gt;tetap ada&lt;br /&gt;insan dari masing-masing LSM&lt;br /&gt;yang terfokus pada Divisi/Bagian&lt;br /&gt;Kearifan Tradisional,&lt;br /&gt;kendati lembaganya&lt;br /&gt;melebar-luas dalam berkegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna apakah&lt;br /&gt;yang terkandung&lt;br /&gt;dalam upacara&lt;br /&gt;SIRAMAN,&lt;br /&gt;satu rangkaian adat&lt;br /&gt;perkawinan Jawa,&lt;br /&gt;berkaitan dengan traditional wisdom ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini,&lt;br /&gt;mempelai perempuan&lt;br /&gt;memberikan&lt;br /&gt; AIR BUNGA&lt;br /&gt;sebagai pertanda menyerahkan&lt;br /&gt;AIR SUCI,&lt;br /&gt;AIR KEHIDUPAN&lt;br /&gt;dari pihak wanita&lt;br /&gt;untuk pihak laki-laki..&lt;br /&gt;Bunga lambang kebaikan&lt;br /&gt;karena indah dan harumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIR BUNGA&lt;br /&gt;DISIRAMKAN,&lt;br /&gt;DIGUYURKAN&lt;br /&gt;pada calon mempelai pria &lt;br /&gt;bersamaan itu juga,&lt;br /&gt;pada si calon mempelai wanita&lt;br /&gt;juga dilakukan hal yang sama..&lt;br /&gt;Dengan air yang sama..&lt;br /&gt;Yang membersihkan&lt;br /&gt;Segala macam kebusukan&lt;br /&gt;Ketidaknyamanan..&lt;br /&gt;Gantinya&lt;br /&gt;Adalah kebaikan,&lt;br /&gt;Keselamatan&lt;br /&gt;Dan cinta..&lt;br /&gt;Menyatukan cinta mereka di sini dan di sana.. Trus&lt;br /&gt;oleh masing-masing orang tua&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;para sesepuh yang sudah kawin&lt;br /&gt;DIPOTONGNYA RAMBUTNYA SEJUMPUT..&lt;br /&gt;Baik pihak laki&lt;br /&gt;maupun perempuan..&lt;br /&gt;Dimasukkan ke air kembang tadi..&lt;br /&gt;Membuang rambut&lt;br /&gt;melambangkan&lt;br /&gt;Membuang semua&lt;br /&gt;Yang mengotori kehidupan..&lt;br /&gt;Agar nggak&lt;br /&gt;Mengganggu kehidupannya&lt;br /&gt;Selanjutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tampaknya sepele-sepele saja..&lt;br /&gt;Namun&lt;br /&gt;belajar dari yang ada di alam..&lt;br /&gt;Ada makna&lt;br /&gt;untuk kita dan kehidupan kita..&lt;br /&gt;BUNGA HARUM MENYEGARKAN..&lt;br /&gt;AIR BENING MENYEGARKAN&lt;br /&gt;MEMBERI MAKNA SAKRAL&lt;br /&gt;BAGI MEMPELAI WANITA SERTA PRIA&lt;br /&gt;JUGA  MAKNA&lt;br /&gt;BAGI SIAPAPUN&lt;br /&gt;YANG MENGAKU DIRI&lt;br /&gt;SEBAGAI ANAK ALAM..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak suka&lt;br /&gt;Kala sang persada&lt;br /&gt;Menyebarkan bau-bau harum bunga mekar?&lt;br /&gt;Di sana-sini&lt;br /&gt;Hijau dedaunan rindang sedap dipandang?&lt;br /&gt;Sementara&lt;br /&gt;Air itu bergemericik&lt;br /&gt;Membasahi setiap jengkal tanah berumput ?&lt;br /&gt;Memberi kesegaran ..&lt;br /&gt;Dan selalu siap dihirup&lt;br /&gt;Kala dahaga? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak suka..&lt;br /&gt;Saling berbagi keharuman dan kesegaran?&lt;br /&gt;Bagaimana tidak suka&lt;br /&gt;Saling berbagi peran menguntungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, TRADITIONAL  WISDOM selalu mengandung makna..&lt;br /&gt;Entah itu bagi kehidupan&lt;br /&gt;Entah itu bagi lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan cara&lt;br /&gt;Membuang rambut kotor&lt;br /&gt;Membuang pikiran kotor&lt;br /&gt;Membuang hidup kotor&lt;br /&gt;Kita bisa merasakan kedamaian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas..&lt;br /&gt;Kita bisa mulai membuang kotor lingkungan&lt;br /&gt;Tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;Tanpa kesukaran.&lt;br /&gt;Sebab biangnya sudah ketemu.&lt;br /&gt;Dia tak ada jauh di sana.&lt;br /&gt;Dia ada secara arif, di sini. Di hati ini.&lt;br /&gt;Dia ditampakkan secara arif..&lt;br /&gt;Oleh suatu kearifan tradisional. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4496550489462747541?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4496550489462747541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4496550489462747541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4496550489462747541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4496550489462747541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-19-8-nopember-1999-siraman.html' title='EHDB 19/ 8 Nopember 1999 SIRAMAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-362951941685852643</id><published>2007-08-26T19:02:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T19:03:10.909-07:00</updated><title type='text'>EHDB 18/ 7 Nopember 1999 CARBON TRADING</title><content type='html'>1997...&lt;br /&gt;Kyoto Protocol menyatakan&lt;br /&gt;40 Negara maju&lt;br /&gt;Harus mengurangi tingkat polusi rumah kaca&lt;br /&gt;yang punya nama beken&lt;br /&gt;Green House Gasses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak?&lt;br /&gt;Sampai 5 persen!&lt;br /&gt;dari yang ada di tahun 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung kita!&lt;br /&gt;Mau melubangi ozon&lt;br /&gt;dengan AC freon, parfum,&lt;br /&gt;asap knalpot, udara buangan pabrik,&lt;br /&gt;atau hutan terbakar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mau menutupnya&lt;br /&gt;dengan mengurangi&lt;br /&gt;semua penyebab maraknya karbon mengangkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, mau BERDAGANG KARBON?&lt;br /&gt;Membayar orang agar tidak menebangi hutan?&lt;br /&gt;Seperti yang yang dilakukan negara maju&lt;br /&gt;dengan CARBON TRADING dalam CDM&lt;br /&gt;(Clean Development Mechanism)?&lt;br /&gt;Supaya pemerintah kita nggak ngelanjutin&lt;br /&gt;penebangan ala HPH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian masyarakat penjaga Poskamling&lt;br /&gt;saat Pemilu dulu bilang,&lt;br /&gt;"Kok enak, cuma mbayar aja!&lt;br /&gt;Nggak ikut jaga Kamling sendiri."&lt;br /&gt;Begitu kata mereka memprotes&lt;br /&gt;perilaku orang kaya yang mengganti&lt;br /&gt;partisipasi dengan uang tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, orang Indonesia&lt;br /&gt;tetap akan mengurangi penggundulan hutan&lt;br /&gt;dengan cara apapun&lt;br /&gt;Tetapi ..&lt;br /&gt;pada negara maju yang mau membeli karbon&lt;br /&gt;dengan membayar upaya kita mencegah hutan hilang..&lt;br /&gt;kita juga bisa bilang,&lt;br /&gt;"Heh!!&lt;br /&gt;Jangan beli karbon saja!&lt;br /&gt;Karbonmu di tempatmu,&lt;br /&gt;itu juga harus kamu karungi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh di negara mereka..&lt;br /&gt;Karbon pelubang ozon tak kalah berjibun. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-362951941685852643?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/362951941685852643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=362951941685852643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/362951941685852643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/362951941685852643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-18-7-nopember-1999-carbon-trading.html' title='EHDB 18/ 7 Nopember 1999 CARBON TRADING'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4128297448254952783</id><published>2007-08-26T19:01:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T19:02:34.200-07:00</updated><title type='text'>EHDB 17/ 6 Nopember 1999 BUNGA PADMA YANG BERMAKNA</title><content type='html'>Bunga padma tumbuh di rawa lahan basah,&lt;br /&gt;artinya di air menggenang&lt;br /&gt;yang berlumpur&lt;br /&gt;dan harus berlumpur,&lt;br /&gt;seperti teratai.&lt;br /&gt;Bentuknya memang mirip teratai, tapi&lt;br /&gt;tahukah Anda apa bedanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga teratai daun dan bunganya&lt;br /&gt;menyentuh permukaan air,&lt;br /&gt;dan bisa dikotori&lt;br /&gt;air atau tanah karena tidak water proff&lt;br /&gt;(anti air, tahan air).&lt;br /&gt;Lain dengan bunga padma&lt;br /&gt;Daun dan bunganya terangkat dari permukaan air,&lt;br /&gt;juga water proff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekalipun bunga Padma hidup&lt;br /&gt;di air berlumpur dan harus berlumpur,&lt;br /&gt;air, tanah dan kotoran takkan pernah bisa&lt;br /&gt;mengotori bunga padma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Padma tangkainya saling terkait&lt;br /&gt;berhubungan dengan pusat di tengah,&lt;br /&gt;melambangkan keabadian yang tak akan putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bijinya ada di simpan di tengah-tengah&lt;br /&gt;kelopak bunga yang ada kamar-kamarnya,&lt;br /&gt;untuk menyiapkan masa depan yang baik&lt;br /&gt;buat keberlanjutan bunga itu sendiri.&lt;br /&gt;Saat bijinya jatuh..&lt;br /&gt;dia bisa tumbuh lagi menjadi&lt;br /&gt;bunga padma yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga padma ini oleh Masyarakat Asia Selatan&lt;br /&gt;dibawa ke belahan Asia Timur dan Tenggara&lt;br /&gt;bersama penyebaran budaya dan sosial,&lt;br /&gt;menjadi simbol kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Bahwa bunga yang baik dan sangat baik&lt;br /&gt;bisa timbul dari tanah yang jelek sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bisa murni,&lt;br /&gt;Kotoran tidak mempengaruhi kemurnian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua menjadi dasar filosofi mereka&lt;br /&gt;bahwa dalam diri manusia&lt;br /&gt;yang penuh potensi berbuat dan terjadi kejahatan,&lt;br /&gt;hal-hal yang mulia justru&lt;br /&gt;bisa muncul dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi ini dikaitkan dengan Amdalini/&lt;br /&gt;suatu paham pengetahuan di Asia tadi,&lt;br /&gt;bahwa poros di tubuh manusia secara anatomi&lt;br /&gt;dimulai dari ujung ekor sampai di atas kepala.&lt;br /&gt;Semua ada tujuh titik.&lt;br /&gt;Titik yang terrendah mempunyai helai&lt;br /&gt;bunga yang paling sedikit,&lt;br /&gt;melambangkan kesadaran rendah, pola pikir/sifat&lt;br /&gt;yang terendah, nafsu-nafsu kebinatangan&lt;br /&gt;dekat dengan kemaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin ke atas semakin banyak helai daunnya.&lt;br /&gt;Ada yang empat, ada yang delapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik yang ke enam di antara ke dua belah mata kita,&lt;br /&gt;melambangkan intelektualitas,&lt;br /&gt;suatu derajad perikehidupan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik yang ke tujuh di atas kepala manusia,&lt;br /&gt;melambangkan kesadaran murni, derajad&lt;br /&gt;kehidupan yang paling tinggi.&lt;br /&gt;Di sini helai bunga padmanya sangat banyak sekali.&lt;br /&gt;Tempat bersemayamnya para pendeta,&lt;br /&gt;biku, biksu, budha, dan para dewa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mnengambil sejuta makna dari Bunga Padma.&lt;br /&gt;Maka sebuah LSM Lingkungan di Jawa Timur sering&lt;br /&gt;memakai simbol Bunga Padma dalam prinsip berorganisasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari keberadaan Bunga Padma yang di lahan lumpur&lt;br /&gt;tapi tak terkotori oleh lumpur...&lt;br /&gt;LSM itu berharap dengan pergerakannya&lt;br /&gt;bisa menularkan semangat itu bagi setiap orang yang datang, &lt;br /&gt;bergabung maupun bekerjasama,&lt;br /&gt;agar lebih berdaya, mampu, dan mandiri&lt;br /&gt;dengan apapun latar belakang dan kondisi yang ada,&lt;br /&gt;menjadi manusia-manusia yang lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu mengutamakan kerjasama yang baik seperti&lt;br /&gt;pralambang keterkaitan masing-masing helai&lt;br /&gt;yang dimiliki Bunga Padma beserta tangkai-tangkainya&lt;br /&gt;yang saling terkait tak putus-putus.&lt;br /&gt;Keterkaitan dengan generasi-generasi&lt;br /&gt;yang selanjutnya, menularkan makna keberlanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana biji-biji padma yang disimpan&lt;br /&gt;dalam kamar di kelopak bunganya,&lt;br /&gt;kita menyimpan semua makna yang kita alami&lt;br /&gt;dalam sudut hati yang paling dalam&lt;br /&gt;untuk dijadikan bahan refleksi agar bisa&lt;br /&gt;melakukan sesuatu yang lebih baik di masa selanjutnya.&lt;br /&gt;Yang suatu saat bisa tumbuh dan menumbuhkan&lt;br /&gt;generas-generasi dan pengaruh-pengaruh baru&lt;br /&gt;bagi orang di sekitar kita,&lt;br /&gt;masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma makna filosofiskah yang bisa kita dapat dari bunga Padma?&lt;br /&gt;Tidak adakah guna bunga Padma yang lebih nyata?&lt;br /&gt;Apakah manfaat Bunga Padma dalam&lt;br /&gt;kehidupan sehari-hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bijinya bisa dimakan seperti kita makan kacang.&lt;br /&gt;Daunnya bisa dimasak, orang menyebutnya ayam masak pengemis.&lt;br /&gt;Ayam dibungkus dengan daunnya ..&lt;br /&gt;lantas dibungkus lumpur&lt;br /&gt;lantas dibakar!!&lt;br /&gt;Hasilnya yang terbakar cuma lumpurnya,&lt;br /&gt;ayamnya matang, siap disantap.... Sedaaap...! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4128297448254952783?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4128297448254952783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4128297448254952783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4128297448254952783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4128297448254952783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-17-6-nopember-1999-bunga-padma.html' title='EHDB 17/ 6 Nopember 1999 BUNGA PADMA YANG BERMAKNA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2515594747690660574</id><published>2007-08-26T19:01:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:01:51.680-07:00</updated><title type='text'>EHDB 16/ 5 Nopember 1999 JANJI WAYANG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Anda tentu pernah menonton wayang, minimal di layar televisi setiapmalam Sabtu bila Anda nongkrong di depan televisi Anda dan Anda ‘turn on’ salah satu stasiun televisi, ia selalu menampilkan kesenian tradisional hasil ciptaan raja-raja Mataram Solo dan Yogya tempo dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang kulit di tanah Jawa ini dulu juga dipakai Sunan Kalijogo untukmenyebarkan ajaran agamanya, dan berhasil! Maka sebuah LSM lingkungan di Jawa Timur juga acap menampilkan wayang alternatif ini kala suatu acara berpuncak di hari terakhir di areanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, HARMONI LINGKUNGAN bukan mau mengundang Anda nonton wayang di lahan area HARMONI LINGKUNGAN seperti di LSM terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARMONI mengajak untuk menikmati… BETAPA KEARIFAN TRADISIONAL warisan kakek moyang ini benar-benar bisa membawa rona wajah kita yang memerah untuk menjadi lebih segar berpikir : “Eksistensi dan Dedikasi saya sebagai orang lingkungan tak perlu harus luntur sekalipun himpitan membuat tubuh dan kepala tak menyatu kala leher dipenggal dan lepas dari tubuh… menggelinding bak roda pedati yang lepas… entah ke mana juntrungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah Wirata Parwa.. Dimainkan oleh WOR Bharata, di Gedung Kesenian Jakarta Oktober Wirata Parwa menceritakan para Pandawa yang sedang dalam hukuman pembuangan di hutan Kamiyaka.&lt;br /&gt;Pandawa lima :&lt;br /&gt;Purwaning Pandawa = Yudistira (Puntadewa, Dharmaaji, Dharmaputra)&lt;br /&gt;Panenggak Pandawa = Bima (Bratasena, Werkudara, Bayuputra),&lt;br /&gt;Panengah Pandawa = Arjuna (Janaka, Permadi)&lt;br /&gt;Panunggul Pandawa = si kembar Nakula-Sadewa (Aswinputra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka dibuang?&lt;br /&gt;Gara-gara kalah judi dadu melawan 100 Kurawa yang dipimpin oleh Suyudana (Duryudana, Destarata Putra) yang dengan bantuan si licik Sangkuni berhasil mempedayai si suci Yudistira menyerahkan semua wilayah negaranya (Indraprasta, Ngamarta yang dengan susah payah didirikan dengan membabat alas Amarta – A = tidak, Marta = mati, Amarta = tidak mati, hidup).. Mereka harus kehilangan itu semua, bahkan si cantik Drupadi pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena kelemahan hati Destarata yang ayah Duryudana, maka semua dikembalkan pada mereka. Tapi Sangkuni berhasil meyakinkan harus ada permainan dadu ulangan! Si Pandawa tetap kalah lagi! Hukumannya nggak nyerahin semua negaranya, tapi ‘cuman’ hukuman buang ! Sesudah tahun ke 12, satu tahun kemudian mereka harus nyamar! Nggak boleh ketahuan! Kalau ketahuan harus ditambah lagi selama 12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kemurahan Dewata, mereka mendapat petunjuk dari Dewa Darma untuk menyamar dan pergi ke negeri Wiratha. Kloter pertama Yudistira nyamar sebagai punggawa kerajaan. Kloter kedua Arjuna nyamar sebagai banci pelatih tari. Lantas Bima sebagai jagal hewan (Jagal Abilawa). Disusul yang terakhir Nakula Sadewa sebagai perawat kuda kerajaan.. Mengapa harus kloteran? Supaya tidak ketahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya si Kurawa selalu tidak puas dengan kekuasaan wilayahnya.. Mereka ingin melebarkan hingga bahkan tanah Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Mereka mengepung kerajaan itu. Anak-anak Prabu Matsya, bernama Seta, Utara dan Wratsangka dengan gagah berani melawan serangan itu.. Namun kandas! Duryudana dibantu karna cukup piawai berperang, ya.. Jago Wirata keok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah five ranger datang dan membantu! Dimulai dengan Bima si Jagal Abilawa : gada rujak polonya ampuh menghantam Duryudana dan Kurawa.. Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksi, Citraksa, aswatama, Sangkuni, durna, karna, tunggang langgang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat perjuangan dipelopori Bima dan Arjuna, akhirnya negeri Wiratha dapat diselamatkan.&lt;br /&gt;Sebagai balas jasa raja Wiratha, Prabu Matsya bersumpah&lt;br /&gt;Bahwa kelak ia akan membela para Pandawa dalam kancah perang Bharatayuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rupanya sumpah itu dilanggar sendiri.. karena saat suatu perjalanan mau ke Ngamarta.. rombongan Wiratha ini sangat kelelahan.. diberi makanan dan minuman segar oleh Kurawa atas utusan Duryudana.. dan sebagai ucapan terima kasihnya.. justru akan membantu Kurawa dalam peperangan di Baratayuda melawan Pandawa. Tetap pelanggaran sumpah, kendati itu atas kelicikan Sengkuni yang mempedayai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flash Back sejenak…&lt;br /&gt;Si Kurawa ingin menguasai Astina, mencelakai Pandawa dengan Bale Si Gala-Gala..&lt;br /&gt;Pandawa justru bisa mendirikan Indraprasta, Kurawa iri..&lt;br /&gt;Si Kurawa ingin menguasai indraprata pula.. Ngajak main dadu..&lt;br /&gt;Pandawa kalah, jadi kere nggak punya apa-apa.. Untung Indraprtasta dikembalikam..&lt;br /&gt;Diajak mau dadu lagi, tetap mau.. Gile! Ya kalah, oleh si Sengkuni.. Jadilah dibuang 12 tahun, pada tahun ke 13 nyamar di Wirata&lt;br /&gt;Terjadilah peristiwa Wirata Parwa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si satria dianiaya bajingan, ditolong raja, raja dianiaya bajingan, ditolong satria, raja bersumpah menolong satria kalo melawan bajingan lagi.&lt;br /&gt;Sampai seberapa jalankan sumpah itu? Ternyata tak berapa lama, sudah dilanggar sendiri. Kendatipun pelanggaran itu dilakukan dengan hati sakit dan tersayat-sayat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun tak beda.. kini merasakan luluh lantaknya lingkungan dengan kesemrawutan dan segenap keburukannya sehingga merasa kurang nyaman tinggal di dalam bumi yang cuma satu itu. Asap memekati wajah hitam kusam, suara berisik mengorek gendang telinga hingga mau pecah, tanah yang tak cukup lagi memberi gizi karena sudah tercampur segenap pembasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan betapa nyaman tinggal di bumi penuh harmoni keindahan, menyatu antara suara burung berkicau, air bergemericik segar membasahai kerongkongan dahaga.. kitapun tergerak dengan berbagai kemauan untuk melakukan perubahan demi perubahan. Berbagai sminar, lokakarya, dan berjenis pendidikan kita jalani.. menjunjung hati untuk mengeluarkan keinganan dan komitmen atawa janji untuk berturut serta dalam upaya pelestarian lingkungan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG LINGKUNGAN.. maukah hatimu teriris dan tersayat bila suatu saat menjalani suatu hal yang bertentangan dengan apa yang kau ucap? Bukankah dalam dadamu sudah ada sumpah itu sekalipun tak pernah diucap sebagai sumpah vulgar.. Bukankah KITA SERING MENDENGAR KATA-KATA.. SAYA BERMINAT PADA MASALAH LINGKUNGAN.. Sesuai dengan profesi saya,.. di dunia saya..???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bagi kita yang sudah menganggap melestarikan lingkungan adalah PROFESI kita. Namanya saja profesi, selalu ada pengambilan sumpah itu. Profesi dokter, disumpah dulu. Profesi Dokter Hewan, Dokter Gigi, Advokat, Wartawan.. semua adalah profesi, secara akademis selalu ada pengambilan sumpah resmi sesudah seseorang menyandang Profesi ini. Kita kenal pula Program Profesi Lingkungan Hidup yang baru diselenggarakan oleh LSM nasional bekerjasama dengan LSM luar negeri… pesertanya sudah menyatakan Penyadaran Lingkungan adalah Profesi dalam hidupnya.. minimal akan menggeluti dunia ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai seberapa jalankan “sumpah” itu? Sampai seberapa jauhkan kita mengimplemantasikan semua teori itu dalam kehidupan sehari-hari? Tetapkah itu akan terpelihara secara lestari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya belajar dari kisah Prabu Matsya yang melanggar sumpahnya sendiri karena perut keroncongan dan kerongkongan kehausan… kita mengambil suatu pendalaman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa kita musti tetap dan pasti … seperti kala kita berseru pada dunia sekalipun tak berada di puncak gunung tinggi. YANG PENTING ADALAH TETAP MEMEGANG KOMITMEN, KESETIAAN, bukan janti atau sumpah. JALANI DENGAN KATA YA dan CINTA. Bukan janji-janji. Sebab jangan-jangan janji kita tak lebih daripada Janji Wayang, sekedar bayang-bayang. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2515594747690660574?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2515594747690660574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2515594747690660574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2515594747690660574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2515594747690660574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-16-5-nopember-1999-janji-wayang.html' title='EHDB 16/ 5 Nopember 1999 JANJI WAYANG'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-5691868737008155268</id><published>2007-08-26T19:00:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T19:01:00.019-07:00</updated><title type='text'>EHDB 15/ 4 Nopember 1999 PENDEKAR  LINGKUNGAN (oleh Yonathan Rahardjo dan Myrza Rahmanita)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kesedihan yang sakit dan mendalam muncul di dalam hati kita masing-masing. Mengapa bumi saya, bumi kita..dikoyak-koyak begitu saja? Bahkan seringkali oleh orang-orang yang mengaku mengerti dan bahkan pecinta lingkungan? Sayang, saya, anda, dan kita cuma bisa diam. Tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak LSM tumbuh menjamur, begitu banyak pula dana dikucurkan dari luar negeri. Masih saja terjadi berbagai tindakan pengrusakan lingkungan terjadi, bahkan dengan model seremeh apapun. Berapa juta manusia setiap harinya menenteng tas plastik sebagai wadah belanjaan sepulang kios, warung, toko, pasar atau supermarket? Tidak tahukah mereka bahwa sampah plastik selalu menjadi benda asing penandus tanah? Tidak tahukah mereka bahwa asap pembakaran sampah plastik selalu membuat udara tak layak dihirup untuk bernafas?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermilyar dana dihimpun, namun mengapa seorang petani di suatu desa Jawa Tengah tetap saja merasa tidak bisa bertanam? Hanya lantaran tidak punya uang pembeli pupuk? Bukankah tanpa uang pupuk tetap bisa dibuat? Air ludah, air kencing, kotoran hewan, bahkan kotoran manusia, bukankah itu media gratis untuk membuat pupuk? Mengapa harus tergantung pada urea yang maunya untuk menyuburkan lahan, ternyata malah kian menyedot kesuburan tanah dan membikin tandus tanah? Siapa yang salah...? Siapa yang bisa bikin betul...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ratusan LSM dadakan itu tidak bisa merubah apa pun? Kemanakah dana yang bertumpuk-tumpuk itu, mengapa tetap saja tertatih-tatih prinsip berlingkungan yang ramah? Sayang kalau berita ini benar, bahwa banyak dana untuk kegiatan pro lingkungan ternyata cuma mampir untuk kepentingan pribadi. Kalau begitu apa betul para pendekar LSM lingkungan tersebut SAHABAT hanya bagi kalangan sendiri? "OPOSAN" terhadap mereka yang dahinya tertera "Perusak Lingkungan"? Mengapa selalu bisa melakukan suatu aksi terhadap golongan yang sudah tampak jelas-jelas menggunduli hutan, mencemari sungai? Tapi bagi dirinya sendiri masih saja melakukan tindakan yang tidak konsekuen dengan apa yang disuarakan 'jaga kelestarian alam' bahkan terhadap pemakaian plastik sekalipun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit bagi kita membedakan mana yang berpredikat PENDEKAR atau PERUSAK lingkungan. Itulah mengapa, banyak di antara kita yang tidak punya nyali untuk ikut bertindak dalam kegiatan sayang lingkungan bahkan sekalipun hanya untuk urun bicara atau tulis pada media-media atau milis-milis lingkungan. Karena secara langsung merasa diri sendiri juga "PENDOSA". Wajar sangat sulit bagi kita untuk bisa tahu jelas mengenai diri sendiri, kalau kita cuma hanya pernah merasakan menjadi PUTIH selalu padahal untuk tahu ABU-ABU saja kita juga harus tahu warna HITAM. Keberpihakan kita sangat tidak jelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bukanlah saatnya bagi kita untuk memilah-milah siapa yang golongan putih dan golongan hitam. Siapa yang memperjuangkan kepentingan lingkungan, atau siapa yang justru merusak lingkungan. Sekalipun dicap sebagai perusak lingkungan, kita akui kadang muncul pembenaran dari sisi ego manusia kita : Bahwa kalau suatu saat kita juga menjadi pendekar lingkungan. Paling sedikit punya sudut pandang dari kedua sisi. Dengan bekal itu mungkin banyak di antara kita bisa mencoba untuk cukup arif mengayomi keduanya dan mencari solusi terbaik bagi ketiganya : Win... Win...Win.... baik saat terjadi perusakan lingkungan, pelestarian lingkungan atau saat kedua-keduanya terjadi dalam satu kepentingan. Kalaupun di mana-mana terjadi peperangan antara yang perusakan dan pelestarian, tetap harus ada keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas siapa sesungguhnya THE REAL GENERATOR...Yang akan membangkitkan semua peran kita serta menjalankan semua fungsi sehingga tercapai keselarasan dalam harmoni..? Pada diri kita masing-masing, kita pernah memerankan fungsi pendekar lingkungan, bukan hanya perusak lingkungan. Jiwa inilah yang harus senantiasa kita kembangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memupuk jiwa pendekar, seseorang bisa menjadi manusia yang HUMANIS, peduli pada sesama, pada lingkungannya. Semua berpotensi untuk itu, tak cuma menjadi hak patennya tokoh- dan orang besar itu. Bahkan seorang Paidjo petani di desa tepi hutan juga mempunyai jiwa humanis yang mau peduli sesamanya, minimal pada komunitasnya. Pada era demokratisasi di mana pejabat bukan lagi punggawa raja ala orde baru, namun bergeser pada civil society, menuntun kita menjawab pertanyaan siapa sebenarnya the real generator, yang menggerakkan suatu bangsa manusia untuk peduli pada lingkungannya. Dia adalah masyarakat itu sendiri, yang mempunyai jiwa satria, yang tertanam pada diri setiap insan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas siapa PEMIMPIN-nya? Bukankah semut pun punya ratunya, mengapa kita tidak juga begitu? Kalau tidak, bagaimana mau melangkah ke arah yang sama dengan visi dan misi yang sejalan? Siapa Satria Piningit yang akan memediasi semua pihak berangkat dari visi dan misi masing-masing serta mengayomi ke arah 'gambar yang lebih besar'. Siapakah dia? Apakah dia Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Emil Salim, Otto Soemarwoto, ataukah Anda...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang pemimpin tidak cuma yang bisa kita lihat secara kasat mata. Di dalam diri setiap anggota masyarakat, di situ terhadap suatu kekuatan yang sama itulah Jiwa Satria, Jiwa Pendekar, Satria Piningit, Sang Real Generator. Itulah pemimpin yang menggerakkan setiap manusia. Ada juga yang bilang itulah Roh Kudus, yang pada setiap manusia pasti sama. Sebagian lagi bilang, itulah The Greatest Spirit, Roh Yang Terbesar di antara segala roh di alam semesta. Ada lagi yang bilang Semua Masyarakat adalah pemimpin, karena semua mempunyai Jiwa Satria di dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pembahasan siapa pemimpin menjadi tidak begitu penting, justru yang dituntut adalah yang nyata di realita. Di mana peran setiap Anggota masyarakat? Di mana PERAN PARA PENDEKAR? Masing-masing memerankan satu organ yang masing-masing selalu melaksanakan satu fungsi, dan tak bisa digantikan oleh organ yang lain. Sebab organ yang lain itu juga punya fungsi sendiri. Fungsi kaki hanya bisa dijalankan oleh kaki. Fungsi hidung tak kan bisa digantikan oleh ibu jari. Untuk mendukung prinsip itu perlu ada pembagian tugas, wewenang, hak, kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dimulai dari suatu organisasi (LSM misalnya), bagaimana setiap divisi bisa dikelola dengan pembagian peran yang punya peran secara realita. Lantas bagaimana itu berimplikasi pada organ-organ (person lain) di luar satu divisi. Lantas bagaimana antar organ itu bila digabung dan ada satu organ yang di-'turn on' semua organ yang ada akan nyala, berputar, berjalan, berfungsi untuk satu gerakan saying lingkungan dari sebuah organisasi yang namanya 'Pusat Sayang Lingkungan Hidup' misalnya, untuk PUSAT SAYANG LINGKUNGAN HIDUP yang sesungguhnya yaitu lingkungan sekitar kita, bumi, alam semesta kita. Tentu saja termasuk semua yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi sangat manis saat kita mengetahui ada LSM yang menyuarakan advokasi dan pembelaan kaum tertindas dalam pengelolaan lingkungan, mengurusi hutan, lahan basah, mangrove, pertanian, konservasi burung dan satwa, atau yang cuma menyuarakan penerbitan lingkungan dan pendidikan lingkungan, serta yang lebih mengedepankan amal jariah dan dana untuk lingkungan. Belum lagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat, juga non LSM, pemerintah, perguruan tinggi, swasta, industri dalam peran masing-masing . Namun yang lebih manis adalah bila semua punya kepedulian yang sama untuk lingkungan. Yang membuang sampah tahu harus dikemanakan sampahnya, yang membutuhkan sapu tangan akan tahu lebih memilih tissue atau sapu tangan kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang dimiliki setiap lembaga atau pribadi tadi hanyalah satu potongan puzzle, gambar-gambar kecil saja. Untuk mendapatkan gambar utuhnya perlu kerelaan untuk bekerjasama, menanggalkan ego, melepaskan potongan puzzle tersebut untuk dijadikan sebuah gambar baru, BIGGER PICTURE. Gambar yang lebih besar, yang tak lain adalah lingkungan lestari, yang pada dasarnya tak lebih dari gambar lama, lingkungan yang sama, yang cuma satu-satunya kita tempati ini namun telah kita jaga dan kita tingkatkan keseimbangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, saat MENUNGGU AKHIR dari semua ini terjadi, lingkungan kita tetap terjaga, dan kita masih bisa menikmati segarnya menghirup udara bersih, segarnya meneguk air bersih, nyamannya berdiri di kerimbunan pepohonan rindang yang berdiri di atas tanah subur. Sementara perusakan sana-sini terjadi, perbaikan-perbaikan pun harus tetap dilakukan. Minimal. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MY&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-5691868737008155268?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/5691868737008155268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=5691868737008155268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5691868737008155268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/5691868737008155268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-15-4-nopember-1999-pendekar.html' title='EHDB 15/ 4 Nopember 1999 PENDEKAR  LINGKUNGAN (oleh Yonathan Rahardjo dan Myrza Rahmanita)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2501216367794613161</id><published>2007-08-26T18:59:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T18:59:57.657-07:00</updated><title type='text'>EHDB 14/ 3 Nopember 1999 KARENA SUKA YANG SEBENTAR</title><content type='html'>Petani membakar ilalang&lt;br /&gt;Yang hangus cuma si daun ilalang&lt;br /&gt;Akarnya tetap mengakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat memberantas narkoba&lt;br /&gt;Yang terberangus cuma pecandu pemula ataupun junkie&lt;br /&gt;Bandarnya masih tak tersasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekar lingkungan berkoar-koar&lt;br /&gt;Yang menerima dan sadar cuma sedikit dan sebentar&lt;br /&gt;Hati masyarakat tetap tawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG NIKMAT MENIKMATI BERAS.. lupa ubi bakar&lt;br /&gt;MEMANG NIKMAT mempunyai rumah berukir kayu besar-besar..&lt;br /&gt;Lupa itu barang jarahan yang membuat hutan gundul dan terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG NIKMAT.. WALAU SEBENTAR dan TAK KEKAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa… semua sebab dan akibat&lt;br /&gt;Cuma teratasi secara superfisial… tak mengakar&lt;br /&gt;Karena kita sendiri ternyata lebih menyukai&lt;br /&gt;Semua yang nikmat… walau cuma sebentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUPA KEBERLANJUTAN&lt;br /&gt;LUPA KELESTARIAN&lt;br /&gt;LUPA KEKEKALAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin aku menggapai makna lagu “lestari alamku”&lt;br /&gt;Yang penuh kekal?&lt;br /&gt;Kalau aku sendiri cuma mau semua yang sebentar? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2501216367794613161?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2501216367794613161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2501216367794613161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2501216367794613161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2501216367794613161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-14-3-nopember-1999-karena-suka.html' title='EHDB 14/ 3 Nopember 1999 KARENA SUKA YANG SEBENTAR'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4019458795603096235</id><published>2007-08-26T18:56:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:58:28.836-07:00</updated><title type='text'>EHDB 13/ 2 Nopember 1999 MEMORI KOALISI LINGKUNGAN</title><content type='html'>Ini sekedar memori di Gedung Sayap Garuda Yang Mengepak.&lt;br /&gt;Tepatnya Gedung Wakil Rakyat MPR di Senayan Jakarta.&lt;br /&gt;Saat para wakil rakyat yang mulia dari 13.600 pulau di Indonesia&lt;br /&gt;berkerut dahi menjual omong, membabat habis semua pergulatan&lt;br /&gt;penghalang masa depan republik dalam Sidang Umum MPR&lt;br /&gt;tempo hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari H, beberapa sosok yang selama ini dikenal&lt;br /&gt;Sebagai pejuang-pejuang lingkungan mengatasnamakan diri&lt;br /&gt;Sebagai “Koalisi LSM Lingkungan” kendati tanpa ikat kepala hijau&lt;br /&gt;Ala Suporter Bonek Green Force Surabaya. JUSTRU DI DAHI MEREKA&lt;br /&gt;TERTERA ‘STEMPEL’ SAVE OUR INDONESIA WORLD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat LSM lingkugan berdomisili di Jakarta/Bogor itu&lt;br /&gt;Bercampur dengan kerumunan dan keringat wartawan dalam dan luar negeri,&lt;br /&gt;para karyawan pendukung SU MPR, para wakil rakyat yang mulia sendiri,&lt;br /&gt;tentara dan polisi penjaga keamanan jalannya sidang,&lt;br /&gt;dan penjual barang kelontong di stan-stan yang disediakan di lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakan dengan segebok masyarakat yang lain adalah&lt;br /&gt;Kekhasannya bersuara lantang soal atasi isu-isu hijau, biru, dan coklat!&lt;br /&gt;Atasi masalah-masalah lingkungan. Didesakkan pada yang mulia Presiden&lt;br /&gt;yang saat itu belum lagi terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksana “Bekantan” yang berteriak nyaring di kiri-kanan sepanjang&lt;br /&gt;Sungai Sekonyer Di Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah&lt;br /&gt;manakala para manusia pengunjung lalu-lalang di sungai itu, para pentolan&lt;br /&gt;LSM lingkungan itu dengan keras minta agar pemerintah&lt;br /&gt;yang bakal dipilih saat itu mau di”celik mata”-nya terhadap berbagai kerusakan&lt;br /&gt;dan degradasi alam yang meruyak negara 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kompak!… dan pada saat semua sudah bergulir&lt;br /&gt;hingga terpilihnya Presiden, Wakil Presiden hingga terbentuknya&lt;br /&gt;‘Kabinet Pelangi Nasional’ dipimpin Santri handal dari Jombang…&lt;br /&gt;yang terjadi di antara mereka tampak justru membuat&lt;br /&gt;Jidat berantakan! Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gantinya membicarakan dengan kepala dingin&lt;br /&gt;bagaimana menteri lingkungan Kabinet pelangi beroperasi di lahan barunya,&lt;br /&gt;para pengaku pengabdi dunia hijau itu&lt;br /&gt;Justru merangsek penurunan seorang pendekar pendatang baru&lt;br /&gt;sebagai sebagai menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun pemrotesan itu dilakukan dengan kepala dingin&lt;br /&gt;ala negarawan atau petinggi Politik, itu kurang jadi masalah.&lt;br /&gt;Yang jadi pertanyaan salah seorang pemrakarsa&lt;br /&gt;‘koalisi’ lingkungan justru ‘Mengapa yang menonjol justru tampaknya&lt;br /&gt;niatan untuk memperoleh kursi empuk menteri “Pendekar” lingkungan&lt;br /&gt;kabinet pelangi?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tak heran, kalau saat berkoar nyaring&lt;br /&gt;di gedung sayap garuda terkepak untuk menggolkan rancangan&lt;br /&gt;peduli lingkungan pada bakal penguasa baru ada 5 LSM..&lt;br /&gt;Pada saat mendesak pendekar lingkungan dadakan untuk menjungkalkan diri&lt;br /&gt;daripada maju dengan gentar, cuma jadi 3 LSM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui oleh salah seorang pendekar kita itu&lt;br /&gt;(yang tidak ikut mendesak mundur gunungnya Pendekar dadakan itu)&lt;br /&gt;kepada HARMONI LINGKUNGAN..&lt;br /&gt;“Saya lebih baik mendukung Menteri Baru itu untuk membuktikan&lt;br /&gt;dedikasinya, minimal 100 hari di awal sepak terjangnya. “&lt;br /&gt;Dan terbukti justru untaian kata-kata inilahnya yang akhirnya menjadi&lt;br /&gt;garis kebijakan akhir koalisi LSM itu. Mengapa?&lt;br /&gt;TERBUKTI DESAKAN AGAR MENTERI BARU MUNDUR.. GAGAL!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekar dadakan tetap memegang pedang pengatur lingkungan, sementara&lt;br /&gt;Nama tokoh yang mendesak justru semakin terpuruk menjelang pudar..&lt;br /&gt;Karena menonjol emosionalnya dalam gerakan jajaran tingkat tinggi&lt;br /&gt;elite nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mestinya tak perlu emosional kalau dalam permainan catur tingkat tinggi&lt;br /&gt;kayak gitu…,” kata pengide statemen 100 hari yang dipakai&lt;br /&gt;sebagai garis kebijakan koalisi, dikatakan kepada HARMONI LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, masalah lingkungan tak akan pernah selesai dengan mengandalkan&lt;br /&gt;Nafsu dan Okol. Yang perlu digunakan adalah “Akal” selain dengan Sang Okol&lt;br /&gt;Sendiri (otot/tenaga/fisik). AKAL DAN OKOL, MENTAL DAN FISIK,&lt;br /&gt;namanya saja PENGABDI KESEIMBANGAN, UNTUK KEBERLANJUTAN.&lt;br /&gt;Ya, SEIMBANG. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4019458795603096235?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4019458795603096235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4019458795603096235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4019458795603096235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4019458795603096235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-13-2-nopember-1999-memori-koalisi.html' title='EHDB 13/ 2 Nopember 1999 MEMORI KOALISI LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4798147195134061385</id><published>2007-08-26T18:55:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T18:56:50.042-07:00</updated><title type='text'>EHDB 12/ 1 Nopember 1999 SARWONO dan SARIP TAMBAK YOSO</title><content type='html'>PETANI ASIA TENGGARA,&lt;br /&gt;telah membudidayakan udang dan ikan sejak beberapa abad silam.&lt;br /&gt;PETANI INDONESIA&lt;br /&gt;sudah memelihara bandeng (Chanos chanos)&lt;br /&gt;di tambak kawasan hutan bakau 500 tahun lalu.&lt;br /&gt;PETANI IKAN memelihara ikan dan jenis crustacea lainnya&lt;br /&gt;seperti udang dan kepiting&lt;br /&gt;di kolam berair payau&lt;br /&gt;yang dikenal sebagai ‘tambak’&lt;br /&gt;dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETANI TAMBAK&lt;br /&gt;awalnya adalah para narapidana!&lt;br /&gt;NARAPIDANA pada jaman kerajaan Jawa kuno&lt;br /&gt;beberapa ratus tahun sebelum masehi&lt;br /&gt;dikirim ke hutan bakau yang sangat lebat&lt;br /&gt;di tepi pantai utara Jawa Timur.&lt;br /&gt;Mereka harus bekerja di kolam garam.&lt;br /&gt;Sebagai upah atas garam yang dikumpulkan,&lt;br /&gt;mereka mendapat sedikit makanan.&lt;br /&gt;Karena terbatasnya makanan itu,&lt;br /&gt;mereka melengkapi menu dengan menangkap ikan&lt;br /&gt;yang banyak dijumpai di anak sungai saat pasang surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NARAPIDANA PEKERJA IKAN itu&lt;br /&gt;mengumpulkan ikan-ikan yang terdampar ketika air surut&lt;br /&gt;dan membiarkan mereka tetap hidup&lt;br /&gt;dengan cara MEMBENDUNG sungai tersebut.&lt;br /&gt;Cara ini kemudian berkembang menjadi TAMBAK,&lt;br /&gt;yang kita kenal sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAK awalnya merupakan kanal kecil.&lt;br /&gt;Dibuat dengan membersihkan sebagian kecil hutan bakau.&lt;br /&gt;Tambak-tambak tersebut berisikan sirip dan kerang-kerangan&lt;br /&gt;dari varietas lokal dan menggunakan hutan bakau&lt;br /&gt;sebagai tempat pengembangbiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDIDAYA TAMBAK kemudian menyebar ke seluruh Nusantara,&lt;br /&gt;terutama ke Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara&lt;br /&gt;pada abad keempat belas.&lt;br /&gt;Namun orang tak pernah melupakan nama Surabaya, Gresik atau Tuban.&lt;br /&gt;Daerah asal nama itu,&lt;br /&gt;Di pantai utara Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang juga tak pernah lupa terhadap nama SARIP TAMBAK YOSO.&lt;br /&gt;Nama orang yang berarti SARIP PEMBUAT TAMBAK!&lt;br /&gt;Seorang tokoh legendaris di Surabaya,&lt;br /&gt;yang karena kegigihannya melawan rejim penjajah Kompeni,&lt;br /&gt;Dia diuber-uber ala WANTED!&lt;br /&gt;Kepalanya dihargai sekian Gulden&lt;br /&gt;untuk siapapun yang bisa menyerahkan SARIP TAMBAK OSO&lt;br /&gt;hidup atau mati pada Kompeni.&lt;br /&gt;Dan dia tewas karena pengkhianatan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang keras dan penuh tantangan&lt;br /&gt;di pesisir utara Jawa Timur itu sangat membentuk karakternya.&lt;br /&gt;Ketegasannya bersikap, kesetiaannya menjunjung tinggi kebenaran,&lt;br /&gt;dan loyalitasnya pada demokratisasi saat kolonialisme saat itu&lt;br /&gt;membuat dia rela melawan imperialis yang juga imperialis PERAIRAN saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan kehadiran kementrian baru&lt;br /&gt;KEMENTRIAN KELAUTAN&lt;br /&gt;yang dipimpin seorang SARWONO KUSUMAATMADJA&lt;br /&gt;yang sudah diakui track record-nya pada dedikasi untuk lingkungan,&lt;br /&gt;para petani nelayan, tambak, kaum pesisir, kaum lepas bebas&lt;br /&gt;di samudera raya mendapat suntikan semangat SARIP TAMBAK YOSO&lt;br /&gt;untuk melawan kolonialisme-imperialisme baru di dunia perairan ini.&lt;br /&gt;Semoga berani menyikapi atas adanya papan kosong&lt;br /&gt;atas nama HKNI (Himpunan Kerukunan Nelayan Indonesia)&lt;br /&gt;yang selama ini justru menjadi tempat bergoyangnya lutut para nelayan berdasi&lt;br /&gt;memeras tenaga nelayan sungguhan&lt;br /&gt;hingga bulir-bulir keringatnya berubah&lt;br /&gt;menjadi bulir-bulir darah,&lt;br /&gt;karena ancaman bom-bom terumbu karang …&lt;br /&gt;dan sejenisnya…&lt;br /&gt;dan sejenisnya…. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4798147195134061385?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4798147195134061385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4798147195134061385' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4798147195134061385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4798147195134061385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-12-1-nopember-1999-sarwono-dan.html' title='EHDB 12/ 1 Nopember 1999 SARWONO dan SARIP TAMBAK YOSO'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-9140404012881074354</id><published>2007-08-26T18:55:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T18:55:48.299-07:00</updated><title type='text'>EHDB 11/ 31 Oktober 1999 OLI’O (oleh Mohammad Ichsan)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oli’O, nama sebuah dusun, sekitar 20 km dari Kupang Ibukota NTT. Dihuni kurang lebih 130 kepala keluarga (tahun 1996), Oli’O dipimpin oleh seorang kepala dusun. Menangkap ikan, udang dan kepiting yang biasa hidup di hutan bakau yang mengelilingi dusun, adalah matapencarian penduduk O’lio. Mereka juga mempunyai ternak sapi, kuda dan babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke hutan bakau kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati ladang-ladang ternak penduduk yang cukup kering, setelah keluar dari ladang tersebut barulah kita menjumpai hamparan “harak” yang cukup luas. Di hadapan hamparan harak yang luas barulah bisa dilihat hutan bakau. Pohon bakau yang ada merupakan sisa dari beberapa pohon yang telah ditebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi alam yang cukup perawan..masyarakat Oli’O masih memelihara keseniannya. Saat ada penduduk hajatan, yang disuguhkan sebagai hiburannya tak lain adalah musik dan tari. “Gong” adalah alat musik tradisional yang biasa dimainkan bersama alat musik petik sasando dan tambur. Lagu-lagu yang dibawakan dengan iringan gong mengandung banyak makna…perjuangan/perang, cinta, dan segi kehidupan lainnya.&lt;br /&gt;Ada mitos yang beredar Untuk alat musik tambur berhubungan dengan alat musik tambur Tambur, dalam membuatnya hanya boleh dilakukan oleh pria yang sudah tua “uzur” dan ahlinya. Kalaupun ia membutuhkan bantuan, yang boleh membantu hanya pria yang masih bujang (belum beristri &amp;amp; mempunyai anak). Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang membantu adalah orang yang sudah berkeluarga… apabila ia akan mempunyai anak, konon anak yang akan terlahir tersebut tidak akan mempunyai anus. Siapa yang mau nggak punya anus? Tentu ngeri, harus operasi, lantas dibuatkan jalan buatan di area yang seharusnya itu. Jadilah.. masyarakat Oli’O sangat memegang teguh tradisi ‘tambur’ tadi. Ini sejenis kearifan tradisional.. tentu ada makna terkandung di dalamnya. Sah bagi kita menerka-nerka.. mengembangkan daya imajinasi tentang hal ini, “Mengapa kalau orang yang membantuku membuat tambur sudah berkeluarga anakku nanti jadi tak punya anus?” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nash/Staf Harmoni Lingkungan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-9140404012881074354?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/9140404012881074354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=9140404012881074354' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/9140404012881074354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/9140404012881074354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-11-31-oktober-1999-olio-oleh.html' title='EHDB 11/ 31 Oktober 1999 OLI’O (oleh Mohammad Ichsan)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-7731168528393007325</id><published>2007-08-26T18:54:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T18:54:45.685-07:00</updated><title type='text'>EHDB 10/ 30 Oktober 1999 CENDANA,.. (oleh Yonathan Rahardjo dan Mohammad Ichsan)</title><content type='html'>Cendana,&lt;br /&gt;nama pohon yang terkenal karena harumnya&lt;br /&gt;juga nama jalan yang terkenal karena cemaran penghuninya&lt;br /&gt;ternyata…&lt;br /&gt;pohon ini sekarang hampir punah&lt;br /&gt;karena eksploitasi yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendana bisa diambil serbuknya,&lt;br /&gt;bisa dijadikan minyak cendana,&lt;br /&gt;kayunya bisa dijadi berbagai macam cendera mata&lt;br /&gt;kipas, tasbih, rosario, gantungan kunci dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serbuk cendana, bisa sebagai pengganti kapur barus&lt;br /&gt;dengan cara memasukkannya ke kantung kain,&lt;br /&gt;lalu dijahit dan tinggal menggantungkan atau menaruhnya&lt;br /&gt;di dalam lemari pakaian.&lt;br /&gt;Bisa juga dibakar untuk menggantikan obat nyamuk bakar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARUM untuk mengharumkan ruangan&lt;br /&gt;AMPUH dalam mengusir nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Cendana ditaburkan di tempat-tempat yang rawan sarang rayap,&lt;br /&gt;serbuk cendana cukup efektif dalam menghalau rayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kegunaan dan keharuman yang dihasilkannya itu&lt;br /&gt;maka cendana terus mengalami penurunan dalam jumlah.&lt;br /&gt;Dibutuhkan waktu 20 tahun untuk dapat menghasilkan pohon cendana yang wangi,&lt;br /&gt;karena hanya cendana tua saja yang bisa diambil kayunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya nikmat hidup di tempat WANGI dan BERKHASIAT&lt;br /&gt;Untuk hidup tak mikirin susahnya cari duit sampai anak cucu selama tujuh turunan&lt;br /&gt;Sampai lupa tempat itu sendiri rupanya sudah HAMPIR PUNAH.. dan ‘PUNAH’ dan nyatanya&lt;br /&gt;‘TELAH PUNAH’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cendana”,&lt;br /&gt;Tragis benar nasibmu..&lt;br /&gt;Sementara engkau tak pernah memincingkan mata sekalipun pada mereka..&lt;br /&gt;Gadis kecil.. gadis remaja merah pipi, ibu-ibu segar sampai loyo, hingga nenek tua ompong…&lt;br /&gt;Yang setiap hari nyunggi ranting kayu sisa-sisamu..&lt;br /&gt;Dibakarnya ranting-rantingmu.. dijilat panas bara api dan berkobarnya api..&lt;br /&gt;menghangati tubuh.. menghangati rumah yang dibalut dingin malam,&lt;br /&gt;menghangati perut yang dingin lapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para lelaki berurat tangan dan kaki.. menjejaki lahanmu&lt;br /&gt;dan… terdengar denting kapak itu! Melengking! Menusuk kuping..&lt;br /&gt;terdengar deru gergaji listrik itu! Menyogrok telinga.. risih!&lt;br /&gt;kaum lelaki itu.. menggasak pohon-pohonmu..&lt;br /&gt;krosak!! Krosak!! BUM.&lt;br /&gt;pohon tumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa mereka? Gadis kecil, gadis remaja merah pipi,&lt;br /&gt;ibu-ibu, nenek tua ompong, dan lelaki-lelaki itu?&lt;br /&gt;Mereka sebagian besar penduduk negeriku, Indonesia&lt;br /&gt;yang tinggal di luar Pulau Jawa&lt;br /&gt;maupun jutaan petani miskin yang ada di Pulau Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa mereka?&lt;br /&gt;Mencari nafkah&lt;br /&gt;menggantungkan hidupnya secara langsung dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya..&lt;br /&gt;Itu tak cukup bernilai dibanding hak mereka..&lt;br /&gt;hak adat masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola hutan,&lt;br /&gt;semua bilang,&lt;br /&gt;itu&lt;br /&gt;KARENA KAMU! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nash/Yonathan - Harmoni Lingkungan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-7731168528393007325?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/7731168528393007325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=7731168528393007325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7731168528393007325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/7731168528393007325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-10-30-oktober-1999-cendana-oleh.html' title='EHDB 10/ 30 Oktober 1999 CENDANA,.. (oleh Yonathan Rahardjo dan Mohammad Ichsan)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4332992479308752909</id><published>2007-08-26T18:48:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:51:20.626-07:00</updated><title type='text'>EHDB 8/ 28 Oktober 1999 KAPITALISME BERADAB, BUKAN BIADAB</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Semua organisasi membutuhkan pengelolaan organisasi yang benar, baik itu organisasi profesional maupun vokasional. Tak peduli itu LSM atau Lembaga Bisnis, Non Profit atau Profit Oriented yang paling dipentingkan di sini adalah spirit lembaga yang benar. Kalau spiritnya profit, jadilah profit yang beradab, bukan biadab. Demikian juga kalau non profit, jadilah non profit yang beradab, bukan non profit kurang adab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mewakili dunia dan Indonesia secara keseluruhan. Mengapa lingkungan kita rusak begitu hebat padahal kita menerapkan Ekonomi Pancasila yang dikeramatkan dan dijunjung setinggi langit kesaktian, humanisme, dan keberadabannya? Malahan kita kalah sama negara-negara barat, yang secara terang-terangan mengklaim sebagai negara kapitalis murni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, ternyata dengan ekonomi Pancasila bangsa Indonesia dalam prakteknya justru menjadi KAPITALIS PRIMITIF. Kapitalisme biadab, yang semua nilai-nilai luhur hanya lewat sebatas slogan-slogan normatif yang kosong melompong bak tong kosong berbunyi berglontang. Prakteknya terlalu berat untuk menyangga predikat bangsa luhur, akibatnya terjadi hukum rimba, yang berkuasa membiadabi yang diperintah. Kata Government yang semantiknya dari Governness, INANG PENGASUH sudah dikebiri menjadi kata PEMERINTAH yang mengekspoitasi yang diperintah. Manivestasinya merasuk dalam segala sendi kehidupan, rakyat yang seharusnya dilayani (diasuh) justru menjadi diperintah, dikuasai, dikangkangi, dijahati, yang dengan sendirinya berakibat pada lingkungan yang ikut diperkosa keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan negara-negara barat itu, sekalipun mereka kapitalis tetap dalam frame Kapitalis Beradab, yang lebih mengedepankan nilai-nilai etika, kemanusiaan, persamaan hak, demokrasi dan hak azasi. Karena memposisikan rakyat sebagai yang dilayani, dan pemerintah adalah pelayan, maka suara rakyat adalah SUARA TUHAN, SUARA TUAN. Apapun yang menjadi kebutuhan rakyat, permintaan rakyat, government harus mengakomodir. Efeknya cukup positif bagi lingkungan, karena lingkungan yang baik muncul dari suara-suara rakyat terhadap kebutuhan lingkungan nyaman dan itu didengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep yang demikian, tidak salah kita tetap berorientasi pada Bisnis, tapi tetaplah Bisnis yang beradab, sekali lagi bukan Biadab. Artinya di mana pun kita berada, sekalipun orientasi utamanya pada bisnis, asal dipagari dengan etika, norma, humanisme, dan susila yang baik, itu tetap PUTIH. Itu lebih baik daripada lembaga yang mengaku sebagi penyelamat lingkungan tapi ternyata cuma berbisnis tak kentara. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4332992479308752909?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4332992479308752909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4332992479308752909' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4332992479308752909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4332992479308752909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-8-28-oktober-1999-kapitalisme.html' title='EHDB 8/ 28 Oktober 1999 KAPITALISME BERADAB, BUKAN BIADAB'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-979707881306809079</id><published>2007-08-26T18:45:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:48:50.757-07:00</updated><title type='text'>EHDB 7/ 27 Oktober 1999 LSM B1 dan LSM B100</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Begitu banyak LSM Berlaga.. kita amati satu persatu. Kebanyakan mereka selalu menganggap tabu untuk suatu yang bernama materi, pembayaran secara profesional. Jadilah LSM B1 yang begitu hebat itu cuman melakukan advokasi sana-sini, bermilyar-milyar uang dihabiskannya untuk melakukan pembelaan pada masyarakat. uang selalu dikucurkan dari luar negeri untuk kegiatan ini.. LSM B1 sangat menentang apa itu yang disebut PROFIT ORIENTED, sebagaimana menjadi sikap dasar suatu LSM. Radikalnya, semua yang berbau jual beli, dibenci dan disikat habis oleh LSM B1. Contohnya terhadap LSM, sebagian orang LSM B1 menganggap LSM B100 sudah melacurkan diri kepada dunia bisnis.. karena harus ada pembayaran untuk semua fasilitas dan programnya.... seharusnya kan NON PROFIT! (Sekali lagi, semua LSM harus berjiwa non profit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa sih yang dimaui sebuah LSM B100 dengan menyediakan fasilitas bungalow, asrama, restoran dan lain-lain yang harus dibayar oleh para pengunjung yang datang di sana? Itu semata-mata untuk KEMANDIRIAN, keberdayaan, tidak bergantung pada kucuran dana penyandang dana. Untuk bisa mewujudkan swadana dan swadaya.Jadilah LSM B100 dalam organisasiannya dibuat serapi mungkin dan seprofesional kitangkin, termasuk dalam pengelolaan keuangan, termasuk agar bisa safety untuk keberlanjutan program. Ketekita kuncinya! KEBERLANJUTAN PROGRAM. Agar suatu saat bila tiada dana yang mengucur, kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat tetap bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di sini tidak ada kaitannya dengan PROFIT dan NON PROFIT. Disebut profit kalau goal (orientasinya) cuman memang untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. kalau Non Profit bukan, ada pemasukan adalah minimal untuk survive, dan melanjutkan program-program pemeberdayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kehidupan LSM B100 jadi lebih baik dan seolah-olah laksana bernuansa profit karena begitu bersayapnya keuangan dan perhitungan-perhitungannya, termasuk besarnya pendapatkan/penghasilan para stafnya, itu adalah suatu reward atau konsekuensi logis dari suatu kerja profesional. Siapa yang bekerja dengan sebaik-baiknya tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik pula! Masa kita sudah bekerja sebegitu keras, ternyata kita tidak dapat membeli susu untuk anak, membeli beras untuk istri, bahkan rumah kontrakanpun tak punya? Bukankah Aktivis LSM B100 sekalipun butuh rumah untuk tempat tinggal yang layak, dan pakaian yang layak pula? Bagaimana bisa melanjutkan program kalau kehidupannya di bawah standar rata-rata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik tolak ke-LSM-an berawal dari fungsinya sebagai PENGGERAK/DINAMISATOR masyarakat agar bisa memerankan dirinya sebagai pelaku utama dalam roda kehidupan dan pembangunan. Selama ini kekuasaan cenderung dilakukan dan dimonopoli oleh pemerintahan. Padahal negara yang baik adalah negara yang memperhatikan demokrasi dan kepentingan rakyat sebesar-besarnya. Ironinya pemerintah dengan para kroni dan pengecap kenikmatan kekuasaannya selama ini cenderung Korup. Maka peran LSM tak lebih layaknya OPOSAN terhadap sekitar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau semua peran yang seharusnya ditangani oleh masyarakat, sudah bisa dikembalikan kepada masyarakat, di situlah terjadi suatu proses DEMOKRATISASI yang berhasil. Ini sama artinya, bila demokratisasi berhasil maka peran LSM pun sudah waktunya untuk dikembalikan kepada masyarakat! Masyarakat sendiri yang akan melakukan semua gerak yang selama ini dilakukan oleh LSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logisnya, LSM semakin berkurang garapan untuk oposan dan memberdayakan. Karena sudah tidak ada lagi pemerintah yang perlu selalu dicari-cari kesalahannya. Tidak ada lagi masyarakat yang masih sangat perlu diberdayakan, sebab semua sudah berdaya! ITULAH PERUBAHAN BESAR ARAH LSM yang terbaru!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat demokratisasi berhasil, keinginan dan kemauan para penyandang dana dan pemberi dana bantuan untuk membantu LSM sudah sangat kecil. Maka nasib LSM pun dibayang-bayangi kesuraman... dalam Konggres NGO di Korea tahun ini dan sebelumnya juga, hal ini sudah dibahas... Nasib LSM B1 yang menghabiskan bermilyar-milyar rupiah untuk selebaran-selebaran dan aktivitas advokasinya tanpa meninggalkan cadangan baik dalam bentuk barang, maupun kekayaan lain DIPROTES KERAS oleh para pembaharu gerakan NGO's. Bagaimana nasibnya bila lembaga dana tidak melirik LSM B1 (dan ribuan LSM di tanah air) untuk dibantu kucuran dana dalam sepak terjangnya?.. Suram @#$%^&amp;amp;;*()_+ Sulit dibayangkan keberlanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi pergeseran paradigma, LSM yang selama ini cenderung cuma mengharapkan bantuan dana dari donatur, kini harus memikirkan dirinya sendiri dengan berbagai upaya dan usaha agar bisa bertahan hidup justru untuk memberdayakan masyarakat. Peran LSM masa depan tak akan jauh beda dengan peran-peran yang selama ini dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial seperti PMI, sekedar pelayan masyarakat. Untuk melancarkan roda kegiatannya juga butuh pengelolaan secara profesional. Itulah PR bagi para LSM dan aktivis Lingkungan. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA ISTILAH LSM yang layak dapat nilai A, yang terbaik alias Amat Bagus karena sulit untuk mengatakan yang terbagus dan terbaik itu yang bagaimana …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mendapat nilai B… “BAGUS!!!!” kata Pak Tino Sidin, pelukis spesialis memompa semangat anak untuk rajin melukis itu. Semua LSM Bagus, asal visi, misi, aksinya jelas, dan bukan tukang main kibul sana-sini untuk kepentingan diri sendiri. Maka untuk membedakannya ya kita katakan LSM B1, B2, B3, B&lt;br /&gt;100, B 1.000.000… hanya untuk mengurut saja! he..he.. MUNGKIN SETELAH ADA LEMBAGA AKREDITASI LSM, BARU BISA MEMILAH DENGAN TEPAT DAN BIJAK.. LSM A, LSM B, LSM C, LSM D, LSM E. Kita tunggu para pionir akreditasi LSM kita yang sekarang lagi berkerut dahi memikirkan hal ini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-979707881306809079?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/979707881306809079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=979707881306809079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/979707881306809079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/979707881306809079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-7-27-oktober-1999-lsm-b1-dan-lsm.html' title='EHDB 7/ 27 Oktober 1999 LSM B1 dan LSM B100'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-6198579390584796144</id><published>2007-08-26T18:44:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:45:46.686-07:00</updated><title type='text'>EHDB 6/26 Oktober 1999 ULAR, KUCING, SINAR MATAHARI, DAN MANUSIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menjalar di sela-sela pagar dedaunan taman kuburan satwa.. hitam mengkilat bersisik. Semeter panjangnya! Bang! Bang! Darah menetes mengucur dari kepalanya, menggeliat-geliat tubuh si ular Kobra, tertembak oleh pegawai Rumah Sakit Hewan Jakarta. Bang! Persis ke kepalanya. Sontak orang berkerumun. Mata kehaeranan bertanya, "Wah? Di Jakarta yang padat penduduknya kayak gini masih ada ular. Ular Piton sebetis besarnya saja acap berkeliaran. Ular makan tikus.. sedangkan tikus banyak di Jakarta.. 'segajah' gedenya! Maka munculnya si ular makan tikus tidak cukup mengherankan penduduk Ragunan, minimal penembak ular tadi… "Saya , trauma digigit ular," katanya sambil mencungkil ular bangkai kobra tewas dengan galah bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kebun Binatang Ragunan Jakarta kalau anda menjumpai ular semacam ini di kandang-kandangnya, adalah hasil tangkapan ular liar semacam itu. Manakala si jantan ketangkap dan dikandangkan, maka tak lama kemudian menyusullah si betina mencari di mana pasangannya berada. Mereka beretemu di kebun binatang itu! Begitulah… acap penduduk Ragunan menjumpai ular-ular itu 'berkeliaran' di tempat-tempat rimbun bersemak, yang cukup banyak di jumpai di Jakarta Selatan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya cukup mengherankan di kota besar macam Jakarta masih saja ada ular sungguhan, mestinya yang ada kan ular-ular berkepala hitam yang suka memangsa apa saja asal mendapatkan HARTA, TAHTA atau WANITA. Mestinya ular-ular sungguhan itu lebih pas rasanya kalau muncul di daerah yang masih cenderung perawan, belum begitu terjamah polusi dan polisi, macam di desa Seloliman Kecamatan Trawas Mojokerto. Di situ berdiri sebuah Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup yang sudah cukup santer terkenal sebagai 'role model' kawasan ramah lingkungan, bernuansa alami baik arsitektur bangunan, maupun area yang digarapnya, selain sebagai tempat lembaga swadaya masyarakat melakukan pemberdayaan pada masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali saat para awak staf PPLH bercandaria di bawah pohon cherry alias keres, seekor ular kayu coklat menjalar di batang pohon di sela-sela dedaunan yang menjuntai.. Hap! Dengan sigap dia memagut seekor katak dengan mulut bertaringnya! Katak meronta!! Mengeluarkan suara pedih kesakitan! Melengking menyayat hati. Pada saat itulah terjadi pergulatan antara hidup dan mati si katak dalam kekuasaan si mulut ularkayu yang kecil tubuhnya (tidak sebesar ular kobra yang di Jakarta itu). Selama dua jam.. baru sang ular berhasil memindahkan katak di mulut masuk ke perutnya yang jadi menggelembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu saat anda berjalan di halaman 3,7 hektar PPLH nan asri itu mungkin anda akan disambut dengan ular kecil yang dengan cepat menyusur, melata, menyeberang lintasan anda.. Atau di kamar mandi.. seorang staf pernah harus menangkap ular air dengan tangannya yang sudah piawai. Di kolam depan restoran pun Anda bisa menikmati dengan lincah ular menyelam atau berjalan di atas air laksana Rasul Petrus saat menjumpai Gurunya dulu di Danau Galilea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ULAR. Sering bikin orang takut karenanya. Hati-hati adalah solusinya bila mendengar dan tahu suatu tempat menjadi habitatnya. Namun juga tak perlu takut karenanya. Mengapa? Staf PPLH yang notabene adalah pendidik-pendidik lingkungan hidup yang setiap hari menggeluti dunia lingkungan hidup dengan penuh dedikasi dan loyalitas tinggi pada lingkungan lestari bilang, 'ULAR TIDAK AKAN MELEWATI suatu jalan atau wilayah yang sudah menjadi JALAN MANUSIA, YANG SUDAH DIJAMAH MANUSIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah nyatanya! Binatang sangat tahu, kalau sesuatu yang bukan menjadi milik atau bagiannya dia tidak segera memakan, menyantap ataupun cuma memakainya. Biasanya mereka baru melanggar suatu 'teritori' kalau teritori mereka pun dilibas atau diganggu! Mereka merasa terancam hidupnya, maka bertahan adalah solusinya… Maka jangan sekali-sekali membangunkan Singa yang sedang tidur, Anda akan diterkam karenanya. Atau paling gampang, jangan mengusik kucing tidur, Anda akan dicakar karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kucing pun tahu.. siapa itu katak.. Di halaman Rumah Sakit Hewan Jakarta, saat seekor katak dikerumuni tiga ekor kucing.. tak satupun kucing itu yang menggigitnya. Kucing rupanya tahu.. itu bukan makanannya. Maka si tiga kucing cuma menyentuh dengan kaki depannya.. seolah mainan… Hmm.. empuk.. kenyal.. pikir kucing.. Didengusnya si katak.. Amis! Pikir kucing. Tiba-tiba si katak melompat! Kucing kaget.. melonjak.. namun ikut mengejar si katak.. terus begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti sampai katak menghilang di semak.. si kucing tak sekalipun menancapkan taringnya untuk memangsa si katak. Sikap si kucing dapat dibandingkan dengan saat dia mencuri ikan asin.. selama dia masih lapar.. apapun yang jadi seleranya akan disantap habiskan. Namun manakala dia sudah merasa kenyang.. jangankan dihabiskan.. disentuh saja makanan itu tidak. Ditinggalkannya begitu saja, kendati makanan masih menggunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau manusia rupanya lain! APAPUN YANG BISA MEMUASKAN HASRAT AKAN DIBABAT HINGGA ORANG LAIN SAMBAT!! Mengapa? Karena semua akan dikangkangi untuk diri sendiri, sering tidak mempedulikan bahwa masih ada orang lain disekitarnya, di lingkungannya. Tak mengherankan selama berkuasanya Raja Baru tanah Jawa dan Tanah Indoesia Suharto, hanya dia, keluarga dia dan para 'punggawanya' saja membesar perutnya, sementara berjuta-juta rakyat yang lain harus mengikat pinggang melilit kelaparan! .. tak tahu besok harus makan apa. MESTINYA MANUSIA BELAJAR DARI SI ULAR, SI KUCING, BELAJAR DARI LINGKUNGAN, BELAJAR DARI ALAM. Belajar untuk mengendalikan diri. Bahwa semua akan indah pada porsinya, semua akan indah pada saatnya, semua akan indah pada kodratnya, semua akan indah bila kita tahu batas-batasnya. Semua akan indah bila lingkungan sekitar juga indah dan mendapatkan jatah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya setiap manusia juga menganggap dirinya punya pembatas dan batas-batas.. sehingga ada harmoni, keselarasan dengan makhluk-makhluk yang lain. Bahkan alam yang sebegitu luas tak terbatas ini sebetulnya juga ada batasnya. Batasnya hanyalah pada suatu kenyataan bahwa kita punya porsi masing-masing. ALAM SUDAH BERCERITA TENTANG ITU. Bahwa sinar matahari yang begitu terang menyinari sembilan planet di tata surya, sinarnya tak akan terus bisa dipancarkan jauh melebihi jangkauannya. Mungkin dari galaksi Andromeda.. makhluk sana hanya akan melihat matahari (SUN) sebagai setitik BINTANG KECIL.. Matahari pun punya keterbatasan. Manusia juga.. kendati kita tak boleh membatasi diri untuk berkembang!! Yang tak terbatas hanya yang mempunyai semua itu, TUHAN. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-6198579390584796144?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/6198579390584796144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=6198579390584796144' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6198579390584796144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/6198579390584796144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-626-oktober-1999-ular-kucing-sinar.html' title='EHDB 6/26 Oktober 1999 ULAR, KUCING, SINAR MATAHARI, DAN MANUSIA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-1459687764090147215</id><published>2007-08-26T18:43:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:44:35.745-07:00</updated><title type='text'>EHDB 5/25 Oktober 1999 BELAJAR DARI BURUNG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Seorang pecinta burung mau menembak burung. (GITU KOK DISEBUT CINTA). Dia pergi ke toko buku untuk beli petunjuk berburu burung.(GITU KOK DISEBUT CINTA). Di pojok etalase buku toko itu, dia mendapatkan suatu buku menarik warna-warni dan ada gambar burungnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terpikat, dibaca bolak-balik buku itu! Lahap. Ujung-ujungnya dia pulang beli buku itu. Harganya cukup mahal (UNTUK SEBUAH CINTA)....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun kemudian... IA JADI PECINTA BURUNG SUNGGUHAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku apa yang sebetulnya dibelinya?... CUMA CATATAN HARIAN AKTIVIS BURUNG dalam mendekati masyarakat untuk menjaga kelestarian burung, di sebuah pulau terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama : meeting with kepala desa&lt;br /&gt;Hari kedua : meeting with head trappers&lt;br /&gt;Hari ketiga : meeting with people directly and indirectly involved with tourism, school teachers, other interested parties .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi : Discuss the unique and precious nature of local birds stress birds' importance to forests as pollinators and dispersers of seeds for locally used trees&lt;br /&gt;Promote pride about local knowledge of birds and the role of local people as custodians of wild birds&lt;br /&gt;Discuss the specialized market of birdwatching ecotourism&lt;br /&gt;Explain that seeing beautiful wild birds is a very valuable experience for outsiders who are not priveleged enough to see them everyday at home&lt;br /&gt;Illustrate with examples of successful birdwatching tour businesses Discuss the concepts of a sustainable tourism industry&lt;br /&gt;Sustainability means investing in the future rather than borrowing from it&lt;br /&gt;Though economic rewards may not be immediate, they will be long-lasting, unlike those from bird trapping&lt;br /&gt;Emphasize that protecting birds will be crucial to the success of birdwatching ecotourism&lt;br /&gt;Ecotourists want to see lots of birds&lt;br /&gt;Ecotourists want to know that their money is supporting bird conservation&lt;br /&gt;Relate project in terms of traditional resource management&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAN SETERUSNYA... Lho! Apa itu bisa disebut belajar dari burung? Kok kaitannya cuma dengan manusia-manusia yang terlibat dalam perburungan saja? MANA BURUNGNYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya di akhir buku itu ditulis KEGAGALAN (hus! Kekurangberhasilan) PROYEK-PROYEK PELESTARIAN SATWA SELAMA INI KARENA LEBIH BERORIENTASI PADA SPESIESNYA, PADA HEWANNYA SAJA. KURANG PADA PENYADARAN DAN PENDIDIKAN MASYARAKATNYA. Maka wajar menyadari kekeliruan (hus! Ketidak tepatan.) strategi ini organisasi-organisasi besar pemuka pelestarian satwa kini pun menekankan dan memberi muatan PEMDIDIKAN LINGKUNGAN, dan COMMUNITY DEVELOPMENT yang notabene ditekankan pada pemberdayaan manusianya. Bukan cuma pemberdayaan satwa. Bukan cuma pemberdayaan burung. SEMUA BELAJAR DARI BURUNG.. TIDAK BISA DIKELOLA SECARA BAIK DAN LESTARI KARENA YANG DIPERHATIKAN CUMA BURUNG, BUKAN MANUSIA UNTUK MENCINTAI BURUNG. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-1459687764090147215?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/1459687764090147215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=1459687764090147215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1459687764090147215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1459687764090147215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-525-oktober-1999-belajar-dari.html' title='EHDB 5/25 Oktober 1999 BELAJAR DARI BURUNG'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-8775305580260070340</id><published>2007-08-26T18:41:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:43:28.310-07:00</updated><title type='text'>EHDB 4/24 Oktober 1999 EKOWISATA BUTUH MANUSIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Seorang pemuda saat bergabung dengan sebuah lembaga lingkungan dengan sangat menghayati menapakkan kaki di tanah basah berumput segar, dikerumuni rerimbun hijau dedaunan dan pohon-pohon jati yang perkasa menjulang di hutan-hutan yang mulai hilang keperawanannya. Untung aliran sungai masih membawa air bening mengalir!.. bergemericik.. Dihirupnya sang air dengan penuh perasaan.. brr.. dingin, tapi SeGaaAAAR!!!!....!! FREsS ...hhHHHH!!!!!!! Apalagi ditambah sugesti yang sudah membalut hati seluruh penduduk dan pendatang lokasi, bahwa air itu terbaik nomer empat di dunia! Bisa bikin awet muda!!&lt;br /&gt;Suatu saat sang pemuda hijrah ke kota metropolitan. BESAR!! RAMAI!! SIBUK!! Sangat kontras dengan lingkungan semula dia beraktivitas bersama pendekar-pendekar lingkungan di tepi hutan pembalut gunung dan bukit tadi. WAH!! SUASANA BARU.. Bikin dahi berkerut!! "Bisa-bisa khasiat air yang aku minum dulu kagak berlaku nih di sini," batinnya tak mau menggerutu dan coba tetap tersenyum. Bayangkan.. dalam pengembaraannya di kota supersibuk itu setiap hari wajahnya dihempas debu jalanan, asap knalpot bajay, angkot, maupun bis kota. KONTRAS!! Sangat kontras dengan hidupnya sebelumnya di tepi hutan yang sepi damai, sejuk, setiap hari bisa melihat burung berlompatan, bajing-bajing pun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatannya cuma satu. TAK PEDULI DESA, TAK PEDULI GUNUNG, HUTAN, TAK PEDULI KOTA, TAK PEDULI JALAN PADAT BERDEMPET KERINGAT BUSUK PARA PENUMPANG BIS KOTA, semua lingkunganku. Begitu batinnya. Aku harus bisa membuat tempat susah ini menjadi tempat nyaman. Senyaman-nyamannya tempat di mana kaki dipijak, langit dijunjung. Begitu lagi batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saat seorang menanyakan padanya bagaimana proyek ekowisata di Indonesia bisa ditangani dan dikembangkan dengan baik, salah satu jumpalitan pikir adalah, "JAKARTA! Ya, seganas-ganasnya Jakarta lebih ganas dari ibu tiri, Jakarta juga tempat berwisata yang menyenangkan". Maka dihitungnya bertaburannya tempat wisata di ibu kota negara yang hampir terpecah-pecah ini. Ada Ragunan, Ancol, Dufan, Taman Ria Senayan, Taman Mini Indonesia Indah proyeknya pendamping Raja Orde Baru, dan lain-lain... dan lain-lain. GILA! Ujarnya. Semua tempat wisata di Jakarta ternyata jauh lebih banyak daripada jumlah tempat wisata di Indonesia. Memang sih, kecil-kecil, tapi itu... hampir di tiap sudut kota Jakarta ada itu tempat wisata. Apalagi kalau yang disebut sebagai bar, diskotik, night club, pub, karaoke, bahkan panti pijat yang oke itu boleh dan bisa disebut sebagai tempat wisata!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA? JAKARTA TEMPAT EKOWISATA? MANA MUNGKIN? Maka dia mencoba merangkai makna ekowisata, secara gampang-gampangan,ala orang awam. Eko = lingkungan, dalam artian mengandung unsur makhluk biotik dan abiotiknya. Wisata = apalagi kalau bukan tempat untuk refreshing, rekreasi. Digabung, ya pengelolaan wisata yang ramah lingkungan. Artinya tidak cuman tempat rekreasi saja tanpa memperhatikan kepentingan sekitarnya, lingkungannya. Na.. di sini ada dua versi pula : Cuma wisata dengan kepentingan nature (alam). Yang kedua memperhatikan juga kepentingan masyarakat sekitarnya, dan sustainability (keberlanjutan) baik alam, lingkungan, maupun program itu sendiri, serta masyarakat setempat mendapat penghasilan yang selalu mengalir dari apa yang disebut sebagai INCOME GENERATING. Itu gampang-gampangan pengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAH! Kuncinya pasti di sini... MASYARAKAT! Penduduk Jakarta kan padat dan sangat padat.. maka wisata pun padat! Bagaimanapun, manusia butuh hiburan.. ya wisata itu salah satu sarananya... Apalagi di kota tempat berkerumunannya manusia-manusia laksana tembok berjajar karena padatnya. Maka Jakarta layak disebut sebagai bagian dari Ekowisata yang baik, kalau mau merukuk dari pengertian ekowisata yang juga melibatkan kepentinganmasyarakatnya juga. BISA JADI JAKARTA ADALAH SUATU CONTOH EKOWISATA YANG BAIK. Aneh! Gila! Pikiran gila! Kota penuh polusi baik tanah, air, maupujn udara bisa disebut sebagai contoh ekowisata yang baik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMUN PIKIRAN BAHWA JAKARTA CONTOH EKOWISATA YANG BAIK SEGERA MANDEG, BUNTU. Hatinya jadi teriris manakala ternyata manusia-manusia yang butuh hiburan itu sering lupa untuk mendapatkan hiburan yang bisa meningkatkan kadar OKSIGEN dalam parunya, meningkatkan METABOLISME TUBUH dan PEREDARAN DARAH dengan kualitas semua mineral baik udara dan air yang memenuhi standar baku HIDUP SEHAT. Sayang!!! Rekreasi untuk mengembalikan kondisi terbaik hanya ditekankan pada kepuasan batin saja. Asal sudah melantai disko, sudah puas.. bahkan dengan ekstasi sekalipun. Asal Sudah dipijit para massager Pijat Tradisoanal (Pitrad) sudah puas.. pulang maunya stamina meningkat.. nyatanya malah loyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTANYAAN YANG PALING MENGGANJAL adalah: MENGAPA TIDAK MENCIPTAKAN WISATA YANG RAMAH LINGKUNGAN pula di kota suber semrawut?? Mengapa harus orang tepi hutan dan pegunungan saja yang boleh menikmati semilir angin berhembus menggesek dedaunan berwarna-warni memantulkan sinar mentari pagi dan petang?? Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di kota padat orang dan padat polusi ini orangnya jauh melebihi jumlah orang di tepi hutan. Dan satu kenyataan yang sulit dipungkiri, justru sebagian besar orang di Jakarta tidak mampu untuk keluar sebentar ke alam bebas polusi entah itu di pegunungan di luar kota Bogor, atau di Puncak. Sebagian besar tak cukup punya uang bahkan cuma untuk menggeser telapak kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKANKAH PROGRAM EKOWISATA tak cukup bermanfaat bila tak banyak orang memanfaatkannya? Mengapa tak membuat program di mana orang sudah menunggunya, di dalamnya? Bahkan sampai-sampai sesak kehabisan O2... ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-8775305580260070340?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/8775305580260070340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=8775305580260070340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8775305580260070340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/8775305580260070340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-424-oktober-1999-ekowisata-butuh.html' title='EHDB 4/24 Oktober 1999 EKOWISATA BUTUH MANUSIA'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-2348032099251875386</id><published>2007-08-26T18:31:00.002-07:00</published><updated>2007-08-26T18:32:41.633-07:00</updated><title type='text'>EHDB 3/23 Oktober 1999 ILMU LINGKUNGAN DAN KIMIA LINGKUNGAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setelah hari pertama seorang rekan milis bertempat tinggal di Jakarta mengirim pertanyaan Environmental Science dan Environmental Chemestry, di hari kedua edisi ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD seorang rekan milis datang dari jauh.. Mau tahu? Ternyata dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang bersekolah di luar negeri, Inggris tepatnya. Maka salah satu pikiran yang nongol di otak adalah, “Kita patut berterima kasih dengan adanya Milis Lingkungan ini, terutama kepada pemiliknya yang sudah menyediakan sarana bagi kita untuk saling mengisi, mengasah, dan mengasuh.” Bayangkan! Dengan milis ini semua anggota tak peduli sedang nongkrong di sudut bumi manapun dapat berkenalan di kabel telepon, bahkan bisa berujung di bawah gagang telpon sungguhan karena benar-benar berjumpa dan memakai telpon yang sama setiap harinya. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar kalau para pengasuh milis ini menjadi diusik kepengasihannya untuk mendudukkan kita semua dalam wadah yang sama saling berbagi, manakala seorang tak dikenal nyelonong dan merusak susana dengan dampratan dan kepongahannya. Mengapa tidak kita hormati media penuh jasa ini? APAKAH MATA KITA TIDAK TERCELIKKAN MANAKALA SERUMPUN PENDUDUK DI SEBUAH PUCUK GUNUNG DI TEMPAT TERPENCIL JAWA TIMUR, YANG UNTUK MENDAKINYA KAKI HARUS TERSEOK-SEOK PEGAL KESAKITAN, MENDAPATKAN KEBAHAGIAN DALAM ULURAN TANGAN LEMBAGA DANA UNTUK MENYINGKIRKAN TANGAN MEREKA YANG SUKA MEMINTA-MINTA MENJADI PEKERJA KERAS? APAKAH TIDAK TERBUKA MATA KITA MANAKALA ITU TERJADI JUSTRU LEMBAGA DANANYA TAHU PROGRAM LINGKUNGAN INI DI MILIS INI? Maka sadarlah sobat, yang suka melecehkan milis ini untuk kesombongan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho! Apa hubungannya ini dengan Environmental Science alias Ilmu Lingkungan dan Environmental Chemistry alias Ilmu Kimia Lingkungan yang ditanyakan teman kita dari Jakarta tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dengan KISAH MENDUANYA PROYEK PISANG CAVENDISH KARENA KURANGNYA PEMAHAMAN TERHADAP ENVIRONMENTAL SCIENCE DAN NILAI HUMANISM dalam suatu komunitas penduduk lokal maupun semua lembaga yang terkait. Kisahnya terjadi di satu desa di Jawa Timur. Proyek didanai pemerintah daerah berkolaborasi dengan satu perusahaan swasta ini berakhir dengan separo penduduk menolak untuk menanam pisang Chavendish. Separonya yang lain tetap bersedia dan menanam pisang Cavendish. Pemandangan ini dapat Anda saksikan sendiri dalam satu lokasi pohon-pohon tumbuh di daerah situ, sementara di lokasi yang lain masih daerah yang sama penduduk menanaminya dengan tanaman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENVIRONMENTAL SCIENCE. Projects here involve chemists, geographers, geologists and biologists working together in area of common interest such as soil erosion, the ecology of land snails, the study of the historical and present influences of global change and sedimentary organic and inorganic geochemistry. The behaviour in the environment of pollutants such as asbestos, acid rain and organo-tin compounds and their effects upon health are investigated. Research workers have the advantage of excellent specialist laboratory facilities in chemistry, physics, geography and biology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, penduduk, aparat dan lembaga swadaya masyarakat rupanya tidak bisa menerapkan atau memiliki suatu persepsi yang sama tentang baik-buruknya pisang Cavendish itu bila ditanam di daerah lereng gunung Penanggungan yang sering terjadi konflik pemakaian air, padahal pisang Cavendish sangat rakus air. Ia juga rakus pupuk urea, bahkan pestisida. Suatu yang sangat dilawan oleh para LSM lingkungan. Tapi mengapa sampai terjadi penanaman pisang itu juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maslahnya memang sangat kompleks. Salah satunya diakui olejh para penduduk karena pendekatan yang kurang. Entah siapa dan apa kekurangannya. Yang pasti akhirnya sebagian penduduk yang mungkin karena lebih dekat nilai-nilai kemanusiaannya dengan aparat pemerintah (ATAU FAKTOR LAIN!?) akhirnya mengikuti untuk menanam pisang proyek itu. Sedangkan yang lain juga karena nilai kemanusiaan (BACA : PENDEKATAN MANUSIAWI) akhirnya dengan semangat juang 45 mau menolak segenap bentuk penjajahan pisang cavendish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi ENVIRONMENTAL CHEMISTRY pun tak akan berhasil baik bila humanisme diabaikan. Akan berhasilkah sebuah LSM lingkungan di Jawa Timur meruntuhkan suatu pabrik kertas di Surabaya untuk menutup operasinya? Bila hanya menunjukkan data-data pencemaran saja? Tanpa menunjukkan efek-efeknya bagi manusia? Lantas dengan gagah menjadi Community Organizer penduduk setempat untuk mengadakan demontrasi agar pabrik ditutup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENVIRONMENTAL CHEMISTRY is the discipline which deals with: the environmental impact of pollutants, the reduction of contamination and management of the environment. Environmental Chemistry is thus the study of the behaviour of pollutants with respect to their environmental fate and effects on the environment. Toxic compounds consist of naturally occurring elements in variable quantities which usually have no adverse environmental effects. The effect of a chemical depends on its distribution, its form and its concentration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin ilmu ini hanya akan menjadi ilmu mati tak berguna bila tak ada sentuhan kemanusiaan dalam aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENVIRONMENTAL SCIENCE, ENVIRONMENTAL CHEMISTRY, rupanya diketahui (setidaknya ditanyakan) seorang rekan milis dengan menggunakan milis ini. Kisah PERGULATAN LSM di daerah untuk aplikasi ENVIRONMENTAL SCIENCE dan ENVIRONMENTAL CHEMISTRY (setidaknya sekilas) juga dan dinikmati oleh Anda saat ini. Dengan HUMANISME yang baik, pergulatan itu akan menghasilkan yang terbaik. Bersahabat, berperikemanusiaan, itu inti katanya. PERKEMANUSIAAN. Tak ada satupun orang di muka bumi yang suka dilecehkan dan direndahkan, bahkan semut pun menggeliat saat dia diinjak. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-2348032099251875386?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/2348032099251875386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=2348032099251875386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2348032099251875386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/2348032099251875386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-323-oktober-1999-ilmu-lingkungan.html' title='EHDB 3/23 Oktober 1999 ILMU LINGKUNGAN DAN KIMIA LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-4044118734351114292</id><published>2007-08-26T18:31:00.001-07:00</published><updated>2007-08-26T18:31:30.341-07:00</updated><title type='text'>EHDB 2/22 Oktober 1999  NILAI KEMANUSIAAN LINGKUNGAN</title><content type='html'>Salam.&lt;br /&gt;Senang "HARMONI LINGKUNGAN” &lt;environment@appraiser.net&gt; bergabung dalam maillist yang dikomandani Bung Wayan Wicaksana sebagai moderator ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami 'HARMONI LINGKUNGAN' sebuah lembaga baru yang berakte notaris dalam kegiatannya  berangkat dari VISI keselarasan  dan MISI menyelaraskan segenap unsur lingkungan yang ada. , sehingga kita bisa nyaman hidup di bumi yang semakin merana in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas kita tahu hari akhir pasti akan tiba, yang kita mesti lakukan kini adalah segala seuatu yang HARMONIS=SELARAS=selaras sehingga tercipta HARMONI=KESELARASAN, kesepadanan, yang sering disejajarkan artinya dengan keseimbangan alam, untuk apa yang kita sebut sebagai kelestarian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESELARASAN itu harus kita ciptakan dan jaga merunut arti kata ekologi dan environment itu sendiri. Batasan EKOLOGI mencakup makhluk biotik dan abiotik di dalamnya. Sedangkan batasan ENVIRONMENT menjadi tak terbatas, karena disamping melingkupi biotik dan abiotik juga membahas semua hubungan di antaranya dan semua permasalahannya baik dalam wujud ekonomi, sosial, politik, budaya, dan hankam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta kami dalam maillist ini kami wujudkan dalam bentuk ‘RENUNGAN HARIAN’ bertitel ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD.  Titik tumpunya pada pembahasan sebenarnya masalah lingkungan akan kurang berarti jika cuma membahas segi-segi teknisnya saja dan kurang menyentuh NILAI-NILAI KEMANUSIAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Dalam milis ini beberapa bulan yang lalu sudah ditelurkan bahwa antara manusia dan lingkungan/alam takkan bisa dilepaskan. Bahkan sebagian besar percaya bahwa alam memang diciptakan untuk manusia, sebagai khalifah maupun khafilah.. Yang menguasai atau sekedar lewat untuk hidup. Pendek kata, PENENTU NASIB LINGKUNGAN ADALAH MANUSIA SENDIRI, YANG JUSTRU NASIBNYA DITENTUKAN OLEH BAIK BURUKNYA LINGKUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk menumbuhkan sesuatu menjadi berarti karena bukan sekedar sebagai ILMU PENGETAHUAN, atau SKILL, tapi bisa merubah suatu SIKAP yang mempunyai KOMITMEN bagi perubahan lingkungan sendiri dalam suatu AKSI, maka pembahasan ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD bertitik pada nilai-nilai kemanusiaan yang senantiasa bersentuhan dengan semua unsur dan problema lingkungan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang justru bila NILAI KEMANUSIAAN ITU DIPELIHARA DAN DIKEMBANGKAN, yang terjadi adalah suatu KEMAUAN dari sang manusia untuk berubah! Untuk merubah lingkungannya!  Maka ENVIRONMENTAL HUMANISM mempunyai peran di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai edisi pertama kemarin (21 Oktober 1999), kami sudah menampilkan problema BANJIR POLITIK dan BANJIR …… Dan sambutan dari rekan-rekan anggota maillist cukup meningkatkan metabolisme HARMONI LINGKUNGAN untuk semakin berbagi dengan semua rekan maillist lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu TERIMA KASIH kepada pemilik maillist lingkungan ini yang menyediakan tempat bagi kita semua untuk berbagi. Partisipasi HARMONI LINGKUNGAN di sini adalah akan tetap berkontribusi mengirimkan ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD ini setiap hari ke tangan rekan-rekan semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat dari seorang rekan maillist langsung ditujukan pada HARMONI LINGKUNGAN melalui email &lt;a href="mailto:environment@appraiser.net"&gt;environment@appraiser.net&lt;/a&gt;. Perbincangan dengan rekan yang mengirim secara pribadi tentu bermaksud agar yang bersangkutan tidak mau diketahui namanya secara umum, atau dilibatkan secara umum dalam maillist lingkungan itu. Kita tentu sangat menghargai hal itu. Padahal HARMONI LINGKUNGAN sangat tahu pertanyaan yang diajukan teman kita itu cukup perlu bila diketahui kita semua, yaitu soal ENVIRONMENTAL SCIENCE dan ENVIRONMENTAL CHEMISTRY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita tidak ingin melakukan sesuatu yang menjadi cerminan kita adalah pelanggar hak-hak azasi manusia. Kita juga tidak ingin dicap sebagai PENJAJAH TULEN sementara kita sendiri mengklaim diri sebagai INDONESIA MERDEKA. Untuk itu kami HARMONI LINGKUNGAN setuju dengan pernyataan Bung Ricky Avenzora, Bung Wayan Wicaksana, serta Bung Arjuna Putra yang begitu berang ketika seorang Bung Hardi yang begitu sukarela membagi ilmu dibabat oleh seorang yang mengatas namakan Indonesia Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pernyataan yang sangat berlawanan dengan kata Presiden Gus Dur tempo hari dalam pidato kenegaraan pertamanya. "Kita tidak mau lagi direndahkan martabat kita oleh bangsa lain, seperti kita selama ini direndahkan oleh bangsa-bangsa lain.” Ini pekerjaan rumah baru bangsa kita ini. Ini pun bukan pernyataan politik penuh intrik untuk menjatuhkan orang lain. Ini adalah pernyataan kenegaraan dari seorang negarawan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kita harus lebih banyak belajar, termasuk untuk menghargai orang lain. BAGAIMANA KITA BISA MENGKLAIM AKAN MENGHARGAI LINGKUNGAN, SEMENTARA KITA TIDAK PERNAH BELAJAR UNTUK MENGHARGAI ORANG LAIN? UNSUR UTAMA DARI APA YANG DISEBUT LINGKUNGAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan inilah HARMONI LINGKUNGAN hadir dengan menawarkan HUMANISME LINGKUNGAN (ENVIRONMENTAL HUMANISM) dengan DAILY BREAD yang sedang anda baca.. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-4044118734351114292?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/4044118734351114292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=4044118734351114292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4044118734351114292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/4044118734351114292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-222-oktober-1999-nilai-kemanusiaan.html' title='EHDB 2/22 Oktober 1999  NILAI KEMANUSIAAN LINGKUNGAN'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-3003758430503814182</id><published>2007-08-26T18:28:00.000-07:00</published><updated>2007-08-26T18:29:36.686-07:00</updated><title type='text'>EHDB 1/ 21 Oktober 1999 ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD</title><content type='html'>SALAM..RAKYAT, MASYARAKAT, BANGSA, PERHATIANNYA DIGIRING MENYAKSIKAN PANAS DAN BERKELOKNYA PERILAKU PARA PENAFSU POLITIK. BIKIN PANAS HATI! PANAS KEPALA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTATIHNYA SEORANG SANTRI SEDERHANA DARI PONDOK PESANTREN KOTA KECIL MENUJU SINGGASANA NOMER SATU DI INDONESIA RAYA MEMBUNGKAM NAFSU PANAS PARA PETUALANG POLITIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA SAAT YANG SAMA, ADA DI ANTARA TEMAN KITA, SAAT INI TAK CUKUP SEMPAT MENIKMATI SENTUHAN KEMANUSIAAN SEORANG PRESIDEN GUS DUR. MEREKA LEBIH MENIKMATI SENTUHAN KEMANUSIAAN YANG RIIL. MENGALAMI SENDIRI..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42 Rumah Rusak AkibatLongsor Dan Banjir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari Suara Pembaruan Daily&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto, Pembaruan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir dan tanah longsor kembali melanda Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara, Jawa Tengah, mengakibatkan sedikitnya 42 rumah tertimbun dan hanyut Selasa (19/10). Akibat bencana alam tersebut sekitar 45 keluarga, meliputi 200 jiwa, kehilangan tempat tinggal, sehingga diungsikan ke tempat-tempat yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Banyumas Aris Setiyono dan Bupati Banjarnegara Nurachmad sudah meninjau lokasi bencana. Kedua bupati sudah menyerahkan bantuan kepada para korban, khususnya bahan pangan dan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bupati Banyumas, bencana banjir dan tanah longsor di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, terjadi sehari setelah Tim Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satkorlak PBA) dikukuhkan dan disiagakan. Dalam bencana banjir dan tanah longsor 17 rumah rusak berat, dua di antaranya hanyut terbawa banjir. Akibatnya sekitar 19 keluarga diungsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang korban bernama Sanwardi menyatakan, ketika terjadi tanah longsor hujan turun cukup deras. Ia terkejut ketika merasakan rumahnya yang terbuat dari papan, bergoyang. Menyadari dalam keadaan bahaya, Sanwardi memanggil istri dan anak-anaknya berlari keluar menerjang hujan. Hal serupa dialami korban lainnya. Mereka berusaha keluar dari rumah ketika merasakan tanah bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Banjarnegara Drs Nurachmad mengatakan, tanah longsor di Desa Glempang dan Sokanandi mengakibatkan 25 rumah penduduk roboh tertimbun tanah. Rinciannya, sembilan rumah di Desa Sokandi roboh dan 16 di Desa Glempang tertimbun tanah longsor.Rabu (20/10) pagi masyarakat bergotong royong menggali tanah-tanah yang menimbun rumah dan mendirikan kembali rumah yang roboh. Diharapkan pekerjaan ini selesai seminggu. (057)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAI... PARA PENDEKAR LINGKUNGAN?.. DI MANAKAH KAMU? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-3003758430503814182?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/3003758430503814182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=3003758430503814182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3003758430503814182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/3003758430503814182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/ehdb-1-21-oktober-1999-environmental.html' title='EHDB 1/ 21 Oktober 1999 ENVIRONMENTAL HUMANISM DAILY BREAD'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3293048463242705558.post-1123406183555320377</id><published>2007-08-23T10:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T22:17:26.642-08:00</updated><title type='text'>Daftar Isi (Content)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/Rs3ES3uesoI/AAAAAAAAAQA/KQKh-uUj800/s1600-h/blog.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/Rs3DaHuesnI/AAAAAAAAAP4/2GaC2JcNn7w/s1600-h/blog.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_f9aea3oKfg4/Rs3C_3uesmI/AAAAAAAAAPw/8ELWgetY1GQ/s1600-h/blog.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3293048463242705558-1123406183555320377?l=suaralingkungan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/feeds/1123406183555320377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3293048463242705558&amp;postID=1123406183555320377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1123406183555320377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3293048463242705558/posts/default/1123406183555320377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suaralingkungan.blogspot.com/2007/08/daftar-isi-content.html' title='Daftar Isi (Content)'/><author><name>Yonathan Rahardjo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
